
Flo terkejut mendengar tebakan Sarah yang sangat tepat itu, entah ia harus berkata apa saat wanita paruh baya cantik di depannya bisa menebaknya dengan sangat mudah.
Sarah yang menatap reaksi dari Flo yang saat ini tengah gelisah justru malah tersenyum.
"Tante tahu semuanya" ucap Sarah
Deg!
Tiba-tiba saja jantung Flo berdetak lebih kencang mendengar itu, entah mengapa ada perasaan gelisah dalam hatinya.
"Maafkan Saya..." ucap Flo, hanya itu yang bisa ia ucapkan, Flo pun menundukkan kepalanya. Ia sudah siap untuk menerima kata-kata pedas ataupun tamparan.
Tap!
Flo terkejut saat mendapati tangannya di genggam oleh Sarah, bukan cacian ataupun pukulan.
"Jika karena hal itu kamu masih meragukan Lingga, maka sekarang keraguan kamu bisa hilang. Tante tidak masalah dengan masa lalu kamu sebagai salah satu anggota organisasi apapun itu. Tante tahu dan bisa merasakan kalau kamu bukanlah orang jahat. Jika tidak, mungkin putra Tante sudah tidak ada di dunia ini lagi sejak dulu" ucap Sarah
"Tante..." ucap Flo tidak percaya dengan yang ia dengar barusan, ia merasa dirinya tengah halusinasi.
"Kamu pikir Lingga tidak tahu jika kamu dulu hampir membunuhnya?" ucap Sarah yang sukses membuat mata Flo membola, jantung Flo makin berdetak kencang dan nafasnya terhenti sejenak.
"Li-Lingga tahu?" tanya Flo.
"Flo sayang, kamu jangan meremehkan kekuatan Keluarga Narendra. Terlebih perihal berbisnis dan juga mencari informasi, kau tahu bukan jika Lingga adalah calon CEO Narendra Corporation? Bahkan dia sudah memegang cabang perusahaan di negara A, sekaligus dia menyelesaikan kuliah S2-nya di sana. Perihal mencari informasi tidaklah sulit, apalagi perihal tentang kamu yang tak lain gadis yang ia cintai. Sudah pasti Lingga akan mencari informasi agar bisa lebih mengenalmu dan dekat dengan mu" ucap Sarah
Yang di ucapkan Sarah benar adanya, Lingga merupakan pewaris yang akan menjadi CEO selanjutnya dari Narendra Corporation.
Kenapa bukan Kai yang merupakan cucu tertua keluarga Narendra? Itu karena Kai tidak memiliki niat untuk meneruskan perusahaan keluarga. Ia lebih memilih fokus mengembangkan karirnya di kemiliteran.
Namun meskipun begitu, pundi-pundi uang akan selalu menghampirinya. Karena Kai memiliki saham yang cukup besar di perusahaan dan setiap tahunnya Kai mendapat Dividen dari sahamnya itu.
Kekayaan Kai bahkan hampir menyayangi keluarga Narendra. Hanya saja itu berbentu aset dan uang, bukan perusahaan.
Entah perasaan Flo saat ini tidak bisa di ungkapkan setelah Sarah mengatakan hal itu pada dirinya.
"Apa Lingga masih menghubungimu?" tanya Sarah
Flo mengangguk, dia tidak berbohong karena Lingga memang selalu menghubunginya. Baik itu melalui telepon atau pesan singkat. Bahkan beberapa saat lalu, Lingga mengirimnya pesan jika ia akan masuk kelas.
"Itu berarti dia tidak masalah dengan masa lalu kamu dan menerima semuanya karena cintanya padamu lebih besar dari itu. Dia tidak pernah membencimu Flo, dulu Lingga pernah cerita jika ia hampir di bunuh yang alasannya dia sendiri tidak mengetahuinya. Lingga bilang jika ia di lepaskan begitu saja oleh pembunuh itu. Jadi bagaimana Flo?" ucap Sarah tersenyum.
"Tapi aku orang biasa Tan, aku anak yatim piatu, apa pantas bersama dengan keluarga Narendra?" ucap Flo
"Keluarga Narendra sudah punya banyak uang, tidak peduli dengan harta orang lain lagi. Dan soal orang tua, kamu akan memilikinya saat menikah dengan Lingga. Tante dan Om akan jadi orang tuamu juga. Jadi jangan terbebani dengan hal-hal yang seperti itu. Bahkan aku sendiri bukanlah orang baik-baik, hidupku dulu tidak jauh berbeda darimu. Aku tidak bisa jauh dari yang namanya senjata dan darah, tapi keluarga Narendra masih menerima ku dan keluarga ku dengan tangan terbuka" ucap Sarah mengingat masa lalu.
Flo terdiam, ia bingung ingin mengatakan apa. Dalam hatinya tidak bisa di bohongi, ia mulai merasakan tertarik pada Lingga yang tidak berhenti mengejarnya meskipun sering kali ia di acuhkan.
Namun rasa takut dalam hatinya menjalin sebuah hubungan masih membuatnya takut untuk melangkah.
"Tante tidak akan memaksa pilihanmu, tapi Tante hanya ingin memberi pendapat saja. Hidup ini harus terus berjalan, jika kau terus melihat kebelakang dan terjerembab dalam luka dan duka di hatimu. Maka selamanya kamu tidak akan bisa menyongsong kebahagiaan yang menanti di depanmu. Juga jangan terlalu lama mengabaikan seseorang yang tulus padamu, karena semua hal ada masanya. Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari karena terlambat mengambil keputusan dan kehilangan semuanya yang sebenernya Tuhan sudah siapkan padamu" ucap Sarah
"Flo mengerti Tante, Flo akan pikirkan masak-masak. Terimakasih atas semuanya tan" ucap Flo
"Sama-sama sayang..." ucap Sarah tersenyum dan memeluk gadis yang sudah ia tandai sebagai calon menantunya itu.
"Lingga, kamu berhutang sangat besar pada mama karena mama membantu mendorong calon menantu mama. Agar hati dan matanya terbuka hingga bisa melihat mu dan berjalan beriringan, mama harap kamu tidak akan mengecewakan mama di masa depan" gumam Sarah dalam hati.
....
Dara masuk ke mansion dan mendudukkan dirinya di sofa empuk. Pekerjaannya di rumah sakit beberapa hari ini sangat padat membuatnya sedikit kualahan.
Itu karena beberapa hari yang lalu saat Dara memeriksa pasien, maskernya di buka oleh pasien laki-laki yang memberontak saat kakinya hendak di periksa.
Ada banyak drama di rumah sakit, selain laki-laki yang dengan tidak membuka maskernya menginginkan ia sebagai Dokter yang merawatnya selama sakit. Para pasien di UGD tiba-tiba membludak anya karena ingin bertemu dokter cantik yang tak lain adalah dirinya.
Dara merasa tidak enak pada Alden dan rekannya yang lain, karena pekerjaan mereka menjadi lebih banyak karenanya.
Namun bukannya marah, rekan kerjanya justru tertawa dan tidak mempermasalahkannya akan hal itu.
"Kalau aku jadi pasien juga akan melakukan seperti itu untuk mencoba menarik perhatian dokter cantik sepertimu Dokter Dara"
"Kamu jadi dokter terfavorit di sini Dokter Dara"
"Kami tidak merasa di repotkan, karena pasien hanya ingin di periksa olehmu. Jadi kau justru meringankan pekerjaan kami dan kita bisa bersantai"
Begitu ucapan rekan kerja di rumah sakit. Kini Dara menyenderkan kepalanya.
"Haaaahhhh...." Dara menghela nafas panjang.
"Kenapa sayang? Apa kamu capek? Apa kerjaan kamu sangat berat? Biar mama kasih tahu Alden, bisa-bisanya buat putri tercinta mama kecapean" omel Ellena yang tiba-tiba datang.
Dara hanya terkekeh melihat mamanya tengah mengomel, Ia jadi merindukan ibunya. Dulu ibunya juga mengomel seperti itu saat ia masih kecil.
GREP!
Dara memeluk Ellena, Ellena yang mendapat pelukan pun secara tiba-tiba pun terkesiap. Setelah rasa terkejutnya reda, Ellena lalu mengelus punggung putrinya itu.
"Ada apa sayang? Beritahu mama, apa ada yang membuatmu kesal, sedih? Apa itu Kai?" tanya Ellena
Dara menggeleng.
"Aku tidak apa-apa mah, aku hanya merindukan pelukan ibu. Bisakah Dara memeluk mama sebentar?" ucap Dara
Ellena yang mendengar itu terkejut, tiba-tiba saja ia merasa sedih.
"Tentu sayang, sini peluk mama sepuas kamu, asal jangan di ..." ucap Ellena.
Ia pun membalas pelukan Dara, ia tahu meskipun Dara adalah gadis yang kuat. Namun tetap saja Dara adalah seorang wanita yang rapih perasaannya. Apalagi ia dan Dimas tidak merasakan kasih sayang seorang ayah dan juga kehilangan ibu saat masih muda. Terlebih ia adalah tulang punggung yang mengupayakan kebahagiaan dirinya dan adiknya.
...•••••••...