The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
366.



Deg!


Mendengar panggilan Putranya yang memanggil dengan sebutan Aunty membuat Manda merasakan sesak dalam dadanya. Ia tahu jika ini salah satu kenyataan yang harus ia terima, semenjak memutuskan menyerah kan Langit kepada sahabatnya.


Namun jauh dalam lubuk hatinya, ia tidak ingin jauh dari putra kandungnya itu. Hanya saja dulu keadaan tidak mendukung dirinya untuk membesarkan Langit dengan tangannya. Ia tidak ingin Langit di cap buruk oleh orang-orang, sebagai anak haram karena lahir di luar nikah.


Terlebih ia melihat tumbuh kembang Langit jauh lebih baik, dalam pengawasan dan didikan Dara sebagai ibunya saat ini.


Nathan menatap wajah Manda yang sendu meskipun ia tetap tersenyum, ia tahu istrinya itu menahan sakit dalam hatinya.


Dara pun peka dengan apa yang di rasakan sahabatnya itu, pasti sakit rasanya mendengar putranya sendiri memanggil Aunty pada ibu kandungnya sendiri.


"Abang sini sayang...." ucap Dara melambaikan tangan ke Langit.


Langit dengan kaki mungilnya melangkah mendekati bundanya dengan wajah gembul menggemaskan itu. Dara langsung mengangkat Langit dan memangkunya.


"Sayang, kamu panggil aunty Manda, mama ya..." ucap Dara mengelus kepala sang anak.


Manda menatap sahabatnya saat mendengar permintaan Dara. Matanya berkaca-kaca, sungguh Dara sangat peka dengan apa yang ia rasakan sejak dulu, tanpa harus ia mengatakan apapun.


"Aban Alus pandil mama ke ti Mada da?" tanya Langit mengerjapkan matanya polos.


"Iya sayang, kamu mau kan, panggil mama Manda dan papa Nathan" ucap Dara lembut, Langit mengangguk menurut dengan semua yang di ucapkan Dara.


"Ola mama Mada, papa Tantan" ucap Langit tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Manda dan Nathan.


"Sayangnya mama" ucap Manda tidak sanggup membendung air matanya. Ia kemudian membawa Langit ke pangkuannya dan memeluk putra sulungnya itu.


Dara dan Nathan tersenyum melihat pertemuan ibu dan anak itu. Dara tidak akan kehabisan ide jika nanti ada yang bertanya, mengapa Langit memanggil Manda dengan sebutan Mama. Banyak di luaran sana para anak-anak memanggil orang yang bukan orang tuanya dengan sebutan mama atau papa atau panggilan lainnya.


Jadi Dara tidak akan mengambil pusing dengan hal itu, yang penting saat ini ia akan ingin menjaga perasaan sahabatnya yang tengah hamil muda itu. Karena perasaan ibu hamil itu sangat rentan dan Rapuh, Dara tidak ingin membuat beban pikiran untuk Manda.


"Sayang ada dedek bayi di perut mama, nanti kamu bakalan punya adik lagi, kamu mau elus perut mama?" ucap Manda. Karena saat ini calon Dede utun ingin di sentuh oleh kakaknya itu.


"Wah, Aban puna banak de Ayi. Api ko telut mama kecin, unya da ede" ucap Langit sambil mengelus perut Manda dan Dara bergantian.


"Bunda kan ada tiga sayang, kalau mama ada satu adek bayinya. Jadi gedean bunda dong sayang" ucap Dara


"Tian de Ayi di telut da, kan tetak beltila di daem telut da, ucah gelak" ucap Langit dengan wajah menggemaskannya, membuat semua nya tertawa.


"Papa juga mau peluk dong sama Abang Langit, boleh? Papa kangen tahu" ucap Nathan menyodorkan kedua tangannya dan menggendong Langit, lalu memindahkan Langit ke pangkuannya dan menciuminya.


"Papa Tantan, ni tenapa?" tanya Langit melihat goresan di bagian dagu.


"Ini luka dikit pas papa ada misi di tempat kerja" ucap Nathan.


"Miti tuh apa?" tanya Langit dengan wajah polosnya. Karena Kai tidak pernah mengatakan tentang pekerjaan saat ia berbicara dengan Langit, jadi ia tidak mengerti tentang itu.


"Aaaa... Gimana jelasinnya nih, kamu nggak bakal ngerti juga. Tapi sayang, jangan panggil papa Tantan dong, panggil papa Nathan aja ya. Kalau Tantan, papa udah kaya aplikasi pencarian jodoh" ucap Nathan terkekeh.


"Pisi pa'an pa? Dodoh pa? Aban ga ngeti" ucap Langit dengan celotehan polos nya.


"Aduh salah ngomong lagi" ucap Nathan merasa merinding karena di tatap begitu tajam oleh dua wanita di depannya. Karena berbicara yang tidak-tidak.


"Tenapa ga di uwab pa?" Ucap Langit


"Sayang, aplikasi itu ada di ponsel, papa nggak bisa jelasin karena kamu nggak akan ngerti karena masih kecil" ucap Nathan.


"Abang, tadi main apa aja di taman?" tanya Dara mengalihkan perhatian Langit, akan sulit menjelaskan pada bayi pintar yang selalu penasaran dengan bahasa atau kata-kata baru yang pertama kali ia dengar.


Dara memang tidak membiasakan Langit melihat, apalagi memegang ponsel. Bahkan saat ia bersama dengan Langit, Dara akan meletakkan ponsel jauh-jauh atau ia simpan di saku.


"Ain kedal-kedalan, Ain ail, ain Gogo da, teluuu banet adi...!!!" ucap Langit dengan semangat, bisa dengan mudah di alihkan perhatian nya.


"Wah, Abang udah bisa main Lego? Hebat!!!" ucap Dara dengan wajah berbinar dan tepuk tangan, seolah baru tahu putranya itu bisa bermain lego.


"Bita Don, kan Aban pitel" ucap Langit semangat


Semuanya tertawa melihat tingkah Langit yang sangat aktif dan pintar, Nathan memberikan kode mengatakan terimakasih pada Dara. Mereka pun menikmati waktu mereka bermain dengan Langit sampai sore.


....


Dimas baru saja menyelesaikan less bahasa Mandarin yang baru-baru ini ia tekuni, Dimas menunggu Sandi menjemputnya. Karena Sandi menjemput Ryan lebih dulu di sekolah yang jaraknya lebih dekat.


Namun saat Dimas menunggu jemputan, ia di kejutkan dengan sosok yang sangat ingin ia hindari. Orang itu tersenyum dan menggosok kedua tangannya, lalu melangkah ke arah Dimas.


Dimas memasang wajah datar dan berpura-pura tidak mengenal orang itu, ia duduk di kursi panjang di depan tempat less yang kebetulan hanya dia sendirian dan memainkan ponselnya. Teman-teman nya sudah lebih dulu di jemput, jadi di sana sudah sangat sepi.


"Hallo Adimas" ucap orang yang tak lain adalah Agung.


Tidak sia-sia ia berkeliling ke daerah perbatasan ibukota selatan. Ia melihat putranya tanpa di sengaja tengah duduk di sebuah tempat less.


"Hm, Siapa?" ucap Dimas dengan nada datar tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel miliknya.


Agung melihat ponsel mewah yang seharga sebuah sepeda motor itu. Matanya berbinar, jantungnya berdetak kencang, ia sudah membayangkan betapa kemewahan yang akan ia dapatkan sebentar lagi.


Ia merasa menyesal sudah membuang kedua anaknya di masa lalu, jika saja ia tahu keduanya akan sukses di masa depan. Ia tidak akan mengusir istri pertama dan kedua anaknya.


Kenapa pula ia tidak mempertahankan mereka, bukankah lebih baik ia memiliki dua istri sekaligus pada waktu itu. Sungguh pemikiran yang teramat menjijikkan.


"Nak, apa kamu tidak mengenali ayah kamu sendiri?" ucap Agung dengan suara di buat sesedih mungkin.


Dimas mencibir dalam diam, mendengar ucapan Agung.


"Sepertinya anda salah orang, saya sama sekali tidak mengenalmu pak tua" ucap Dimas, menatap Agung sekilas dengan tatapan datar namun tajam.


"Ayah tahu, kamu pasti tidak mengenali ayah kandungmu sendiri, dulu kamu masih bayi saat di bawa ibumu. Kakak kamu juga di bawa ibumu dari ayah, ayah sangat terpuruk kehilangan dua anak yang ayah sayangi saat itu" ucap Agung mendramatisir.


"Anda benar-benar salah orang pak tua, saya tahu siapa ayah saya dan itu bukan anda. Anda jangan mengaku-ngaku" ucap Dimas dengan nada sinisnya.


"Apa ibumu sudah menikah lagi? Pasti ia menikah dengan selingkuhannya saat berhasil membawa kalian berdua pergi dari ayah" ucap Agung mengarang cerita.


Sungguh saat ini Dimas ingin sekali menghajar, orang gila yang sayangnya adalah ayah kandungnya itu. Bagaimana bisa ia memfitnah ibunya berselingkuh?


"Benarkah? Memang bapak tahu siapa nama ibuku?" tanya Dimas berpura-pura terkejut.


"Tentu saja ayah ingat, sampai detik ini ayah tidak pernah melupakan wanita yang sangat ayah cintai. Namanya adalah Nayla, benarkah?" ucap Agung dengan percaya diri.


"Maaf, nama ibuku bukan Nayla. Anda benar-benar sudah salah mengenali orang pak tua. Saya tidak mengenal anda dan nama ibu saya bukan Nayla" ucap Dimas lalu berdiri, karena mobil Sandi sudah sampai. Meninggalkan Agung yang terbengong di sana.


...•••••••...