The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
54. Berwajah jelek?



"Aku hanya khawatir kamu kenapa-napa Ra" ucap Daffa lembut.


Ketakutan semua orang di bungkam dengan perlakuan Daffa pada Dara. Bukannya marah justru Daffa menjawabnya lagi dengan lebih lembut. Membuat rahang semua orang jatuh saat mendengarnya.


Apa Daffa tengah menjilat Dara sekarang? pikir semuanya.


Dara tidak menggubris lagi, ia lebih memilih membaca buku sambil menunggu Dosen datang.


"Ra, udah makan belum? Ini aku tadi pas istirahat beli milk tea dan roti. Kamu mau?" ucap Daffa lagi dan menyodorkannya ke Dara.


Dara hanya diam saja tidak menjawab.


"Ra...." panggil Daffa lagi.


Lama-lama terdengar berisik juga, Dara sedikit terganggu karenanya. Dia meletakkan bukunya dan menoleh ke arah Daffa, yang lebih mengherankan lagi. Daffa kini tersenyum manis ke arahnya, membuat Dara mengerutkan keningnya.


"Apa ini bocah salah makan?" Gumam Dara dalam hati.


"Kamu bisa diam nggak? Berisik!" ucap Dara kesal


"Ra..." ucap Daffa lagi namun terpotong karena Dara melototinya.


"Aku nggak laper! Minum sendiri!" ucap Dara.


Saat Daffa ingin bicara lagi kebetulan Sugeng datang, jadi ia mengurungkan niat untuk berbicara dengan Dara.


Dara fokus menyimak apa yang di sampaikan Sugeng, sedangkan Daffa justru asik melihat ke arah Dara sampai ia tidak sadar sampai terkena lempar spidol milik Sugeng.


"Si*lan!!! Siapa yang berani lempar!" teriak Daffa, kemudian ia menoleh ke arah Dara dengan canggung karena sudah teriak di sampingnya. Dia tidak mau kena pukul lagi. Jadi ia menatap dengan tatapan minta maaf padanya.


"Saya yang melempar, kamu mau apa?" ucap Sugeng.


"Oh jadi ka..... Eh Pak Sugeng" ucap Daffa kaget.


"Ya saya, kenapa? mau marah kamu?" ucap Sugeng kesal


"Kenapa bapak lempar ke saya? Apa salah saya?" ucap Daffa dengan Datar dan tidak merasa bersalah.


"Salah kamu? Yang pertama, kamu tidak menyimak apa yang saya jelaskan. Kedua kamu berteriak di kelas saya!" ucap Sugeng.


"Saya nyimak kok" ucap Daffa


"Oh ya? Coba sekarang kamu jelasin apa yang sudah bapak terangkan tadi!" ucap Sugeng lagi.


"Anu... itu, hmmm....Anu" ucap Daffa bingung, karena memang dia tidak mendengar Sugeng sama sekali, karena ia fokus melihat ke arah Dara.


"Anu itu, anu itu... Kenapa dengan anumu? Anumu ilang?" ucap Sugeng sudah kesal sampai ubun-ubun.


"Iya ilang Pak" ucap Daffa yang tidak fokus menjawab spontan.


"Ha-ha-ha...." Sontak semua orang tertawa mendengarnya, Daffa melototi semua orang. Tapi mereka tidak melihat jika Daffa tengah melototi mereka dan keluar tanduk jadi mereka masih tertawa.


"Kamu keluar dari kelas saya! Besok kumpulkan jawaban di buku biru dari halaman 105 sampai 110 Kalau tidak jangan harap lulus" ucap Sugeng


"Tapi Pak..." ucap Daffa


"Tidak ada tapi-tapi an, keluar!" ucap Sugeng lagi.


"Ra, aku keluar dulu ya. Jangan kangen" ucap Daffa memelas ke arah Dara kemudian keluar.


Sugeng mendengus kesal, ia kemudian melanjutkan menerangkan pelajaran yang sempat tertunda. Sedangkan Dara hanya menggelengkan kepalanya heran melihat tingkah aneh Daffa hari ini padanya.


....


Saat kelas sudah selesai, Samuel dan Celine masuk menemui Dara. Seperti janjinya ia mengajak Dara ke kantin bersama. Namun di tengah jalan Celine di panggil oleh Dosen, jadi ia meminta keduanya ke kantin duluan.


Saat Dara dan Samuel berjalan berdua hal itu mengejutkan banyak orang. Apalagi mereka melihat Samuel yang malu-malu di depan Dara, banyak berspekulasi kalau keduanya tengah berkencan.


Tapi banyak orang juga yang mengatakan Samuel tidak pantas bersama Dara, karena Dara aslinya jelek.


Mereka semakin terkejut saat keduanya duduk di kantin, jadi banyak orang yang menantikan Dara membuka maskernya. Namun sayangnya mereka harus kecewa, karena Dara sama sekali tidak berniat membuka maskernya.


"Benarkah? Aku tidak merasa demikian" ucap Samuel dengan gugup.


"Kamu terlalu rendah hati. Wajar kamu populer dan di juluki Prince di kampus, wajahmu tampan juga" ucap Dara


Dara tidak tahu saja wajah Samuel saat ini tengah memanas karena malu campur senang di bilang tampan olehnya.


Sejak pertemuan mereka di Bright Hotel saat itu, Samuel selalu teringat dengan Dara. Betapa cantik dan luar biasanya gadis itu. Jantungnya selalu berdetak kencang jika mengingatnya, sama seperti sekarang ia duduk berdua saling berhadapan.


"Terimakasih, tapi tidak seluar biasa kamu Ra" ucap Samuel jujur dari dalam hatinya.


"Hmm aku nggak tahu aku luar biasa atau tidak, tapi pasti kamu yang memiliki banyak penggemar. Apa rasanya memiliki banyak gadis yang menyukaimu dan mengejarmu?" tanya Dara penasaran.


"Eh, rasanya.... entahlah, aku tidak merasakan apa-apa" ucap Samuel bingung menjawab apa, ia tidak ingin dirinya salah menjawab dan membuat Dara salah paham.


"Pesanlah makanan, aku akan menunggu di sini" ucap Dara mengalihkan pembicaraan karena melihat Samuel yltidak nyaman dengan pertanyaannya tadi


"Hmm, aku pesan dulu. Apa kamu mau makan sesuatu?" tanya Samuel


"Tidak perlu, aku tidak ingin membuat keributan di kantin" ucap Dara


"Ah ya, aku lupa kalau kamu lain dari pada yang lain" ucap Samuel terkekeh


Dia tahu jika Dara mungkin tidak nyaman saat semua orang tahu wajahnya seperti apa. Akan lebih baik semua orang tidak tahu wajah Dara, dia tidak ingin memiliki banyak saingan.


Saat Samuel pergi, banyak sekali yang terang-terangan menghina Dara. Namun Dara tidak ingin mengambil pusing tentang obrolan mereka. Ia tidak akan rugi karena diam saja, kecuali ada yang merundungnya, tentu dia tidak akan tinggal diam.


"Ra, maaf lama. Mana Samuel?" tanya Celine.


"Panggil dia yang benar, Line" ucap Dara


"Ah maksudku Abang sam" ucap Celine langsung meralat ucapannya.


"Kau mencariku? Tumben panggil abang" ucap Samuel meletakan dua makanan. Satu untuk dirinya dan satu untuk Celine.


"Apaan sih bang, bagus dong aku panggil abang. Eh, loh kok cuma dua, buat Dara mana?" ucap Celine


"Kamu mau buat seluruh kantin Heboh saat lihat Dara makan?" ucap Samuel


"Ah kau benar, aku lupa" ucap Celine terkekeh.


"Maaf Ra, aku lupa, tahu gitu kita makan aja di restoran dan pesan ruangan pribadi" ucap Celine tidak enak


"Tidak apa-apa santai saja, aku tidak laparkok. Nanti aku bisa makan di rumah setelah ini" ucap Dara


Namun apa yang di pikirkan Celine berbeda dengan yang di pikirkan orang lain, mereka jadi semakin yakin kalau Dara tidak secantik saat ia menutup wajahnya dengan masker. Terbukti dia tidak ingin menunjukan wajahnya.


Sungguh kesalah pahaman yang hakiki.


.....


Hari berlalu dengan cepat, sudah dua Minggu telah terlewati. Dara masih sibuk dengan kuliahnya dan juga mengecek semua bisnis yang ia punya.


Rencananya nanti malam ia akan datang ke convention center, tempat pelelangan akan di laksanakan. Pelelangan itu di laksanakan setiap tiga bulan sekali, dan tamu yang datang malam ini di perkirakan akan sangat ramai.


Itu di karenakan, lukisan milik Dara yang di lukis oleh Liu Yuanyi dan satu set cangkir porselen. Terngiang sampai ke mancanegara, hingga banyak kolektor dari negara lain datang berbondong-bondong untuk mengikuti pelelangan.


Tidak hanya itu kalung pink Diamond miliknya juga mencuri perhatian. Semua orang tahu jika pink Diamond adalah salah satu jenis permata paling langka di dunia, dan sekarang hadir di pelelangan.


Pil kecantikan juga mendapatkan perhatian dari para kaum wanita, mereka sangat penasaran dengan pil satu itu. Dari keterangan pihak lelang, jika pil itu tidak sesuai dengan yang di beritakan.


Pihak lelang berani mengembalikan uang yang sudah pembeli keluarkan di tambah juga kompensasi yang tinggi sebagai ganti rugi. Itu membuat semua orang yakin dengan kualitas pil tidak di ragukan lagi khasiatnya.


Karena masih pagi dan Dara tidak memiliki kelas hari ini, ia berjalan-jalan keliling taman di ibu kota, namun ia hampir tertabrak oleh mobil karena ia asik melihat anak kecil yang tengah bermain hingga tidak sadar ada mobil melaju.


"Awas!!" teriak seorang pria yang menarik dirinya ke dalam pelukannya.


...••••••...