
Hari sudah menunjukan jam 8 pagi namun Kai belum juga beranjak pergi ke pangkalan, hal itu membuat Dara yang baru selesai memandikan Baby Langit mengernyitkan keningnya.
Setelah selesai memakaikan minyak telon, lotion bayi, bedak bayi, pakaian dan mendadani baby Langit sampai tingkat ketampanan, kekerenan dan kewangian bayi gemoy itu sampai high level.
Dara pun menghampiri sang suami yang tengah duduk di ruang tamu, sembari menggendong putranya itu.
"Yah, Kok belum berangkat kerja?" tanya Dara
"Ayah ambil libur Bun, ayo bunda siap-siap. Kita ke rumah sakit sekarang. Sayang ayo sini sama Yayah, kamu udah gede kasihan bunda dan adik kamu berat gendong kamu" ucap Kai mengambil alih Baby Langit.
"Ngapain ke rumah sakit? Siapa yang sakit, yah?" tanya Dara lagi
"Nggak ada yang sakit, kan kita mau cek kandungan bunda" ucap Kai santai.
"Sekarang?" ucap Dara terkejut karena Kai mengajaknya periksa secara mendadak.
"Iya bunda sayang, sekarang" ucap Kai
"Terus Baby Langit?" tanya Dara
"Ya, kita bawa" jawab Kai
"Ayah, di rumah sakit nggak boleh bawa anak kecil. Kecuali mau periksa ke Dokter spesialis anak atau si anak lagi sakit dan harus di rawat" ucap Dara
"Lah emang iya bun?" tanya Kai terkejut karena baru tahu hal itu.
"Anak kecil di bawah usia 12 tahun, daya tahan tubuhnya masih belum cukup kuat. Kita kan tidak tahu kalau ternyata daya tahan tubuhnya sedang lemah, meskipun kita melihatnya sehat. Anak kecil itu masih rentan dan beresiko tinggi tertular infeksi nosokomial, jenis infeksi yang banyak di temukan di rumah sakit. Jadi Baby Langit nggak bisa ikut kita ke rumah sakit" jelas Dara.
"Kalau begitu kita titipin ke mama Hesti aja" ucap Kai
"Emang mama nggak apa-apa di titipin?" tanya Dara
"Nggak apa-apa dong sayang, kan Baby Langit juga cucunya. Yuk keburu kesiangan, aku udah buat janji sama Dokter kandungan di rumah sakit kamu, jam 9 mulai jadwal periksa nya" ucap Kai
"Jangan serobot antrian loh ya, kita datang dan masuk sesuai nomor antrian saat kita mendaftar aja" ucap Dara
"Iya baiklah, terserah bunda aja" ucap Kai mengalah.
Mereka bertiga pun bersiap untuk pergi ke Manor Keluarga Narendra terlebih dulu. Di sana mereka di sambut heboh oleh Hesti dan yang lainnya, termasuk Dierja yang sebentar lagi akan menjadi Buyut yang kedua.
Mereka juga tidak masalah Baby Langit di titipkan sementara di sana, justru mereka senang sekali karena kini kediaman mereka ramai karena ocehan cucu dan cicit pertama Keluarga Narendra itu.
....
Star Hospital,
Dara dan Kai kini sedang mengantri untuk bertemu dengan Dokter kandungan. Meskipun bisa saja Dara langsung di dahulukan mengingat dirinya adalah pemilik rumah sakit. Namun Dara menolak dan ikut mengantri seperti pasien lainnya.
Pasalnya, ia yang membuat peraturan untuk mendahulukan pasien yang datang terlebih dulu, kecuali saat kondisi darurat dan butuh penanganan lebih dulu.
Saat tahu Dara akan datang ke rumah sakit, pihak rumah sakit heboh apalagi Dara datang ke dokter kandungan. Mereka sudah menebak-nebak jika kemungkinan sebentar lagi akan ada princes atau princess lain, selain Prince Langit di rumah sakit mereka.
Kini tiba giliran Dara untuk melakukan pemeriksaan, Dokter Vania yang menjadi Dokter spesialis kandungan sedikit gugup saat tahu Dara yang akan menjadi pasiennya.
Siapa yang tidak tahu Addara Azalea Narendra, seorang wanita karier yang juga pemilik rumah sakit. Tidak hanya itu, identitasnya yang merupakan nyonya muda Keluarga Narendra dan juga seorang Dokter Ajaib dan istimewa.
Mengingat Dara adalah Dokter yang paling hebat, Dokter Vania sedikit canggung karena merasa kemampuan nya masih jauh di bawah Dara.
Terlebih saat ini Dokter Kepala, Daffi. Tengah mendapatkan tugas oleh Dara selama 2 bulan di luar negeri sejak seminggu yang lalu.
Yang tidak di ketahui semua karyawan rumah sakit dan perusahaan yang lain. Semua anggota GOD yang bekerja di tarik untuk melakukan pelatihan tertutup.
Namun meskipun begitu, Dokter Vania tetap berusaha sebaik dan se-profesional mungkin untuk melakukan tugasnya sebagai seorang dokter di rumah sakit ini.
"Selamat pagi Tuan dan Nyonya Narendra" sapa Dokter Vania dengan sopan, perawat yang ada di sana juga ikut menyapa keduanya.
"Pagi juga dokter Vania" sapa balik Dara sedangkan Kai hanya mengangguk saja.
"Ada yang bisa saya bantu Nyonya, nampaknya ada kabar bahagia yang datang untuk kita semua" ucap Dokter berusia tiga puluhan itu, sedikit menebak dan tersenyum dengan tulus ke arah atasannya itu.
"Kalau begitu mari saya periksa dulu, nyonya" ucap Dokter Vania.
Dara kemudian berbaring di brankar, lalu dokter Vania mulai memeriksa.
"Tebakan nyonya sangat tepat, sepertinya ada janin di rahim anda" ucap Dokter Vania tersenyum bahagia saat memeriksa perut Dara.
Kai yang mendengarnya tentu merasa senang, terlihat dari raut wajahnya sangat bersemangat.
"Apa mau di USG juga, biar bisa lihat dengan jelas?" ucap Dokter Vania.
"Tolong lakukan Dok" ucap Kai yang juga ingin tahu.
Dokter Vania pun dengan sigap melakukan pemeriksaan USG.
"Waaah, ini Jackpot!" ucap Dokter Vania dengan takjub.
"Ada apa?" tanya Kai yang ikut melihat istrinya di periksa.
"Coba tuan lihat di sebelah sini, Ini adalah calon bayi anda dan ternyata tidak hanya satu" ucap Dokter Vania
"Maksud Dokter, Anakku kembar?" tanya Kai dengan berbinar saat mendengar calon anaknya lebih satu.
"Ya, dan bukan cuma dua tapi ada tiga titik di sini. Itu berarti Nyonya tengah mengandung tiga anak kembar" ucap Dokter Vania.
"Sayang, kamu kasih aku kejutan tiada hentinya. Anak kita di dalam sini ada tiga sayang" ucap Kai heboh dan menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca.
Tidak ada satupun kata yang mampu menggambarkan betapa bahagianya Kai saat ini. Ia akan menjadi ayah yang sesungguhnya, bukan cuma satu tapi tiga. Ah salah, ayah dari 4 orang anak.
Dara sendiri sudah tahu jika dirinya hamil dan calon anaknya ada tiga di dalam perutnya yang masih rata itu. Ia bisa memeriksa kondisi tubuhnya sendiri, ia bukan hanya seorang dokter tapi juga kultivator yang bisa melihat kondisi tubuhnya dengan seksama.
Tapi ucapan Kai juga tidak salah, jika dirinya memerlukan orang lain, terutama saat ia melahirkan nanti. Tidak mungkin ia melahirkan bayi-bayinya seorang diri, ia adalah makhluk sosial yang masih memerlukan bantuan orang lain.
"Apa sudah tahu jenis kelaminnya Dok" tanya Kai masih dengan semangat yang membara.
"Belum Tuan, janin nyonya masih sangat muda, masih berusia 3 Minggu. Dan jenis kelamin janin bisa di ketahui minimal janin berusia 16 Minggu. Tapi di sarankan melakukan USG lagi saat bayi berusia 18-20 minggu untuk melihat jenis kelamin bayi" Jelas Dokter Vania.
Dara pun sudah selesai pemeriksaan, kini Kai yang tengah aktif bertanya pada dokter terkait kehamilan sang istri.
"Dok apa tidak apa-apa jika istri saya ngidam makanan pedas dan minuman yang sangat asam? Apa itu tidak berpengaruh pada kesehatan bayi dan ibunya" tanya Kai
"Tidak apa-apa tuan, itu wajar di rasakan saat masih hamil muda. Banyak kasus yang sama, ibu hamil ngidam makanan yang tidak biasa dan masih dalam kondisi baik-baik saja.
Tapi meskipun begitu, harus tetap ada karbohidrat dan protein yang masuk. Atau bisa di imbangi dengan mengkonsumsi susu khusus ibu hamil, agar gizi bisa terpenuhi. Jika ada yang terjadi sesuatu yang buruk, meskipun itu hal kecil. Bisa langsung di bawa ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan ulang" jelas Dokter Vania, Kai mengangguk mengerti.
"Apa ada keluhan seperti mual, pusing atau lainnya Nyonya?" tanya Dokter Vania
"Tidak Dok, saya tidak merasa mual sama sekali. Hanya ngidam saja, mood yang sering berubah dan kalau tidur bisa sangat pulas" ucap Dara
"Wah dede triplet, nggak repot dan nyusahin bundanya ya, biasanya ibu hamil bayi kembar lebih sering merasakan mual dan muntah. Tapi kondisi janin nyonya sehat dan kuat, jadi saya hanya meresepkan vitamin saja untuk saat ini.
Untuk selebihnya saya yakin nyonya lebih paham, jika perlu sesuatu tuan dan nyonya bisa hubungi saya. Dengan senang hati saya akan melakukan yang terbaik untuk nyonya dan calon Dede triplet" ucap Dokter Vania tersenyum.
"Terimakasih Dok" ucap Dara dan Kai.
"Ah iya Dok, Apa tidak masalah berhubungan saat istri tengah hamil?" tanya Kai
"Abang ih" ucap Dara menepuk bahu suaminya dengan wajah memerah malu.
Sedangkan dokter Vania hanya tersenyum maklum.
"Tidak apa-apa Tuan, kondisi janin sehat dan boleh melakukan hubungan. Tapi karena janin masih muda, hubungannya sedikit di kurangi. Apalagi jangan sampai menembak ke dalam, karena takutnya akan mengalami kontraksi yang tidak di inginkan..." ucap Dokter Vania
"Jangan di teruskan Dok" ucap Dara dengan wajah memerahnya.
"Lebih jelasnya anda tanya ke nyonya, istri anda pasti sangat paham mengenai hal ini dan bisa leluasa membicarakankan empat mata" ucap Dokter Vania menahan senyumnya.
...••••••...