The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
338. Dara ngidam - Menolong seseorang



Dara sangat menikmati makanan yang ada di depannya saat ini, ia dengan lahap menghabiskan martabak telor dengan selai strawberry itu. Minumannya juga sudah habis ludes tak tersisa.


Tapi perutnya masih kosong dan ia masih merasakan lapar, mungkin para jabang bayi yang ada di dalam perutnya masih ingin makan. Jadi Dara kembali memesan makanan. Kali ini ia ingin sekali makan burger, tapi bukan burger dengan isian Chinen atau Beef. Yang Dara inginkan adalah Burger dengan isian hati angsa dan telor burung Dara.


Karena permintaannya ini semua orang di restoran heboh berusaha mencari telor burung dara dan hati angsa, karena telor burung dara susah di dapat apalagi di ibukota agak sulit menemukannya. Kalau hati angsa masih bisa Adi dapatkan di supermarket besar.


Meskipun makanan yang di inginkan Dara tidak da di menu restoran mereka, namun permintaan sang bos yang tengah hamil muda. Membuat mereka tanpa basa-basi langsung membuatnya.


Untungnya itu belum jam ramai, kalau saja itu terjadi satu jam ke depan. Mungkin para staf dapur akan kelimpungan, karena saat itu sudah banyak pelanggan yang datang dan biasanya akan ramai hingga semua ruangan dan meja penuh.


Butuh waktu setidaknya setengah jam mengumpulkan semua bahannya, ada dua orang yang berhasil mendapatkan telor burung dara meskipun tidak banyak.


Koki pun segera membuat pesanan bos besarnya yang tengah ngidam itu, sisa lainnya mereka simpan sebagai stok. Barangkali di lain waktu bosnya itu menginginkannya lagi.


Dara sangat beruntung memiliki staf yang royal dan setia padanya, mereka juga tidak mengeluh dengan ngidam aneh bosnya itu. Mereka justru senang karena sebentar lagi tempat kerja mereka akan ramai, mereka akan memiliki prince atau princess baru jadi tentu mereka bahagia.


"Bos ini, pesanan anda. Burger dengan isian Hati angsa dan telor burung dara" ucap Sari mengantarkan pesanan Dara.


"Terimakasih Sari" ucap Dara tersenyum, dengan tidak sabar Dara langsung melahap burger tidak biasa itu sampai habis.


Baru saja ia menyelesaikan acara makannya, ia mendapat telepon dari pihak rumah sakit. Kalau ada pasien gawat darurat yang harus segera di tangani karena menderita pendarahan karena terjatuh dari tangga.


Karena Dokter Daffi tidak ada, jadi mereka hanya bisa meminta tolong pada bos besar mereka itu.


Karena pendarahannya sangat banyak dan hal itu mempengaruhi kehidupan ibu dan calon bayi. Operasi bisa menyelamatkan salah satunya, karena janjin kasih kecil jadi yang bisa di selamatkan hanya ibunya. Hanya saja masalah di sini, kemungkinan operasi berhasil sangat kecil.


Jadi mau tidak mau, mereka menelepon bos mereka. Karena hanya Dara yang bisa membuat persentase kecil itu menjadi besar dan menyelamatkan pasien.


"Aku akan ke sana sekarang, siapkan ruang operasi dan pastikan pasien di tangani lebih dulu. Aku akan tiba lima belas menit lagi" ucap Dara langsung menutup sambungan teleponnya itu.


Ia langsung bergegas keluar dari restoran dengan mengendarai mobil nya dengan kecepatan penuh. Karena Dara mengendarai Lamborghini miliknya, meskipun itu macet. Hanya butuh waktu 10 menit Dara sudah sampai di area parkir rumah sakit.


Dara pun langsung bergegas menuju ke ruangan operasi.


Sesampainya di depan ruangan Operasi, Dara melihat seorang ibu-ibu tengah menangis di sana. Di sana juga ada seorang laki-laki yang tengah menunduk dan meremas kepalanya, juga ada seorang wanita yang kira-kira berusia sekitar akhir dua puluh an.


Dara mengenal ibu-ibu itu! Melihat Dara sudah datang, Dokter Yosef yang merupakan dokter bedah lega.


"Dokter Dara" panggil Dokter Yosef dengan wajah lega dan juga penuh harapan.


Mendengar suara Dokter Yosef ibu-ibu dan laki-laki tadi langsung mendongak. Ibu-ibu itu terlihat terkejut di sela tangisnya saat melihat Dara.


"Kamu..." ucap Ibu-ibu itu, mengingat wajah Dara yang pernah bertemu dengannya di gedung apartemen putrinya.


Ya, itu adalah ibu-ibu yang menjatuhkan mangga muda saat di gedung apartement. Dara hanya tersenyum tipis dan mengangguk ke arah ibu itu.


"Dokter, siapa ini?" tanya Laki-laki tersebut, ia sempat tertegun saat melihat betapa cantiknya Dara, namun ia menepis pikiran nya itu.


"Ini Dokter Dara, Dokter terbaik di rumah sakit ini dan beliau juga pemilik rumah sakit. Beliau yang akan melakukan operasi" jelas Dokter Yosef membuat ibu dan laki-laki itu terkejut saat mendengarnya.


"Apa pasien sudah di dalam? Bagaimana kondisinya?" Tanya Dara pada Dokter Yosef


"Kondisinya kritis, kita sudah berusaha untuk menghentikan pendarahannya namun darah masih terus keluar dan sulit di hentikan, kondisi bayi juga sangat sulit untuk di pertahankan" ucap Dokter Yosef.


"Nak, tolong selamatkan putri dan cucu ibu" ucap ibu-ibu yang bernama ibu Lestari itu, memegang tangan Dara dengan erat.


"Aku akan melakukan yang terbaik. Ibu lebih baik berdo'a, minta pada Tuhan agar di lancarkan segalanya" ucap Dara tersenyum tipis pada ibu-ibu itu.


Matanya sempat menangkap senyuman sinis dari wanita yang masih duduk dengan santainya di sana, saat dokter Yosef menjelaskan kondisi Pasien.


Dara memicingkan matanya melihat itu, namun ini bukan waktunya untuk mengurusi wanita yang sepertinya tidak menyukai pasien beserta ibunya itu.


"Ketua" ucap salah satu perawat membawakan jubah dokter dan pakaian khusus untuk melakukan operasi.


"Terimakasih" ucap Dara mengambil pakaian itu.


Dengan bergegas Dara masuk ke dalam ruang operasi di ikuti oleh Dokter Yosef. Di dalam ruangan sudah ada Dokter Vania, Dokter kandungan yang memeriksa Dara waktu itu.


"Dokter Dara" sapa Dokter Vania saat melihat kedatangan Dara.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Dara melihat seorang wanita yang terlihat masih muda dengan baik anyir darah yang menyengat di sana.


"Masih sama dok, pendarahannya tidak mau berhenti. Jika di biarkan pasien akan kehabisan Darah, Stok darah O Rhesus positif hanya tinggal satu kantong yang tersisa. Stok di bank darah sudah tidak lagi, sedangkan pihak keluarga tidak ada yang memiliki golongan darah yang sama. Keadaan calon bayi juga sulit di selamatkan, kita hanya perlu menyelamatkan ibunya. Tapi persentase selamat sangat kecil, jadi tolong bantuannya Dokter Dara" ucap Dokter Vania.


Dara mengangguk mengerti ia langsung memakai pakaian khusus operasi, lalu mengeluarkan jarum dari dalam tas kecil miliknya.


"Biar aku periksa pasien dulu" ucap Dara


"Silahkan Dokter" ucap Dokter Vania.


Dara langsung mengecek keadaan pasien yang bernama Azea itu. Dara memeriksa semuanya lalu ia menghela nafas, keadaan Azea sangat kritis. Posisi janin sangat riskan dan sulit di selamatkan, di tambah pendarahan yang tidak berhenti keluar.


"Tidak perlu melakukan operasi, ibu dan bayinya masih bisa di selamatkan" ucap Dara mengambil keputusan untuk menolong Azea, membuat Dokter Yosef dan Dokter Vania terkejut sekaligus senang.


Setelah mengatakan itu, Dara langsung mengeluarkan jarum apukuntur. Lalu dengan mengeluarkan Chi miliknya jarum itu terbang selama beberapa detik, sebelum menancap di beberapa bagian titik tubuh.


Dokter Yosef dan Dokter Vania tidak bisa tidak terkejut sekaligus kagum dengan teknik yang di pakai Dara. Saat ini mereka seperti sedang menonton film bergenre fantasi, namun ini merupakan versi live.


Bagi keduanya dara adalah sosok yang sangat sulit sekali di gapai di bidang ke dokteran. Bukan hanya mereka berdua, tapi juga seluruh dokter dan pekerja di rumah sakit ini merupakan fans garis keras Dara.


Meskipun yang di lakukan Dara begitu sulit di terima akal sehat. Namun semua dokter di rumah sakit ini memiliki idola lain yakni Dokter Kepala mereka yaitu Dokter Daffi. Meskipun tidak sebagus dokter Dara, Dokter Daffi merupakan dokter terbaik di rumah sakit ini dan di juluki sebagai Dokter ajaib kedua setelah Dara.


Hanya saja karena kebetulan Dokter Daffi memiliki tugas dan tidak bisa kembali dalam waktu dekat, jadi mau tidak mau Dara yang harus turun tangan.


Untungnya tidak ada luka lainnya yang begitu parah kecuali bagian perut yang terbentur, juga bagian kepala yang sedikit robek.


Dara tidak bisa memberikan pil penyembuh, di karenakan Azea tengah hamil muda. Usia kandungannya hanya selisih satu Minggu lebih muda dari usia kandungan Dara.


Jika Dara nelat memberikan pil penyembuh, itu akan berpengaruh pada ibu dan janinnya.


Pil milik Dara meskipun ada yang level rendah dengan persentase hanya 5 persen dari pil penyembuh tingkat tinggi miliknya. Itu tetap memiliki pengaruh besar pada tubuh seseorang.


Jika Azea meminumnya dalam kondisi kritis dan Hamil. Kemungkinan buruk antara ibu dan bayi salah satunya ada yang tidak selamat, karena organ di tubuhnya tidak sanggup menerima dan meledak.


Dara mengambil jarum yang ada di tubuh Azea, meskipun hanya menyuntikan sedikit Chi, tapi kekuatan yang di keluarkan Dara cukup banyak saat di barengi dengan teknik apukuntur.


Apalagi dirinya tengah hamil dan sedikit banyaknya akan mempengaruhi daya tahan tubuh Dara yang mudah lelah selama beberapa minggu ini.


"Hah..." Dara berpegangan pada brankar pasien, saat kepalanya sedikit pusing. Dokter Vania langsung sigap menghampiri Dara dan memapahnya untuk duduk.


"Saya akan mengambilkan teh manis hangat, agar pusing anda berkurang" ucap Dokter Vania membuat minuman itu di ruangan sebelah, melalui pintu darurat di bagian belakang.


"Dokter Dara, anda sangat hebat, Kondisi pasien yang awalnya kritis dan sulit di selamatkan sudah lebih baik sekarang" ucap Dokter Yosef tidak percaya, saat memeriksa kondisi Azea saat ini.


Sedangkan pada Dara, dirinya tidak berani menyentuh bosnya itu. Semua orang tahu jika suami dari biasanya itu sangat bucin dan posesif. Dan mereka tidak ingin mendapatkan amukan seorang jendral.


Dara hanya tersenyum, tak lama Dokter Vania masuk membawa teh hangat untuk Dara. Dara segera meminum itu dan merasa sedikit lebih baik.


"Rahasiakan apa yang sudah kalian lihat hari ini!" ucap Dara pada keduanya


"Baik!" ucap keduanya.


Mereka hanya mengira jika Dara memiliki kekuatan supranatural dan bisa mengontrol pengobatan dengan jarum illahi miliknya. Karena pikiran mereka hanya stuk di alasan itu, dan tidak berani untuk menyebarkan hal ini. Karena mereka sangat tahu resiko jika mereka berkhianat.


Mereka tidak memiliki banyak nyawa hingga berani menyinggung dua keluarga besar di negara ini. Mereka tidak sebodoh itu!


"Kondisinya sudah lebih baik, pasien hanya belum sadarkan diri. Dalam 24 jam pasien akan sadar, jadi kalian bisa memindahkannya ke ruangan perawatan" ucap Dara


"Baik, terimakasih dokter Dara" ucap keduanya.


"Dokter Vania" panggil Dara


"Ya. Dokter Dara" ucap dokter Vania.


"Lakukan pemeriksaan kembali mengenai janin di dalam perutnya. Pastikan bayi dalam kondisi sehat sebelum melakukan tindakan lain" ucap Dara


"Baik" ucap Dokter Vania.


"Ah, juga lakukan Visum secara diam-diam" ucap Dara


"Visum?" tanya Dokter Vania terkejut.


"Ya, tolong lakukan dan sembunyikan hasilnya dari keluarganya dan berikan itu padaku" ucap Dara


"Baik, aku akan melakukannya" ucap Dokter Vania dengan yakin.


Jika Dara sudah mengatakan hal itu, entah mengapa Dokter Vania merasa yang ia lakukan adalah pekerjaan yang sangat besar. Jadi dengan senang hati ia melakukannya.


....


Melihat pintu Operasi terbuka, ibu lestari dan laki-laki yang tak lain adalah menantu ibu lestari yang juga merupakan suami dari Azea yang bernama Adam. Langsung beranjak dari duduk mereka dan menghampiri Dara, Dokter Yosef dan Dokter Vania.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Adam itu dengan wajah cemasnya.


"Nak, bagaimana keadaan putri dan cucu ibu?" tanya Lestari langsung pada Dara.


Meskipun dokter sebelumnya mengatakan kemungkinan janin putrinya tidak akan bisa di selamatkan, namun jauh di dasar hati Lestari ia menginginkan keduanya selamat.


Ia sangat menyayangi putrinya dan juga calon cucunya itu.


"Keadaan Putri dan cucu ibu baik-baik saja" ucap Dara tersenyum menjawab pertanyaan Ibu Lestari dan mengabaikan pertanyaan Adam.


Sedikitnya Dara bisa menebak apa yang terjadi, hingga membuat Azea mengalami kecelakaan ini. Apalagi saat ini Dara melihat betapa kesalnya wanita di belakang laki-laki itu, saat mengetahui Azea dan anaknya selamat.


'Apa ibu boleh melihatnya?" tanya Ibu Lestari.


"Boleh, tapi nona Azea akan di pindahkan ke ruangan perawatan lebih dulu" ucap Dara


"Terimakasih Nak" ucap Ibu Lestari memeluk Dara ia sungguh sungguh berterima kasih karena Dara sudah menyelamatkan putri dan cucu satu-satunya itu.


"Sama-sama Bu, saya juga Terimakasih atas kebaikan ibu waktu itu" ucap Dara tersenyum dengan tulus.


"Padahal ibu hanya melakukan hal kecil, tapi apa yang kamu balas itu sangat besar nak" ucap Lestari.


"Menurut ibu itu hal yang kecil, tapi menurutku itu adalah hal yang sama besarnya karena saat itu sayang sedang menginginkannya. Mungkin itu merupakan sebuah takdir yang mempertemukan kita berdua" ucap Dara tersenyum saat pelukan itu terlepas.


Tak lama seorang perawat mendorong brankar Azea membawanya ke sebuah ruang perawatan VIP. Terlihat azea sudah bersih, pakaiannya sudah di ganti menggunakan pakaian pasien.


Pakaian lamanya yang berlumuran darah sudah di masukkan ke kantung plastik khusus dan di simpat untuk di bawa dara. Jadi pakaian itu tidak di buang atau di bakar seperti permintaan suami korban.


Semua nya yang melihat Azea keluar dari ruang operasi, mengikutinya yang akan di pindahkan ke ruang perawatan.


...••••••••...