The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
177. Paviliun barat



Manda sudah memejamkan matanya saat Riki mengangkat tangannya ke atas. Sampai tamparan itu terdengar sangat nyaring di telinganya, Manda memejamkan matanya sambil beringsut takut.


Namun ia sama sekali tidak merasakan sakit di pipinya, padahal ia dengar dengan jelas suara tamparan itu. Jadi ia memberanikan diri membuka matanya yang baru saja ia tutup itu, untuk melihat apa yang terjadi.


Mata Manda terbuka lebar syok saat ia melihat Dara berdiri di depannya dan Riki si mantan kekasihnya yang pengecut itu jatuh tersungkur di lantai hanya karena sebuah tamparan dari Dara.


"Woaaaahhh....." para mahasiswa dan mahasiswi di sana takjub melihat Tamparan Dara yang luar biasa itu.


"Si*lan siapa yang berani nampar gue!!!" teriak Riki sangat marah sembari memegang pipinya yang terasa sangat sakit itu.


Dengan ekspresi wajah yang marah Riki menoleh ke arah orang yang menamparnya barusan, ia ingin tahu siapa yang begitu berani menamparnya. Namun ia terkejut sekaligus tertegun melihat kecantikan Dara yang justru berdiri di depannya.


"Dara, kenapa kamu ada di sini? Jangan berdiri di sana Ra, nanti kamu kena tampar orang gila" tanya Riki dengan nada lembut dan menjilat Dara.


Siapa yang tidak tergoda oleh kecantikan Dara, jadi sudah pasti Riki juga sama.


"Oh, aku di sini lagi cosplay jadi orang gila yang nampar babi jadi-jadian" ucap Dara.


Hal itu membuat Manda yang di belakangnya tertawa dengan kencang. Bukan hanya Manda tapi semua mahasiswa dan mahasiswi yang ada di sana semuanya tertawa kecuali Riki dan pacarnya yang terupdate alias pacar terbaru nya.


Bagaimana tidak tertawa, Dara mengatakan itu dengan wajah polos nya dan nada yang sangat datar, tapi kalimatnya nyesss nyelekit!


"Kau mengatai pacarku Babi?


Si*lan kau! Kau berani sekali menghina pacarku, kau tidak tahu siapa dia! Jangan kira banyak orang yang sebut lu Dewi nasional gue takut ya sama lu!" teriak sinis pacar Riki yang bernama Mira itu menunjuk ke arah Dara.


"Da, kayanya telinga sama hidungku bermasalah deh" ucap Dara sendu dan mengusap hidungnya.


"Lah kenapa? Lu sakit? Ke dokter yuk!" ucap Manda benar-benar khawatir. Tapi Dara menggelengkan kepalanya.


"Telinga aku sakit, soalnya tadi aku tadi denger ada suara ngok ngok gitu Da. Terus hidung aku cium bau Bakaran lilin. Apa lagi ada yang jaga lilin buat ngepet ya? Ada pertunjukan kolaborasi pasangan duet Babi Ter on the spot" ucap Dara dengan tampang polosnya itu.


"Ha-ha-ha..... Ngok ngok, ngepet, kolaborasi antara babi ha-ha-ha" semua orang di lorong itu tertawa kecuali Riki dan Mira yang mengepalkan tangannya marah.


"Lu jangan ikut campur masalah gue, pacar gue sama nih mantan ja-lang brengsek!" ucap Riki dengan intonasi suara yang meninggi di depan Dara.


BUAK!!!


"Akkkhhh....!!!!" teriak Riki.


Dara tidak segan menendang mulut Riki hingga tuh orang jatuh terperosok dan terjengkang ke belakang.


"Beraninya kau ja*ang!!!" teriak Mira melihat pacarnya di hajar oleh Dara.


"Jangan meninggikan suara di depanku, nafas kalian tuh bau. Atau kau mau mulut kotormu itu aku buat lebih kotor lagi? Kayanya butuh asupan kotoran tuh mulut" ucap Dara dengan dingin dan tatapan tajam membuat Mira tercekat dan takut menatap Dara.


TAK!!


Dara menyentil kening Manda.


"Awwsss sakit Ra, kenapa gue di sentil!" ucap Manda dengan mengelus keningnya yang kena sentilan maut Dara.


"Kalau ada yang sakitin kamu, ya sakitin balik jangan diem Bae. Aku ada di belakang kamu kalau kamu takut, tenang aja" ucap Dara


"Huuaaaa bestie gue makasih Dara, lu memang sahabat gue paling terbaik pokoknya" ucap Manda memeluk Dara.


"Lebay kamu, jangan peluk-peluk, itu ingus di lap dulu sana" ucap Dara


"Ihh Ra, nyebelin gue nggak ada ingusan loh ya... Nggak pren ah" ucap Manda merajuk membuat Dara terkekeh.


Sungguh sejak mengenal Manda, Dara sering sekali tertawa. Dia sampai tidak sadar tawanya membuat semua orang terhipnotis.


Dara kemudian berbalik dan menatap tajam ke arah Riki dan Mira


"Eh banci, jangan cuma berani lawan perempuan! Kalau sekali lagi kamu berani sakiti Manda, bukan cuma tendangan yang aku kasih!! Tapi kutilangmu akan ku lepaskan dari sangkarnya!!!" ucap Dara kemudian pergi sambil menarik Manda pergi.


Ucapannya mwmbuat Riki bergidik sembari memegang pusakanya.


....


Di dalam mobil, Dara mengompres pipi Manda yang terkena tamparan dengan es batu, sudut bibir Manda terluka karena tamparan itu sangat keras.


"Aww aww Ra, santai woy, woles sakitt" Rajuk Manda.


"Cemen banget, baru segini hiihhh! Makanya kalau nggak mau sakit, kalau ada gelagat orang mau mukul ya tangkis kek, lawan kek, kalau nggak bisa lawan kan bisa ngindar" ucap Dara


"Kan tuh kejadian cepet banget itu Ra, ya mana sempet gue bereaksi. Kak Flo, tolongin Manda, si bos pagi mode singa" ucap Manda memanyunkan bibirnya merajuk dan mengadu pada Flo yag tengah menyetir itu.


"Diiihh Cepuan! Nggak bakal di denger sama Flo, dia itu orang gue bukan orang lu" ucap Dara


"Abisnya lu jahat Ra, orang lagi sakit di teken-teken" ucap Manda manyun dan berceloteh ria.


"Emang tadi kenapa sih? Bisa-bisanya kamu main drama di koridor" ucap Dara


"Mereketehe, gua aja bingung pacar baru Riki ujug ujung Dateng terus labrak gue. Gue males debat, mau langsung susulin lu di kantin. Eh, Riki nongol bak pahlawan kesiangan, udah mah sotoy malah nyangka gue yang nyari ribut sama Tuh Miranda hair color. Kan nggak banget gue mancing drama unfaedah gitu. Eh malah mereka cari gara-gara ma gue, itu pasti karena tuh pikok rambut cemburu kemarin liat gue ngomong sama Riki soal itu tuh. Di sangka gue masih doyan sama Riki terus ajakin balikan kali ya. Dih padahal ogah banget liat wajahnya juga" ucap Manda


"Alah, dulu aja doyan kamu sama tuh banci, sampe jadi pula adonannya" ucap Dara mencibir.


"Itu khilaf Ra, khilaf... Kemaren mata gue kelilipan jengkok Segede gaban Ra, jadi gue lihat kalau Riki itu mukanya mulus kaya jalan aspal baru jadi, eh pas jengkok di mata gue di angkat, lihat tuh orang kaya permukaan bulan, bergejulan" ucap Manda membuat Dara dan Flo tertawa mendengarnya.


.....


Di kediaman Narendra Kai sampai di sana langsung mencari keberadaan Sarah. Hanya saja menurut Hesti, Sarah ada di paviliun barat villa di kota H dan tidak ada di Manor.


Kai langsung saja menuju kota H untuk menemui Sarah. Bagaimana pun ia sudah mengatakan pada Rafael dan Nathan jika Ivone akan pulang dalam keadaan selamat.


Setelah menempuh waktu dua jam, Kai sampai di sebuah Villa besar di daerah puncak kota H itu. Udara di sana sangat sejuk dan membuat pikiran orang tenang dan betah untuk tinggal di sana.


Namun Vila itu menyimpan banyak jejak hitam, khususnya di paviliun barat. Di sana biasanya di jadikan tempat Sarah menghabiskan waktu untuk bermain ddngam kesayangannya.


Tentu saja bermain dengan sesuatu yang jarang di mainkan oleh seseorang.


Tok! Tok! Tok!


Pintu paviliun itu di ketuk oleh Kai.


"Tan!" panggil Kai


Tak lama pintu pun terbuka, menampilkan Sarah dengan senyum manis di wajahnya yang terlihat masih sangat awet muda itu. Tapi senyum indah itu bisa saja membunuh orang lain tanpa di ketahui.


"Kok kamu ke sini Kai. Ayo masuk!" ucap Sarah.


"Mau minum apa?" tanya Sarah


"Nggak usah Tan" ucap Kai


"Oh, terus kamu mau apa kemari?" tanya Sarah


Kai menghela nafas, tentu saja ia tahu hobi aneh tantenya itu, meskipun begitu keluarga Narendra sangat menyayangi Sarah. Terlepas Sarah memiliki hobi sadis.


Sarah sebenarnya bukan orang jahat, dia sangat baik bahkan sangat peduli dengan orang-orang di sekitarnya, hanya saja ia memiliki sisi gelap yang akan muncul jika ada pemicunya.


Tentu saja pemicunya itu adalah orang terdekatnya, ia tidak Sudak dan tidak ikhlas jika orang terdekatnya di ganggu atau di sakiti.


"Tan, tuh orang belum di balikin juga?" tanya Kai


"Masih belum puas main Tante, Kai" ucap Sarah santai saja tanpa ada beban sama sekali.


"Balikin aja Tan, jangan sampai dia mati" ucap Kai dengan Datar.


"Kamu maafin dia gitu aja? Dia udah Fitnah calon nyonya muda Narendra! Calon istri kamu!" ucap Sarah marah


"Kai tahu Tante. Kai juga yakin kalau Tante pasti juga udah kasih dia pelajaran kan?" ucap Kai.


"Tentu saja. Nggak akan ada yang lolos dari tanganku" ucap Sarah.


"Kalau gitu lepasin aja Tan, udah cukup! Bagaimana pun tuh orang masih sepupu-an sama Alice. Alice uring-uringan karena keluarga tuh orang nyariin Mulu" ucap Kai.


"Cih, sebenernya Tante belum puas main sama tuh orang. Tapi ya udahlah Tante ngalah, besok ntar Tante kirim tuh ja*ang ke habitatnya" ucap Sarah.


Kai hanya mengangguk, ia percaya jika Sarah sudah mengatakan seperti itu. Maka ia akan melakukan apa yang ia ucapkan. Kai juga bisa mendengar rintihan suara perempuan di balik ruangan kaca di depannya


Melihat kedatangan Kai, perempuan itu ngesot ke dinding kaca dan berusaha menggapai Kai.


"Uuuuuu...." suara tidak jelas di keluarkan perempuan itu sembari menangis. Sepertinya Perempuan yang tak lain adalah Ivone itu meminta bantuan padanya.


Kai yang melihat itu hanya datar, tidak ada rasa kasihan sama sekali. Ia hilang rasa kasihan pada Ivone, karena perempuan itu sudah berani berbicara buruk tentang gadisnya.


Gadis yang bahkan Kai jaga perasaannya dan ingin selalu ia buat bahagia. Meskipun biasanya Kai kurang setuju dengan sifat bar-bar tantenya. Tapi Kali ini Kai puas menyaksikan Ivone mendapat karmanya. Ya meskipun bukan Kai yang melakukan itu, karena Kai tidak pernah menyiksa orang lain kecuali buronan.


...••••••••...