
Sesampainya di ruangan, yang ada dua orang yang menjaga pasien Han juga Pasien yang matanya tertutup, namun nafasnya tersengal seperti sedang sekarat. Pasien itu adalah seorang wanita paruh baya.
Dokter Julian langsung memeriksa, namun ia tidak bisa menghentikan gejala yang di alami pasien.
"Bagaimana Dok?" tanya Keluarga pasien yang di ketahui sebagai suami dan anak pasien itu.
"Sulit di jelaskan pak, namun biarkan Dokter Addara yang memeriksanya" ucap Dokter Julian yang melangkah mundur dan mempersilahkan Dara untuk maju.
Namun suami dari pasien mengerutkan keningnya dan marah, saat istrinya d
justru di serahkan pada Dokter yang lebih muda.
"Dokter Julian apa maksudnya? Kau menyuruh dokter muda ini memeriksa keadaan istriku? Kau menanggap istriku objek coba-coba?" tanya suami pasien yang bernama Viyan itu sangat marah.
"Tuan Viyan, tolong tenang dulu. Meskipun Dokter Addara adalah Dokter yang muda, tapi keahliannya melebihiku yang sudah tua. Bahkan Dokter Addara adalah Dokter ajaib yang menyembuhkan tuan besar Rukmana" ucap Dokter Julian.
Dokter jaga di sana sangat tidak percaya apa yang di katakan Dokter Julian. Namu. ia tidak bisa protes karena gadis itu adalah bosnya sendiri, pemilik rumah sakit.
"Apa ucapanmu benar-benar bisa di pegang Dokter Julian?" tanya Viyan.
"Ya, yakinlah. Jika Dokter Addara tidak mampu, saya dan dokter lain tidak ada yang bisa" ucap Dokter Julian yakin.
Dara menatap pasien dengan kening mengerut, ia tahu penyebab wanita itu sakit. Itu bukan karena sakit, tapi ada seseorang yang menjahilinya dengan ilmu sihir atau ilmu hitam. Mungkin saat ini bisa di bilang teluh.
"Apa anda pernah menyinggung seseorang?" tanya Dara.
"Apa maksudnya?" tanya Viyan dengan kening mengerut.
"Sepertinya istri anda tidak sakit, melainkan di jahili oleh seseorang" ucap Dara
"Jika kamu tidak bisa mengobati istriku, jangan membual omong kosong seperti itu! Kami dari keluarga baik-baik, kami tidak memiliki masalah dengan orang lain" ucap Viyan marah dan berteriak.
"Haaaahhh, kalau bukan karena istrimu pasien di rumah sakit ini, aku sudah menyumpal mulut kamu itu yang sangat berisik itu" ucap Dara dingin.
"Kamu...." ucap Viyan marah.
Dara mengabaikan semuanya, ia segera mengambil sebuah jimat dari dalam ruang dimensi miliknya, ia melukai jarinya dan menempelkan darahnya di kertas itu.
Saat jimat itu menempel di tubuh pasien. pasien itu mengamuk dan berteriak namun tidak bisa bergerak. Dara kemudian mengambil jarum apukunturnya dan menyebar kan dua belas jarum secara bersamaan.
Hal itu membuat semua orang takjub.
Dara kemudian mengambil sesuatu dari pusar pasien yang mengeluarkan serangga kecil sekitar dua senti. Orang-orang di sana terkejut melihatnya.
Saat serangga itu di ambil, teriakan pasien tiba-tiba menghilang, namun nafasnya masih satu-satu.
"Ambilkan toples!" ucap Dara
Dokter Julian menyuruh dokter jaga yang bergegas mengambil toples di ruangan sebelah dan menyerahkan pada Dara.
Dara memasukan ulat kecil itu ke dalam toples.
"Kalian lihat ini baik-baik" tunjuk Dara pada toples itu, perlahan ulat itu terbakar dan hilang tanpa bersisa.
Ya, itu adalah ulat sihir, ia kan terbakar dan menghilang saat beberapa saat keluar dari inangnya.
Dara menusukan satu jarum satu lagi ke kepala pasien. pasien itu kemudian muntah darah, kali ini ia memuntahkan darah sekaligus benda tajam yang keluar dari mulutnya.
Setelahnya ia menarik paksa gumpalan asap hitam di kepala Pasien dan menghancurkannya dengan sekali genggam.
Perlahan pasien membuka mata, ia sadar namun masih dalam kondisi lemah. Melihat istrinya sadar, Viyan dan juga putranya sangat senang dan lega.
"Dokter Dara, terimakasih banyak. Maafkan ucapanku yang menyinggung anda barusan" ucap Viyan.
"Tidak masalah" ucap Dara.
"Kalau boleh tahu, apa maksud anda istri saya kena guna-guna?" tanya Viyan.
"Karena memang itu kenyataannya, sepertinya sebelum istri anda sakit. Sekitar dua hari yang lalu jika di lihat dari ukuran ulat sihir itu. Ada seseorang yang mengirim makanan kepada kalian dua hari yang lalu, bukan?" ucap Dara.
Kebetulan itu adalah makan favorit istrinya, ia sendiri tidak makan dan hanya istrinya yang makan. Setelah dua jam, istrinya merasakan sakit dan berakhir di rumah sakit ini.
Viyan merasa bingung, apa benar kerabat mereka tega melakukan itu semua? Memang apa salah mereka?
"Buang bunga merah yang ada di sudut ruang tamu, kalau perlu bakar saja. Karena itu sumber kesialan Keluarga anda, pasti orang di dalam rumah juga merasakan kurang enak badan dua hari ini bukan?" ucap Dara.
Lagi-lagi Viyan terkejut, namun yang di ucapkan Dara itu benar mereka rasakan. Dan itu semua menjurus ke satu orang, yaitu seorang kerabat jauh istrinya.
Bahkan bunga itu juga di berikan oleh kerabatnya itu bersamaan dengan makanan itu.
"Terimakasih Dok, saya akan menyuruh orang untuk membakar bunga itu sekarang juga" ucap Viyan
"Hmm, aku pergi dulu kalau begitu. Istri anda sudah sembuh hanya saja yang harus anda lakukan adalah menyingkirkan dalangnya" ucap Dara.
"Dokter, hadiah anda" ucap Viyan.
"Bicarakan saja dengan Dokter Julian" ucap Dara
Kemudian Dara menepuk pundak Julian dan meminta mengurus di sini, sedangkan dia pergi. Meninggalkan semua orang yang masih terkejut sekaligus takjub melihat betapa piawainya Dara. Bukan hanya pandai mengobati tapi juga mempunyai kekuatan internal yang sangat kuat.
Viyan bertekad untuk membangun hubungan baik dengan Dara di masa depan.
....
Dara keluar dari rumah sakit, ia memikirkan tentang hal yang membuatnya terkejut barusan. Ia baru menyadari jika di dunia ini masih ada sihir atau ilmu hitam.
Meskipun levelnya rendah di bandingkan ahli sihir di kekaisaran dulu. Namun jika di gunakan pada manusia biasa itu masih sangat fatal, bahkan mengakibatkan kematian pada korbannya.
"Hah, ternyata hal seperti itu ada juga di sini" gumam Dara.
Dara kemudian mengemudikan motornya, menuju ke mansion. Tapi sepertinya langit tidak memberikannya jeda untuk ia istirahat.
Saat melewati jalanan sepi, ia melihat seseorang pria yang di kepung oleh belasan pria bersenjata. Dara mengernyitkan dahinya, sepertinya itu pria yang turun dari mobil di kampus siang tadi.
Ya, itu adalah Rainer!
Dara diam saja tidak menolongnya, ia memperhatikan dulu apa yang terjadi. Lagian ia tidak mengenal pria itu meskipun mereka satu kampus. Ia juga tidak tahu alasan orang-orang bersenjata itu mengepungnya.
"Apa ini yang kalian bisa? Melakukan keroyokan dan membawa senjata?" ucap Rainer mencibir orang-orang di depannya.
"Sudah mau mati tapi masih berlagak!" teriak salah satu dari lawannya, yang kemungkinan pemimpin dari kelompok itu.
"Belum di pastikan siapa yang mati, kenapa kamu sangat percaya diri sekali" ucap Rainer mencemooh.
"Banyak bacot, serang!!!" teriak pemimpin itu dan semuanya bergerak kearah Rainer dan menerjang Rainer dengan senjata yang ada di tangan mereka.
Dara memperhatikan mereka yang bertarung, ia bisa melihat jika Rainer memiliki kemampuan bertarung yang sangat baik.
Namun Lawannya kali ini juga memiliki kemampuan bertarung cukup baik. Meskipun kekuatan lawan lebih rendah, mereka lebih dari satu orang dan membawa senjata.
Rainer tersudut, bagian pelipis kanannya terkena pukulan benda tumpul dan berdarah. Namun Rainer masih bisa melawan mereka.
Dara memperhatikan pemimpin kelompok itu mengarahkan pistol ke arah Rainer. Mau tidak mau Dara segera turun dari motornya dan berlari dengan cepat ke arah Rainer. Dia tidak mungkin berdiam diri di sana bukan?
DOR!!!!
Tembakan itu menggema dengan keras di jalanan sepi itu.
...••••••...
Nama : Jefrey Smith/ Jefrey Adi Raharjo (Jefrey/Jef)
Usia : 28 tahun
Pekerjaan : Asisten dan juga bodyguard Adnan (Anak angkat keluarga Adi Raharjo)