
Bandara Ibukota
Flo saat ini tengah mengantar Lingga yang akan berangkat menuju Negara A untuk menyelesaikan studinya yang sempat tertunda karena pulang untuk pendekatan dengan Flo.
Jujur saja, Lingga sangat enggan kembali ke Negara A. Lebih tepatnya enggan meninggalkan Flo yang baru beberapa hari ini resmi menjadi kekasihnya itu.
Namun Ia sudah berjanji akan segera menyelesaikan studinya dan akan mengikat Flo dalam pernikahan setelah ia pulang nanti. Namun Flo menginginkan jika mereka bertunangan dulu, bukan apa-apa. Flo tidak ingin melangkahi Dara dan Kai yang akan menikah. Sebagai pengikut setia Dara, ia lebih mementingkan urusan nonanya di banding dengan urusannya sendiri.
Meskipun cukup keberatan, namun Lingga akhirnya mengalah. Ia akan menunggu Dara dan Kai menikah dulu baru mereka akan menikah setelahnya.
"Aku nggak jadi berangkat aja ya" ucap Lingga yang memeluk tubuh kekasihnya itu.
"Jangan aneh-aneh, aku nggak mau ya punya kekasih yang tidak bertanggung jawab. Baik itu pada keluarga, pada orang lain maupun pekerjaan dan pendidikannya" ucap Flo
"Iya babe, aku kalah deh kalau debat sama kamu. Kamu selalu menang, aku akan membuktikan aku lulus dengan cepat dan nilaiku yang terbaik nanti biar aku bisa cepet pulang ketemu sama kamu" ucap Lingga
"Itu harus" ucap Flo angguk-angguk
"Uuhhh gemesin banget sih pacar aku, inget jangan nakal di sini ya" ucap Lingga.
"Aku nggak nakal di sini, tapi nggak tahu kalau di sana, atau di tempat lain" ucap Flo mengulum senyumnya
"Babe, jangan bikin aku jadi ragu buat berangkat deh. Aku mending ketinggalan studiku dari pada kehilangan kamu" ucap Lingga sudah misuh-misuh sendiri mendengarnya.
"Ha-ha, kamu mudah sekali di goda, tenang aja aku nggak akan macam-macam" ucap Flo tanpa di sadari ia tertawa.
Hal itu membuat Lingga terpesona, baru kali ini ia melihat tawa Flo yang begitu lepas. Flo terlihat berkali-kali lebih cantik.
"Kamu sangat cantik Babe, cup" ucap Lingga mengecup pipi Flo secepat kilat.
Mau tidak mau membuat Flo berhenti tertawa dan menegang seketika, hanya karena Lingga mencium pipinya. Meskipun Lingga pernah mencium tangan dan kepalanya. Namun Flo tetap saja terkejut saat Lingga mencium pipinya.
"Kamu merona, suka aku cium hmm? Mau aku cium lagi?" ucap Lingga menggoda Flo.
"Si-siapa yang mau di cium lagi" ucap Flo dengan pipi yang semakin terasa panas karena di goda sang kekasih.
"Baiklah, Aku yang ingin menciummu lagi" ucap Lingga
"Apa? Di sini? Banyak orang di sini... Eeehhh Ega, mau kemana?" ucap Flo yang di tarik Oleh Lingga.
BRAK!!
Lingga membawa Flo ke lorong dan masuk ke sebuah ruangan entah ruangan apa itu.
"Ega, ini di mana?" tanya Flo.
"Yang jelas tempat yang sepi tentunya, kita hanya punya waktu 15 menit sebelum aku cek in" ucap Lingga
"Maksud..... Mmmpphhh" ucap Flo terkejut saat Lingga langsung mencium bibirnya.
Flo terkejut karena ini adalah ciuman pertamanya, dulu ia bersama Zayn ia tidak pernah melakukan kontak Fisik selain pegangan tangan dan pelukan.
Lambat pun Flo menutup matanya, ia menikmati ciuman lembut dari Lingga. Sungguh Lingga memperlakukan Flo sangat lembut, ia takut menyakiti wanita yang ia cintai itu.
"Haaahhh Haaahhh" nafas keduanya bersahutan.
Lingga menyatukan kedua dahi mereka. Ia juga mengusap bibir basah Flo dengan ibu jarinya.
"Manis, aku suka. Jangan pernah berikan untuk pria lain ya Babe. Tunggu aku kembali, aku akan segera menikahimu" ucap Lingga
Flo tertegun dan hanya menganggukkan kepalanya. Ia tidak menyangka jika ciuman bisa senikmat ini, bahkan ia lupa caranya untuk bernafas.
Setelah Mengantar Lingga yang kini pesawatnya sudah lepas landas. Flo kembali ke kantor, ia membereskan pekerjaannya hari ini. Karena besok ia akan ke kota S menemui Dara.
....
Di negara A.
Sanim tengah bersembunyi di sebuah ruang bawah tanah di villa terpencil di kota Sy. Tidak ada CCTV di area sana, jadi ia merasa aman.
Ketakutan? Tentu saja, bagaimana pun ia merupakan manusia biasa. Jika yang memburunya adalah pihak militer dari negaranya sendiri, ia tidak akan ketakutan seperti ini.
Namun yang mengejarnya adalah tim terbaik dari Negara yang ingin ia jadikan target. Sebelumnya anak buahnya yang ada di negara R memberi tahunya jika Richard, Loddy tiba-tiba menghilang dari kediamannya. Begitu pun dengan Aoda yang berada di Negara G.
"Si*l!! Jangan-jangan mereka berhasil mengetahui jika aku adalah otak dari semuanya. Si*l! Si*l! Lebih baik aku telepon Mr.D untuk meminta bantuannya" ucap Sanim.
Meskipun itu adalah ponselnya yang lain, namun ponsel itu juga sudah di retas oleh Theo. Jadi sangat mudah menemukan Sanim lewat sinyal yang ia kirimkan saat menghubungi seseorang.
"Hallo Mr.D, saya ingin meminta bantuan darimu!" ucap Sanim
"......"
"Aku tengah di kejar militer negara Konoha (Bukan nama sebenarnya), mereka berhasil menangkap rekanku yang lain. Tolong aku Mr.D" ucap Sanim lagi
"......."
"Berapapun yang ada minta"
"......."
"Baik-baik, aku akan mentransfer setengah nya lebih dulu sebagai uang muka" ucap Sanim
"......"
"Saya di Villa X di distrik C, jalan xx Negara A" ucapnya
"......"
"Benarkah, Terimakasih Mr.D" ucap Sanim dengan sumringah
Sanim menghela nafas lega setelah menelepon Mr.D. Meskipun ia harus merogoh kocek yang sangat dalam, namun itu sebanding dengan nyawanya yang paling berharga.
Mr.D adalah seorang panatua kelompok organisasi tertentu dari negara V, ia merupakan ahli supranatural yang terkenal. Sanim yakin jika dirinya akan selamat. Apalagi ia mengetahui jika Mr.D sekarang ada di negara A juga.
...
Di lain tempat di negara A, Kai tengah berkomunikasi dengan Theo. Sedangkan timnya yang lain sedang beristirahat.
"Bagaimana?" tanya Kai
"Ada kabar baik tuan muda, saya menangkap sinyal dari ponsel pribadi Sanim yang lain. Dia sekarang ada di Sebuah Villa X di distrik C jalan XX" ucap Theo
"Oh jadi di bersembunyi di sana" ucap Kai menyeringai.
"Sepertinya ia juga meminta bantuan seseorang, tuan muda" ucap Theo di ujung telepon.
"Siapa?" tanya Kai
"Mr.D dari negara V, Sanim membayar mahal untuk itu, sudah pasti dia orang yang tangguh" ucap Theo.
"Mr.D?" beo Kai
"Ya, Data Mr.D sudah saya kirim via email anda. Anda bisa mempelajari dulu tentang orang itu, dan satu informasi lagi. Mr. D berada di kota Sy sekarang. Jadi kemungkinan mereka sudah bertemu sekarang" ucap Theo.
"Oke terimakasih Theo, nanti aku lihat, terus pantau pergerakan apapun yang dia buat" ucap Kai
"Baik" ucap Theo.
"Lalu bagaimana dengan Harun?" tanya Kai
"Masih belum ada pergerakan tuan muda, anda tenang saja. Anggota GOD sudah menyebar di sekitar Harun untuk memperhatikan pergerakannya dalam 24 jam" ucap Theo
"Kerja bagus Theo" ucap Kai
"Jangan lupa tolong kasih nilai yang baik untukku di depan nona tuan muda" ucap Theo
"Kau ini..." ucap Kai menghela nafas.
"Ayolah tuan, anda sudah berjanji loh. Saya hanya ingin Nona membuat saya sama seperti yang lain" ucap Theo
"Baiklah. Setelah kasus ini selesai aku akan bicara dengan Dara" ucap Kai
"Terimakasih tuan muda, anda yang terbaik" ucap Theo dengan senangnya.
Sambungan telepon pun terputus, Kai menghela nafas saat membaca Dara tentang Mr.D. Karena kemungkinan jika Mr.D adalah kultivator cukup tinggi, mengingat kekuatan Mr.D yang di luar nalar.
Kai tidak ingin mengambil resiko, jadi ia memutuskan untuk mengatasinya sendiri tanpa melibatkan teman-temannya. Karena bisa jadi teman-temannya yang justru bisa saja terluka.
...•••••••...