
Hari ini Richie membawa Flo pulang ke negara J untuk bertemu dengan keluarga besarnya, yakni Keluarga Uchiha. Dara dan Kai pun ikut mengantar keduanya ke bandara ibukota.
"Dara aku pergi dulu ya, maaf selama beberapa hari ke depan aku nggak bisa mengurus pekerjaanku di kantor dan juga tidak bisa melindungimu" ucap Flo
"Tidak apa-apa, aku bisa menjaga diri dan untuk masalah pekerjaan kamu tidak usah khawatir, ada Ferdi dan yang lain yang nisa mengurusnya selama kau pergi ke negara J. Gunakan dengan baik waktumu untuk berkumpul bersama dengan keluarga besarmu di sana, berbahagialah" ucap Dara memeluk Flo dan tersenyum tulus.
"Hmm... Aku mengerti, kamu juga hati-hati di sini" jawab Flo membalas pelukan nona mudanya itu.
"Kak, aku titip Dara ya, jaga dia jangan sampai lecet apalagi di gondol cogan loh. Soalnya Dara itu sangat terkenal di semua kalangan" ucap Flo lagi menatap Kai sembari terkekeh.
"Haisss.... Nggak perlu bilang gitu, aku sudah pasti melakukannya tanpa kamu minta. Aku nggak bakal biarin cowok lain mendekat, Dara cuma milik Kaisar" ucap Kai percaya diri.
Flo terkekeh mendengar ucapan Kai, ia mengambil ponselnya kemudian mengetik sesuatu dan mengirimnya ke Kai.
Ting!
Kai yang mendapati ponselnya berbunyi pesan masuk pun merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya itu. Keningnya mengerut saat melihat nama Flo di sana.
Ia menoleh menatap Flo, namun Flo hanya memberi kode untuk tidak mengatakan apapun. Kai pun menghela nafas dan mulai membaca pesan itu, matanya membola saat membaca pesan yang di kirim Flo.
"Kita pergi dulu ya, sudah waktunya pesawat berangkat. Terimakasih Nona Dara, tuan muda kedua, sudah mengantar kami. Sampai jumpa bulan depan saat launching" ucap Richie
Kai dan Dara hanya mengangguk kemudian melambaikan tangannya ke arah keduanya. Setelah keduanya sudah tidak terlihat lagi di pintu cek in, Kai memeluk pinggang Dara dan meninggalkan bandara menuju ke markas kuning GOD. Tapi sebelumnya mereka mampur ke Star Resto untuk membeli makanan.
.....
Di markas kuning, Dara dan Kai yang sudah sampai di sana langsung masuk. Keduanya tahu jika Dong tengah melaksanakan aksi balas dendam nya pada Sanim. Dapat di dengar dari suara teriakan melengking Sanim dari luar.
"Aaaaaaaakkhhhhh ampuuuuunnnn toooolooooonggg... aaakkkhhh sakiiiittttttttt, jangaaann lagiiiii, aaaaaakkkhhh" teriak membahana Sanim dari dalam ruangan.
Anggota GOD di sana santai saja seperti suara itu bukanlah apa-apa dan sama sekali tidak menganggu kegiatan mereka.
Mereka juga tidak takut kalau orang luar mendengar teriakan itu, karena Barier yang di pasang Dara adalah Barier perlindungan tingkat tinggi yang juga kedap suara. Segala sesuatu yang terjadi di dalam lingkungan Markas Kuning tidak akan bocor keluar.
"Sedang apa Doni?" tanya Kai pada anggota GOD yang berjaga di sana.
Doni Ma adalah identitas dong yang baru sebagai warga Negara ini dan Negara R. Kai yang mengubahnya dan segala berkas itu legal, termasuk dokumen kependudukandan kepemilikan perusahan milik Sanim.
"Tuan Doni tengah mencabut bulu Sanim, King" ucap Anggota GOD yang bernama Tomy itu.
"Mencabut bulu?" beo Kai menyatukan kedua alisnya bingung dengan apa yang di sampaikan oleh Tomy.
"Iya benar bulu King" ucap Tomy lagi.
"Bulu apa nih maksudnya?" Tanya Kai ngebugh, tidak mengerti.
"Semua bulu King, dari bulu kaki, bulu hidung, bulu alis, bulu mata, bulu rambut, bulu dada dan bulu anuu King, sama bulu apa lagi ya...." ucap Tomy sambil memikir bulu apa lagi yang belum ia sebut.
"Jadi maksud kamu Si Sanim tanpa bulu sekarang, botak? Plontos? Di waxing gitu?" tanya Kai lagi.
"Bukan king, tapi di cabut dikit dikit, tadi yang terakhir di cabut bulu matanya king, makanya itu suara sampai melengking, mungkin kesakitan" ucap Tomy polos.
Tomy memang anggota GOD yang sangat polos dan jujur. Tapi jangan salah, sikapnya itu hanya berlaku saat bersama anggota GOD yang lain atau orang terdekatnya. Namun jika dengan orang lain, ia sangat dingin dan tanpa ampun, seperti memiliki kepribadian ganda.
"Astaga.... Yang, emang ini jenis penyiksaan model terbaru ya, versi yang sudah terupgrade gitu?" tanya Kai pada Dara yang terkekeh mendengar pertanyaan absurd kekasihnya itu.
"Ada-ada aja kamu Abang sayang, sudah jangan di pikirin, ayo ke ruanganku aja aku udah lapar" ucap Dara bergelayut manja di lengan Kai.
Di perlakukan seperti itu wajah Kai memerah malu, Ia merasa senang jika calon istrinya itu dalam mode manjanya.
"Ekhmmm..." Kai berdeham sembari mengulum senyum, kemudian mengangguk.
"Ah iya Tom, ini ada makanan untuk kalian. Bagiin aja ya. Dan yang ini kasih ke Doni saat ia sudah selesai dengan mainannya itu, aku ke ruangan ku dulu" ucap Dara memberikan makanan itu ke Tomy, karena memang ia dan Kai membeli banyak makanan sebelumnya.
"Terimakasih Queen" ucap Tomy menerima dengan gembira kantong makanan itu.
.....
Mereka berdua memang sesekali melakukan hal seperti main game bersama saat waktu senggang, walaupun mereka bukan pemain profesional. Mereka terlihat senang sekali menikmati kebersamaan mereka saat memainkan nya.
"Kita menang abang sayang" ucap Dara begitu gembira, ngereog sambil goyangkan kepala kanan dan ke kiri.
Kai hanya terkekeh melihat sifat terpendam Dara yang tidak pernah ia tunjukan pada orang luar itu, ia senang melihat pujaan hatinya bahagia meskipun karena hal sederhana. Karena itu merupakan tujuan hidup Kai saat ini, yang tak lain adalah memberi kebahagiaan untuk kekasih hatinya dan belahan jiwanya itu.
Biarkan saja orang-orang mengatakan ia bucin pada Dara, karena memang kenyataannya demikian dan Kai tidak keberatan dengan sebutan itu.
"Senang hmm..." ucap Kai tersenyum sangat manis melebihi gula itu.
"Senang dong" ucap Dara terkekeh dan melingkarkan tangannya ke leher Kai lalu memeluknya.
Wangi tubuh Kai membuatnya sangat nyaman, Dara sangat merindukannya. Jauh dari Kai memang membuat rindunya semakin menggunung. LDR memang berat, meskipun LDR mereka hanya terpisah jarak dekat dan masih bisa bertemu sesekali. Tapi rindu itu terus saja datang pada keduanya.
Meskipun beberapa hari ini mereka terus bersama, namun tidak ada waktu untuk berduaan. Mereka sibuk dengan urusan yang ada di ibukota.
Kai melingkarkan tangannya ke pinggang Dara, ia membalas memeluknya erat. Ia juga sangat merindukan calon istrinya itu.
"Aku merindukanmu...." ucap Kai mencium kepala Dara dan menghirup wanginya rambut Dara yang lembut itu.
"Aku juga merindukanmu...." balas Dara
Entah siapa yang mulai, keduanya saling kini menatap penuh cinta di mata keduanya, hingga ciuman panjang penuh rindu pun terjadi.
Ceklek!
"Nona, anda sudah dat....eh.... A-aku ng-gak lihat apa-apa sumpah, ah.... Topi ku kayanya ketinggalan di mobil, Ya-ya ketinggalan...." ucap Dong atau kita sebut Doni sekarang.
Dia langsung berbalik saat melihat adegan yang membuat jiwa jomblo meronta itu. Setelahnya ia langsung keluar, tak lupa ia menutup pintunya lagi.
Jangan tanya bagaimana reaksi Dara dan Kai, Dara bahkan tidak berani mengangkat kepalanya yang kini ia benamkan di dada Kai. Ia sangat malu karena kepergok tengah cup-cap-cup.
"Doni sudah pergi Yang" ucap Kai mengelus rambut panjang Dara
"Iiiihh, Aku malu Kai...." ucap Dara yang masih menutupi wajahnya di dada Kai.
"Jangan di ingat, nanti aku marahin itu kakek-kakek. Sembarangan aja main masuk nggak ketuk pintu dulu, nganggu aja dasar. Padahal lagi enak eh di stop" ucap Kai menggerutu kesal
"Iiihhh... Kamu..." ucap Dara mencubit perut Kai.
"Awwwsss, enak.... Lagi Yang...." ucap Kai menggoda Dara, ia tidak merasa sakit sama sekali karena dara mencubitnya pelan, tentunya tanpa tenaga dalam.
"Lagi kepalamu... Dasar mesum" ucap Dara mengulum senyum, Kai hanya terkekeh gemas.
"Kamu gemesin, cium lagi sih Yang" ucap Kai memonyongkan bibirnya.
"Apaan sih Abang ih... Kenapa jadi mesum gini sih, nanti kepergok orang lagi" ucap Dara.
"Nggak mesum sayang, aku cuma tergoda itu bibir kamu manggil terus minta di kecup, di ****, di gigit" ucap Kai.
"Kamu kayanya harus di ruqyah..." ucap Dara
"Aku lagi nggak lagi kerasukan setan sayang, aku cuma lagi kerasukan cinta kamu yang nggak bisa keluar lagi dari hati aku, udah ke kunci di sana. Aku nggak butuh ruqyah, aku butuh kecupan di sini" ucap Kai menunjuk bibirnya.
"Udah ah, ayo keluar, kita temui Doni, terus kita ke apartemen Manda ketemu anak sulung kita" ucap Dara, berdiri terus melangkah keluar.
"Hissshh, gara-gara Doni. Gagal dapet cup-cap-cup" gerutu Kai mengikuti Dara dari belakang, lalu sedikit berlari mendekati Dara dan memeluk pinggangnya.
...•••••••...