The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
39. Memberi tahu Dimas



Dara membawa Ferdi dan juga Theo untuk makan siang bersama di sebuah restoran, yang berada di tepi danau yang berada di selatan ibukota. Restoran itu tidak jauh dari pengadilan tempat Mia di adili. Jadi hanya butuh waktu 7menit saja keduanya sudaj sampai di restoran itu.


Mereka bertiga kemudian memesan makan, makanan di sana cukup enak dan cocok dengan lidah mereka. Hingga mereka menikmatinya dengan lahap.


"Nona, ada yang ingin saya bicarakan" ucap Ferdi serius.


"Tentang apa itu?" tanya Dara mengerutkan keningnya.


"Ini mengenai saya" ucap Ferdi sedikit ragu, namun ia bertekad untuk mengatakannya.


"jujur saja, saya adalah seseorang dari organisasi pembunuh FK dan melarikan diri saat saya mengetahui jika Fani, adik satu-satunya saya meninggal. Namun berkat kehebatan Theo, aku bisa menghindari bertemu dengan mereka dan menghapus semua dataku di sana" ucap Ferdi rengan jujur.


Mendengar itu Dara tidak terkejut, karena sejak awal dia tahu jika dalam diri Ferdi memancarkan aura pembunuh yang cukup kuat. Setidaknya Dara merasakan jika Ferdi sudah membunuh sekitar 10 orang atau lebih.


Melihat Dara tidak merespon, Ferdi kembali mengatakan sesuatu.


"Meskipun begitu, saya tidak pernah membunuh orang yang tidak bersalah. Saya selalu mengambil misi yang sudah saya selidiki terlebih dulu, saya membunuh orang yang melakukan kesalahan fatal dan memang pantas di bunuh. Aku tidak berani menyakiti orang lain yang tidak memiliki salah atau kejahatan" ucap Ferdi apa adanya


"Aku tahu, lantas setelah kau menjadi pengikut ku. Bagaimana kamu bisa mengatasi pengejaran organisasi? Meskipun Theo sudah menghapusnya, bukan tidak mungkin mereka masih bisa menemukan ku Bukan?" tanya Dara.


"Ya, memang ada kemungkinan aku di kenali, tapi kemungkinan itu sangat kecil. Karena di organisasi tidak ada yang tahu wajahku. Para pembunuh di sana selalu memakai masker atau mengubah penampilan diri mereka. Itu demi menjaga keselamatan mereka saat menjalankan misi" ucap Ferdi, Dara mengangguk mengerti.


"Bagus kalau begitu, tapi setelah kau mengikutiku mulai saat ini. Aku tidak mengizinkanmu melakukan tindakan kriminal apapun. Aku tidak segan mengikuti kamu " ucap Dara Tegas


"Di mengerti nona!" ucap Ferdi dengan wajah berbinar puas.


"Dan mulai saat ini kau akan menjadi asisten ku dan juga bodyguard ku"ucap Dara


"Baik, terimakasih nona. Kau tidak akan mengecewakan mu" ucap Ferdi dengan yakin.


.....


Dimas, Ryan dan Ezio kini sudah berada di Star mansion seusai pulang sekolah. Ezio sudah mengirim pesan ke ibunya jika ia akan bermain dulu dengan Dimas dan Rian di Stra mansion.


Terlihat mereka bertiga antusias melangkah ke taman belakang. Ezio terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat di mana sahabat lain yang di maksud Ryan dan Dimas.


"Mana sahabat yang kalian maksud? Apa dia tidak di sini? Apa dia belum datang?" tanya Ezio.


"Sahabat kita tiap saat ada di sini kok" ucap Ryan.


"Mana? aku belum lihat" ucap Ezio menengok kanan dan kiri lagi.


"Dim, panggil White kesini!" ucap Ryan.


"Baiklah" ucap Dimas mengangguk.


Kemudian ia memanggil White dengan sedikit berteriak.


"White!! Kami datang!" ucap Dimas.


Roaaarrr!!!!


Suara Auman White menggelegar membuat Ezio menegang seketika. Apalagi saat ia melihat sosok hewan buas yang bahkan besarnya melebihi dirinya dan mengaum tepat di dekatnya.


"Sini, White! Kenalan dulu sama sahabat baru" ucap Ryan .


White menurut dan melangkah ke arah mereka. Meskipun saat itu White terlihat santai dan berada di kandang sedangkan Mereka ada di luar. Ezio tetap merinding ketakutan.


ROOAAARRR!!!!


White mengaum sekali lagi membuat Ezio terkejut.


"Aaahhhhh!!" Teriak Ezio


Gedebuk!!!


Ezio menderatkan bokongnya saat ia terjengkang kebelakang saat ia terkejut. Ia tidak menyangka jika sahabat yang mereka maksud itu ternyata adalah harimau putih yang besar.


Begitulah cerita perkenalan Ezio dengan White yang terkenal.


.....


Kultivasi nya saat ini sudah berada di Tingkat 2 level puncak, di tahap ini ia mengalami krisis di ambang kenaikan ke tingkat 3. Namun Dara tidak buru-buru meningkatkannya.


Awal bulan nanti Dara sudah mulai masuk kuliah, itu berarti sekitar dua Minggu lagi. Dara juga sesekali berhubungan dengan Celine lewat Chat, sedangkan Samuel, dia terlalu malu untuk memulai percakapan dengan Dara, jadi tidak tahu bagaimana kabarnya.


Saat ini karena di rasa Dimas sudah terbiasa dengan kehidupannya yang sekarang dan kekuatan dia juga sudah mulai stabil. Dara memutuskan untuk memenuhi wasiat ibunya.


Dia memanggil Dimas untuk datang ke ruangan kerjanya, ia ingin tahu apa respon dari adiknya itu. Bagaimana pun, Dimas harus tahu tentang ini.


Tok! Tok! Tok!


Pintu ruang kerja di ketuk.


"Masuk!" ucap Dara dari dalam.


Setelah mendapat izin, Dimas membuka pintu lalu masuk. Ia melihat kakaknya menatapnya sambil memegang map biru di tangannya.


"Ada apa kak? Kata Pak Agam, kakak minta aku ke sini" ucap Dimas dengan wajah polosnya.


"Ya, Ayo duduk dulu" ucap Dara dengan lembut.


Dimas mengangguk dan menuruti ucapan kakaknya. Ia langsung duduk bersebelahan dengan kakaknya di sofa tamu yang ada di sana.


"Ada yang ingin kakak sampein dek" ucap Dara


Dimas hanya diam dan menyimak apa yang ingin di sampaikan oleh kakaknya itu.


"Apa kamu masih inget kakak pernah bilang kalau sebelum ibu meninggal, ibu menyuruh kakak untuk mencari seseorang?" tanya Dara


"Ya, aku ingat" ucap Dimas mengangguk.


"Kakak sudah menemukannya" ucap Dara tanpa basa-basi.


"Benarkah? Kalau gitu kenapa kakak nggak temuin, sesuai permintaan ibu?" tanya Dimas senang.


"Bagaimana kalau ternyata mereka adalah kerabat ibu?" tanya Dara


Dimas kemudian terlihat sedang berpikir.


"Kalau mereka kerabat ibu, kenapa ibu tidak memberi tahu kita? Apa mereka pernah menyakiti ibu sama seperti orang itu? Sampai-sampai ibu tidak menceritakannya juga?" tanya Dimas balik.


"Kamu ini, kakak sedang menanyakannya padamu. Kamu malah bertanya balik" ucap Dara gemas dengan adiknya.


"He-he maaf kak, Aku tidak masalah mereka kerabat atau bukan. Tapi seperti yang aku tanyakan tadi, apa mereka menyakiti ibu?" ucap Dimas.


"Sepertinya tidak, Ibu meminta kakak untuk minta maaf pada mereka. itu berarti mereka tidak menyakiti ibu, mungkin sebaliknya. Ibu mungkin menyakiti mereka hingga menginginkan kakak untuk mewakilinya minta maaf pada mereka" ucap Dara


"Kalau begitu ayo kita ke sana! Setidaknya biarkan ibu tenang jika tahu amanatnya sudah kita jalankan" ucap Dimas bijak.


Bagaimana dengan sekolahmu?" tanya Dara.


"Kita bisa pergi ke sana saat aku libur sekolah kak" ucap Dimas.


"Baiklah, kita akan pergi ke kota S besok. Kita siap-siap berangkat" ucap Dara.


"Besok? Kok cepet banget Kak" ucap Dimas terkejut.


"Ya, mumpung kakak juga lagi nggak ada kerjaan, besok juga weekend. Jadi besok pagi kita berangkat ke kota S" ucap Dara.


"Baiklah" ucap Dimas mengangguk.


Setelahnya Dimas kembali ke ruang belajar. Bersama Ryan dan Ezio yang menunggunya di sana.


...•••••...