The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
44. Mengalahkannya dengan telak



Semua orang berteriak cemas, namun Dara hanya diam dengan bersikap tenang. Dalam hati dia tertawa miris, apa orang di belakangnya bodoh atau apa, hingga memilih dirinya menjadi sandera di banding orang lain. Sepertinya ia ingin mencari kematian dengan mendekati malaikat maut.


Tentu saja benda seperti pisau lipat itu tidak akan pernah bisa melukainya, karena Dara bisa menyelimuti dirinya dengan Chi. Meskipun kekuatannya di bawah tingkat 3, namun itu sudah cukup untuk menghalau pisau lipat itu dan menghancurkannya.


Ferdi ingin mendekat namun pria itu nekan ucapannya untuk semua orang tidak mendekat dalam jarak tiga meter. Kalau tidak, ia tidak segan-segan melukai Dara.


Pasukan khusus militer juga menjaga jarak, meskipun mereka ingin menangkap buronan itu. Namun mereka juga tidak ingin mengambil resiko membuat sandera terluka atau lebih parah lagi kehilangan nyawa. Karena mereka tahu jika buronan di depannya adalah penjahat kejam yang tidak akan sungkan melukai sanderanya bila di usik.


"Jack, jangan berani-berani kau melukai warga sipil! Atau aku akan melumpuhkanmu setelah kau melakukannya dengan kejam" ucap dingin seorang di antara pasukan, yang sangat mungkin adalah pimpinan pasukan itu.


"Kau pikir aku takut? Letakan senjata kalian atau aku benar-benar menggores pisaunya pada gadis ini!!!" ucap pria yang bernama Jack itu berteriak kencang tepat di telinga Dara, membuat Dara benar-benar marah.


"Bisakah kau tidak berteriak di telingaku, kau pikir nafasmu tidak bau??? Menjijikan!" ucap Dara datar dan dingin.


Semua orang yang ada di sana menahan nafas terkejut saat Dara mengucapkan itu. Mengingat saat ini Dara tengah menjadi sandera, namun berani mengatakan hal itu dengan lantang tanpa takut.


Pemimpin pasukan militer itu juga terkejut, mendengar betapa tenangnya wanita di depannya saat nyawanya di ujung tanduk. Bisa saja pisau itu bergerak dan menggores lehernya


"Kau!!! Diam Kau jal..." belum selesai bicara bicara ia di buat terdiam terkejut, karena pisaunya berhasil di remukkan seolah pisau itu kerupuk oleh Dara dengan tangan kosong.


Semua orang juga sama terkejutnya, suasana sekarang sangat sunyi sepi. Semua orang tegang saat melihat betapa mudahnya Dara meremukan pisau itu.


BUGH!!!!


KRAK!!!!


"Aaarrggghhhhh....." teriak Jack dengan keras.


Semua orang kembali terkejut saat melihat gadis sekurus Dara bisa membanting Jack yang tinggi besar dengan keras dan cepat. adia juga dengan cepat mematahkan tangan kanan Jack.


"Itu hukumanmu karrna tangan kotormu sudah berani menyentuhku" ucap Dara dingin.


BUGH!!!!


Dara kembali melayangkan tendangannya, menendang telinga kanan Jack hingga telingganya robek hingga hampir terputus.


"Aaaarrrrrggghhhhh" teriak Jack memegangi telinganya dengan tangan kiri.


Darah mengucur dari sana, lantai putih itu terdapat bercak darah yang mengucur dari telinga Jack. Jack merasa kesakitan hingga ia menggeliat di atas lantai.


"Itu untuk kamu yang berani teriak di telingaku! Kau pikir aku budeg!" ucap Dara kesal.


Dara kemudian berjalan menuju keluarganya yang masih terdiam kaku melihat pemandangan di depannya. Ia melewati tim pasukan khusus militer itu, ia diam sejenak saat berada di depan pemimpin itu dan mengatakan sesuatu.


"Kamu urus sisanya, maaf aku terlalu banyak mengeluarkan kekuatan dan membuatnya cacat" ucap Dara pada pemimpin pasukan itu datar dan ringan.


Pemimpin melihat Dara yang menggunakan masker, ia tidak bisa melihat wajahnya. Namun ia melihat tatapan matanya yang tajam namun teduh itu. Ia juga merasakan aura bangsawan dan juga aura mendominasi yang agung.


"Terimakasih sudah membantu" ucapnya dengan nada yang dalam dan tegas.


Dara mengangguk dan melewatinya, saat Dara melewatinya wangi semerbak tercium oleh pemimpin itu. Wangi itu baru kali ini ia menciumnya, wangi yang sangat khas dan memabukan. Entah mengapa jantungnya tiba-tiba berdegup kencang karenanya.


"Kakak, apa kakak nggak apa-apa?" tanya Dimas khawatir.


Meskipun ia melihat betapa ganasnya kakaknya menyerang, tapi dirinya tetap khawatir dengan kondisi kakaknya itu.


"Kakak tidak apa-apa, jangan khawatir" ucap Dara menepuk kepala adiknya itu dengan lembut.


"Dara, Ya Tuhan, kamu membuat kakek terkejut setengah mati. Tapi kamu sungguh sangat hebat, Nak" ucap Gusti dengan senyum dan mengacungi jempol dengan bangga.


"Dara apa tangan kamu luka? Kamu tadi meremukan pisau kan? Coba mama lihat!" ucap Ellena khawatir dan langsung mengecek kedua tangan Dara yang tidak terluka sama sekali .


"Aku nggak apa-apa mah" ucap Dara merasa hangat karena perhatian keluarganya.


"Wah Dek, kamu ahli debus ternyata" celetuk Bara


"Kamu memang bodoh, bilang debus segala" ucap Ellena.


"Dara... Namanya Dara?" gumam pemimpin itu saat mendengar keluarga Dara memanggil namanya.


"Jendral..." bisik salah satu orang menepuk pundak pemimpin itu.


"Hmm..." ucap jendral Dingin


"Bagaimana dengan Jack?" tanya jendral itu lagi.


"Sepertinya dia sudah tidak bisa apa-apa, dia terus mengerang kesakitan" ucap salah satu prajurit.


"Bawa dia ke pangkalan! Bereskan yang terjadi di sini, jangan sampai hal ini bocor ke publik!" ucapnya lalu pergi.


"Siap laksanakan!" ucap prajurit itu dengan posisi hormat.


Semua anggota militer memeriksa ponsel orang-orang di sana, tidak di biarkan ada video di ponsel mereka. Ini bertujuan agar hal ini tidak beredar dan meresahkan masyarakat.


Meskipun begitu gosip dari mulut ke mulut, berita itu tersebar dengan cepat meskipun tidak ada yang memiliki bukti dari berita yang beredar itu.


Sedangkan Jack langsung di bawa ke pangkalan militer menggunakan pesawat khusus, yang sudah di siapkan militer.


....


Di pesawat, Dimas dan Ferdi terus menatap Dara. Kebetulan tempat duduk mereka berhadapan dan Dimas yang ada di samping Dara. Keduanya masih terbayang adegan Dara meremukkan pisau, membanting dan menendang telinga Jack hingga hampir putus.


Keduanya tertegun dan terkesima dengan keterampilan bertarung Dara.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Dara


"Kak, kau sungguh luar biasa sekali" ucap Dimas dengan berbinar.


Ia tahu kakaknya pandai bertarung saat latihan tanding dengan White di mansion. Tapi ia tidak pernah tahu jika kakaknya benar-benar sehebat itu.


"Karena aku kakakmu, jadi aku harus hebat karena adikku juga hebat" ucap Dara.


"Kak ajarkan aku jurus seperti tadi" ucap Dimas dengan antusias.


"Kamu harus berlatih keras dengan master Aiden dulu, setelah kau menjadi ahli taekwondo. Kakak akan mengajarimu beberapa keterampilan" ucap Dimas.


"Tentu. Aku tahu jika kakak yang harusnya mendapat julukan master" ucap Dimas tersenyum


Ferdi mengangguk setuju dengan ucapan tuan mudanya. Pasalnya ia yakin jika dirinya juga tidak sebaik nonanya.


"Nona, ajarkan aku juga" ucap Ferdi sungguh-sungguh.


"Kamu sudah ahli, apa yang ingin kamu pelajari lagi" ucap Dara


"Aku rasa, aku tidak sebanding dengan nona. Sangat jauh, jadi tolong ajarkan aku juga. Aku ingin menjadi pengawal nona yang lebih kuat" ucap Dara


"Akan aku pikirkan" ucap Dara


"Terimakasih nona" ucap Ferdi.


Meskipun Dara tidak mengiyakannya, tapi juga tidak menolaknya. Artinya dia masih memiliki kesempatan untuk berlatih dengan Dara.


Mereka mengobrol dengan leluasa karena kebetulan di kabin kelas satu tidak banyak orang. Jadi tidak ada yang mendengar obrolan mereka.


Setelah satu setengah jam, pesawat mereka akhirnya landing di bandara Ibukota. Sandi sudah stand bay di pintu keluar untuk menjemput ketiganya.


...•••••...