
Seminggu kemudian...
Kai sudah menghabiskan waktu cutinya untuk menggantikan sang istri bekerja di kantor. Sekarang sudah waktunya Lingga yang menggantikan kakak sepupu dan kakak iparnya itu menjadi ketua sementara di Star Corporation.
Tentu dengan pekerjaan double selama seminggu ini, karena Ferdi juga akan mengambil cuti selama seminggu. Karena ingin menghabiskan waktu bersama sang kekasih, tanpa harus kepikiran soal kerjaan.
Sebelum kekasih tercintanya itu kembali ke negara A untuk melanjutkan pendidikannya, yang artinya mereka akan LDR lagi.
Karena merasa kasihan dengan pekerjaan sang suami yang menggunung, Flo berinisiatif untuk membantu Lingga. Jadi ia sekarang menggantikan Ferdi menjadi CEO sementara di sana, sedangkan Lingga bisa fokus mengurus pekerjaan seorang ketua saja.
Awalnya idenya itu di tolak oleh Lingga, karena Lingga tidak ingin membuat istrinya itu kecapean. Namun bukan Flo namanya jika ia tidak bisa menundukkan Lingga, akhirnya lingga mengizinkannya ikut membantu tapi dengan beberapa syarat.
Syarat pertama, di waktu istirahat mereka harus menghabiskan waktu bersama. Kedua, jika salah satunya ada yang meeting yang di lakukan di luar, maka salah satunya wajib ikut. Flo hanya menghela nafas dan dengan terpaksa setuju dengan syarat suami bucinnya itu.
"Mas, aku ada meeting dengan Klien dari negara J, buat bahas proyek baru yang akan segera launching, di Hotel Marion" ucap Flo tidak lupa izin dengan sang suami.
"Ah, kalau gitu, yuk!" ucap Lingga menghentikan pekerjaannya dan lekas berdiri.
"Kamu mau kemana mas?" tanya Flo
"Ya ikut kamu lah sayang, katanya mau meeting" ucap Lingga
"Kan kamu masih banyak kerjaan yang harus di kerjain mas. Apalagi berkas-berkas itu harus segera di tanda tangani" ucap Flo
"Nggak apa-apa, nanti aja aku kerjain" ucap Lingga
"Ya nggak selesai-selesai kalau gitu" ucap Flo menghela nafas.
"Jangan khawatir sayang, aku pastiin hari ini semua berkas itu selesai. Kalau perlu, nanti aku bawa ke Manor dan aku kerjakan di sana" ucap Lingga
"Haaahhh.... Ya udah ayo" ucap Flo pasrah dan menyerah, ia membiarkan suaminya ikut.
Keduanya pun beserta sekretaris segera berangkat menuju ke Hotel Marion tempat pertemuan itu di adakan.
.....
Dara tengah berada di taman samping mansion, ia tengah menikmati sejuknya angin di taman itu. Langit juga tengah asik bermain di temani oleh Shine dan juga para asisten rumah tangga yang lain.
Kai dan Dara memang memutuskan untuk tinggal sementara di Star mansion, agar Langit bisa leluasa bermain. Kalau di penthouse, tidak ada orang lain selain mereka bertiga di sana. Karena Kai tidak mengizinkan orang lain masuk, itu sangat membosankan bagi bayi aktif seperti Langit.
Terlebih Ellena kembali ke kota S kemarin, mama Ellena memiliki agenda yang tidak bisa ia tinggal sebagai nyonya Adi Raharjo.
"Ha-ha-ha...." terdengar gelak tawa Langit yang tengah bermain bersama yang lain.
Para penghuni Star mansion sangat gemas melihat tuan muda mereka yang super aktif dan tidak bisa diam itu.
Dara sendiri terkekeh melihat tingkah putranya itu, baterainya selalu full dan tidak ada lowbath nya. Dia selalu penuh semangat hingga membuat suasana mansion jauh lebih hidup.
Hari itu masih jam 10 pagi, Ryan dan Dimas pun sudah berangkat sekolah dan akan pulang sore nanti setelah selesai Less
"Nyonya, maaf menganggu anda" ucap salah satu ART yang sudah paruh baya, yang di panggil Bi Darmi.
"Ya bi, ada apa?" tanya Dara
"Di depan ada tamu Nya" ucap Bi Darmi
"Siapa bi?" tanya Dara
"Itu temannya nyonya Dara, nyonya Manda dan tuan Nathan" jawab Bi Darmi.
"Ya sudah kalau gitu saya ke sana dulu" ucap Dara berdiri, di bantu oleh Bi Darmi dengan lembut.
Bi Darmi khawatir Dara kenapa-kenapa mengingat perut Dara sudah besar, padahal Dara sama sekali tidak kesusahan saat ia hamil. Karena ia memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat di banding manusia biasa.
"Tuan muda mau di bawa masuk juga Nya?" tanya Bi Darmi
"Nggak perlu bi, biarkan dia main di sini sama yang lain" ucap Dara membiarkan putranya yang masih asik main.
Kedua sahabat itu berpelukan meskipun agak sulit mengingat perut Dara sudah besar. Terakhir mereka bertemu saat Flo dan Lingga menikah, karena Manda tinggal di mansion keluarga Nathan yang berada di barat ibukota berbatasan dengan Kota G.
Jadi tentu mereka meluapkan rindu mereka. Dara hanya tersenyum menyapa Nathan dan di balas senyuman pula.
"Bagaimana kabar kamu? Ini perut udah gede aja, Dede triplet nggak nakal kan?" tanya Manda mengelus perut besar Dara, saat keduanya duduk di sofa tamu.
Manda memilih duduk berdua dengan Dara, sedangkan Nathan di sofa lainnya.
"Triplet anteng kok Da, paling kadang suka mood naik turun, itu biasa bagi ibu hamil. Kamu sendiri dan Nathan apa kabar?" tanya balik Dara
"Kita berdua baik juga, ngomong-ngomong di mana Langit?" tanya Manda mencari keberadaan anak kandungnya itu.
Jujur saja ia sangat merindukan putra pertamanya itu, meskipun ia sering berbagi kabar dan melakukan panggilan video. Tapi ia masih merindukan anak sulungnya yang lama tidak ia temui itu.
"Ada di taman samping sedang main, mau aku panggilin?" tanya Dara
"Nanti aja, biarkan main dulu, lagian aku juga agak lamaan di sini. Nggak apa-apa kan?" ucap Manda.
"Nggak apa-apa dong, kaya sama siapa aja, tunggu sepertinya aku merasakan sesuatu" ucap Dara menarik tangan Manda dan memeriksa nadinya.
Setelahnya Dara membulatkan matanya dan menoleh ke arah Manda yang tersenyum pula ke arahnya.
"Kamu hamil Da?" tanya Dara berbinar
"Hmm, udah jalan empat Minggu, makanya aku ke sini karena Dede bayi ngidam mau ketemu sama kakaknya. Ya, sebenarnya aku juga sama dengan Dede bayi merindukan Langit" ucap Manda senyum, namun nada suaranya sarat akan kerinduan yang begitu besar.
"Selamat Da, aku senang mendengarnya. Kalau gitu biar aku panggil Langit, biar rindu kamu terobati" ucap Dara
"Nggak perlu Ra, biarkan dia main dulu aku nggak buru-buru kok" ucap Manda, Dara pun tidak jadi memanggil Langit.
"Nat, kamu nggak ke pangkalan? Ambil libur?" tanya Dara bertanya pada Nathan
"Ambil libur Ra, kan aku harus jadi suami siaga. Tentu aku libur dan milih anterin bidadari surgaku ke sini, apalagi aku juga kangen sama Langit" ucap Nathan mengerlingkan matanya ke arah Manda.
"Ish, gombal Mulu, malu-malu in" ucap Manda dengan wajah merahnya mendengar ucapan sang suami.
Dara hanya tertawa ringan melihat itu, ia ikut senang karena sahabatnya mendapatkan pasangan yang sangat baik dan menerima Manda apa adanya.
"Ah ya, aku juga ingin bilang makasih sama kamu Ra, aku lupa terus mau bilang ini sama kamu" ucap Nathan.
"Bilang apa?" tanya Dara mengernyitkan keningnya.
"Pas malam pertama, aku dapet Jackpot. Terimakasih loh, ini beneran super Jackpot" ucap Nathan sumringah, sedangkan Manda menutup wajahnya malu.
Dara tersenyum paham dengan itu, ia memang memberikan hadiah khusus pada kedua sahabatnya itu. Dara memberikan obat yang sebenarnya sudah sangat langka, bahkan sejak di jaman dulu juga sulit untuk membuatnya.
Obat itu bisa mengembalikan selaput dara seorang wanita, bisa di katakan orang yang meminumnya akan kembali perawan meskipun sudah pernah melahirkan.
Di jaman dulu, obat itu sudah lama menghilang. Bahkan tidak ada yang tahu apa saja bahan yang di gunakan dan Atep by step proses pembuatannya.
Namun berkat ruang dimensi di tubuh Dara yang memiliki segala sesuatunya, membuat Dara satu-satunya orang bisa membuat obat apapun, kecuali beberapa obat. Itupun karena terbatasnya bahan yang di perlukan untuk membuatnya.
"Sama-sama Nath" ucap Dara, saat mereka mengobrol ada yang berbicara dari arah samping.
"Da, Napa Da asuk ga bilan ke Aban... Eh..." suara celotehan khas yang menggemaskan terdengar.
Manda dan Nathan terkejut saat melihat Langit datang, bukan karena Langit sudah lancar berbicara. Karena di beberapa kesempatan mereka melakukan panggilan video, mereka tahu kalau Langit sudah bisa bicara.
Namun mereka kini terkejut melihat Langit sudah bisa berjalan dengan lancar, di usia 6 bulan? Bagaimana mereka tidak terkejut, melihat ini? Ini bener-bener the real bayi ajaib.
"Woh, Ti Mada, Kel Tantan datan!!" ucap Langit bersorak kencang dengan semangat saat melihat kedatangan Manda dan Nathan.
...••••••••...