The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
151. Memberitahu Dierja



Kai masuk ke ruangan kerja Opahnya bersama dengan Dierja. Mereka berdua duduk di kursi kayu jati dengan alas busa yang empuk itu.


Pelayan sudah menyiapkan teh panas dan juga cemilan di sana untuk menemani mereka mengobrol.


Mereka tidak mengucapkan satu kata pun sampai Pelayan itu keluar dan menutup pintunya


Mereka tidak takut ucapan mereka bocor, karena ruangan itu kedap suara. Kecuali ada orang dengan kekuatan Indra pendengarannya tajam seperti seorang kultivator yang masih bisa mencuri dengar.


"Apa yang ingin kamu bicarakan Kai?" tanya Dierja menatap cucu tertuanya itu.


"Opah, Dara sudah menceritakan semuanya pada ku" ucap Kai langsung.


Dierja terkejut mendengarnya, namun ia masih bisa tetap tenang. Ia tidak marah karena Dara memberitahu Kai tentang hal itu. Ia yakin Dara pasti memiliki alasan menceritakan semuanya pada Kai.


Tiba-tiba saja Kai melepaskan aura kultivatornya yang membuat Dierja terkejut dan tertekan karena kekuatan itu lebih kuat dari kekuatan milik Dierja.


"K-kau..." ucap Dierja gagap dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan ia rasakan saat ini.


Tok! Tok! Tok!


Tiba-tiba saja pintu ruangan kerja Dierja di ketuk dengan keras.


"Tuan besar! Tuan muda! Apa kalian tidak apa-apa?" ucap Tirta dengan suara yang terdengar panik.


Bagaimana tidak panik? Ia tiba-tiba merasakan kekuatan besar dalam radius tidak jauh darinya, yang berasal dari ruangan kerja Dierja. Karena ia tahu Dierja dan Kai ada di sana, ia langsung berlari ke sana, ia takut ada penyusup datang dan ia kecolongan lalu menyakiti Tuannya.


Mendengar suara Tirta, Kai menarik kembali kekuatan miliknya. Dierja menghela nafas lega, meskipun banyak pertanyaan di benaknya. Ia memilih untuk menahannya sejenak.


"Bisakah Tirta masuk? Ia mungkin khawatir karena merasakan kekuatan mu. Tirta juga kultivator sama seperti kita" ucap Dierja setelah cukup tenang.


"Hmm" jawab Kai menganggukkan kepalanya.


Ia sudah tahu jika Tirta juga seorang kultivator, Dara sudah memberitahu dirinya tentang itu.


Ceklek!


Dierja membuka pintu, Tirta yang melihat tuannya tidak kenapa-napa bernafas lega. Ia juga melirik Kai yang duduk tenang di sofa dalam keadaan baik pula.


Namun ia mengerutkan kening saat tidak lagi merasakan aura kultivator kuat tadi. Tirta ingin mengatakan pada Dierja bahwa kemungkinan ada kultivator yang menyusup, namun ia urungkan karena di sana ada Kai yang tidak tahu mengenai kultivator.


Dierja tentu saja paham akan hal itu, jadi ia meminta Tirta untuk masuk dulu. Untungnya saat Tirta berlari, ia tidak terlihat oleh penghuni Manor yang lain. Kalau tidak Dierja pasti repot mencari alasan untuk menjelaskan nya pada keluarganya dengan kepanikan Tirta yang tiba-tiba.


"Kau pasti merasakan kekuatan tadi?" ucap Dierja saat Tirta sudah masuk ke ruangan kerja.


Tirta tentu saja terkejut mendengarnya, bukan karena Dierja juga merasakannya. Tapi karena Dierja mengatakannya saat ada Kai di sana.


"Tuan..." ucap Tirta


"Itu aura milik Kai" ucap Dierja paham.


"Oh itu aura Kai... A-Apa???? Punya Kai???" ucap Tirta terkejut saat ia sadar yang di ucapkan tuannya itu.


"Ya" ucap Dierja


Tirta tidak bisa tidak melihat Kai dengan perasaan yang sulit untuk di jelaskan. Kai kemudian melepaskan auranya lagi, namun ia menariknya lagi setelah beberapa saat.


"Ba-bagimana bisa?" ucap Tirta tidak percaya sama seperti Dierja.


"Saat aku bertugas kemarin di desa F di provinsi K Selasa lalu. Aku mendapat tugas untuk menyelidiki menghilangnya banyak anak-anak dan gadis muda di desa itu. Banyak anggota militer yang di turunkan, Dan hanya menyisakan sedikit yang selamat dengan luka dalam yang sangat serius. Apa Opah tahu, ternyata pelakunya adalah sekelompok orang kultivator hitam yang mengelola kebatinan dengan cara yang menyimpang dan mengorbankan manusia lain" ucap Kai


"Kultivator jahat? Lalu apakah semuanya di berantas olehmu?" tanya Dierja dan Tirta yang terkejut mendengarnya dan juga menggeram marah saat mendengar perbuatan keji penjahat itu.


"Bukan aku! Karena saat itu aku masih manusia biasa?" ucap Kai jujur


"Kau masih manusia biasa?? Selasa lalu?" tanya Dierja dan Tirta bersamaan dengan nada yang sulit di percaya.


"Ya" jawab Kai


"Lalu siapa yang mengalahkannya?" tanya Dierja lagi.


"Dara" ucap Kai


"Dara??" tanya Dierja dan Tirta, Kai hanya mengangguk


"Bagaimana bisa ia ada di sana? Apa ia ikut kesana bersama dengan kamu?" tanya Dierja dan Kai menggeleng.


"Tidak, dia muncul secara tiba-tiba. Sebelum aku pergi, Dara memberikanku kalung, dari sana Dara bisa merasakan jika aku dalam keadaan bahaya dan tiba-tiba saja saaat aku di serang, Dara muncul di depanku setelahnya dan menangkisnya" ucap Kai


Dierja dan Tirta mendengarkan dengan seksama, tentu mereka berdua terkejut.


"Lalu, apa maksudmu kamu masih manusia biasa? Opah yakin kamu bahkan memiliki kekuatan di atas opah. Bagaimana caranya kamu bisa jadi kultivator?" ucap Dierja.


"Aku baru membuka Meridian ku semalam karena bantuan dari Dara dan Pil roh suci buatannya" ucap Kai.


Dierja dan Tirta lagi-lagi terkejut entah sudah berapa kali, mereka ingat bahwa mereka melupakan sesuatu, kalau Dara merupakan kultivator ganda yang juga seorang Alkemis tingkat grandmaster tingkat 9.


"Di tingkat apa kamu sekarang?" tanya Dierja yang penasaran dan Tirta memasang telinganya.


"Dara mengatakan jika saat ini aku ada di tingkat 3 level menengah. Atau Qi transformasion level menengah" ucap Dara


"Apa????" ucap keduanya tersentak untuk kesekian kalinya. untuk kesehatan jantung keduanya aman, kalau tidak? Entahlah!


"Monster!!! Mereka berdua pasangan monster!" gumam keduanya dalam hati.


Bagaimana mungkin bukan monster? Banyak orang yang memiliki bakat kultivasi, tapi mereka butuh puluhan tahun untuk bisa naik ke tingkat Qi Transformasion. Tapi Kai hanya semalam saja sudah sampai di tingkat itu.


Tingkatan Dara saja sudah membuat mereka tertegun. Di usia Dara yang kurang dari 20 tahun, tapi sudah berada di tingkat Transcedent.


Sedangkan mereka berdua hanya di tingkat Initial Element.


Ini Gila!!!! Sungguh Gila!!!!


.....


Di ruang tamu keluarga Narendra, kini seorang wanita tengah duduk berhadapan dengan Hesti, Sarah dan Ajeng. Wanita itu tidak lain adalah Ivone.


Beberapa saat yang lalu, ia nekat untuk datang ke kediaman Narendra dan meminta bertemu dengan Hesti karena ingin menyampaikan sesuatu yang penting.


Awalnya ia tidak bisa masuk, namun ia terus membujuk para penjaga gerbang, bahkan ia mengatakan jika ia dari keluarga Brigez atau marga Hesti sebelum menikah. Padahal dirinya tidak memiliki hubungan kerabat langsung dengan Hesti.


Ia hanya terhubung karena adik ibunya yang tak lain adalah tantenya, yakni ibu dari Alice yang merupakan adik ipar dari Hesti.


Mendengar nama keluarga itu, Penjaga menghubungi pihak dalam Manor dan ia mendapat izin dari Hesti untuk masuk, membuat Ivone senang dan mengangkat kepalanya. Ia seakan menyombongkan diri pada para penjaga itu, bahwa ia adalah orang penting keluarga Narendra.


"Ada perlu apa kamu datang?" tanya Ajeng menatap tidak suka dengan wanita yang duduk di depannya.


Ajeng adalah gadis yang sangat peka, ia sudah sering bertemu dengan banyak wanita bermuka dua seperti orang yang ada di depannya.


"Ak-aku, ingin memberitahu nyonya Narendra tentang Dara, kekasih Kai" ucap Ivone.


Mendengar nama Dara dan Kai di sebut mereka mengerutkan kening.


"Apa kamu dekat dengan Kakak dan kakak iparku?" tanya Ajeng dengan dingin


Mendengar ia dekat dengan Kai, wajah tidak tahu malu Ivone memerah malu. Membuat Ajeng memutar matanya.


"Aku teman Kai" ucap Ivone


Ucapan Ivone membuat kerutan di kening ketiga wanita dari keluarga Narendra itu semakin mengerut.


Teman Kai?


Apa dia pikir mereka bodoh? Jelas mereka lebih tahu Kai yang tidak pernah berteman dengan perempuan kecuali saudaranya yakni Ajeng dan Alice.


Tentu saja Dara pengecualian, karena Dara adalah satu-satunya gadis yang spesial dan yang dekat dengan Kai selain Keluarganya.


...•••••••...