The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
210. Lingga-Flo



Zayn mengerutkan kening saat mendengar ucapan Lingga. Ia menoleh ke arah Flo yang di peluk oleh Lingga.


Flo, gadis itu sudah membuat dirinya tertarik sejak pertama kali melihatnya, entah mengapa jantungnya tidak berhenti berdetak kencang saat melihat Flo.


"Sayang, ayo...." ucap Lingga lagi.


"Ah iya, a-ayo! Maaf tuan Zayn saya pergi dulu permisi" ucap Flo sedikit canggung.


Kalau saja bukan sepupu dari tunangan nonanya, mungkin saat ini Flo sudah membanting tubuh Lingga yang berani menyentuhnya.


Ia tidak pernah berjarak sangat dekat dengan laki-laki sebelumnya. Kalaupun pernah itu hanya dengan Theo dan Ferdi atau anggota GOD saat mereka tengah berlatih bersama.


Zayn hanya menatap punggung Flo yang sudah pergi bersama dengan Lingga, jangan lupakan tangan Lingga yang masih setia melingkar di pinggang Flo.


Hati Zayn merasa terbakar, ia sendiri bingung dengan perasaannya sendiri. Ia merasa tidak rela melihat Flo bersama laki-laki lain, padahal ini pertama kalinya ia melihat Flo tapi perasaannya seperti susah mengenal lama.


"*Gadis yang sangat menarik, sepertinya aku jatuh cinta pandangan pertama dengan nya. Tapi si*lnya dia sudah punya pacar. Apa tidak apa-apa aku tikung?" gumam Zayn dalam hati*.


....


Di stand makanan, Lingga enggan melepaskan pelukannya di pinggang Flo. Flo juga heran mengapa Lingga masih belum melepaskan tangannya padahal mereka sudah menjauh dari Zayn


"Tuan muda...." ucap Flo terpotong


"Lingga Flo, aku tidak suka di panggil tuan muda olehmu" ucap Lingga yang mengeratkan pelukannya.


"Tu, ah maaf Lingga. Bisa tolong lepaskan tanganmu?" ucap Flo merasa risih dengan tangan di pinggangnya


"Tidak bisa" ucap Lingga tegas.


"Hah?" ucap Flo heran dengan ucapan Lingga, Kenapa pula sepupu Kai ini tidak ingin melepaskan tangannya.


"Lihatlah orang itu masih melihatmu dari kejauhan, bukankah akan aneh jika aku tiba-tiba melepaskan tanganku? Orang-orang tahunya kamu kekasihku sekarang" ucap Lingga memberikan alasan agar ia tidak melepaskan pelukannya.


Flo melirik dengan ekor matanya, benar saja yang di katakan Lingga, Zayn masih menatap ke arahnya. Flo pun menghela nafas.


"Ayo suapi aku makan sayang" ucap Lingga manja dan lembut, membuat Flo mengerutkan kening dengan sikap manja Lingga.


"Anda bisa mengambilnya" ucap Flo


"Aku ingin kamu yang menyuapiku, bukankah wajar kekasih menyuapi makan kekasihnya. Ayolah, la nanti ada yang curiga. Kan aku mengajakmu makan tadi di depan pria itu" ucap Lingga.


Mau tidak mau Flo akhirnya mengalah dan menyuapi Lingga dengan kue yang ada di sana. Lingga tentu saja menyambutnya dengan antusias.


"Kenapa anda bersikap seolah kekasih anda? Bagaimana kalau ada yang salah paham?" ucap Flo datar sambil menyuapi makan.


"Kenapa memangnya? Kamu mau orang lain tidak salah paham dengan kita?" tanya Lingga


"Saya memang tidak mau ada yang salah paham" ucap Flo


"Kalau gitu tinggal jadiin kenyataan aja, jadi pacarku gimana?" ucap Lingga menatap serius ke arah Flo


"Candaan anda tidak lucu" ucap Flo


"Apa saya terlihat sedang bercanda? Ayo pacaran Flo!" ucap Lingga bersungguh-sungguh.


"Aww aww sakit..." teriak Lingga saat tiba-tiba merasakan telinganya di jewer seseorang.


"Kakak tuh ya, nembak cewek yang romantis Napa. Nggak elit banget nembak kok di pinggir stand makanan, mana nggak ada pernyataan cinta lagi langsung to the point banget" oceh Ajeng yang mendengar ucapan kakaknya yang memang tadi dirinya tidak jauh dari mereka berdua.


Bukan hanya Ajeng, di sana ada Dara dan juga Kai juga. Yang memang tengah mengobrol dengan Ajeng.


"Adek sakit ih lepasin" ucap Lingga. Ajeng pun melepaskan jeweran mautnya itu.


"Kai, kau dan sepupumu ternyata menggunakan cara yang sama buat nembak cewek" bisik Dara pada tunangannya itu.


"Bukannya kamu ada pengalaman pacaran Ga? Elit dikit napa" ucap Kai tiba-tiba


"Pacaran sih pernah kak, tapi kan kak Lingga nggak pernah nembak cewek seumur hidupnya" ucap Ajeng


"Maksudnya?" tanya Dara tidak mengerti. Sudah pernah pacaran namun nggak pernah nembak. Gimana ceritanya?


"Dulu kak Lingga pacaran, itu karena ceweknya yang nembak kak. Karena merasa kasihan, jadi Kak Lingga cuma terima aja. Wong pacaran juga tetep dingin sama pasangannya nggak ada romantis-romantisnya" cerocos Ajeng.


Flo yang masih di sana kini mengerti apa yang di bicarakan mereka yang ada di depannya. Ia menoleh ke Lingga, ia mengerutkan keningnya.


"Apa iya ini cowok naksir aku?" tanya Flo dalam hati menatap Lingga dengan kening mengerut.


"Jangan buka aib kakak dek, Astaga. Kakak malu apalagi di depan crush" ucap Lingga.


"Emangnya kakak cantik ini mau jadi pacar kakak gitu?" tanya Ajeng.


Semuanya kini menoleh ke arah Flo, Flo sendiri mengedipkan kedua matanya lucu. Ia tidak tahu harus bicara apa di tatap orang-orang di depannya.


"Lingga hanya bercanda, lagian dia lebih muda dariku, tidak mungkin suka dengan ku yang lebih tua, bukan?" ucap Flo datar.


Memang usia Flo saat ini lebih tua tiga tahun dari Lingga. Flo 25 tahun sedangkan Lingga 22 tahun


"Nggak kelihatan kok kakak cantik, Kakak justru terlihat lebih muda dariku. Kaya anak-anak SMA, lagian pasti selisihnya cuma sedikit kan?" ucap Ajeng membantu kakaknya


"Maaf, saya ada perlu dengan Nona Dara, Nona bisakah kita bicara sebentar?" tanya Flo menghindar dari perasaan canggung.


Jika ada yang mengatakan Flo memiliki perasaan pada Lingga? Jawabannya adalah tidak tahu. Karena selama ini Flo selalu menutup hatinya untuk makhluk bernama Laki-laki.


Dara kemudian meminta izin pada Kai untuk berbicara dengan Flo. Kai hanya mengangguk dan mengelus kepala Dara dan berbisik.


"Jangan jauh-jauh, nanti kalau aku kangen Gimana?" ucap Kai menaik turunkan alisnya


"Iiishhh, kau ini. Aku akan ke kamar kamu aja biar leluasa bercerita, nggak apa-apa kan?" ucap Dara


"Baiklah, hubungi aku kalau ada apa-apa" ucap Kai


"Hmm" Dara mengangguk.


Kemudian Dara dan Flo berjalan keluar dari ballroom dan menuju ke kamar milik Kai. Lingga menatap Flo yang pergi dari sana setelah menolak dirinya.


"Kenapa kak?" tanya Ajeng


"Gue di tolak dek!" ucap Lingga lesu


"Berjuang dong, elaahhh... Masa gitu aja nyerah! Kalau cinta ya perjuangin!" ucap Ajeng


"Kan tadi Flo bilang aku lebih muda. Dia pasti tidak suka berondong" ucap Lingga.


"Berjuanglah, cinta tidak pandang umur!" ucap Kai


"Tuh dengerin kata kak Kai, lagian nih ya orang nembak tuh pake cara romantis Napa. Biar terlihat kakak ada usahanya dan serius gitu. Ini mah orang nyatain di tempat nggak tepat, mana cara ngomongnya kaya orang bercanda. Ya pasti kakak cantik juga mikirnya yang kakak bilang itu nggak serius" ucap Ajeng


"Lalu aku harus gimana?" tanya Lingga buntu dan mengusap wajahnya.


Jujur saja ia sangat nihil pengalaman percintaan. Ia memang pernah punya pacar, namun ia juga masih bingung. Sama seperti ucapan Ajeng, ia tidak pernah mencintai wanita lain selain Flo saat ini.


Dulu ia hanya pacaran saja tanpa ada rasa atau memperlakukan pacarnya dengan cinta dan perhatian. Ia tetap bersikap dingin dan cuek, sampai akhirnya ia di khianati karena pasangannya tidak sanggup lalu putus.


"Serahkan padaku! Ayo less private denganku, aku akan jadi guru yang baik bagi percintaan kakak" ucap Ajeng dengan percaya diri dan terlihat sangat meyakinkan.


...••••••...