The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
290. Memberikan pelajaran



"Arrrrrggghhhhh jarikuuuuuu, lepaaasss kan tangaaaaankuuuuu sakiiiiiittt" teriak pilu orang itu, masih berusaha melepaskan tangannya yang di genggam Dara.


"Loh, kok tanganmu renyah banget sih. Kaya aku lagi ngremes kerupuk aja" ucap Dara membolakan matanya berpura-pura terkejut kemudian terkekeh.


Sontak ucapan Dara membuat yang lain terkejut, terlebih mereka mendengar dengan jelas tulang jari-jari rekannya di patahkan dengan sangat mudah oleh Dara.


"Itu akibatnya tanganmu tidak di sekolahkan, berani sekali kamu ingin menyentuhku dengan tangan kotor penuh kuman dan keburukan itu. Maka aku berikan hadiah sebagai salam perkenalan yang indah untuk mu" ucap Dara dengan datar dan tatapan tajam membuat siapapun merinding di buatnya.


KREK!!!! Sekali lagi Dara meremas helari tangan itu.


"Aaaaaaaaa.... Aaaaaaaaarrggghhh sakiiiiiittttt!!!!" teriak orang itu lagi saat melihah jemari tangan kanannya sudah remuk, benar-benar seperti kerupuk renyah yang di remas begitu mudahnya.


BUGH!!!


Tak sampai di situ, dara menendang entah itu burung perkutut atau burung kutilang yang menempel di bagian bawah orang itu. Mungkin selamanya orang itu akan mendapati burung kesayangannya itu tidur selama ya dan merasakan menjadi seorang Kasim yang terkenal karena kehilangan burungnya.


"Aaaaaaaakkkkkhhhh......" orang itu teriak kala tubuhnya terdorong sangat keras hingga mengenai rekan-rekannya yang ikut jatuh tertimpa dirinya dan membuat orang orang itu menjauh dari mobil Ellena.


"Ada yang mau coba remasan ku yang nikmat ini atau tendangan halintar yang bisa, wuuuusshhh membuat kalian menjadi Kasim yang terkenal" ucap Dara dengan menyeringai


GLEK!!!


Semuanya tertegun dan kompak menggelengkan kepala mereka spontan dan mengantupkan kedua kakinya melindungi aset berharga milik mereka.


Bukan hanya mereka yang terkejut, namun Dirman dan juga Ellena pun sama terkejutnya saat melihat aksi Dara. Keduanya pun menelan saliva kuat-kuat, saat melihat betapa kuatnya seorang nona muda Adi Raharjo.


"T-Ti-Tidak nona... Ka-Kami tid-dak ber-mi-mi-nat" ucap mereka tergagap.


Takut? Tentu saja!


Manusia super kuat apa yang bisa menemukan tangan manusia seperti meremukan kerupuk? Terlebih pertanyaan se wonder women apa seorang perempuan yang bisa menendang kuat seorang pria dewasa hingga membuat orang yang ada di sana terdorong jauh dengan kuatnya. Juga membuat setengah dari yang melawan roboh karena tertimpa?


Jika mereka melawan, bukankah mereka cari mati sendiri?


.....


Di dalam mobil Ellena masih berusaha menghubungi suaminya yang masih belum mengangkat telepon darinya. Jadi ia putuskan untuk menelepon Bara, namun Bara juga tidak angkat teleponnya. Baik Revan maupun Jefrey juga sama, Bahkan nomor keduanya tidak aktif.


"Ini bapak sama anak-anak lagi pada apa sih? Giliran di butuhin pada ngilang. Ya Tuhan bagaimana ini...." ucap Lirih Ellena.


"Ah, ya telepon Flo. Tapi bukannya Dara bilang Flo masih di Negara J, jadi aku minta tolong siapa nih.... Kai gitu? Bodo lah telepon dulu, kalau Kai nggak ada di kota S, ia bisa suruh anak buahnya yang dekat buat kesini" ucap Ellena.


Tuuuuttttt Tuuuuuuttttt....


Nada dering tersambung, Ellena makin gelisah karena teleponnya tidak ujung di angkat, saat ingin mematikan telepon justru terdengar suara di sana. Ya, Kai mengangkat teleponnya.


"Hallo mah" ucap Kai


"Kai, akhirnya kamu angkat juga telepon mama. Mama minta tolong kamu suruh anak buah kamu yang ada di kota S buat datang ke sini ya Kai" ucap Ellena.


"Memang mama kenapa mah?" tanya Kai berusaha tenang.


"Ada yang cegat kita di jalan Kai dan sekarang Dara yang hadapi mereka semua. Walaupun mama tahu putri mama kuat, tapi mama tetep aja khawatir karena lawannya puluhan orang laki-laki" ucap Ellena gemetar saking paniknya.


"Apa??? Kirim lokasinya sekarang mah, Kai ke situ sekarang!" ucap Kai khawatir saat mendengar kekasihnya sedang dalam bahaya.


Meskipun tahu Dara sangat kuat dan pastinya baik-baik saja. Tapi tetap saja Kai khawatir sebelum ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika gadisnya dalam kondisi baik-baik saja tanpa lecet sedikit pun.


"Eh emang kamu ada di kota S?" tanya Ellena terkejut mendengar calon mantunya mau datang.


"Kai masih di ibukota mah, Kak berangkat sekarang ke sana. Aku bakal kabarin anak buahku untuk ke sana lebih dulu, buat amanin semuanya" ucap Kai.


"Makasih Kai, mama kirim lokasinya sekarang" ucap Ellena.


Lalu sambungan telepon itu pun terputus, Ellena berdoa semoga putrinya baik-baik saja sampai bala bantuan datang. Ingin sekali ia turun menolong Dara, namun ia tidak bisa bertindak bodoh.


Jika ia turun, itu malah akan memperburuk keadaan, perhatian Dara akan terbagi. Terlebih Dara berusaha menjauhkan orang-orang itu dari mobil. Jika ia keluar dan memancing orang untuk menyanderanya, yang ada Dara benar-benar akan terluka.


....


Dara melangkah mendekati puluhan orang itu yang juga berjalan mundur karena takut pada Dara.


"Eh kenapa kita harus takut, dia kan hanya cewek dan juga dia sendirian. Sedangkan kita puluhan orang, masa iya takut lawan cewek satu doang. Kita kan bisa keroyok dia sekaligus" celetuk yang lain.


"Benar juga ucapanmu, kenapa kita jadi bego" ucap yang lain seperti tersadar jika Dara menekan mental mereka hingga ketakutan terlebih dulu dan tidak bisa berpikir.


Dara tersenyum tipis, mereka pikir dirinya akan kalah melawan kroco macam mereka. Bahkan hanya dengan sedikit kekuatan saja, ia bisa dengan mudah melumpuhkan semuanya tanpa susah payah.


"Ayo serang perempuan ini, kita kasih pelajaran padanya dan setelahnya kita akan bersenang-senang" ucap salah satu orang itu yang mulai mengambil kuda-kuda untuk menyerang Dara, di ikuti oleh yang lainnya yang sudah bersiap hendak menyerang Dara dari berbagai sisi.


"Cih, pecundang!! Lawan cewek aja beraninya keroyokan" ucap Dara mencibir.


"Serang!!!" teriak mereka.


"Dark!!" ucap Dara


Seketika ada sebuah bayangan gelap menumbangkan hampir setengahnya dari mereka yang ingin menyerang Dara. Tiba-tiba saja sosok laki-laki berpakaian hitam-hitam seperti seorang ninja dengan penutup kepala dengan logo mahkota muncul di sana.


"Queen..." Sapa Dark hormat pada Dara.


"Bereskan mereka, kecuali orang itu" ucap Dara menunjuk seseorang yang masih berbicara dengan orang lain dalam keadaan terikat di pohon.


Bahkan orang di ujung sana tidak menyadari, jika hampir setengah dari orang yang ia bawa sudah tergeletak tidak berdaya di tanah.


"Baik Queen" ucap Dark. Menunduk hormat.


Dengan gerakan yang cepat Dark, mulai melumpuhkan satu persatu orang yang tersisa di sana.


Sebenarnya Dark sudah melihat penyerangan itu dari jauh, namun ia tidak berani bergerak jika tidak ada instruksi dari Dara yang mengizinkannya untuk ikut campur. Jadi ia hanya mengawasi saja dari jauh sejak tadi.


BAK!!! BUK!!! BAK!!! BUK!!!


"Aaaaarrrrrrggghhhh....."


"Aaarrrrrrrrggggghhh...."


satu persatu lawan Dadak tergeletak di tanah, teriakan itu membuat orang yang masih berada di ujung jalan ikut datang membantu melawan Dark.


Hanya saja mereka memilih lawan yang salah. Dengan sangat mudahnya Dark menumbangkan semuanya tanpa sisa. Kini hanya ada pria yang terikat di sebuah pohon, Dara pun hendak menghampirinya, namun sebelumnya ia ingin bicara dengan Dark lebih dulu.


"Dark, datangi Mobil mama, bilang jangan khawatir karena semuanya sudah di basmi dan kamu adalah anak buahku yang datang menolong. Bilang sama mama jangan keluar sebelum bantuan lain datang, aku ada perlu sebentar dengan seseorang" ucap Dara pada Dark


"Baik Queen" sahut Dark mengangguk patuh.


Dara kembali melangkahkan kakinya perlahan menuju laki-laki itu dan berhenti tepat di depannya.


"Kau di khianati rekanmu?" ucap Dara, itu seperti bukan pertanyaan tapi sebuah pernyataan.


"Da-Ra...." ucap laki-laki yang sudah babak belur itu dan dalam keadaan terikat itu terkejut saat melihat Dara berada di depannya.


Di mata laki-laki itu ada tatapan rindu, sedih dan juga malu di sana.


"Ikut aku" ucap Dara setelah melepaskan tali laki-laki itu dan menariknya menuju ke sebuah tempat cukup jauh dari jalan itu.


PLAK!!!


Tanpa ampun Dara menampar laki-laki itu yang hanya bergeming saat di tampar oleh Dara.


"Kamu adalah bandar besar, Arvin??? Bagaimana bisa kau melakukan bisnis haram seperti ini?" teriak Dara marah.


Ya, laki-laki itu adalah Arvin, anak dari Tante Rose, yang merupakan anak dari sahabat ibu kandungnya Dara.


Arvin yang mendengar itu hanya menunduk dan menghela nafas. Ia tidak bisa mengelak karena sudah ketahuan jika selain menjadi CEO di perusahaan orang tuanya. Ia juga menjalankan bisnis gelap.


"Bagaimana kalau Tante Rose tahu, kalau anak laki-laki yang sangat ia banggakan adalah seorang bandar narkoba, bahkan termasuk ke jaringan internasional? Bahkan kamu merupakan bos besarnya, Arvin??? Apa kau sudah Gila???" ucap Dara menatap tajam Arvin yang menunduk.


"Jawab, apa kau sekarang menjadi bisu Hah???" ucap Dara marah, kecewa lebih tepatnya.


"Apa kau peduli? Bukankah kamu sudah menolakku? Untuk apa kau peduli dengan apa yang aku lakukan?" ucap Arvin yang kini menatap Dara dengan tatapan sendu.


"Aku menolak perasaanmu, apa itu membuat akalmu jadi hilang hah?? Aku jelas peduli, kau temanku, kau adalah anak dari sahabat ibuku" ucap Dara kesal


"Aku mencintaimu Dara... Bahkan sampai sekarang" ucap Arvin malah membahas tentang perasannya.


Dara melihat kondisi Arvin, selain babak belur. Penampilan Arvin jauh dari kesan rapih di banding terakhir kali mereka bertemu.


"Tinggalkan dunia haram ini Arvin! Aku tahu kamu melakukan pekerjaan jauh sebelum kamu mengenalku bukan? Aku bukan orang bodoh yang memikirkan kamu melakukan ini hanya karena sebuah kata patah hati. Bertobatlah" ucap Dara.


Meskipun Dara awalnya tidak tahu yang sebenarnya, tapi Dara yakin jika feeling nya tidak pernah meleset. Apalagi dari percakapan Arvin orang yang di duga pengkhianat dalam bisnis Arvin. Dara mengetahui jika bisnis mereka sudah berjalan lebih dari tiga tahun.


Untuk masalah penampilan dan perasaan Arvin pada Dara, Dara yakin itu adalah hal yang jujur dan tulus. Namun sayang nya Dara tidak bisa membalasnya meskipun sedikit saja.


"Lepaskan aku Arvin, ikhlaskan aku. Karena aku sudah memilih takdirku sendiri bersama dengan Kai. Dan tinggalkan bisnis ini demi keluargamu yang menyayangimu. Mereka adalah orang-orang yang dengan perasaan rindu menunggumu di rumah. Bukankah kau di khianati oleh rekanmu sendiri hanya karena sebuah kekuasaan? Mungkin ini jalan Tuhan membuka matamu, jika pa yang kamu lakukan sela ini salah. Bangunlah kerajaan bisnismu dengan cara yang bersih, bukan menjerumuskan orang agar menjadi rusak" ucap Dara menasehati.


"Apa tidak ada sedikitpun perasaan untukku?" tanya Arvin memelas. Lagi-lagi yang di bahas oleh Arvin adalah tentang perasaan.


"Tidak! Tidak ada sama sekali, jadi lupakan semuanya dan mulai hidupmu dari awal yang lebih baik. Ingat ada Keluargamu yang mencintai dan menyayangimu, aku yakin wanita yang di Takdirkan untukmu juga menunggu. Hanya saja siapa, dimana dan kapan kalian bertemu, tidak ada yang tahu" ucap Dara.


Jahat? Memang. Dara memang harus mengucapkan kata yang bisa mematahkan cinta seorang Arvin padanya. Ia tidak ingin memberikan harapan sekecil apapun untuk orang lain masuk ke dalam hatinya.


Karena Dara tidak ingin melukai Arvin lebih banyak, ia juga yakin Tuhan akan memberikan jodoh terbaik untuk Arvin, yang jelas itu bukan dia.


"Pergilah, aku akan menutup mata dan telingaku m kali ini saja saat kau terlibat, karena mengingat Tante Rose dan keluarga mu jadi aku melepaskan mu. Jika di masa depan kamu terlibat dengan hal ini lagi, aku tidak sungkan menjeblos kan kamu ke penjara dan membuatmu merasakan dinginnya menginap di hotel prodeo" ucap Dara kemudian pergi meninggalkan Arvin yang menatapnya sendu.


"Terimakasih dan maaf, Dara... Jika Kai adalah kebahagiaanmu, maka aku akan mencoba mengikhlaskan semuanya, meskipun itu sulit. Tapi jika Kai menyakiti mu sedikit saja, maka saat itu pula aku akan menarikmu ke sisi ku" gumam pelan Arvin nyaris tidak terdengar.


Namun Dara yang sudah berjalan jauh masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Ya, kamu harus mengikhlaskan semuanya. Hiduplah dengan baik, aku yakin kebahagiaan akan menantimu di masa depan. Jadi, aku harap kamu meninggalkan dunia hitam ini dan fokus untuk menjadi lebih baik. Untuk hidupku, aku yakin jika aku memilih pasangan yang tepat" ucap Dara pelan dan Arvin pun tidak bisa mendengarnya karena jarak mereka yang sudah jauh.


...••••••••...