The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
125. Merasakan sesuatu



Dara dan Kai sudah sampai di halaman parkir Raka Restaurant, di mana sahabat-sahabatnya biasa berkumpul. Kedatangan keduanya pun di sambut hangat oleh dua resepsionis.


Resepsionis melihat dengan kening mengerut ke arah Dara, yang masih setia mengenakan kacamata hitam dan juga topi hingga wajahnya tidak begitu terlihat. Namun bisa di pastikan jika gadis itu sangat cantik oleh resepsionis itu.


Mereka juga mengira kalau Dara adalah seorang artis, karena cara berpenampilannya. Kai tidak menggubris pandangan orang lain, ia dengan lembut menggenggam jemari tangan kekasihnya itu.


Membuat semua orang berspekulasi kalau Gadis itu adalah kekasih dari jendral muda itu. Tentu saja Kai sengaja melakukannya.


"Selamat siang tuan muda, apa anda ingin ke ruangan Tuan Rafael?" tanya Resepsionis sopan, yang di jawab hanya dengan anggukan kepala oleh Kai.


"Mereka sudah datang di ruangan VIP nomer 4" ucap Resepsionis.


"Hmm..." ucap Kai lalu menarik Dara ke ruangan yang di sebutkan resepsionis tadi.


"Terimakasih" Dara sempat mengucapkan itu sebelum ia beranjak dan di balas oleh resepsionis.


Kedua resepsionis itu tertegun mendengar suara halus dan merdu itu. Mereka juga sangat kagum dengan kesopanan Dara.


Kenapa di ruangan VIP nomer 4 bukan di ruangan pribadi milik keluarga Narendra? Itu karena ada anggota lain yang ikut datang. Tentu saja itu anggota lain itu adalah sepupu Alice.


....


Ting!


Pintu lift itu sudah terbuka, keduanya sudah sampai di pantai di mana ruangan pribadi itu berada. Namun saat keduanya berjalan melewati ruangan VIP nomor 3. Dara sedikit menegang dan menghentikan langkahnya saat merasakan sesuatu yang sangat ia tahu.


"Kenapa Babe?" tanya Kai menatap ke arah kekasihnya itu


"Hmm, aku ke toilet dulu. Kamu bisa duluan nanti aku menyusul" ucap Dara dengan senyum di wajahnya.


"Mau aku antar?" tanya Kai


"Tidak perlu, kan aku cuma sebentar dan Toiletnya juga di ujung ruangan yang bersebelahan dengan ruangan yang di pesan Ravael. Ruangannya yang itu kan?" ucap Dara yang di angguki oleh Kai melihat ruangan mana yang di tunjuk Dara


"Duluan saja, aku akan menyusul hanya sebentar kok, udah kebelet" ucap Dara


"Hmm, jangan lama-lama ya" ucap Kai lembut dan Dara hanya mengangguk.


Setelahnya Dara bergegas ke toilet, begitupun Kai yang menuju ruangan VIP 4. Setelah Kai masuk, Dara keluar lagi dari toilet.


Jemarinya mengeluarkan sebuah kabut yang tak kasat mata. Lalu kabut itu terbang dan menutupi benda bulat hitam di sudut lorong. Ya itu adalah CCTV yang ada di sana, kabut itu menutupi seluruh permukaan CCTV hingga tidak terlihat gambar yang terekam atau buram gelap.


Setelahnya Dara mengeluarkan sebuah kertas berwarna kuning, Dara menggigit sedikit ujung jari tangan kirinya hingga mengeluarkan darah. Dara menuliskan sesuatu di kertas itu dengan huruf yang asing.


"Fuuuhhhh...." Kemudian ia meniupkan kertas yang saat itu langsung berubah menjadi seberkas sinar hijau dan masuk ke lubang kunci di ruangan VIP nomor 3.


Sebenarnya yang di lakukan Dara itu adalah menyelipkan sebuah Jimat pertunjukan. Di mana Jimat itu bisa merekam segala jenis kegiatan yang ada di ruang lingkup tertentu. Bisa di sebut kamera pada jaman Liu Annchi dulu.


Untuk apa Dara melakukannya?


Itu karena Dara merasakan kehadiran orang yang sama seperti dirinya. Yaps, itu adalah seorang kultivator.


Dara mencium keberadaan atau nafas seorang kultivator di dalam ruangan itu. Meskipun nafas itu sangat tipis, namun Dara masih bisa merasakannya dan memastikannya dengan tepat.


Terkejut? tentu saja! Karena bagaimana pun sulit di percaya jika di dunia ini masih ada seorang kultivator lain selain dirinya dan Flo.


Maka dari itu Dara mengirim jimat petunjukan itu untuk mengetahui siapa kultivator yang ada di dalam ruangan itu.


Apa dara tidak takut ketahuan mengirim jimat itu? Tentu saja tidak!


Karena Dara bisa merasakan kultivator itu di bawah kekuatan yang ia miliki, jadi jimat itu tidak akan bisa di deteksi oleh orang yang kekuatannya di bawah pengendali jimat itu.


Jadi Nafas kultivator yang memiliki atau yang biasa di sebut Base Foundation atau Foundation itu, hanya bisa di lacak jika pemilik tubuh mengeluarkan aura kultivator miliknya. Tentu saja, jika lawannya masih berada di level bawah, tidak akan bisa melihat tingkatan yang ia miliki.


"Sepertinya aku harus menyelidiki tentang keberadaan kultivator di dunia ini. Sangat sulit di percaya, di dunia ini masih ada kultivator selain diriku dan Flo. Setidaknya aku harus melihat apakah mereka berbahaya atau tidak. Atah mereka hanya sekedar menerapkan ilmu kebatinan saja" ucap Dara pada dirinya sendiri.


.....


Di lain sisi saat Kai masuk ke dalam ruangan, terlihat di dalam sana sudah ada dua orang laki-laki dan dua orang perempuan yang tengah duduk di sebuah meja berbentuk bundar. Mereka semuanya kompak menoleh melihat ke arah Kai yang baru saja masuk.


Seorang wanita cantik yang mengenakan Dress putih, berbinar menatap kedatangan Kai. Wajahnya merona merah dengan degupan jantung yang sangat kencang itu.


"Kai..." sapa mereka berempat tersenyum menanggapi kehadiran Kai, terutama wanita Dress putih itu.


"Hmm..." sahut Kai dengan Datar lalu mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang ada di sana. Tentunya ia memilih duduk di samping Natahan dan membiarkan kursi di sampingnya kosong untuk Dara.


Wanita Dress putih itu menatap ke arah di mana Kai duduk, ia tidak suka Kai duduk jauh dari dirinya. Namun saat ia ingin beranjak duduk ke sebelah Kai, tangannya di cekal oleh Wanita yang sangat cantik yang mengenakan Dress Sabrina berwarna peach dan terlihat sangat anggun, wanita itu tak lain adalah Alice.


"Hai Kai, sudah lama tidak bertemu, apa kabar?" tanya wanita itu, namun tidak ada jawaban dari mulut Kai membuatnya tersenyum canggung.


Tapi ia masih terus menatap Kai dengan penuh damba setelah sekian lama tidak bertemu dengan laki-laki yang dia sukai itu. Ya, wanita itu adalah sepupu Alice yang bernama Ivone, sang pengejar Kai.


Wanita itu berusia 22 tahun dan berprofesi sebagai model. Setelah pertemuan pertama dengan Kai, ia sudah jatuh cinta dengan sosok pria tampan yang penuh pesona itu. Terlebih saat mengetahui identitas Kai sebagai cucu pertama dari keluarga paling terkemuka di negaranya


Meskipun sikapnya yang dingin, datar dan selalu menghindar darinya, tidak membuat wanita itu menyerah untuk terus mendekat ke arah Kai.


Wanita itu sering membujuk orang tua, om dan tantenya yang juga orang tua Alice. Bahkan ia juga terus merengek pada Alice sepupu dari Kai yang sangat dekat dengan pria idamannya itu.


Namun Baik keluarga Kai maupun keluarga Alice tidak ada yang berani menganggu urusan hati seorang Kai yang terkenal dingin, meskipun mereka adalah keluarganya.


Tentunya kecuali mama Hesti, hanya saja Mama Hesti juga harus menghela nafas pasrah saat Kai selalu menolak ia kenalkan dengan anak-anak sahabatnya.


"Kamu sendirian Kai?" tanya Nathan


"Iya bukannya kamu habis ke bandara jemput Dia?" tanya Rafael.


"Dia siapa?" tanya Alice bingung karena ia sama sekali tidak mengerti.


"Itu loh Yang, yang sempet aku singgung waktu itu" ucap Rafael pada tunangannya Alice.


"Maksud mu, Gadis yang di kejar Kai?" tanya Alice yang di angguki oleh Nathan dan Rafael. Hal itu sukses membuat tubuh Ivone menegang sempurna.


Ia tidak percaya apa yang ia dengar, Kai? Kai-Nya mengejar seorang gadis? Siapa? Kenapa ia tidak tahu berita itu? Kenapa Alice tidak memberi tahunya? Kenapa Kai mengejar Gadis lain bukan dirinya? Begitu banyak pertanyaan yang berada di dalam pikiran Ivone saat ini.


"Kamu menjemput gadis itu Kai?" tanya Alice.


"Hmm..." Kai mengangguk, wajahnya lempeng tidak ada ekspresi. Sangat datar!


Sedangkan Ivone saat ini tengah menggeram marah dan tangannya mengepal kuat.


"Lalu gadis itu di mana?" tanya Alice penasaran.


Penasaran?


Tentu saja! Siapa yang tidak penasaran dengan gadis yang sudah berhasil meluluhkan dinding tebal di hati seorang Kai yang sangat kuat dan kokoh. Yang selama ini belum ada yang bisa meretakkan, merobohkan atau mengancurkannya. Sebelum kedatangan Dara tentunya.


"Ada.. Dia...." ucap Kai terpotong Karena terdengar ketukan pintu.


...••••••••...