
Beberapa saat lalu di kota P.
Kai, semua anggota Falcon, petinggi kemiliteran kota P dan seorang pejabat tinggi kota P juga seorang wanita yang tengah menangis di pelukan pejabat yang sudah paruh baya itu. Semuanya dalam kondisi tegang, hanya Kai dan timnya yang tampak tenang.
Ini alasan Kai menunda jadwal pulangnya menjadi besok, karena suatu hal terjadi di sana dan ia ingin menyelesaikannya terlebih dulu.
Awalnya ia akan pulang pagi ini dan memberikan kejutan pada Dara, namun sesuatu tidak terduga terjadi saat kemarin sore dan ada pertemuan pagi ini hingga ia menunda kepulangannya.
"Saya tidak mau tahu, saya ingin Kau bertanggung jawab!! Nikahi putriku atau aku akan membawa semuanya ke ranah hukum dan menghukum mu dengan berat, tidak peduli jabatanmu di militer!!" ucap Pria paruh baya yang merupakan pejabat tinggi di pemerintahan kota itu dalam kondisi marah.
Tim Falcon merasa marah mendengar ucapan orang itu, namun melihat komandan mereka tenang. Mereka tidak bisa bertindak impulsif, terlebih beberapa petinggi militer di sana juga tidak berani mengambil tindakan.
Tentu selain karena status Kai yang tinggi di negara, ayahnya merupakan jendral besar yang di segani. Petinggi kemiliteran itu juga tahu latar belakang seorang Kaisar Raka Narendra, yang sama sekali tidak mampu ia singgung.
"Tuan Fariz, anda tahu itu tidak mungkin. Kapten Kaisar adalah laki-laki yang sudah beristri dan lagi tidak ada yang terjadi di camp militer. Semua yang di jelaskan putrimu tidak masuk akal, tidak ada bukti yang kuat yang mengarah ke masalah ini. Apalagi hanya mendengar penjelasan dari satu pihak saja. Jika ini tidak benar, maka ini akan menjadi tindakan mencemarkan nama baik dan bisa di pidanakan" ucap Letnan Nedi bijak, ia merupakan petinggi militer kota P yang menjabat di distrik tempat Tim Falcon bertugas.
Terlihat Fariz melihat ke arah putrinya, putrinya yang bernama Dena itu masih menangis.
"Aku tidak bohong pih... Aku takuutt" ucap lirih Dena menggelengkan kepalanya dan Faris mencoba menenangkan putrinya yang terlihat ketakutan itu.
"Saya percaya pada ucapan Putri saya, dia adalah gadis lemah lembut dan juga baik. Tidak mungkin dia memfitnah orang lain, untuk apa ia melakukan itu? Jadi nikahkan mereka sekarang juga! Atau saya akan membawa masalah ini ke jalur hukum. Saya tidak terima putri saya satu-satunya di lecehkan, bagaimana dengan masa depannya jika saya membiarkan pelakunya bebas? Mengenai dia sudah menikah, saya tidak peduli. Dia bisa menceraikan istrinya setelah ia menikah dengan Putri saya" ucap Fariz tetap pada pendiriannya yang meminta pertanggung jawaban.
Tentu Kai yang mendengarkan hal itu marah, apa hak orang lain mencampuri rumah tangganya. Seenaknya meminta ia menceraikan istri yang sangat ia cintai, itu tidak akan mungkin terjadi.
Ia pikir pertemuannya kali ini hanya membahas tentang pelaku dan juga hukuman atas kejadian tidak mengenakan. Yang terjadi pada salah satu korban, yang merupakan putri semata wayang Keluarga pejabat di kota P itu
"Laporkan saja! Saya tidak takut! Jika itu terjadi, aku pastikan karirmu, putrimu dan seluruh keluargamu akan lenyap! Apa hakmu memintaku menceraikan istriku? Dan lagi, aku tidak akan mungkin menikahi wanita jelek luar dalam seperti putrimu! Jangankan melecehkannya, menyentuh nya pun aku tidak sudi" ucap Kai datar dan dingin, ia menatap jijik ke arah Dena
BRAK!!!
"Kau mengancamku? Kau pikir karena kau adalah seorang Kapten, kau bisa melakukan apapun yang kamu mau. Seenaknya mengancam Keluarga ku setelah apa yang kau lakukan pada putriku! Tarik ucapanmu! Beraninya kau menghina putriku!!!" teriak Fariz marah dan menggebrak meja.
"Aku tidak mengancam, aku berkata apa adanya. Aku merasa tidak bersalah, tapi kau dan putrimu memfinahku. Awalnya aku diam dan ingin melihat apa yang ingin kalian lakukan, tapi ucapanmu barusan sudah keterlaluan pak tua!" ucap Kai menatap tajam Fariz.
"Di mana letak perkataan saya yang keterlaluan? Sebagai seorang ayah, saya wajib melindungi putri saya! Apa saya harus diam saja saat tahu putri saya di lecehkan oleh orang seperti mu?" ucap Faris dengan nafas naik turun.
"Lalu kenapa kau tidak melindungi putrimu hingga ia di culik monster gila itu? Kalau bukan kami yang menyelamatkan putrimu, dia mungkin pulang hanya tinggal nama saja! Aku dan rekan tim ku yang lain sebagai saksi kalau Kapten tidak melakukan apapun atas tuduhan yang kau katakan.
Jangankan melecehkan putrimu itu, menyentuh sehelai rambutnya pun kapten tidak melakukannya. Hanya aku yang menyentuhnya, itu pun karena aku yang menggendong dia keluar dari sana, kalaupun ada yang melecehkan putrimu, kenapa Kapten yang di tuduh bukannya saya?" ucap Rafael yang menahan amarahnya sejak tadi.
"El, tenang..." ucap Nathan mencoba menenangkan sahabatnya itu
"Gimana gue bisa tenang Nat, nih perempuan gila nggak punya malu bet, an*jir. Di selametin bukannya bilang terimakasih malah main fitnah, lagian kita semua yang ada di sana adalah saksi. Semuanya tahu kita selametin dia memang sudah dalam kondisi tidak berbusana dan sedang di garap kok. Tau gitu ogah gue tolong, bahkan kasih baju gue buat nutupin itu tubuh menjijikan dan menggendongnya sampe ke tempat aman" gerutu Rafael.
Mendengar ucapan Rafael semua orang terdiam, termasuk Fariz. Ia melihat ke arah putrinya yang menunduk memainkan jemari tangannya.
"Sayang, katakan yang sebenarnya, apa ucapannya itu benar? Kenapa mereka semua kompak bersaksi kalau orang yang kamu bilang itu tidak melakukan apapun padamu?" ucap Faris pada putrinya.
"Pih... A-aku...." belum sempat Dena bicara, seseorang masuk ke ruangan.
"Lapor Letnan, ada telepon dari Kepala militer Negara di ibukota. Beliau ingin bicara dengan Kapten Kaisar, ada hal penting yang ingin beliau bicarakan" ucap orang itu.
Kai beranjak dari tempat duduknya, tanpa menunggu perintah atau izin dari Deo. Juga bagaimana mungkin Deo menahannya, dia tahu posisinya di bawah Kai. Meskipun ia jauh lebih tua dari Kai.
Kai langsung keluar, ia merasa ada sesuatu yang terjadi di ibukota. Tidak biasanya papa nya menghubungi saat ia tengah bertugas.
"Hallo pah..." ucap Kai saat menempelkan gagang telepon itu ke telinganya.
"Kai, ponselmu tidak bisa di hubungi. Apa kamu masih sibuk di sana?" tanya Galuh
"Ponselku ada di camp, aku hanya sedang mengurus masalah kecil. Ada apa pah? Apa ada hal yang terjadi di Manor?" tanya Kai
"Ya, pulanglah sekarang juga ke ibukota, papa sudah mengirim pesawat pribadi ke sana. Dua jam lagi pesawatnya sampai, bukankah tempatmu ke bandara cukup jauh? Berangkatlah sekarang!" ucap Galuh.
Ia tahu jika Kai saat ini berada di daerah plosok kota P, yang memakan waktu satu sampai dua jam perjalanan ke bandara.
"Apa yang terjadi?" tanya Kai lagi mengerut kan keningnya.
"Istrimu akan melahirkan, ia mengalami kontraksi" ucap Galuh
"Apa? Bukannya HPL nya tiga Minggu lagi?" ucap Kai terkejut saat mendengarnya.
"Mana papa tahu, tadi mama-mu yang kasih tahu papah dan suruh telepon kamu. Cepat pulang! Jika tugas di sana belum selesai, biarkan yang lain saja yang urus. Istri dan anak-anakmu membutuhkan kamu sekarang" ucap Galuh.
"Ya Pah, Kau berangkat ke bandara sekarang" ucap Kai.
Segera Kai menutup telepon, ia kembali ke ruangan tadi sebelum ia ke camp untuk mengambil barangnya dan ke bandara.
Kai sangat tidak tenang sekarang, ia tidak menyangka jika Dara akan melahirkan secepat ini. Ia ingin berada di samping istrinya saat istrinya tengah berjuang melahirkan anak-anaknya.
Kai merasa menyesal karena mengambil tugas ini. Kalau bukan karena tugas itu terkait dengan kultivator, ia tidak akan mengambilnya.
Ia juga menyesal sudah menunda kepulangannya, ia juga marah pada orang yang sudah membuatnya mengundur kepulangannya. Jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, maka Kai janji akan membuat orang itu tidak pernah hidup damai.
"Letnan Nedi, maaf saya harus pulang ke ibukota sekarang juga. Biarkan urusan di sini, Rafael dan Nathan yang menyelesaikannya" ucap Kai
"Tidak bisa, masalah belum selesai kamu malah mau kabur!" ucap Fariz berdiri dari duduknya.
Kai mengabaikan ucapan Fariz dan menoleh ke arah Rafael dan Nathan. Tatapan keduanya seakan bertanya apa terjadi, mengapa Kai buru-buru pulang.
"Dara akan melahirkan, aku harus kembali ke ibukota sekarang. Kalian berdua tolong selesaikan semua masalahnya di sini" ucap Kai. Membuat kedua sahabatnya itu terkejut sekaligus bahagia.
"Kau pulang lah, hati-hati... Biar urusan di sini aku yang urus, tidak perlu khawatir. Kami akan menyusul buat lihat triplet nanti" ucap Nathan.
"Hati-hati di jalan kapten" ucap Nedi hormat
"Hei... Jangan pergi kau!!!" teriak Fariz
"Kau tidak memiliki hak untuk menahannya pak tua, diam di sini dan kita selesaikan sekarang!" ucap Rafael dengan tegas dan juga tajam.
Fariz merasa tertekan dengan ucapan Rafael, meskipun ia adalah pejabat tinggi kota. Namun ia tidak memiliki basic beladiri sama sekali, tentu ia merasa kan tekanan dari Rafael yang memang seorang perwira militer tingkat tinggi yang sudah berpengalaman. Hingga mau tak mau ia menurut dan duduk di tempat ia semula.
"Saya sudah mengatakan apa yang terjadi kemarin pada anda pak tua, dan kami semua saksi hidup saat itu. Yang di bicarakan putrimu sama sekali tidak benar!" ucap Rafael menjelaskan sekali lagi.
"Kalian bisa saja berkomplot membela orang itu, karena kalian kelompok yang sama" ucap Fariz masih tetap pada pendiriannya.
"Keluarkan buktinya kalau begitu! Bukti kalau Kapten atau kami yang melakukan pelecehan itu pada putri anda!" ucap Rafael.
"Kalian semua memojokan kami, kami memang tidak memiliki bukti. Namun apa yang terjadi pada putriku adalah buktinya, ia kehilangan kegadisannya. Dia sudah kehilangan masa depannya" ucap Fariz marah
"Di antara kami tidak ada yang melecehkan putri anda, jikapun dia sudah tidak lagi suci itu bukan tanggung jawab kami. Tapi dirinya sendiri dan anda sebagai orang tuanya. Kami hanya bertugas untuk menyelamatkan para sandera, apa yang menimpa putrimu adalah di luar kehendak kami. Itu semua takdir dan pelakunya sudah di tangkap bukan, mereka ada di penjara?" ucap Nathan
Tak lama salah seorang anggota militer yang memanggil Kai barusan, kembali masuk. Ia meminta izin untuk menyerahkan ponsel kilik Nathan. Nathan mengerutkan keningnya saat menerima ponsel miliknya.
"Kapten Kaisar yang meminta saya memberikan ponsel ini, kata beliau anda di minta membuka pesan yang masuk" ucap orang itu.
Nathan mengangguk dan langsung membukanya, ia terkejut melihat itu. Ia lalu memberikan ponselnya ke Rafael, lalu Rafael tertawa terbahak-bahak saat melihatnya. Membuat semua orang di sana merasa heran.
"Ah maaf, Letnan, coba lihat ini" ucap Rafael menyerahkan ponsel itu pada Letnan Nedi
Letnan Nedi tidak mengerti, namun ia mengambilnya dan merasa terkejut. Dia menggelengkan kepalanya sejenak, sebelum beralih menatap Dena.
"Nona Dena, tolong katakan yang sebenarnya. Apa yang terjadi?!" ucap Letnan Nedi tegas mengarah pada Dena yang menunduk.
"Jangan terus menunduk, tanpa menunduk pun. Harga dirimu sudah jatuh, nona!" ucap Nathan sinis dan badas, membuat Rafael tidak bisa menahan tawa dan mengacungkan kedua jempolnya pada sahabatnya itu.
"Kau..." ucap Fariz marah
"Pak Fariz, tolong Diam!" ucap Letnan Nedi sedikit keras, membuat Fariz terhenyak sejenak.
"Katakan sekarang nona Dena" ucap Letnan Nedi tegas.
"Aku... Aku... di per-kos..sa..." ucap Dena lirih terasa ucapannya begitu menahan sakit
"Siapa yang melakukan nya?" tanya Letnan Nedi lagi
"O..orang y-y-yang ta-di... Kapten itu..." ucap Dena
"Haaahhh.... Padahal saya sudah memberikan kamu kesempatan nona! Sungguh saya malu, seorang putri pejabat tinggi kota. Tidak tahu malu dan memfitnah orang lain demi keuntungan pribadi. Entah apa maksud dan tujuan anda" ucap Letnan Nedi menahan amarahnya.
"Apa maksudmu Letnan?" tanya Fariz geram tidak terima ucapan Letnan Nedi barusan.
Letnan Nedi kemudian memperlihatkan Video yang ada di ponsel Nathan pada Fariz.
"Ini semua buktinya Pak Fariz, putrimu memutar balikan fakta dan memfitnah kapten Kaisar. Di sana sudah terlihat jelas, tim pasukan khusus datang dan menyelamatkan korban termasuk putri anda.
Dan putri anda saat itu tengah di gilir oleh pelaku, sudah dalam keadaan tela*jang tanpa sehelai benang. Dan Letnan Rafael yang menolong dengan memberikan baju dan menggendongnya.
Di video sama sekali tidak terlihat Kapten Kaisar melecehkan, menyentuh nona Dena pun tidak. Mereka tidak melakukan hal lain selain menyelamatkan semua korban dan membawa mereka ke camp" ucap Nedi.
Fariz terlihat syok saat melihat bukti video itu, ia menoleh ke arah sang putri di sampingnya. Yang juga syok dan mulai menangis dan memilih bajunya.
"Jelaskan Dena!" ucap Fariz menatap putrinya dengan tajam dan tidak percaya.
Video itu sudah menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi di sana. Ia tidak percaya putri yang ia sayangi membohongi dirinya, bahkan tega memfitnah orang lain dan menjadikannya kambing hitam. Atas apa yang tidak pernah ia lakukan.
"JELASKAN!!! Papi tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbohong, apalagi memfitnah orang yang tidak bersalah!" ucap Fariz memegang dadanya yang terasa sesak.
Bruk!!!
Dena berlutut di depan papinya itu sambil terisak.
"Pih, maaf hiks...." ucap Sofi menangis.
"Jelaskan, kenapa kamu bohong dan memfitnah orang?" ucap Fariz menahan rasa kecewa dan juga malu
"Aku takut pih, hiks... Aku merasa kotor karena aku di gilir orang-orang hiks... Aku nggak mau buat papi Malu hiks, aku takut hamil karena kejadian ini hu-hu-hu. Aku nggak mau menikah dengan salah satu dari orang itu, hiks, itu menjijikan... Aku melihat kapten itu tampan, aku menyukainya. Jadi lebih baik aku menikah dengannya, jadi aku mengarang cerita agar bisa menikah dengannya. Maafkan Dena pih... Dena khilaf..." ucap Dena masih menangis dan memohon di bawah kaki sang ayah.
"Ya Tuhan...." ucap Fariz dan Letnan Nedi, tidak percaya dengan penjelasan Dena yang sebenarnya.
"Wanita Gila... Nyesel gua selametin dia, tahu gitu gue biarin aja dia telanjang waktu itu. Mana gue yang gendong dia lagi, iihhh gue harus mandi kembang tujuh rupa buat hilangin sial" gerutu Rafael.
Nathan terkekeh mendengarnya, ia merasa Dejavu. Seperti mengatakan hal serupa.
"Kau harus minta maaf pada Kapten Kaisar Pak Fariz, perbuatan putrimu sangat keterlaluan. Aku takut keluarga mu tidak bisa bertahan di negara ini karena sudah menyinggungnya, bahkan mencemarkan nama baiknya" ucap Letnan Nedi berkata serius.
"Me-mang dia siapa Letnan?" tanya Fariz merasa ada yang tidak benar dengan identitas orang yang ia dan putrinya singgung.
"Kapten Kaisar adalah Komandan unit pasukan khusus Negara" ucap Fariz
"Jendral muda kebanggaan negara kita" sambung Rafael dengan senyum mengejek
"Dan.... Tuan muda pertama Keluarga besar Narendra di ibukota" ucap Nathan menyeringai.
Deg!!!
"Uuggghhh..." Fariz memuntahkan seteguk Darah sebelum ia jatuh pingsan. Sesaat mendengar identitas sebenarnya dari orang yang sudah berani ia singgung.
...••••••••...