
Beberapa orang yang mendengar ucapan Flo tertegun. Pil penyembuhan? Siapa yang tidak tahu khasiat pil itu, meskipun mereka bingung gadis itu mendapatkan dari mana pil itu.
Panatua padepokan Jatisura atau guru dari Arya itu segera membuka tutup botol porselen kecil berisi pil itu. Wangi pil menguar begitu saja ke setiap penjuru, hingga membuat semua orang terkejut dan juga merasa tenang hanya dengan menghirup baunya saja.
"Pil penyembuhan tingkat lima kualitas sempurna!" pekik salah seorang panatua dari padepokan Suralagi yang kebetulan tempat duduknya dekat dengan mereka.
Mendengar itu semua orang semakin di buat terkejut, pasalnya pil tingkat 3 saja sudah sangat sulit di dapat. Alkemis di generasi ini belum pernah mereka lihat ada di negara mereka. Mereka masih mengandalkan pil yang di buat oleh master Alkemis dari negara C. Itu pun tingkat master Alkemis hanya di level 4 dan usianya sudah menginjak 100 tahun.
Tidak ada yang meragukan ucapan dari panatua dari padepokan Suralagi itu. Pasalnya Panatua yang bernama Ki wuluh itu merupakan seorang ahli peracik obat tradisional dan modern. Meskipun dirinya bukan seorang Alkemis, namun ia sering berkeliling dunia untuk belajar dan mengenali obat-obatan termasuk pil hasil penyulingan Alkemis.
Sepanjang hidupnya ia baru melihat pil tingkat tinggi seperti yang ia lihat sekarang. Beberapa tahun lalu ia pernah berkunjung ke Negara K untuk melihat kompetisi Alkemis internasional.
Namun tidak ada peserta yang hasil penyulingannya di atas 4. Hanya ada dua juri yang merupakan master Alkemis terkemuka yang sudah sepuh dan berada di tingkat lima.
"Nona... Tunggu!" teriak Panatua Jatisura itu.
Flo menghentikan langkahnya dan berbalik melihat panatua itu.
"Ya?" ucap Flo menatap panatua itu. Yang lain juga ikut menyimak obrolan keduanya.
"Maaf nona, kami tidak bisa menerimanya, tolong ambil kembali! Pil ini sangat langka dan berharga. Lagi pula ini sudah resiko mengikuti kompetisi, kami tidak bisa menyalahkan siapapun atas cidera yang anggota kami dapatkan" ucap panatua itu.
"Terima saja, anda harus menyembuhkan murid anda bukan? Tenang saja, pil ini aku masih memilikinya banyak. Tidak perlu sungkan" ucap Flo datar saja saat mengatakan hal itu.
Semua yang mendengar terkesiap, saat Flo mengatakan memiliki banyak pil tingkat atas itu. Apalagi gadis ini juga memiliki cincin ruang yang sangat langka.
Siapa sebenarnya gadis ini? Begitu pikir banyak orang.
"Ah begitu, kalau begitu terimakasih banyak nona. Kalau boleh saya tahu, apa anda seorang Alkemis?" tanya panatua
"Aku? Tidak!" ucap Flo menunjuk dirinya kemudian menggelengkan kepalanya.
"Lalu ini..." ucap panatua bingung.
"Guruku yang membuatnya. Kalau begitu saya permisi" ucap Flo tahu apa yang membuat panatua itu bertanya-tanya dari mana ia mendapatkannya, jadi ia mengatakan jika itu di buat oleh gurunya lalu ia langsung berbalik pergi dari sana dari pada di tanyai hal lainnya.
.....
Semi Final sudah di mulai setelah peserta beristirahat selama lima belas menit. Keempat peserta mengambil nomor untuk memilih lawan, Kai mendapatkan nomor genap, jadi di semi final ia akan melawan Wisnu. Sedangkan Flo akan melawan Sebastian.
"Nona...." ucap Flo tanpa suara menatap ke arah Dara.
"Lakukan!" ucap Dara tanpa suara juga.
Flo tersenyum senang dan mengangguk antusias, ia dengan semangat empat lima naik ke atas Arena di mana Sebastian sudah terlebih dulu berada di sana.
Ya, tidak ada yang tahu jika Flo hanya di perbolehkan menggunakan tenaganya paling banyak tiga puluh persen oleh Dara, sejak pertandingan pertama di mulai.
Hal itu guna mengembangkan daya ledakan kekuatan yang di miliki Flo. Pelatihan yang selama ini ia lakukan atas bimbingan dan arahan Dara, ia lebih meningkatkan kestabilan kekuatannya dan juga kontrol emosi yang sangat baik.
Karena Flo akan menghadapi Sebastian, yang mana Flo melihat tindakannya yang begitu sombong di atas arena. Membuat Flo sedikit gatal untuk menghajar orang tua itu. Ya orang tua, karena Sebastian sudah berusia setengah abad tahun ini. Yang berusia sama dengan orang tuanya.
Kebanyakan peserta yang masuk 16 besar adalah paruh baya, kecuali Flo dan Kai tentunya.
"Salam" ucap Flo dan Sebastian bersamaan.
"Gadis kecil, sebaiknya kamu menyerah saja!" ucap sinis Sebastian tidak berminat mslawan Flo.
"Kamu bicara denganku, paman?" tanya Flo memasang wajah polosnya sembari menunjuk wajahnya sendiri.
Mendengar dirinya di panggil paman, Sebastian merasa kesal. Ia merasa dirinya tidak setua itu, bahkan di usianya yang sekarang ia terlihat sangat muda dan belum menikah.
Di luaran sana banyak gadis berusia dua puluhan bahkan belasan mengejar-ngejarnya. Dan juga dirinya belum memiliki rencana menikah, karena ia memiliki kriteria yang sangat tinggi untuk pasangannya.
"Kau meledekku dan kau pikir aku sudah tua?" geram Sebastian
"Tidak! Paman sendiri yang mengatakan nya. Aku hanya mengatakan fakta bahwa kau sudah seumuran dengan ayahku, akan tidak sopan jika aku memanggilmu nama. Bahkan usiamu dua kali lipat dari usiaku saat ini. Apa aku salah memanggilmu paman? Atau kau mau aku panggil Kakek? Atau Daddy? Ah, Tapi aku nggak mau punya Daddy macam kamu" ucap Flo terkekeh saat melihat wajah Sebastian merah padam.
"Gadis si*lan! Terima ini!!!" Ucap Sebastian, sembari melayangkan pukulannya yang langsung di hindari oleh Flo.
"Jangan marah-marah paman, nanti darah tingginya kumat loh, nanti kena struk gimana?" ucap Flo masih dengan wajah sok polosnya itu.
"Diam ja-lang!!!" ucap Sebastian mengumpat.
BAK!!! BUK!!! BAK!!! BUK!!!
Suara serangan Sebastian menggema namun Flo dengan gesit menghindar, hingga pukulan Sebastian mengenai angin saja.
"Apa kau hanya bisa menghindar? lebih baik kau menyerah dan memberikan obat tingkat tinggimu dan juga cincin ruangmu itu padaku! Maka aku dengan berbaik hati membiarkanmu keluar tanpa luka goresan sedikitpun" ucap Sebastian di sela serangannya.
Jelas Sebastian mendengar apa yang ucapan panatua Jatisura setalah Flo memberikan pil penyembuh itu. Ia juga sama terkejutnya dengan yang lain, terlebih cincin ruang itu. Sebastian sangat menginginkannya.
"Aku tidak mau menyerah! Dan kalau kau mau barang milikku ya Beli atau buat sendiri. Jangan terlalu pelit dan malas paman" ucap Flo mencibir.
"Kau sangat bebal, Kau bukan lawanku. Satu-satunya yang memenuhi syarat melawanku adalah pria itu. Jadi jangan salahkan aku jika kau tidak bisa pulang dengan selamat" ucap Sebastian menunjuk ke arah Kai.
"Hiiiyy takut.... Tapi apa kau mampu? Kalahkan aku lebih dulu, baru sesumbar kalau dia adalah lawan seimbangmu. Kau bahkan tidak akan sanggup melawan setengah dari kekuatannya" ucap Flo.
BUAK!!! BLAM!!!!
Flo tidak menghindar dari pukulan Sebastian dan memukul balik. Keduanya terdorong ke belakang dua langkah.
Sebastian mengeryitkan keningnya saat lawannya berhasil membuatnya mundur.
"Kau cukup hebat tapi itu tidak cukup!" ucap Sebastian.
BUGH!!!
Sebastian memukul Flo dengan seluruh tenaganya, ia tidak ingin membuang waktu dan ingin segera mengalahkan Flo.
BLAM!!!!
"Huugghh...!!!!"
...•••••••...