
Jefrey bergegas menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh, hingga membuat Revan memegang pegangan mobil dan dadanya karena takut.
Ini bukan di sirkuit, ini di jalan raya. Meskipun kondisi jalanan lengang dan tidak banyak kendaraan bermotor yang melintas, tapi tetap saja masih ada beberapa pengendara, pedagang yang makanan malam dan juga para pejalan kaki.
Beberapa orang bahkan mengumpat pengemudi yang menyetir ugal-ugalan itu.
Di jalan Jefrey masih sempat menelepon Adnan dan memberi kabar kalau ia tengah dalam perjalanan membawa Dara ke rumah sakit karena terluka.
Ia tidak tahu saja, pemberitahuannya ini membuat semua orang di mansion menjadi sangat panik dan bergegas ke rumah sakit.
Revan tidak menanggapi ocehan kakaknya di telepon, ia fokus merapalkan doa agar dia dan semuanya selamat sampai tujuan. Mengingat saat ini nyawanya lebih penting setelah di pertaruhkan oleh pembalap jalanan amatir.
Sedangkan Dara hanya menutup wajahnya tidak sanggup berkata apa-apa melihat aksi konyol kakaknya itu.
Begitu sampai di rumah sakit Jefrey bergegas menggendong Dara ala bridal style, sedangkan Revan keluar dari dalam mobil dan langsung memuntahkan isi perutnya yang bergejolak.
"Dasar kakak kampret!!!" umpat Revan setelah lega mengeluarkan isi perutnya. Tapi kepalanya masih sedikit kliengan karena pusing.
Di sisi lain, Jefrey berteriak kencang memanggil Dokter dan suster yang berjaga.
"Dokter!!! Suster!!! Tolong adik saya!!! Kalau tidak cepat datang aku ratakan rumah sakit ini!" teriak Jefrey menggelegar.
Teriakannya membuat para petugas malam di rumah sakit itu berhamburan keluar. mereka segera membawa serta brankar dan mendorongnya ke UGD setelah Darandi baringkan di sana.
Semua orang terlihat panik, yang mereka tahu Jefrey adalah kepercayaan orang nomor satu di kota S. Mereka tidak ingin membuat kesalahan yang membuat pekerjaan mereka hilang.
"Kak, tenang lah, aku tidak terluka. Ini buk..." ucap Dara terpotong, padahal ia ingin menjelaskan kalau dirinya tidak apa-apa.
"Sudah kamu tenang aja ya, kamu pasti selamat dan sembuh. Kakak akan meratakan rumah sakit ini kalau terjadi sesuatu yang buruk padamu" ucap Jefrey yang membuat orang-orang di rumah sakit menjadi tegang.
"Kak aku..." ucap Dara terpotong lagi
"Kalian kenapa diam!! cepat obati adikku!!! Harus Dokter perempuan!" teriak Jefrey lagi.
"Ba-baik tuan!" ucap Dokter yang ketakutan.
Dara menghela nafasnya pasrah, ia siap-siap malu karena kelakuan kakaknya itu. Jefrey menunggu di luar dengan gelisah dan membiarkan tim medis mengobati dara.
Dokter wanita dan seorang suster bergegas membersihkan darah itu terlebih dulu. setelah pakaian Dara di lepaskan. Mereka fokus mencari luka yang ada di tubuh Dara namun Nihil.
Mereka mengerutkan keningnya saat tidak mendapati luka satu pun, sekarang mereka membersihkan bercak darah di wajah Dara tiba-tiba tangan perawat yang membersihkan itu menegang. Ia tercengang melihat kecantikan Dara yang sangat luar biasa cantik itu.
Dokter pun sama terkejutnya melihat kecantikan Dara.
"Dewi...." gumam keduanya.
Dara menepuk keningnya, ia sudah memprediksi hal ini terjadi.
"Ekhm... Dokter, suster..." ucap Dara mencoba menyadarkan keduanya
"Ah, Eh, i-iya Dewi..." ucap Dokter dan suster itu bersamaan dengan pikiran masih blank.
"Namaku Dara bukan Dewi..." ucap Dara terkekeh.
"Ah iya nona Dara, maaf kami tidak fokus barusan karena melihat kecantikan anda. Dan... Hmmm... Maaf ini luka anda sebenarnya di mana ya? kami tidak menemukan luka sedikitpun di tubuh anda. Apa anda mengalami luka dalam? Kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan setelah ini" ucap Dokter itu.
"Tidak usah, saya memang tidak terluka. Maafkan saya dan kakak saya Dok. Kakak saya terlalu panik melihat saya terkena darah yang banyak dan mengira saya terluka. Ini sebenarnya bukan darah saya tapi darah orang lain" ucap Dara meringis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ah seperti itu..." ucap Dokter dan suster itu bersamaan, keduanya lega saat pasien VIP-nya ini tidak dalam kondisi darurat. Yang artinya karir mereka juga masih aman.
.....
Revan melangkahkan kakinya ingin masuk ke rumah sakit, namun sebuah panggilan orkestra menghentikan langkahnya.
"Revan...!!!" Panggil tim orkestra Adi Raharjo.
Di bilang Tim orkestra karena saat ini Keluarga besar itu sudah sampai di rumah sakit dan melihat keberadaan Revan dan segera memanggilnya. Bahkan Gusti pun ikut datang karena mengkhawatirkan kondisi cucu perempuannya.
"Loh, kalian sudah sampai sini?" ucap Revan terkejut, karena keluarganya sangat cepat sampai di rumah sakit.
Sebenarnya rumah sakit ini dengan mansion cukup dekat, jadi mereka tidak memerlukan waktu yang lama untuk sampai.
"Di UGD, tapi kek sebenarnya Dara it..." ucap Revan terpotong.
"Ayo kesana sekarang..." ucap Adnan yang berlari panik.
Melihat semua orang berbondong-bondong meninggalkannya dan buru-buru ke ruangan UGD, Revan menghela nafasnya yang entah keberapa kalinya.
"Kenapa tidak ada yang mendengarkanku sampai habis sih!" gerutunya kesal lalu menyusul keluarganya itu masuk ke ruangan UGD berada.
.....
"Bagaimana keadaan Dara Jeff? Bagaimana bisa terjadi?" tanya Ellena yang air matanya terus mengalir saat mendengar kabar putri kesayangannya itu terluka.
"Dara sedang di tangani Dokter mah, Revan dan Dara di begal di jalan" ucap Jefrey
"Di Begal???" seru yang lain terkejut.
"Ya, saat aku datang, semua begal sudah di kalahkan, dan aku lihat Dara berdarah banyak" ucap Jefrey, ia juga khawatir dengan keadaan adiknya itu.
"Kak Dara tidak apa-apa kan, kak Jeff? Kak Dara pasti selamat kan kak, nggak akan tinggalin Dimas kan?" tanya Dimas menangis, ia tidak ingin di tinggal kakaknya itu.
Bayangan kematian ibunya saat itu membuatnya sesak, ia tidak ingin kakaknya juga pergi meninggalkan nya.
"Tenang ya Dim, kak Dara pasti baik-baik saja" ucap Alan memenangkan adiknya itu.
"Berdoalah sayang, kakakmu pasti tidak kenapa-napa" ucap Gusti memeluk cucu laki-lakinya itu.
Revan yang baru sampai ingin menjelaskan keadaan yang sebenarnya, karena kesalahpahaman itu sudah melebar. Tapi belum sempat ia mengatakan sesuatu, pintu terbuka...
Ceklek....!!!
Pintu UGD di buka, Dokter yang menangani Dara pun keluar dan di sambut deretan pertanyaan dari keluarga nomor satu di kota S itu.
"Tuan-tuan dan nyonya, kalian tidak perlu khawatir, nona Dara dalam keadaan sehat" ucap Dokter tersenyum membuat semuanya menghela nafas lega.
"Lalu bagaimana luka putri saya Dok?" tanya Adnan
"Maaf, sebenarnya ada kesalahpahaman di sini. Nona Dara tidak terluka sama sekali, kami tidak menemukan adanya luka di tubuhnya" ucap Dokter apa adanya.
Di dalam Dara meminta dokter yang menjelaskan keadaannya yang baik-baik saja pada keluarganya.
"Bagaimana mungkin, aku melihat Darahnya sangat banyak" ucap Jefrey
"Nona Dara mengatakan kalau darah itu bukan darahnya, tapi darah orang lain. Ia ingin mengatakan itu, tapi tuan memotong ucapannya terlebih dulu" ucap Dokter.
"Ah, begitu" ucap Jefrey meringis malu menyadari jika ada kesalahpahaman di sini.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Anda bisa masuk, nona Dara sudah selesai membersihkan diri" ucap Dokter lagi.
PLAK!
Begitu Dokter pergi, pukulan Ellena mendarat di bahu putranya itu.
"Jeff... Kamu membuat semua orang panik tanpa melihat keadaan sebenarnya dulu!" ucap Ellena.
Meskipun kesal namun ia juga lega mendengar kalau putrinya itu tidak apa-apa.
"Awwss, Maaf mah. Kan Jeff sangat panik saat itu jadi nggak bisa berpikir jernih" ucap Jefrey menunduk
"Ha-ha hmmmpp pfftt"
Mendengar ada suara tawa Jefrey melirik ke arah Revan yang saat ini berusaha menahan tawanya.
"Seneng kamu? Puas? Kenapa kamu nggak bilang padaku kulkas nakal!!" ucap Jefrey ke arah Revan.
"Salah siapa? Aku mau jelasin tapi situ malah motong terus, bahkan nyetir mobil ugal-ugalan sampe buat nih perut isinya keluar semua" oceh Revan.
Jefrey terdiam, ia membenarkan ucapan Revan. Ia kemudian minta maaf pada semuanya karena sudah membuat semua orang panik di tengah malam.
...•••••••...