
Dara hanya tenang saja saat melihat tiga orang berbeda generasi itu terkejut saat mendengar ucapannya. Dierja yang penasaran pun menanyakan kebenaran tentang hal yang ia dengar barusan.
"True element level senior, apa itu tidak salah?" tanya Dierja
Sebenarnya ia tidak ragu dengan ucapan Dara, pasalnya yang ia tahu Dara sudah berada di tingkat Transcedent, yang dua tingkat di atas True Element. Yang pastinya ia bisa merasakan kekuatan seseorang di bawah kekuatannya.
"Ya, mereka adalah dari padepokan Jatisura. Mereka akan pergi ke ibukota. Lebih tepatnya mereka hendak pergi ke padepokan maung di daerah Salacca di kota H. Untuk menghadiri kompetisi beladiri Minggu depan" ucap Dara
"Astaga saya lupa kalau di kota H akan jadi tuan rumah kompetisi beladiri akhir pekan depan" ucap Tirta yang mengingat tentang kompetensi.
"Kompetisi apa?" tanya Kai yang memang masih awam dengan hal pembudidaya, karena ia hanya baru tahu tentang dasar kultivator dari Dara.
Jangankan Kai, Dara juga masih awam. Karena ia tidak tahu pembudidaya jaman sekarang. Yang ia tahu adalah tentang pembudidaya di jaman dulu melalui memori Liu Annchi.
"Maksud kamu, kompetisi yang di adakan sepuluh tahun sekali dan yang terakhir di adakan di kota S beberapa tahun lalu?" tanya Dierja.
"Benar tuan, ini sudah sepuluh tahun berlalu setelah kompetisi di kota S" jawab Tirta
"Opah, aku tidak mengerti yang kalian bicarakan, kompetisi apa sebenarnya?" tanya Kai yang memang tidak paham.
"Itu kompetisi beladiri, lebih tepatnya kompetisi para pembudidaya, yang di adakan 10 tahun sekali" ucap Dierja
"Apa opah pernah ikut kompetisi itu?" tanya Kai
"Tidak, tapi Tirta pernah" ucap Dierja menoleh ke arah Tirta.
"Paman pernah ikut?" tanya Kai yang memanggil Tirta Paman.
Karena meskipun Tirta sebaya dengan Dierja, tapi wajah dan penampilan Tirta seperti seusia dengan Galuh.
"Ya saya salah satu perwakilan dari padepokan maung, tapi saya tidak berhasil menjadi juara. Saya hanya masuk semifinal saat itu" ucap Tirta
"Paman masuk semifinal? Maaf paman, bukankah banyak yang lebih hebat dari paman, karena pastinya tingkatan paman tidak setinggi ini bukan? Tapi dengan kekuatan paman bisa masuk semifinal itu sudah sangat hebat" ucap Kai
"Sepuluh tahun lalu, saya di tahap initial Element level puncak. Sepuluh tahun lalu, tidak banyak kultivator dengan tingkat tinggi bisa di hitung dengan jari. Setelah kompetisi, saya kultivasi daya macet karena serangan lawan. Sampai akhirnya saya bertemu dengan nona muda saat pertama kali nona muda berkunjung ke manor. Hingga saya bisa menerobos ke Qi Transformasion sekarang meskipun level awal" ucap Tirta.
"Kamu sudah menerobos?" tanya Dierja terkejut, karena ia tidak bisa merasakan kekuatan Tirta.
"Ya tuan besar, tepatnya sehari setelah meminum pil dari nona muda" jelas Tirta.
Dierja menoleh ke arah Dara dengan Tatapan menyiratkan rasa terimakasih pada calon cucu menantunya itu.Dara hanya membalas dengan senyum tipisnya.
"Kompetisi seperti apa itu kalau boleh tahu?" tanya Kai
"Itu kompetisi bertarung paling bergengsi bagi seorang pembudidaya di negara kita. Ada beberapa syarat untuk mengikuti kompetisi ini. Di antaranya adalah batas usia peserta adalah 60 tahun, batas kekuatan adalah tingkat Immortal Ascension" ucap Tirta
"Bagaimana orang-orang tahu kalau pembudidaya itu berusia di bawah 60 tahun dan tidak lebih dari Immortal Ascension?" tanya Kai
"Bukankah kamu juga bisa langsung mengenali usia Paman Tirta sebenarnya?" tanya Dara pada Kai.
"Ah... kau benar" ucap Kai mengangguk paham.
Semenjak ia jadi kultivator ia bisa mengetahui usia asli seseorang hanya dalam sekali lihat.
"Lalu kekuatan?" tanya Kai lagi
"Ada benda yang bisa mengukur tingkat kekuatan seorang kultivator Tuan muda" ucap Tirta yang di angguki oleh Kai yang tidak menanyakan benda apa itu.
"Tapi dari mana Nona muda tahu orang-orang itu dari padepokan Jatisura? Dan mereka akan ke kota H untuk kompetisi?" tanya Tirta penasaran
"Jimat pertunjukan" ucap Dara
"Apa tidak ada ahli mantra di sini?" tanya balik Dara, tidak menjawab pertanyaan yang lain.
Dierja dan Tirta saling menatap lama kemudian Tirta mulai membuka suara.
"Ahli mantra? Menurut buku memang ada seorang ahli mantra dan Formasi selain Kultivator, Alkemis dan ahli tempa. Itu sudah tidak pernah ada sejak ratusan tahun yang lalu, selain kultivator dan Alkemis. Kultivator sangat sedikit sekarang, apalagi Alkemis yang sudah sangat langka keberadaannya" ucap Tirta menjelaskan
"Aku mengerti, yang di maksud jimat pertunjukan adalah sebuah mantera dari jimat kuning. Itu adalah sebuah jimat untuk menyadap percakapan dan juga merekam tindakan seseorang dalam gambaran video 5 dimensi dalam radius tertentu. Tadi aku menggunakannya pada salah satu orang itu saat aku ke toilet tadi" ucap Dara
"Kamu ahli mantra?" tanya Dierja dan Tirta bersamaan mencoba menebak dengan jantung berdebar.
Entah jika mereka tahu akan seberapa terkejut keduanya.
"Tidak, tapi guruku adalah master formasi yang sudah pasti ahli mantra. Beliau adalah master empat aliran, seorang multi bakat. Dan aku memiliki beberapa jimat dan barang lain dari guru" ucap Dara tidak berbohong sepenuhnya.
Karena ia menganggap Liu Annchi adalah gurunya, meskipun jiwa Liu Annchi ada bersama dan menyatu dengan dirinya. Hanya saja dara berbohong kalau ia bukan master formasi. Karena pada kenyataannya ia mewarisi semua bakat Liu Annchi, jadi ia juga seorang Ahli empat aliran.
Mendengar ucapan Dara membuat seketika Dierja dan Tirta tertegun. Mereka seketika merinding membayangkan betapa hebatnya guru Dara itu.
.....
Keesokan harinya pagi-pagi Dara sudah siap untuk berangkat kuliah. Ia turun untuk sarapan bersama dengan adik-adiknya. Setelah itu kedua adiknya terlebih dulu berangkat sekolah.
Tin! Tin!
Suara klakson terdengar, Dara bergegas mengambil tas dan berjalan keluar mansion. Ia tahu jika Kai sudah sampai untuk mengantarnya ke kampus.
Saat mengantarnya pulang setelah dari Kota S, Kai memang mengatakan akan mengantarkan dirinya ke kampus hari ini. Awalnya Dara menolak, tapi Kai ingin menjadi pacar seperti orang kebanyakan. Yang mengantar jemput sang kekasih, jalan-jalan sekaligus kencan.
Dara melihat Kai yang baru melepas helm miliknya, terlihat sangat tampan dan mempesona bagi Dara yang sempat tertegun di buatnya.
"Pagi babe" sapa Kai dengan lembut dan senyuman manisnya.
Ah... senyumnya memang mengalihkan duniaku, pikir Dara terpesona dengan keindahan di depannya.
"Pagi Abang pacar" sapa Dara sedikit menggoda memanggil Kai dengan sebutan itu dan terkekeh saat ia berhasil membuat wajah Kai bersemu merah.
"Kamu beneran nggak ada kerjaan hari ini?" tanya Dara yang diam saja saat Kai memasangkan helm pada kekasihnya itu.
"Nggak ada sayang, kalaupun ada aku pasti memberitahukannya padamu" ucap Kai dengan lembut.
"Oke, let's go kota berangkat sekarang" ucap Dara yang sekarang sudah duduk di jok belakang Kai dan memeluk perut se*si kekasih, ralat calon tunangannya itu.
"Sambil menyelam minum air, aduh Kai. Ini perut kenapa keras dan berotot. Bahkan kerasa meskipun masih terhalang baju, bagaimana kalau sentuh langsung ya. Astaga kenapa aku jadi mesum begini" ucap Dara dalam hati.
Kai melajukan motornya dengan kecepatan normal, sepanjang jalan ia tersenyum karena Dara tidak melepaskan pelukan di perutnya. Hatinya berbunga-bunga karena saat ia begitu dekat dengan Dara.
Ia memutuskan untuk mengantar jemput kekasihnya dengan motor yang baru di belinya itu. Rasanya lebih enak naik motor di bandingkan naik mobil yang pastinya duduk mereka akan berjarak jika naik mobil.
Motor sport itu pun masuk ke area kampus dan berhenti di dekat area parkir. Dara turun dari motor dan melepaskan helmnya. Rambut panjang hitam dan halusnya itu tergerai indah.
Semua orang yang ada di sana tertegun melihat Dara yang memang tidak mengenakan masker itu. Untungnya tidak banyak mahasiswa dan mahasiswi yang ada di sana.
Kai terlihat tidak senang melihat banyak mata yang mengarah pada gadisnya itu. Dara tentu saja sadar, ia langsung menggenggam tangan Kai hingga pria tampan yang masih menggunakan helm itu menoleh ke arahnya.
"Jangan marah, jangan cemburu, di mataku tidak ada pria tampan dan hebat selain kamu dan pria yang ada di dalam keluargaku. Lagian aku lelah menutupi wajahku dari semua orang, suatu hari nanti aku akan membuat seluruh dunia tahu jika aku hanya milikmu seorang, milik Kaisar Raka Narendra" ucap Dara tersenyum manis.
Awalnya Kai kesal, namun mendengar ucapan Dara, entah mengapa ia merasa tenang dan senang. Karena Dara mengatakan akan mengumumkan pada seluruh dunia jika Dara hanya miliknya seorang.
...••••••• ...