
Dara dan Celine langsung menuju ke sumber suara yang terdengar sangat nyaring itu, terlihat beberapa orang bergerumul untuk melihat apa yang terjadi.
Ternyata ada seseorang wanita yang membawa seorang bayi dan anak balita perempuan, tengah bersitegang dengan seorang laki-laki dan wanita lain.
Laki-laki tadi berniat merebut bayi di tangan wanita itu, namun wanita itu enggan memberikannya dan mempertahankan nya dalam gendongannya.
"Sudah ketahuan selingkuh, kamu ingin mengambil anakku juga? Aku tidak mau! Ini anakku! Jika kau mau anak, minta saja pada selingkuhanmu itu! Aku tidak Sudi, aku ingin cerai!" teriak wanita itu lagi.
"Tentu, aku akan menceraikanmu, dasar wanita miskin! Tapi aku tidak akan membiarkan kau mengambil putraku! Biar aku dan pacarku yang akan merawatnya! Bawa saja putrimu itu bersamamu, jangan putraku!" ucap laki-laki itu berteriak.
"Tidak mau! Jangan ambil anakku! Aku tidak Sudi membiarkan anakku bersama dengan Ayah macam kamu" teriak wanita itu dengan menangis.
"Ibu, ayah, huhuhu" tangis anak balita di sampingnya melihat ayah dan ibunya berkelahi.
"Wanita jelek, lebih baik kau berikan bayimu, kau bisa mengurus putrimu itu! Angkat kaki dari rumah pacarku!" teriak wanita yang tak lain selingkuhan laki-laki itu.
Orang-orang hanya menonton saja, mereka tidak berani ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Meskipun diam-diam mereka mengumpat laki-laki dan selingkuhannya di belakangnya.
Jika di dengar dari bisik-bisik orang di sana. Ternyata itu adalah drama seorang istri dan putra putri mereka, yang memergoki suami dan ayah mereka berselingkuh bahkan berniat ingin menikah dengan selingkuhannya. Tentu saja istrinya marah melihat itu, dan pertengkaran pun terjadi.
Sang suami ternyata membela selingkuhannya dan ingin bercerai, namun ia ingin mengambil anaknya yang masih bayi karena ia anak laki-laki. Namun istrinya tidak ingin menyerahkan kedua ananknya pada suami yang sudah ketahuan selingkuh itu.
Dara yang melihat itu merasa marah, ia teringat bagaimana dirinya, ibunya dan juga Dimas di usir dari rumah hanya karena ayahnya membela wanita lain.
Di sisi lain, seorang laki-laki dengan dua rekannya yang baru saja selesai makan juga menyaksikan keributan itu. Namun bukan itu yang menarik perhatiannya, tapi wangi dari seseorang yang ia rindukan.
Ya, pria itu adalah Kaisar atau yang bisa di panggil Kai dengan dua rekannya Nathan dan Rafael. Ia mencari di seluruh orang yang berkerumun dan ia melihat Dara di sana.
Namun tiba-tiba suara jeritan terdengar dari semua orang, Kai juga melihat Dara berlari dengan sangat cepat.
Kejadian tidak terduga terjadi, kedua suami istri dan selingkuhannya itu berebut hingga bayi itu terlempar dan akan jatuh dari lantai tiga Mall.
Wush!!!
Dara berlari dengan cepat dan ia melompat ke sana untuk menangkap bayi itu. Kai dan Celine terkejut dan berteriak.
"Daraaaa!!!!" Teriak keduanya.
Kai langsung menerobos dan berlari ke arah Dara melompat.
"Aaahhhhh!!!!" semua orang juga menjerit melihat kejadian itu.
HAP!!!
Bayi itu berhasil di raih oleh tangan kanan Dara, sedangkan tangan kirinya berhasil memegang pagar pembatas.
Bisa saja Dara melompat dan ia tidak akan kenapa-napa karena kekuatannya di atas manusia normal. Namun ia tidak mungkin melakukannya, karena semua orang melihat dan akan menimbulkan kehebohan yang tidak perlu.
"Dara!!!" teriak Kai yang baru saja sampai di tepi pagar.
Dara mendongak, ia melihat Kai di sana. Ia merasa lega karenanya.
"Kai, tolong tarik aku ke atas!" ucap Dara.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Kai langsung menarik tangan Dara. Dengan bantuan Dara yang meringankan tubuhnya, Kai dengan mudah menariknya meskipun Dara masih menyisakan beban karena tidak ingin Kai curiga.
HAP!
Dara berhasil di tarik, Kai masih yang merasa takut dan ia segera memeluk Dara dengan erat sesaat setelah Dara naik.
"Kai...." ucap Dara terkejut mendapati ia di peluk dengan erat. Namun Dara merasakan jantung Kai yang berdetak kencang karena takut, tubuhnya juga sedikit bergetar.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Kai dengan suara bergetar.
"Hmm, tolong lepaskan aku, kasihan bayinya" ucap Dara
Namun Kai tertegun saat melihat masker Dara terbuka, dengan segera Kai membenamkan Wajah Dara kembali ke dadanya.
"Hei, Kai..." ucap Dara terkejut.
"Wajahmu...." ucap Kai.
"Hah?" ucap Dara tidak mengerti.
"Ma-maskermu terlepas" ucap Kai, ia menoleh ke kanan dan ke kiri semua orang menatap mereka. Tapi di lihat dari ekspresi mereka mereka terlihat lega karena Dara dan bayi itu selamat, jadi itu bukan Ekspresi seperti mereka melihat wajah Dara.
"Ah ya, makasih" ucap Dara langsung membenahi maskernya lalu melepas pelukan Kaisar.
Wangi tubuh dan juga suhu badan Kai yang hangat membuat nyaman, Dara sadar dan ia tidak ingin lama-lama takut ia kebawa perasaan.
Dara langsung berjalan ke ibu sang bayi, ia ingin menyerahkan bagi itu. Namun ayah bayi itu ingin merebutnya, Kai dengan sigap menghalangi laki-laki itu dan berdiri di depan Dara.
"Minggir kamu! Aku ingin mengambil putraku!" ucap ayah bayi.
Kaisar tidak menjawab, ia hanya memberikan padangan yang begitu dingin dan tajam pada laki-laki itu hingga nyalinya tiba-tiba menciut.
"Aku tidak akan memberikan bayi ini pada seorang ayah yang bahkan tidak tahu cara menghargai keluarganya sendiri" ucap Dara
"Diam kamu! Kamu tidak berhak ikut campur!Aku ayahnya! Aku berhak atas putraku!!!" Ucap ayah bayi itu dengan berteriak
"Tidak! Aku ibunya! aku berhak atas kedua anakku" ucap ibu bayi itu.
"Aku akan tetap membawa putraku, jika kau mampu, kita bertemu di pengadilan. Kita lihat siapa yang akan menang!" ucap ayah bayi dengan senyum sinis.
Ibu bayi diam, ia hanya seseorang dari keluarga menengah. Jika berurusan di pengadilan, tentu saja ia akan kalah.
"Ambil putramu kalau bisa. Nyonya, aku akan membantumu di Pengadilan untuk mendapatkan hak asuh kedua anakmu" ucap Dara
Mendengar itu semua orang terkejut, termasuk ibu bayi.
"Nona, tapi keluarga suamiku adalah putra dari keluarga Hutama. Sedangkan aku hanya dari keluarga menengah" ucap ibu bayi
"Kau dengar? Aku Nardi Hutama, keluarga kelas dua di ibu kota. Apa kau sanggup melawan ku???" ucap nya dengan sombong.
"Hanya keluarga Hutama saja begitu sombong, tenang nyonya aku juga akan membantumu" ucap Celine menghampiri Dara.
Dara tersenyum di balik maskernya mendengar ucapan Celine.
"Siapa kamu! Berani sekali kamu melawan keluarga Hutama!" ucap Nardi
"Kamu pikir hanya kamu yang punya latar belakang yang tinggi? Aku Celine, cucu Rustam Rukmana, mana takut hanya dengan semut macam kamu? Tak perlu temanku atau keluargaku yang turun tangan, aku sendiri juga sanggup membuatmu menghilang dari ibukota" ucap Celine mencibir
Mendengar itu Nandi terkejut, ia ternyata salah mencari lawan. Ia segera memutar otaknya dan berusaha membujuk cucu dari keluarga kelas satu itu.
"Nona, ini urusan keluarga saya, jadi anda tidak memiliki hak untuk ikut campur. Meskipun anda dari keluarga terpandang anda tidak memiliki hak masuk ke dalam masalah keluarga ku" ucap Nandi dengan nada suara yang lebih rendah.
Celine bagaimanapun masih muda, ia juga tidak ingin terlibat dengan urusan orang, yang tidak ia tahu seluk beluknya masalah yang terjadi. Ia juga tidak paham hukum, ia hanya membela Dara saja barusan.
Saat Dara ingin mengucapkan sesuatu, Kai sudah berbicara terlebih dulu.
"Aku memiliki hak ikut campur, karena kau membuat keributan di tempat umum dan hampir membuat nyawa anakmu sendiri dalam bahaya. Nathan panggil polisi untuk datang!" ucap Kai dengan datar dan dingin.
"Baik!" ucap Nathan dengan sigap.
"Kau...." ucap Nandi marah, namun ia tertegun saat Kai mengeluarkan plakat di militernya dan menunjukannya itu padanya.
...••••••...