The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
292. Dara panik



Tak lama kemudian Adnan, Bara, Revan, Jefrey dan iring-iringan mobil yang membawa anak buah Jeffrey datang. Mereka semua bergegas mendekati ke arah di mana Ellena dan Dara berada.


"Mama... Kamu nggak kenapa-napa kan? Ada yang luka? Lecet?" ucap Adnan sembari memeriksa kondisi istrinya.


"Kamu juga sayang kamu nggak kenapa-napa kan?" Tanya Adnan pada putrinya itu.


"Dara baik-baik aja ko pah" ucap Dara tersenyum tulus, ia bahagia memiliki Adnan.


Meskipun Adnan hanya paman kandungnya, namun kasih sayang Adnan padanya sama dengan kasih sayang seorang ayah pada putri kandungnya sendiri.


"Aku baik, beruntung banget aku punya calon menantu yang gercep kaya Kai. Sekalinya di hubungin langsung jawab dan bergegas buat datang, nggak kaya orang yang di sebut suami sama anak. Kemana mereka saat kamu butuh bantuan dan sedang dalam bahaya?" ucap Ellena menyindir suami dan ketiga putranya.


"Maaf mah, beneran deh tadi papah lagi mandi jadi nggak denger ada bunyi telepon. Lain kali papah kalau ke manapun bakalan bawa itu ponsel, biar kalau mama telepon bisa langsung papa angkat, maafin papa ya mah" ucap Adnan memelas membujuk sang istri.


"Maafin Revan juga mah, tadi baterai ponsel Revan lowbath. Nggak tahu kalau ada kejadian seperti ini terjadi, Revan janji bakal cek terus itu ponsel, kalau perlu Revan bawa power bank kemanapun" ucap Revan


"Jeff juga sama mah, Ponsel Jeff lagi di charge, terus Jeff lagi main game di ruang tengah. Maaf ya mah" ucap Jeffrey


"Bara lagi tidur tadi mah, ponsel Bara di silent jadi nggak denger. Maaf ya Mah, nanti Bara nggak pernah silent tuh HP lagi" ucap Bara mengangkat kedua jarinya.


"Au ah, mama ngambek" ucap Ellena merajuk dengan menggembung pipinya..


Dara dan Kai menahan tawa mereka melihat Ellena tengah merajuk pada Suami dan ke anak-anak nya. Mereka seperti tengah menonton pentas drama keluarga secara live.


"Ayolah mah maafin Bara ya, nanti bara beliin tas limited edition yang mama mau. Pulang dari sini Bara hubungi temen Bara yang menjadi penanggung jawab distribusi tuh merek ke negara ini, aku bakal minta dia buat keep itu tas buat mama, jadi nggak bisa di beli orang lain. Gimana mah?" Ucap Bara, berhasil membuat Ellena menoleh dan tersenyum begitu manis padanya.


"Deal!" ucap Ellena mengulurkan tangannya dengan senyum tiga jarinya.


"Deal!" ucap Bara terpaksa.


Sekilas ia menyesal sudah mengatakan hal itu pada mama nya. Alamat tabungannya jebol buat beli Tas yang mamanya mau, karena harganya sungguh tidak manusiawi dan membuat dompet tercekik hingga sulit menjerit.


Tapi tidak apa-apa, yang penting mamanya tidak lagi marah lagi padanya. Bisa gawat jika ibunda ratu mengamuk, karena bisa bisa semua rencana yang bara susun dengan teman-temannya akan hancur total.


Mulai dari uang saku, fasilitas, hak keluar rumah dan lain sebagainya akan di cabut alias Bara tidak di perbolehkan keluar rumah sampai batas waktu yang belum bisa di tentukan.


"Mamah udah mau maafin kita kan?" ucap Adnan dengan berbinar, saat melihat istrinya tersenyum bahagia.m karena ucapan putra nya itu.


"Siapa bilang? Aku masih marah ya sama kamu mas, kalian juga kecuali Bara tentunya" ucap Ellena melengos.


"Maafin Revan juga dong mah, nanti Revan kasih slot buat mama dan temen-temen mama tiket konser Blackpink di kelas VVIP. Plus album terbaru mereka yang udah di tanda tangani langsung" ucap Revan yang tahu jika mamanya termasuk jajaran emak-emak gaul yang suka K-Pop seperti anak muda jaman sekarang.


"Deal!!" ucap Ellena antusias melihat Revan dengan berbinar dan menjabat tangannya.


Revan menghela nafas lega saat berhasil membuat penawaran yang di sukai dan di terima oleh mamanya.


Dalam hatinya bisa gawat mama nya itu marah-marah. Yang ada kencannya dengan sang kekasih bisa di sabotase. Nggak apa-apa dia keluar uang dikit, yang penting waktunya bersama Arra tetap ada.


"Jeff kasih Voucher spwcial treatment dan belanja sepuasnya selama sebulan full, gimana mah?" ucap Jeffrey mengeluarkan Sebuah Voucher dari dalam tasnya. Untungnya Voucher itu terbawa di tas kecil miliknya jadi ia bisa langsung ambil.


Awalnya ia ingin kasih pada Dara, namun karena ada kejadian ini dan mamanya ngambek. Jadi ia putuskan kasih ke mamanya aja.


"Oke mama maafin kalian bertiga?" ucap Ellena mengambil boyce, membuat ketiganya menghela nafas lega, namun berbeda dengan Adnan.


"Mah, papa gimana?" ucap Adnan.


"Aku masih marah ya mas, malam ini kamu tidur di luar!!! Jangan berani masuk kamar mana pun di mansion. Tidur aja di ruang tamu atau ruang keluarga, dapur juga boleh" ucap Ellena.


"Mah, kok tega sih sama papa. Maafin papa dong mah, papa janji nggak bakal gitu lagi dan kasih apapun yang mama mau" ucap Adnan


"Bener kasih apapun yang mama mau?" ucap Ellena, Adnan hanya mengangguk.


"Dompet mana?" ucap Ellena membuka tangannya dengan gaya preman yang sedang memalak.


PLUK...


Adnan memberikan dompet miliknya sembari menghela nafas.


SREK!!!


Ellena mengambil semua uang cash, kartu sakti di dompet kecuali kartu identitas milik Adnan..


"Nih ambil, aku cuma butuh ini" ucap Ellena dan mengembalikan dompet Adnan.


"Kok di ambil semua mah" ucap Adnan melihat dompetnya kosong melompong hanya ada kartu identitas dan SIM mengemudi saja.


"Nggak ikhlas banget sih, nih aku kan baik. Buat beli bensin" ucap Ellena memberikan selembar pecahan uang berwarna merah muda.


"Mah kok..." ucap Adnan terpotong.


"Kenapa, mau protes hah? Nggak ikhlas? Nggak Ridho, Mama ambil semua hmm?" ucap Ellena dengan tatapan lasernya.


"I-i-Ikhlas mah, papa ikhlas..." Ucap Adnan meneguk salivanya susah payah, melihat istrinya mode preman.


Keempat anak mereka beserta Kai menahan tawa mereka melihat drama perseteruan antara kedua orang tuanya. Memang Adnan memiliki predikat ISTI sangat melekat pada dirinya, yang tunduk pada istrinya itu.


Namun di balik itu semua, mereka rukun dan saling menyayangi.


....


Tidak mungkin dia ajak Dara ke apartemen miliknya, yang ada ia bisa di sunat dua kali sama keluarganya, jika berani membawa Anak gadis orang larut malam seperti sekarang ini.


Dan ia juga harus segera kembali ke ibukota karena ia masih sibuk dengan pekerjaannya besok pagi.


Keesokan harinya Dara memulai aktivitas rutinnya. Ia menghabiskan waktu di rumah sakit sebagai asisten dokter bedah, yang sebenarnya perannya bukanlah menjadi asisten, melainkan dokter bedah itu sendiri.


Namun karena Dara masih belum mendapatkan gelar dokternya secara resmi, jadi Alden berinisiatif menjadikannya asisten dokter bedah.


"Dokter Dara, bisa ikut ke ruangan saya sebentar" ucap Alden


"Baik kepala" ucap Dara.


Dara pun beranjak mengikuti langkah Alden menuju ke ruangan kerja Alden.


"Dara, masa magang mu besok adalah hari terakhir, apa kamu mau langsung balik ke Ibukota atau masih meneruskan magang di sini beberapa bulan lagi mungkin?" tanya Alden berharap.


"Sepertinya Dara harus kembali ke ibukota Om, Dara harus segera menyelesaikan skripsi dan wisuda. Ada banyak hal yang harus dara kerjakan di sana, apalagi Perusahaan induk milik Dara akan segera launching Minggu depan, bersamaan dengan anak perusahaan yang akan segera rilis juga. Jadi Dara akan kembali tiga hari lagi ke Ibukota, buat mengurus semuanya" ucap Dara, berbicara dengan non formal pada Alden.


"Baiklah jika itu keputusan mu, nilai magang kamu sudah Om kirim lewat email kamu dan ke alamat email Dosen pembimbing kamu. Kamu tenang aja, nilai kamu sangat memuaskan. Ah ya, bagaimana kalau setelah kamu selesai bekerja besok, kita adakan makan malam bersama dengan rekan-rekan kamu di sini?" ucap Alden.


"Boleh om, tapi apa tidak apa-apa semua Dokter dan perawat ikut makan malam? Lalu yang menangani pasien di rumah sakit siapa?" tanya Dara


"Nanti kita atur di jam makan malam, biar di rumah sakit ada beberapa perawat yang tidak ikut berjaga di sini. Nanti yang nggak ikut bisa kita bungkusin. Kita juga makan di restoran depan, jadi kalau ada keadaan emergency kita bisa langsung datang" ucap Alden memberikan masukan.


"Kalau gitu om atur saja, Dara ikut aja" ucap Dara setuju dengan saran dari om nya itu


"Sayang sekali om kehilangan Dokter terbaik di sini. Tadinya om berharap kamu terus bekerja di sini" ucap Alden dengan raut wajah sendunya.


"Disini banyak dokter lain yang bagus juga kok om. Tapi kalau nanti ada hal mendesak dan semua dokter sudah menyerah, om bisa hubungi Dara. Jika tidak sibuk Dara pasti datang ke sini" ucap Dara meyakinkan Alden.


"Makasih ya nak, sungguh Kak El sangat beruntung punya putri seperti kamu. Om senang bisa bekerja sama dan kenal dengan Dokter yang luar biasa seperti kamu" ucap Alden.


"Om bisa aja" ucap Dara terkekeh.


Setelah berbincang sebentar Dara pun keluar dari ruangan Alden dan kembali bekerja seperti biasanya. Dara juga sebenarnya sudah nyaman bekerja di sini.


Namun ia memiliki tanggung jawab dan juga suatu hal di ibukota yang harus ia selesaikan. Terutama tentang kelulusannya dan juga rencana pernikahan dirinya dengan Kai. Ia tidak ingin menunda pernikahannya dan tidak ingin membuat Kai kecewa padanya.


Dara ingat jika ada sesuatu yang ingin dia katakan pada Flo, jadi ia pun mencoba menghubungi Flo yang pulang hari ini, namun nomor telepon Flo tidak aktif.


"Sepertinya dia masih di dalam pesawat" ucap Dara, kemudian ia kembali fokus dengan pekerjaannya. Sayangnya itu tidak terjadi, ia tidak bisa melanjutkan pekerjaannya karena tiba-tiba saja perasaan tidak enak menyergap dadanya.


"Flo...." gumam Dara merasakan ada sesuatu yang terjadi dengan orang kepercayaannya itu.


Dara langsung beranjak keluar dari ruangannya segera. Ia melihat ada Nia yang berjalan menghampirinya, Dara menebak sepertinya ada pasien yang memerlukan dirinya.


"Dokter Dara, anda pasien gawat darurat yang memerlukan anda sekarang" ucap Nia


"Apa ada dokter lain yang berjaga?" tanya Dara, Nia mengangguk.


"Minta dokter lain dulu buat tangani pasien itu, aku harus pergi karena ada hal mendesak yang harus aku lakukan. Ah ya, kasih tahu juga ke Dokter kepala kalau aku izin keluar sebentar dan akan segera kembali" ucap Dara.


"Dara..."


Baru saja yang Dara melangkah, suara Alden memanggilnya menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Kepala, kebetulan anda di sini. Aku minta izin sebentar" ucap Dara langsung


"Apa kamu mau ke ruang ICU sekarang?" ucap Alden.


"Tidak, aku ada keperluan yang tidak bisa di tinggal. Bisakah dokter lain dulu yang menanganinya?" ucap Dara sedikit gelisah.


"Tapi Dara..." ucap Alden.


"Maaf om Dara harus pergi, ini mendesak" ucap Dara dengan panggilan non formal dan sudah melangkah pergi.


"Dara, yang masuk ruang ICU adalah kakakmu, Bara!" ucap Alden setengah berteriak.


Langsung saja langkah Dara berhenti saat mendengar ucapan Alden dan jantungnya berdetak dengan cepat. Ia kemudian berbalik melihat ke arah Alden yang menatapnya dengan tatapan mata di penuhi rasa khawatir.


"Kak Bara?" ucap Dara terkejut, ia pikir dirinya salah mendengar.


"Ya, Bara mengalami kecelakaan beruntun di ruas jalan tol, saat menuju ke kota M untuk survei lokasi kegiatan di kampusnya. Kondisinya sekarang tengah kritis, darahnya tidak berhenti keluar dan juga kepalanya terbentur sangat keras. Dia dalam kondisi koma dan juga tengah di ambang kematian" ucap Alden.


Sontak Dara langsung berlari menuju ke ruang operasi yang di maksud Alden. Ia memang dalam kondisi yang sangat gamang saat ini, di antara ia harus menyelamatkan Flo yang kemungkinan besar dalam bahaya. Atau kakaknya yang juga tengah berada di ambang kematian karena kecelakaan.


Dara tidak sabar menekan tombol lift yang ia rasa sangat lambat. Dirinya di liputi kekhawatiran dan panik sekarang.


Dara memang orang yang di kenal sangat tenang menghadapi sesuatu, namun ia juga manusia biasa yang bisa juga panik saat satu hal yang buruk terjadi pada orang terdekatnya.


Saat lift terbuka, bergegas dara masuk dan berusaha menenangkan diri sembari menunggu sampai di mana lantai ruang ICU itu berada


"Tenang Dara, kamu harus tenang. Kondisi Kak Bara lebih penting sekarang dan kamu juga berada di tempat yang lebih dekat dengannya. Percayakan pada Flo, dia bisa menghadapi apapun masalahnya. Kau harus berdoa agar semuanya baik-baik saja. Ya, sekarang selamatkan Kakak kamu dulu, setelah itu kamu memastikan keadaan Flo" Gumam Dara pada dirinya sendiri.


...•••••••...