The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
321. Mendekatkan Bara dan Shine



Di Star mansion, semua keluarga Adi Raharjo berkumpul di sana. Termasuk Shine, Flo dan Langit yang berada di atas pangkuan Shine.


"Shine sayang, kamu tidak kualahan mengasuh Langit selama Dara tidak pulang dan akan pergi bulan madu?" tanya Ellena


"Tidak mah" ucap Shine


"Wah kamu hebat, sudah cocok jadi seorang ibu yang baik untuk anak-anak mu kelak" ucap Ellena melirik ke arah putra bungsunya yang hanya diam menatap Shine penuh cinta.


"Sayang boleh mama minta tolong padamu?" tanya Ellena pada Shine dan di balas anggukan kepala oleh Shine.


"Tolong belikan makanan kesukaan mama, biar nanti Bara yang temani kamu keluar dan memberi tahu makanan apa saja yang harus di beli" ucap Ellena dengan mata memohon pada Shine


"Tapi, Baby Langit..." ucap Shine.


"Baby Langit biar sama omah cantik, Baby mau kan sama omah dulu, cucu omah yang tampan" ucap Ellena mengambil alih Baby Langit untuk menggendongnya.


Seolah mengerti dan bisa di ajak kerja sama, Baby langit tertawa dan menarik turunkan kedua tangannya seolah gembira dan menyambut ucapan Ellena. Membuat Ellena gemas dan menciuminya bertubi-tubi, membuat Baby Langit tertawa dan mengoceh.


"Ma...ma...ma... Da... He..he.." oceh Langit.


"Tuh, kamu dengarkan? Tenang aja, baby Langit anteng kok sama omahnya" ucap Flo ikut mendorong agar Shine mau keluar bersama Bara.


Flo sangat peka, ia jelas tahu maksud Ellena yang ingin mendekatkan putranya Bara dengan Shine. Flo sendiri tidak masalah dengan itu, terlebih ia tahu jika Bara adalah anak yang sangat baik.


Keluarga Adri Raharjo juga baik dan justru memberikan restu pada Shine. Jadi tentu ia setuju dengan itu dan berharap jika Shine juga menemukan kebahagiaannya bersama Bara kelak.


"Tuan muda..." ucap Shine menoleh ke arah Bara merasa tidak enak merepotkannya.


"Tidak masalah, ayo berangkat. Aku tidak sibuk kok, oh iya panggil Bara jangan pakai embel-embel tuan muda. Mama mau makanan yang biasa mama beli kan?" ucap Bara bergegas menyetujui dengan antusias, kemudian beralih ke mama nya dan mengikuti permainan sang mama.


"Iya bar, mama mau yang semua varians ya. Nggak mau tahu pokoknya semua rasa harus lengkap" ucap Ellena tidak bisa di ganggu gugat.


"Siap mah, ayo Shine" ucap Bara langsung menggandeng tangan Shine, membuat empunya terkejut namun tidak bisa berbuat apa-apa.


Bara sempat menoleh ke belakang dan menatap mamanya, dan mengucapkan terimakasih dan jari tangannya membentuk tanda hati. Ia sangat bersyukur memiliki Mama yang sangat peka, jika dirinya ingin mendekati Shine.


Restu sudah di tangan!


"Mama mau deketin mereka berdua?" tanya Flo saat Bara dan Shine sudah pergi dari Mansion.


"Hmm, bagaimana menurut mu Flo? Mereka cocok dan pasangan serasi kan?" tanya Ellena sangat antusias.


"Hmm, mereka cocok. Semoga mereka bisa berjodoh ya mah" jawab Flo.


"Aamiin..." Ellena begitu antusias mengamininya.


"Papa dengar kedua orang tua kandung kamu dan kakakmu datang ke pernikahan. Kenapa nggak minta mereka main ke sini Flo?" tanya Adnan, yang belum sempat bertegur sapa dengan keluarga kandung Flo.


"Mommy, Daddy dan Richie-San ingin istirahat dulu pah di hotel. Mereka akan main ke sini besok sebelum balik ke negara J" ucap Flo yang di angguki oleh Adnan.


"Mah, Baby Langit boleh Dimas ajak main?" tanya Dimas


"Boleh sini sayang" ucap Ellena pada Dimas dan Ryan.


Mereka pun bermain dengan keponakan kecil mereka. Meskipun mereka bilang bermain. Tapi mereka lebih ke gemas dengan Baby Langit dan terus mengunyel pipi gembul baby Langit.


Sedangkan di halaman belakang, kakek Gusti tengah asik bermain catur bersama Alan. Ia tidak menyangka jika Alan yang berusia sangat muda sangat pintar bermain catur. Hal itu membuat Gusti senang mendapatkan lawan menarik.


....


"Kaisar..." ucap lirih seorang wanita yang penampilannya sangat buruk, ia kehilangan salah satu tangan dan salah satu kakinya. Tubuhnya juga banyak sekali terkena jari dan gigi tajam White. Wajahnya apalagi yang tidak terbentuk sekarang.


Ya wanita itu tidak lain adalah Megan, yang saat ini tengah menyaksikan latar di depannya. Yang saat itu menampilkan Dara dan Kai menikah, ia sangat marah saat tahu Kai dan Dara menikah.


Dark sengaja menampilkan video itu pada Megan, denga. Tujuan mengganggu psikis Megan, meskipun ternyata daya khayal Megan di luar nalar.


BUGH!!!


BRAK!!!


"Aaarrggghhhh!!!!" Teriak Megan saat tubuhnya tiba-tiba terdorong ke dinding dengan cepat dan keras, membuatnya memuntahkan seteguk darah.


Grrrrrrrr!!!!


Pelaku nya adalah White! Ia tidak terima dengan ucapan Terakhir Megan yang ingin menghabisi junjungannya. Wanita halu itu masih saja menaruh dendam Dara dan obsesi tingginya pada Kai.


"Dasar Hama, masih saja tidak sadar dan tidak tahu tempat..." ucap Dark dengan dingin.


"White, kamu boleh mencicilnya lagi" ucap Dark lagi dan terdengar auman White yang membuat sekujur tubuh Megan menggigil ketakutan.


"Jangan!!! Ampuunn, jangan mendekat!!!" teriak Megan ketakutan melihat White berjalan ke arahnya.


"Jang... Aaakkkkhhhh sakiiitttt ampuuuunnn...." teriak Megan lagi saat White mulai menyerang, mengakar dan mengoyak tubuhnya.


Serangan demi serangan di lancarkan White, Megan pingsan saat dirinya terlalu banyak mengeluarkan Darah.


"Sudah cukup White!" ucap Dark.


Grrrrrrrr!!!


White lagi-lagi harus menahan untuk tidak sampai membunuh Megan, kematian adalah jalan yang mudah bagi Megan. Dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi dan masih ingin bermain-main dengan hama itu.


Dark keluar dari ruangan itu, ia kemudian beranjak ke ruangan medis di mana Tamy berada dan berjalan mendekat ke arah adiknya itu.


"Obati hama itu, jangan sampai ia mati lebih dulu" ucap Dark lembut ke arah adiknya dan mengelus kepala adiknya.


"Hmm" Tamy mengangguk, kemudian bergerak mengambil kotak peralatan medisnya, juga sebuah kotak lain dan berjalan menuju ke arah ruangan Megan.


Ia kini melihat tubuh tidak berdaya Megan seperti biasanya, ia akan mengobati dan membuat Megan tetap hidup. Namun tidak membuat efek siksaan yang di berikan White menghilang.


Ya baik bekas luka dan rasa sakit, masih bisa di rasakan oleh Megan. Dan peran Tamy di sini hanya perlu memastikan kalau Megan tetap hidup.


BYUR!!!


"Aaarrhhh sa...kiiiittttttttt, per..riiihhhhhhh!!!" teriak lemah Megan yang terbangun dari pingsannya saat Tamy mengguyur tubuhnya dengan cairan asam yang memang sengaja ia bawa.


"Ahh, kamu ternyata masih bisa bersuara Hama...." ucap Tamy


"Le..pas..kan.. Ak..kuh.. sa..kiiiittttttttt. Kai...sar... Tol..long" ucap Megan


"Cih dasar hama, kondisi begini saja masih tidak sadar diri juga. Sepertinya otakmu harus di bedah dan di bersihkan atau mungkin di buang. Karena di dalamnya sangat kotor dan sudah busuk!!" ucap Tamy dengan jijik.


Mendengar itu Megan menatap tajam ke arah Tamy, Tamy hanya berdecih saat melihat Megan menatap tajam ke arahnya sembari meringis kesakitan.


"Kalau bukan karena perintah untuk membuatmu tetap hidup, aku adalah orang pertama yang sangat ingin mencongkel kedua matamu yang berani menatapku, menarik dan memotong lidahmu yang berani menyumpah serapahi junjungan ku dan membongkar isi kepala mu dan memberikannya untuk makanan anjing liar!!!" ucap Tamy


Setelah selesai memastikan kondisi Megan stabil, Tamy beranjak dari sana. Tapi ia berbalik dan kemudian....


BUGH!!!


"Aaakkkhhh..."


Tendangan Tamy yang telak membuat Megan jatuh dan membuat rusuk kiri Megan patah.


"Tanganku gatal ingin menghabisi mu, meskipun belum puas, ya sepertinya itu cukup untuk hari ini" ucap Tamy kemudian pergi dan menyeringai cukup puas karena ia bisa melampiaskan rasa kesalnya meskipun hanya sedikit.


...•••••••...