The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
127. kecemburuan Ivone



Hai Guys, maaf Author cuma update 1 bab dan telat jamnya. Karena lagi kampung jaman nengok orang rumah dulu jadi cukup sibuk hari ini🙏


Awalnya nggak akan update hari ini, tapi pasti banyak yang nunggu kelanjutannya jadi author update saat ada waktu senggang sekarang.


Tenang besok update normal lagi kok😉


...••••••••...


Setelah selesai makan siang, mereka berenam keluar dari ruangan pribadi itu. Kai dengan senang hati menggandeng tangan kekasihnya dengan lembut, membuat orang yang jalan paling belakang yakni Ivone terbakar cemburu.


Reaksi yang lain, tentu saja mereka ikut bahagia melihat Kai sudah memiliki pawang, yang cantik dan juga baik. Yang bahkan hari ini berhasil membuat mereka semua terkejut berkali-kali dan takjub melihat sikap dan nada yang lembut Kai pada sang kekasih.


Saat melewati ruangan VIP nomor 3, Dara mengerutkan keningnya saat ia tidak mendapati nafas kultivator itu lagi. Ia menghela nafas saat ruangan itu ternyata sudah kosong karena pintu terbuka, yang berarti orang yang makan di sana sudah keluar.


"Kai, kamu habis ini mau kemana? atau pulang ke apartement atau ke manor?" tanya Alice.


"Aku siapa?" tanya Kai datar mendengar pertanyaan sepupunya itu.


"He-he maaf kak, forget" ucap Alice dengan senyum tiga jarinya.


"Kak, belum jawab pertanyaanku tadi" ucap Alice lagi.


"Apartement" ucap Kai singkat


"Jadi antar Dara dulu? Nggak mau jalan dulu kemana gitu?" tanya Alice.


"Aku ke apartement dengan Dara" ucap Kai membuat semuanya terkejut, termasuk Dara.


Mereka terkejut, karena mereka sering mendengar kalau Kai jarang pulang ke manor dan lebih memilih tidur di apartement setelah selesai bertugas. Namun jangankan pernah datang ke sana, bahkan di mana Apartement milik Kai saja, mereka tidak ada yang mengetahui nya.


"Ra, apa kamu pernah ke apartement Kak Kai?" tanya Alice penasaran.


"Hmm pernah" ucap Dara mengangguk


"Woaaahhh" gumam takjub Alice, Nathan dan Rafael.


Mereka bertiga semakin yakin jika Dara benar-benar kekasih dan wanita yang di cintai Kai setelah mendengar itu.


Sedangkan Ivone hanya diam kesal karena cemburu, ia tidak menyangka kalau ia sudah keduluan wanita lain untuk mendapatkan laki-laki pujaannya. Ia bertekad untuk tetap berjuang membuat Kai menoleh padanya.


"Kenapa?" tanya Dara heran melihat semuanya terkejut.


"Kamu jadi orang satu-satunya yang pernah di ajak Kai, benar tidak Kai?" tanya Nathan


"Hmm" Kai mengangguk, Dara yang mendengarnya juga terkejut.


"Berarti kamu orang spesial Ra, jangankan kita. Bahkan keluarga Kai tidak ada yang tahu di mana sebenarnya apartemen milik Kai itu berada" ucap Rafael, memanggil Kai dengan nama saja.


Meskipun ia tunangan Alice, tapi Kai tidak masalah Rafael tetap memanggilnya nama jika di luar karena mereka bersahabat. Itu saja sudah lebih baik dari pada panggilan komandan, jendral atau bos.


"Benar itu Kai?" tanya Dara pada kekasihnya.


"Ya, kamu satu-satunya yang tahu dan punya akses ke sana selain aku. Karena kamu akan jadi nyonya muda Narendra di masa depan" ucap Kai dengan lembut. Membuat pipi Dara memerah mendengar ucapan kekasihnya itu.


"Astaga, jangan menyebarkan kemesraan di depan jomblo, tolong!" ucap Nathan memutar matanya jengah karna ia di tengah-tengah antara dua pasangan.


"Sirik aja lu mblo" ucap Rafael membuat semuanya tertawa, kecuali Kai yang hanya tersenyum kecil dan Ivone yang di belakang yang merasa tersisihkan karena abaikan bagaikan remahan rengginang yang tidak terlihat.


....


Ucapan Kai benar adanya, setelah dari restoran Kai mengajak Dara ke apartemennya. Alasannya karena ia ingin menikmati waktu berduaan dengan sang kekasih seharian penuh.


Sekarang keduanya tengah menonton film di ruang tamu apartemen. Posisi Dara saat ini duduk di depan Kai dan di peluk dari belakang dengan posesifnya.


"Kamu ini, baru juga nggak ketemu tiga hari udah nempel kaya perangko" ucap Dara terkekeh karena kekasih kutubnya itu sangat lengket padanya.


"Tiga hari itu lama babe" ucap Kai merajuk


"Ha-ha-ha kan besok juga kita ketemu lagi Kai" ucap Dara


"Kan besok kita ke manor, pastinya nggak banyak waktu berduaan sama kamu. Feeling ku mengatakan kamu akan di sabotase sama mama, pasti mamaku ingin menguasai kamu sendiri nantinya" ucap Kai


"Sabotase kaya apa aja ha-ha-ha" ucap Dara tertawa lebar.


"Aku serius sayang" ucap Kai.


"Kenapa kamu ngomong kaya gitu?" tanya Dara.


"Karena kalau mama sudah suka sama seseorang dia tidak ingin membaginya. Meskipun sama anaknya sendiri" ucap Kai.


"Hei sayang, trust me... Mama dan keluarga ku yang lain pasti menyukaimu, aku yakin itu. Karena aku saja menyukaimu, pasti semuanya juga menyukaimu" ucap Kai sungguh-sungguh


"Kamu ini, tapi kalau ternyata kenyataan justu kebalikannya gimana?" tanya Dara


"Aku tidak peduli, aku akan terus memperjuangkan kamu. Memperjuangkan cinta kita" ucap Kai.


"Baiklah, kita lihat nanti besok. Aku harap Keluarga mu bisa menerimaku dengan tangan terbuka" ucap Dara


"Tentu, aku yakin itu" jawab Kai.


Keduanya pun menikmati waktu bersama sampai malam, Dara pun sempat beristirahat di sana. Setelah selesai makan malam bersama Kai mengantarkan Dara ke star mansion.


.....


Di star mansion Flo dan dua tangan kanan Dara yang sudah berada di ruang tamu, yakni Theo dan Ferdi. Mereka menunggu sang nona datang untuk memberikan laporan.


Sedangkan Alan, Ryan dan Dimas tengah berada di ruang keluarga sedang asik bermain Game.


Setelah menunggu lebih dari satu jam, suara mobil masuk ke halaman Mansion terdengar dari ruang tamu. Flo langsung berdiri karena tahu itu pasti adalah nonanya.


Ia dan Agam yang datang dari samping mansion, segera beranjak ke arah pintu untuk menyambut nona mereka.


"Selamat malam nona, tuan muda" ucap Flo


"Selamat malam nona, Den Kai" ucap Agam


"Malam, Flo, Pak Agam" balas Dara


"Malam" balas Kai singkat.


"Tumben kamu ikut menyambut ku di depan pintu Flo. Loh... Kalian datang? Kenapa tidak mengabariku?" ucap Dara lagi setelah melihat keberadaan Theo dan Ferdi.


"Ada beberapa yang harus saya sampaikan nona" ucap Ferdi


"Saya juga bos" ucap Theo.


"Tadinya saya ingin mengabari, tapi Flo mengatakan jika anda sedang ada urusan penting, jadi kami tidak ingin mengganggu dan memutuskan menunggu di sini" ucap Ferdi


"Sepertinya kamu sibuk babe, kalau begitu aku pulang dulu, hmm" ucap Kai


"Nggak mampir dulu?" tanya Dara.


"Lain kali aja, nanti aku kabari kalau sudah sampai apartement. Besok siap-siap aku jemput jam 9 pagi ya" ucap Kai mengelus Surai indah nan lembut milik kekasihnya itu.


"Kalau begitu hati-hati di jalan, jangan ngebut!" ucap Dara


"Tentu sayang, see you tomorrow, Babe jangan lupa istirahat yang cukup Yang" ucap Kai sembari memeluk dan mencium kening Dara dalam.


Adegan itu membuat Theo dan Ferdi yang baru bertemu Kai pun tertegun, mereka baru mengetahui jika laki-laki tampan di depan mereka adalah calon bos laki-laki mereka alias kekasih dari bos/nonanya itu.


Terlebih Ferdi sedikit tercekat mengingat aura Kai yang begitu kuat. Ia yakin Kau tidak sesederhana seperti yang terlihat.


Setelah Kai berlalu untuk pulang, Dimas dan yang lain keluar menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Tadi kayanya aku dengar ada suara kakak ipar" ucap Dimas, yang membuat spekulasi tentang identitas Kai semakin jelas di mata Theo dan Ferdi, setelah mendengar adik Nonanya mengatakan tentang Kakak ipar.


"Sudah pulang barusan" ucap Dara


"Kenapa nggak mampir dulu kak" ucap Ryan


"Iya, kan bisa ngobrol dulu sama kita" sambung Dimas sedikit kecewa.


"Karena ada keperluan Dek, nanti kalau ada waktu pasti kak Kai mampir lagi" ucap Dara


"Kak Dara benar, kan kalian tahu kerjaan Kakak ipar. Pasti ada sesuatu yang harus ia urus, kalian harus ngerti oke! Karena nanti juga kakak juga akan sibuk, saat sudah mulai terjun ke masyarakat" ucap Alan dengan bijak


"Kita ngerti kak, kami justru bangga dengan kakak ipar" ucap Dimas dan Ryan yang mengangguk.


ketiga kakak beradik itu kembali ke ruang keluarga untuk bermain game bersama. Sedangkan Dara dan yang lain masih di sana.


"Kalian bertiga ikut aku ke ruang kerja!" ucap Dara.


"Baik!" ucap Flo, Theo dan Ferdi kompak


...••••••••...