
Melihat satu rekan tewas dan dua lainnya terluka parah di bagian mata dan mengerang kesakitan dan sudah sekarat karena kehabisan darah. Pria yang tersisa jelas sangat marah, ia menodongkan pistolnya dan menarik pelatuk itu.
"Si*l, mati kau ******!!!" teriak pria itu.
"Awas!!!" teriak wanita tadi lemah, ia sulit bergerak karena racun hampir menyebar sepenuhnya. Kalau tidak ia tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalahnya.
DOR!!!
Suara tembakan itu begitu nyaring terdengar dan pistol itu mengarah ke Dara. Namun kejadian selanjutnya membuat wanita dan pria tadi terkejut dengan mulut menganga.
Saat tembakan itu terjadi, Dara mengulurkan tangannya menangkap peluru itu dan meremukannya jadi abu. Tentu saja hal itu membuat keduanya tercengang dengan atraksi luar biasa yang Dara lakukan.
"Mo-monster!!!" teriak itu pria itu hendak kabur.
Namun bukan Dara namanya kalau melepaskan mangsanya begitu saja. Ia langsung menembakkan jarum di beberapa titik pria itu. Teriakan tidak terelakkan pun terdengar memilukan.
"Aaaaarrrggghhhh!!!!" teriakan itu sangat keras memekakkan telinga.
Pria tadi langsung ambruk ke tanah. Melihat itu, wanita tadi terkejut namun juga lega melihat lawannya di lumpuhkan. Meskipun begitu, ia terkejut dengan teknik apa yang di pakai Dara hingga membuat laki-laki itu langsung jatuh dan terus menerus berteriak dan sekarang suaranya makin melemah.
Dara mendekati wanita itu dan berjongkok, wanita itu beringsut sedikit takut. Meskipun begitu ia tetap mengucapkan terimakasih dengan suara lirih.
"Terimakasih nona" ucap wanita itu.
"Hmm...." Dara mengangguk dan mengulurkan tangannya hendak meraih tangan wanita itu, Wanita itu masih sedikit takut dengan nya.
"Aku hanya ingin melihat racun di tubuhmu, mungkin aku bisa menyembuhkannya" ucap Dara.
Perempuan itu terkejut, tapi ia justru mengulurkan tangannya. Entah mengapa mendengar perkataan Dara ia percaya begitu saja.
Dara mulai memeriksa Racun yang sudah menyebar hampir ke seluruh tubuh itu. Dara menghela nafas lega, karena racun itu bukanlah racun pelumpuh tulang atau racun lembah seribu.
Selain dua racun itu, Dara bisa menyembuhkannya dengan pil penyembuh. Asalkan pasien masih dalam keadaan hidup, walau denyut nadi lemah atau sekarat sekalipun, ia bisa menyembuhkannya.
Dara tidak 100 persen Yakin, jika di dunia saat ini tidak ada dua jenis racun itu. Tapi ia sudah mencari tahu nya dari berbagai sumber mengenai racun belakang ini, ia bisa menyimpulkan kalau kedua racun itu tidak ada di dunia ini.
Dua racun itu adalah musuh dari para kultivator, karena racun itu tidak memiliki penawar selain Pil Surgawi. Dan bahan untuk membuatnya pil Surgawi sangat langka, yaitu buah surgawi yang akan berbuah selama 1000 tahun sekali.
Sebenarnya Dara memiliki pohon surgawi dalam ruang dimensinya, hanya saja pohon itu belum berbuah meskipun waktu di ruang dimensi lebih cepat di banding kehidupan normal.
Di hitung 1 hari di ruang dimensi sama dengan 1 jam di dunia nyata. Setidaknya butuh 42 tahun di dunia normal, agar pohon itu berbuah.
Dan yang bisa menyuling pil Surgawi hanya Alkemis 9 ke atas yang bisa melakukannya. Di bawah peringkat 9 tidak akan bisa.
"Racunnya sudah menyebar" ucap Dara
"Ya, aku tahu. Terimakasih sudah berniat baik ingin menolongku. Tidak apa-apa, mungkin waktuku memang sudah selesai sampai di sini" ucap Wanita itu.
"Kau terlalu berpikir banyak, aku tidak mengatakan kalau aku tidak bisa menyembuhkanmu" ucap Dara
"Maksud anda nona?" tanya wanita itu terkejut.
"Jika percaya padaku, telan ini!" ucap Dara menyerahkan botol berisi pil penyembuhan.
"Terimakasih" ucap wanita itu menerima pil dari Dara, ia tidak ragu langsung mengambil dan meminumnya.
Baginya tidak minum pun ia akan mati. Jadi tidak masalah jika pil itu tidak berkhasiat dan justru mempercepat kematiannya. Wanita itu mengambil resiko untuk tetap meminumnya.
"Eh..." ucap Wanita itu terkejut saat merasa tubuhnya menghangat, tidak ada rasa sakit lagi di tubuhnya. Bahkan ia merasa lebih baik dan segar.
"Ak-aku sembuh? Racun itu sudah berhasil di netralisir, secepat itu? Anda sangat hebat nona!" ucapnya terkejut dan juga kagum dengan obat milik Dara.
"Maaf membuatmu tidak nyaman dengan wajahku" ucap Wanita itu lagi.
"Tidakkah kamu merasa wajahmu lebih baik, sebaiknya kamu ambil bekas luka yang hampir jatuh itu!" ucap Dara lagi.
"Bekas luka? Jatuh?" beo Wanita itu tidak mengerti.
Ia memegang pipinya, namun ia mendapati sesuatu di wajahnya Itu bekas luka yang mengupas. Ia membuka penutup sebagian wajahnya dan mengambil ponsel miliknya dan mengaca di sana.
Ia terkejut melihat bekas lukanya mengupas, dan wajahnya kembali pulih. Bahkan matanya, kembali seperti dulu dan bisa melihat tanpa bekas luka menganga lebar dan mengerikan lagi di sana.
"Wa-wajahku, pulih!" ucap wanita itu sembari menitikkan air mata.
Dara hanya tersenyum di balik masker yang ia kenakan, ia senang bisa membantu orang lain. Apalagi melihat wajah cantik wanita di depannya.
Jika ada orang lain di posisinya yang kehilangan kecantikannya dan justru wajahnya cantiknya berubah mengerikan seperti sebelum Dara menyembuhkan nya. Mungkin ia akan depresi atau bunuh diri. Karena luka itu membuat masa depannya menghilang.
Melihat wanita di depannya bertahan sejauh ini, Dara mengapresiasi semangat wanita itu dan tidak lelah berjuang untuk hidup di tengah kekurangan fisiknya.
"Nona terimakasih banyak, terimakasih
Nona. Saya tidak memiliki apa-apa, tolong jadikan saya pengikut anda untuk membalas semua kebaikan anda" ucap Wanita itu
"Tidak perlu, aku menolongmu ikhlas" ucap Dara.
"Tapi aku tetap ingin menjadi pengikut anda nona, menjadi budak pun tidak masalah" ucap wanita itu sembari berlutut dan bersujud di depannya
"Haaahhh, hentikan itu. Kamu hanya boleh bersujud di depan Tuhan dan kedua orang tuamu" ucap Dara memintanya untuk berhenti bersujud di depannya.
"Tolong kabulkan permintaan saya nona kalau tidak saya hanya bisa menerima kebaikan anda ini" ucap wanita itu.
"Baiklah, berdiri dulu" ucap Dara
Wanita itu langsung berdiri dengan semangat dan senyum mengembang di wajahnya.
"Siapa namamu?" tanya Dara
"Puspa Dewanti" ucap wanita bernama Puspa itu.
"Puspa yang berarti bunga atau Flower, aku akan memanggilmu Flo kalau begitu" ucap Dara.
"Baik" ucap Flo suka dengan panggilan barunya.
"Kamu serius ingin menjadi pengikutku?" tanya Dara, Flo mengangguk dengan cepat
"Aku akan menjadikanmu tangan kananku, tapi aku punya dua kondisi untukmu!" ucap Dara
"Tentu, katakan saja nona" ucap Flo.
"Pertama aku akan membuatmu lebih kuat, karena sekedar kuat saja tidak cukup untuk menjadi orang kepercayaanku. Kau harus siap menderita dengan latihan ekstrim yang berbahaya. Apa kamu terima?" ucap Dara
"Baik, saya tidak masalah Nona. Lalu yang kedua?" tanya Flo
"Aku ingin kamu melakukan sumpah setia dengan hidupmu. Aku tidak menyukai sebuah pengkhianatan dan aku tidak akan memaafkan apapun alasannya" ucap Dara
"Aku siap Nona" ucap Flo Yakin
...••••••...