
Orang yang di panggil nyonya Rudianto tak lain dan tak bukan adalah Carmila, sahabat Dara.
Semua orang di ruangan itu mengarahkan antensinya ke arah Carmila, termasuk Dokter dan juga sang suami, Yogi Rudianto.
"Mila, jangan sembarangan bicara" ucap Yogi, takut istrinya terlibat masalah dengan orang berpengaruh.
Keduanya ada di ruangan itu karena teman Yogi adalah kerabat dari keluarga Rukmana. Yang merupakan keluarga kelas satu di ibu kota, yang memiliki kekayaan total ratusan triliun.
Sedangkan keluarga Rudianto hanya keluarga kelas tiga yang hanya memiliki sekitar beberapa triliun saja.
Di ibukota sendiri ada banyak sekali keluarga kelas atas. Salah satunya tiga keluarga besar yang sangat di segani, menjadi puncak Piramida kekuasaan dan kekayaan di ibukota.
"Maafkan ucapan istri saya tuan Emir" ucap Yogi menundukkan kepalanya ke arah Emir.
"Saya bertanya nyonya, apa anda memiliki cara untuk menyelamatkan ayah saya?" tanya Emir mengabaikan ucapan Yogi.
"Ya mungkin dengan pil penyembuh bisa menyembuhkan tuan besar" ucap Carmila.
Ia tidak yakin, tapi ia mempercayai Dara sepenuhnya. Jadi ia berani mengatakannya dengan keras.
"Pil penyembuh? Nyonya, ini bukan waktunya untuk main-main, ini mengenai nyawa seseorang pilar keluarga Rukmana. Apa anda mau bertanggung jawab atas ucapan dan tindakan anda, jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan?" ucap Dokter.
"Pil penyembuh? Apakah itu bisa menyembuhkan ayahku?" tanya Emir mengerutkan kening. Ia baru kali ini mendengar obat seperti itu.
"Dia bilang seperti itu dan aku mempercayainya. Dia mengatakan jika obat itu bisa menyelamatkan seseorang, meskipun orang itu berada di ambang kematian. Selagi denyut nadi masih ada, meskipun sangat lemah itu masih bisa di selamatkan" ucap Carmila lagi.
"Omong kosong! Aku tidak percaya ada obat seperti itu. Nyonya anda tidak bisa berbicara ngawur tentang medis dan keselamatan pasien!" ucap Dokter yang juga sebagai kepala rumah sakit, yang bernama Yanto.
"Mila, hentikan bualanmu! Kamu akan terlibat masalah jika terjadi hal yang buruk" ucap Yogi dengan keras. Ia takut istrinya terbawa masalah yang rumit, dan keluargannya juga akan terseret dalam masalah, karena menyinggung orang yang berpengaruh.
"Aku tidak membual, meskipun aku belum pernah melihat efek pil itu, tapi aku pernah merasakan efek pil lain yang sahabatku buat. Kau tidak melihat dan menyadari perubahan yang terjadi padaku? Aku terlihat lebih muda di banding usiaku yang menginjak 33 tahun tahun ini, tapi aku terlihat seperti seorang gadis berusia dua puluhan bukan? Itu karena aku meminum pil kecantikan darinya, hanya butuh satu Pil dan waktu 5 menit, aku berubah seperti yang kau sekarang ini" ucap Carmila kesal pada suaminya.
Baginya Dara adalah sahabatnya sekarang, jadi ia akan membelanya. Ia yakin jika Dara tidak akan memberikan obat secara acak untuknya dan merugikan atau membahayakan untuknya.
Mendengar itu semua orang terkejut, termasuk Yogi. Memang ia penasaran mengapa istrinya bisa kembali muda secara tiba-tiba, bahkan semua ototnya juga mengencang seperti muda lagi. Tapi ia tidak pernah menanyakan itu, karena dirinya sibuk bekerja beberapa hari ini. Tapi ia sangat menyukai penampilan istrinya.
"Nyonya, apa anda tahu di mana aku bisa mendapatkan pil penyembuh itu?" tanya Emir dengan berbinar saat mendengar ucapan Carmila. Dalam hatinya ia yakin jika Carmila tidak membual.
"Ya, saya tahu. Sahabat saya yang membuatnya, dan dia memberiku satu Pil yang ia buat sebagai hadiah. Aku membawanya di tas ku sekarang" Ucap Carmila.
"Bisakah kamu memberiku obat itu untuk menyelamatkan ayahku? Aku bisa memberikan apapun yang kamu inginkan agar bersedia memberikannya" ucap Emir dengan tulus dan berharap.
"Tuan Emir, kenapa anda melakukan itu? bisa jadi obat itu tidak seperti yang dia bicarakan dan dia melebih-lebihkan nya. Meskipun dia mengatakan jika dia pernah meminum pil kecantikan yang bisa merubah penampilannya. Tapi pil penyembuh bagaimana pun sangat sulit di percaya. Bagaimana jika keadaan tuan besar makin memburuk?" ucap Yanto
"Jika tidak percaya, tidak masalah bagiku! Aku tidak memaksa kalian untuk percaya, Aku hanya mengatakan yang sebenarnya" ucap Carmila kesal.
"Kamu..." ucap Yanto namun di potong oleh Emir
"Nyonya, tolong anda berkenan memberikan obat itu. Aku mempercayai ucapan anda" ucap Emir yakin.
"Tuan..." ucap Yanto
"Nyonya, saya mohon pada anda. Aku akan mengambil resiko apapun yang terjadi pada ayah saya nantinya" ucap Emir membungkuk dan memohon dengan tulus.
"Tuan Emir jangan memohon seperti itu. Baiklah, ini obatnya! Anda bisa memberikannya pada tuan besar" ucap Carmila memberikan pil penyembuh dari dalam tas-nya.
Meskipun obat itu sangat berharga, tapi saat ini dalam keadaan genting. Orang lain lebih membutuhkannya saat ini, jadi ia tidak keberatan memberikannya.
"Terimakasih nyonya" ucap Emir saat senang menerima botol obat itu dengan hati-hati.
Saat melihat ukuran obat cukup besar, Emil bingung memberikan pil itu pada ayahnya. Namun Carmila mengerti kebingungan Emir.
"Pil itu akan meleleh begitu masuk ke dalam mulut, tuan Emir" ucap Carmila lagi
Ia mengatakan itu, karena pil kecantikan juga meleleh saat ia meminum nya saat itu. Jadi ia pikir jika pil penyembuh juga sama dan ternyata tebakannya benar, Pil itu langsung meleleh begitu di masukan ke dalam mulut.
Semua orang menunggu dengan cemas dan menahan nafas menunggu reaksi obat itu, beberapa saat kemudian wajah pasien perlahan berubah menjadi memerah normal dari putih pucat. Tubuhnya yang tadinya mulai dingin juga kembali menghangat.
Detak jantungnya kembali normal, nafasnya juga mulai tenang dan perlahan pasien membuka matanya.
Semua orang terkejut saat pasien sudah sadar. Melihat ayahnya sadar Emir sangat bahagia dan memeluk ayahnya sambil menangis.
"Ayah, kau akhirnya sadar" ucap Emir
"Emir, apa yang terjadi?" tanya Rustam, ayah Emir.
"Ayah mengalami gagal jantung dan setelah pemeriksaan di ketahui ada darah menggumpal di otak ayah. Ayah beberapa saat lalu sekarat, dokter sudah menyerah. Operasi tidak bisa di lakukan karena gumpalan itu berada di titik vital. Namun Nyonya Rudianto membawa obat ajaib untuk menyelamatkan ayah dan menarik anda dalam keadaan di ambang batas kematian" ucap Emir.
"Ah, terimakasih banyak nyonya dan tuan Rudianto sudah menyelamatkanku. Saya memiliki hutang nyawa pada kalian" ucap Rustam
Bagaimanapun Yogi hanya terdiam, ia masih syok dan tidak percaya apa yang terjadi depannya. Awalnya Ia takut istrinya akan kenapa-napa saat berusaha memberikan pil itu. Namun ia senang dan lega di saat usaha istrinya membuahkan hasil yang baik.
"Anda terlalu sopan tuan, saya hanya kebetulan ada di sini dan menjadi perantara Tuhan saja. Tapi ucapan terimakasih ini lebih layak di ucapkan untuk sahabat saya, karena dia yang membuat obat ajaib itu" ucap Carmila.
"Tentu, bisakah anda mempertemukan kami dengan penyelamat keluarga kami?" tanya Emir.
"Saya akan menyampaikan ucapan anda padanya" ucap Carmila.
"Terimakasih banyak. Meskipun anda hanya perantara tapi jika tidak ada anda, ayah saya tidak selamat juga. Jadi mohon terimalah ini, di dalamnya ada 1 Triliun dan sandinya 666666. Jika nyonya dan keluarga memiliki masalah di masa depan, jangan sungkan memberitahu saya. Keluarga Rukmana akan siap membantu" ucap Emir. Menyodorkan sebuah kartu Debet dan kartu nama.
"Ini terlalu berlebihan, saya tidak bisa menerimanya" ucap Carmila menolak itu semua.
"Tolong terima saja nona, ini sebagai sedikit rasa terimakasih dari kami" ucap Rustam ikut menimpali.
"Baiklah, saya akan menyampaikan terimakasih dan undangan anda pada sahabat saya nanti" ucap Carmila menerima kedua kartu itu.
Dia tidak menyangka, karena berkat Dara ia bisa membuat koneksi dengan keluarga kelas satu seperti keluarga Rukmana.
Dan setelah melakukan pemeriksaan, kondisi tubuh Rustam Rukmana sangat baik. Bahkan penyakit jantungnya sudah oulih dan gumpalan di otak juga menghilang dengan sendirinya. Itu membuat semya orang takjub dan bertanya-tanya. Siapa gerangan dokter ajaib itu.
...•••••...