
Semua orang di Villa menikmati malam pergantian tahun, kecuali Revan dan Arvin yang terlihat masih terdiam melihat interaksi Dara dan Kai.
Arvin kesal, lalu minta izin keluar Villa sebentar untuk menikmati festival di luar Villa.
Melihat kakaknya diam saja, Bara berinisiatif untuk mendekat dan duduk di samping kakak kulkasnya itu. Ia memberikan segelas orange juice pada Revan.
"Terimakasih" ucap Revan menerimanya.
"Sama-sama, kak, boleh aku bicara sesuatu denganmu?" tanya Bara.
"Hmm..." ucap Revan tanpa minat, namun ia tetap mendengarkan apa yang ingin di katakan adiknya itu.
"Jujur saja sebenarnya aku tahu kakak memiliki rasa khusus pada Dara kan?" ucap Bara sukses membuat Revan terkejut dan tubuhnya menegang kaku.
Mendengar ucapan adiknya itu, Revan hanya diam tidak menjawab satu kata pun, ia bingung harus mengatakan apa saat ini.
"Aku bukan anak kemarin sore yang tidak mengerti bagaimana ciri-ciri orang jatuh cinta kak, aku pernah jatuh cinta dan berpacaran. Tentu saja aku tahu apa yang kakak rasakan saat ini. Tapi kak, aku hanya ingin mengingatkan kamu, lebih baik akhiri perasaan itu sekarang!" ucap Bara dengan pelan dan hanya bisa di dengar oleh mereka berdua.
"Aku tahu ini adalah cinta pertama kakak dan kakak juga merasa kecewa saat tahu dia adalah adik kita bukan? Meskipun dalam agama ataupun negara boleh menikahi saudara saudara sepupu dan sah. tapi pandangan orang yang tidak mengerti tentang itu tetap saja berpikiran jika itu salah. Terlebih mama dan papa sudah mengangkat Dara sebagai anak dan semua orang tahu dia adalah adikmu kak. Aku tahu pesona Dara tidak main-main, bahkan bisa meluluhkan Sifa kulkas kakak" ucap Bara
"Apa lagi kakak tahu kalau Dara sekarang sudah memiliki pacar, jangan terlalu keras melarangnya. Biarkan ia mencari kebahagiaannya sendiri dan aku yakin kakak juga mendapat jodoh yang terbaik dari Tuhan nantinya" lanjut Bara
Ia mengerti perasaan kakaknya itu, tapi ia juga akan menasehati kakaknya. Ia tidak ingin kakaknya salah mengambil langkah dan membuat situasinya makin rumit.
Revan menghela nafasnya panjang dan meneguk orange juice di tangannya itu, lalu menoleh ke arah adik nya.
"Kakak paham, terimakasih sudah mengingatkan kakak. Tanpa kamu suruh pun kakak sudah mencoba menghapus persaan ini. Meskipun begitu, kakak mencoba mengubah perasaan ini menjadi kasih sayang seorang kakak pada adiknya.
Tidak perlu khawatir, kakak tahu apa yang harus di lakukan. Masalah kecemburuan dan rasa tidak suka kakak dengan hubungan Dara dengan pacaranya. Itu hanya karena kakak masih tidak rela saja. Bagaimana pun kakak baru saja patah hati, dan rasanya tidak nyaman" ucap Revan dengan panjang kali lebar.
"Syukurlah kalau kakak mengerti, aku yakin kakak bisa. Lihatlah kak, adik kita terlihat sangat bahagia bersama dengan pilihannya. Apa kakak sanggup melihat senyum di wajah Dara menghilang karena kakak tidak merestui hubungannya dengan Kaisar?" ucap Bara.
"Aku tidak sanggup kalau senyum manis itu menghilang. Haaaaahhh.... Baiklah, aku harap pria itu tidak menyakiti adik kesayanganku dan mencintainya dengan sepenuh hati" ucap Revan menatap sendu ke arah Dara dan Kai.
"Bagus, itu baru kakakku. Aku yakin kakak bisa menemukan jodoh yang baik. Bagaimana kalau Arra?" ucap Bara
"Siapa itu Arra?" tanya Revan mengerutkan keningnya.
"Astaga kak, kamu memang keterlaluan, padahal kalian sudah sering bertemu. Kamu malah tidak ingat dengan namanya sama sekali, Arra itu anak perempuan Tante Rose kak" ucap Bara gemes ingin menjitak kakaknya itu, namun ia tidak berani.
"Gadis kecil itu?" tanya Revan menunjuk ke arah Arra yang tengah menikmati makannya.
"Hmm, bukannya dia cantik? Aku juga tahu kalau dia juga menyukai kakak. Mau aku comblang in?" tanya Bara menaik turun kan kedua alisnya
"Tidak perlu! Biarkan urusan jodoh mengalir dengan sendirinya, untuk saat ini kakak tidak ingin memikirkan itu" ucap Revan.
"Baiklah, asal jangan kelamaan. Kakak tahu kalau mama ngomel, kalimat panjangnya ngalahin panjang kereta api" ucap Bara terkekeh.
"Waaahh, kamu berani sekali, mama harus tahu ini! Ma....hmmmmp" Belum sempat Revan memanggil mama nya, mulutnya sudah di bekap oleh Bara.
"Bocor banget mulut, kalau mama denger bisa mati aku kak. Mending kakak balik jadi kulkas lagi aja deh dari pada ngomong panjang gini" sungut Bara kesal.
"Ha-ha-ha...." Revan tertawa kencang saat menjahili adiknya itu.
Bara tersenyum dalam diam, ia menghela nafas lega saat melihat kakaknya tertawa lagi. Tidak ada yang tahu, di balik sifat Bara yang selalu ceplas-ceplos tanpa saringan itu. Ia adalah sosok yang sangat peka dengan sekitarnya dan pengertian.
.....
Semua orang di jalanan juga menikmati kembang api yang menyala itu dengan tatapan takjub.
"Happy New Years!!!!!" teriakan semua orang menggema.
"Selamat tahun baru, Dara. Semoga kita selalu bersama selamanya" ucap lembut Kai pelan di telinga Dara.
"Hmm, selamat tahun baru juga Kai" sahut Dara dengan senyum manis di wajah cantiknya.
Tangan Kai menggenggam tangan kanan Dara, sedangkan tangan kiri Dara menggenggam tangan Dimas. Jadi saat ini Dara di apit oleh dua laki-laki yang sangat berharga dan yang paling ia sayangi di dunia ini.
.....
Keesokan harinya, Mereka masih berada di Villa dan sedang siap-siap untuk kembali ke kota S.
Dara pamit lebih dulu karena ia akan menghabiskan waktu berdua dengan Kai, mereka akan berkencan di hari pertama tahun baru.
"Dara pamit dulu ya" ucap Dara pada semuanya.
"Kami ini kenapa nggak bawa Kai main ke mansion Dek, malah buru-buru mau kencan" ucap Bara
Mereka semua saat ini sudah membiasakan manggil Kaisar dengan panggilan Kai.
"Biasa lah anak muda, lagian Kai akan balik ke ibukota malam nanti karena besok sudah harus melapor ke pangkalan" ucap Dara
"Udah bertugas lagi Kai?" tanya Bara terkejut
"Tidak, hanya melapor saja" ucap Kai
"Emang nggak bisa di wakilin?" tanya Bara lagi.
"Ya bisa, tapi kan Kai masih ada keluarga di ibukota. Ini tahun baru jadi ia juga harus mengunjungi kedua orang tuanya, Bara api" ucap Gusti gemas.
"Hehehe, gitu ya kek. Ya mangap nggak tahu" ucap Bara
"Maaf Bara, maaf!" ucap Ellena meralat ucapan putranya.
"Iya mah, Bara maafin. Tumben mama minta maaf, lagi nggak ada Jin nya ya mah? Tenang Bara ini baik hati dan tidak sombong juga pemaaf, jadi Bara pasti maafin mama kok" ucap Bara.
"Baraaaa!!!!" ucap Ellena kesal karena kelakuan putranya itu.
"Ha-ha-ha...." Semuanya tertawa melihat ada-ada saja kelakuan ibu dan anak itu.
"Jaga adik kesayangan ku baik-baik, kalau kau berani menyakitinya, sampai akhirat pun aku akan mencarimu" ucap Revan.
"Tentu, kamu bisa melakukan apapun jika aku menyakiti Dara, tapi aku pastikan itu tidak akan terjadi" ucap Kai.
Revan hanya mengangguk, Dara dan Kai pun berangkat lebih dulu. Dalam hari Dara dan Kai, ia merasa lega karena seperti Revan sudah mulai menerima hubungan keduanya, karena tidak ada nada dingin dan tidak suka pada ucapannya.
...•••••••...