The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
308. Bertemu dengan Fans



Keesokan harinya, Dara berangkat ke kampus lebih pagi. Hari ini adalah hari keputusan skripsi yang ia buat lulus atau tidak. Namun karena hari masih pagi dan kemungkinan Pak Sugeng datang satu jam lagi. Dara memutuskan untuk pergi ke perpustakaan terlebih dulu.


BRAK!!!


"Awsss!!!" Desis salah seorang yang menabrak Dara dan jatuh terduduk di lantai perpustakaan.


"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Dara sembari mengulurkan tangannya pada gadis di depannya.


"Ti-tidak apa-apa, maaf kak aku tidak sengaja" ucap Gadis itu terlihat terkejut saat melihat wajah Dara kemudian ia menunduk kembali saat melihat betapa cantiknya Dara.


"Tidak masalah, lain kali hati-hati. Ini bukumu!" ucap Dara sembari menyodorkan buku pada gadis itu.


"Kak, tunggu!" ucap gadis itu menarik ujung tali tas yang di kenakan Dara.


"Ya..." ucap Dara menghentikan langkahnya saat merasa dirinya di panggil dan merasa tapi tasnya di pegang.


"Bo-boleh a-aku minta foto bareng sama kakak?" ucap Gadis itu malu-malu dan juga takut jika Dara menokaknya.


Dara yang melihatnya itu terlihat gemas sendiri, kenapa gadis di depannya itu sangat menggemaskan.


"Boleh!" ucap Dara membuat gadis itu mendongak dan tersenyum sumringah saat dirinya di perbolehkan oleh Dara foto bersama.


Setelahnya mereka berdua mengambil foto beberapa kali, menggunakan kamera ponsel gadis itu.


"Kak, bisa sekalian tolong tanda tangan di sini. Kasih tulisan untuk Siera di sini" ucap Gadis yang bernama Seira antusias. Ia bahkan mengeluarkan sebuah buku miliknya dengan cover wajah Dara.


Dara terkejut, sepertinya kali ini ia bertemu dengan Fans nya. Ia juga tidak keberatan membubuhkan tanda tangannya dan memberikan nama Seira juga di sana.


"Sepertinya kamu baru di sini" ucap Dara, karena memang ia baru pertama melihat gadis itu di perpustakaan


"Ya kak, aku baru lulus Sekolah menengah dan mendaftar kuliah di sini, aku harap bisa di terima dan bisa sekolah di kampus yang sama dengan idolaku. Ah iya namaku Seira kak, aku Fans kakak, fansnya Dimas juga" ucap Seira dengan antusias


Dara hanya tersenyum dan menepuk kepala gadis itu pelan, ia rasa gadis di depannya sangat menarik. Terlebih melihat pipinya yang Chubby membuat Dara gemas.


"Semoga kamu bisa kuliah di sini, aku pamit dulu" ucap Dara lembut.


Seira tertegun sejenak, saat Dara sudah tidak terlihat dia memekik keras dengan heboh. Ia tidak menyangka jika kedatangan nya ke perpustakaan bisa bertemu, berbicara bahkan kepalanya di elus oleh idolanya itu.


Karena Seira berisik di perpustakaan, ia pun kena teguran dan di minta untuk diam karena telah menganggu orang yang tengah membaca di sana.


....


Di ruangan Dosen.


Dara sudah duduk di kursi depan meja kerja Pak Sugeng. Ia melihat dosennya itu tengah mengambil skripsi miliknya dari sebuah tas yang ada di laci meja kerjanya.


"Dara, saya sudah membaca dan mempelajari Skripsi yang kamu buat. Saya sangat terkejut karena yang kamu buat sangat baik dan bagus sekali. Bapak juga sudah berkonsultasi dengan Rektor dan membicarakan hal ini. Melihat skripsi yang kamu buat, tidak ada yang perlu di revisi sama sekali. Dan saya sudah menjadwalkan sidang untuk kamu dua minggu lagi" ucap Pak Sugeng, membuat Dara terkejut dan juga senang saat mendengarnya.


"Untuk Tesis, bisakah kamu membuatnya segera dan paling lama Minggu depan sudah jadi?" ucap Pak Sugeng


"Tesis?" beo Dara heran


"Ya, karena sidang inj bukan hanya terkait skripsimu tapi juga tesis untuk kamu mendapatkan gelar spesialis bedah" ucap Sugeng.


"Ma-maksud Bapak, saya akan di wisuda dengan gelar Spesialis bedah, bukan hanya sebagai Dokter?" tanya Dara terkejut.


"Ya, jadi minggu depan jangan lupa bawa tesisnya untuk saya periksa. Aku percaya kamu bisa melakukannya dan hasilnya pasti memuaskan" ucap Pak Sugeng.


"Baik Pak, terimakasih banyak sudah percaya pada ku" ucap Dara dengan senangnya.


Hanya saja Kai tengah sibuk saat ini dan baru bisa di hubungi sore nanti, sedangkan kedua adiknya tengah menyiapkan pentas untuk acara perpisahan kakak kelasnya di sekolah.


....


Pulang dari kampus, Dara tidak langsung pulang ke Star mansion. Tapi ia mengarahkan mobilnya ke apartemen yang di tempati oleh Manda. Ia sangat merindukan Baby Langit dan ingin melihat keadaan nya.


Sesampainya di apartemen, Dara di sambut oleh Manda dan Shine. Hanya ada Manda, Shine dan juga baby langit di sana. Sedangkan Nathan sedang ada pekerjaan di pangkalan sama seperti Kai.


"Anak Bunda apa kabar?" ucap Dara menyapa Baby langit yang tersenyum dan mencoba menggapai wajah Dara.


Dara menangkap jemari kecil Baby langit kemudian mencium nya dan dengan cejatan menggendong baby Langit.


"Kangen ya sama bunda, ih kamu seperti sudah ngerti ucapan bunda aja. Anak pintar, anak cerdas..." ucap Dara berbicara pada Baby Langit yang tertawa senang, seperti mengerti Ucapannya.


Pertumbuhan Baby langit memang sangat pesat, hanya dalam kurun waktu sebulan saja. Secara fisik Baby Langit sudah seperti bayi lima bulan.


"Apa baby langit Rewel Da?" tanya Dara pada Manda.


"Sama sekali tidak, aku juga heran mengapa baby langit jarang nangis. Apalagi pas malam ia tidak pernah rewel, hingga buat aku dan Shine bisa istirahat dengan nyaman. Bahkan aku masih bisa mengerjakan skripsi saat Baby langit tidur" ucap Manda menceritakan hal itu pada Dara.


Ia bahkan sesekali memvideokan Baby langit saat sedang mengoceh apa bayi, dan itu sangat menggemaskan. Manda juga kini sudah terbiasa mengubah cara bicaranya dengan cara lebih sopan.


"Bagaimana skripsimu?" tanya Dara


"Sudah rangkum, tinggal serahin ke dosen pembimbing" ucap Manda


"Kamu bisa serahin, baby langit biar bersama shine dulu. Ah iya aku punya kabar baik" ucap Dara dengan tersenyum


"Apa itu?" tanya Manda


"Aku akan sidang dua Minggu lagi untuk gelar profesi dan juga spesialis" ucap Dara


"Wah hebat, selamat ya Ra. Aku keduluan deh" ucap Manda


"Maka dari itu kamu segera ajuin ke Dosen, biar kita bisa wisuda bareng. Ah iya, setelah sidang aku akan membawa Baby langit bersama denganku" ucap Dara sembari menggendong baby langit yang tampak anteng di gendongannya.


"Secepat itu?" ucap Manda kini murung, ia sangat berat berpisah dengan sang putra.


"Kamu bisa berubah pikiran jika kamu mau, aku tidak akan bersikap egois dan mengambil Baby Langit dari mu" ucap Dara, namun Manda menggeleng.


"Tidak Ra, aku lebih percaya kamu yang merawat Baby Langit. Terlebih kemungkinan bulan depan aku dan Nathan akan menikah" ucap Manda


"Menikah? Wow selamat Da, ini kabar yang mengejutkan sekaligus membahagiakan" ucap Dara dengan tulus.


"Makasih Ra, kamu juga kapan akan menikah dengan Kai" tanya Manda.


"Mungkin sama denganmu di bulan depan, setidaknya aku harus memastikan aku lulus lebih dulu. Aku juga akan membicarakan hal ini dengan Kai dan juga keluargaku, bagaimana baiknya" ucap Dara


"Semoga apapun yang kamu mau cepat terlaksana" ucap Manda tulus


Meskipun sebagai seorang ibu, sebenarnya ia ingin mengasuh baby langit sendiri. Tapi entah mengapa ia justru lebih yakin jika Dara bisa lebih baik merawat putranya itu.


Ia melihat seperti ada keterikatan antara Dara dan putranya, Dara dan Baby Langit justru terlihat seperti anak dan ibu kandung. Entah itu hanya perasaan Manda atau memang itu merupakan Feeling seorang ibu.


...••••••...