The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
118. Begal yang apes



Saat perjalanan pulang ke mansion, jalanan di kota S malam itu sudah sangat sepi karena sudah larut malam.


Tak lama kemudian tiba-tiba ada suara knalpot racing yang sangat cempreng memekakkan telinga, bahkan knalpot nya juga berasap sangat banyak membuat jarak pandang menurun.


Sekitar ada lima motor dan sepuluh orang pria dewasa yang memepet mobil Revan.


BRAK!!! BRAK!!!


Pintu mobil di gedor sangat kencang, oleh orang-orang itu, yang tak lain adalah Begal. Terlihat dari senjata tajam yang mereka bawa berupa celurit, parang dan balok kayu.


Mereka menghadang Mobil Revan dari depan dan belakang tidak membuat Revan menghentikan mobilnya.


"Kalau kau tidak menepikan mobilmu, kami akan merusak mobilmu!" teriak orang-orang yang berada di sisi kanan mobil.


Mau tidak mau Revan menepikan mobilnya, karena melihat orang-orang itu nekat ingin memukul mobilnya dengan balok kayu.


Revan tidak masalah dengan mobilnya, ia bisa membeli mobil yang sama sebanyak-banyaknya yang ia inginkan jika mobil yang ini rusak. Tapi ia tidak ingin membuat Dara terluka karena kelalaiannya.


"BUKA!!!" ucap orang itu sembari menggedor kaca mobil.


"Ra, kamu tunggu di sini, jangan keluar! Telepon kak Jefrey minta ia datang ke sini secepatnya, oke!" ucap Revan


Dara hanya mengangguk tenang, tapi ia tidak akan membiarkan Revan mengalahkan mereka sendiri. Lagian Revan tidak terlalu jago berkelahi, jika melawan dua atau tiga orang mungkin Revan masih unggul.


Tapi lawan mereka saat ini bersepuluh dan membawa senjata tajam. Jadi Pastinya Dara akan membantu kakaknya itu.


Revan pun turun dari mobil, setidaknya ia bisa mengulur waktu sampai Jefrey datang menolong mereka. Revan tidak ingin Dara terluka.


Meskipun ia pernah mendengar dari Bara dan orang tuanya kalau Dara itu sangat luar biasa dalam berkelahi, tapi ia tidak terlalu yakin dengan cerita itu dan ia juga tidak ingin mengambil resiko.


"Serahkan mobil itu dan juga harta benda kalian!!!" ucap Salah satu orang itu.


"Pergilah!" ucap Revan dingin.


"Pergi? ha-ha-ha, ini orang bego atau tolol? Keadaan gini masih ingin terlihat sok berani" ucap orang itu mengejek.


"Sepertinya ada orang lagi di dalam mobil, kayanya cewek Bro! Bisa lah buat mainan kita bersepuluh, kita bakalan begadang dan gilir dia sampai pagi cuyy" ucap mereka kemudian tertawa.


Mendengar itu Revan tidak bisa menahan amarahnya lagi. Ia tidak akan membiarkan orang lain menghina atau melecehkan Keluarganya terutama Dara.


BUGH!!!


"Jaga mulut busuk mu si*lan!!! Jauhkan tangan kotormu dari adikku!!!" teriak Revan memukul wajah orang yang mengatakan itu dengan keras.


"Si*l beraninya kau!! Serang dia!" ucap orang yang di pukul itu, beberapa orang pun langsung menyerang Revan.


Begal seperti mereka tidak segan-segan untuk menyakiti korbannya, Jadi mereka langsung turun Lima orang untuk mengeroyok Revan.


Dara tahu kalau Revan tidak bisa bertahan melawan lima orang sekaligus. Sebelum hal buruk itu terjadi, Dara sudah keluar dari mobil. Ia masih menggunakan penutup kepala hingga wajahnya tidak begitu terlihat.


"Akhirnya kau turun juga manis, kamu tidak sabar bermain dengan kami ya? Tenang, Abang akan memuaskan kamu malam ini sayang" ucap sisa orang yang tidak ikut mengeroyok Revan.


Dara tidak membalas ucapannya, ia langsung bergerak dengan cepat dan melumpuhkan orang di depannya dengan kurun waktu 2 Detik saja.


BUGH!!! BUGH!!! BUGH!!!


KRAK!!! KRAK!!! KRAK!!!


"Aaaarrrrrggghhhhh!!!!!"


"Aaaaarrrggghhhh sakiiiitttt....." teriak beberapa orang, membuat orang yang mengeroyok Revan menoleh dan melihat rekannya yang lain sudah terbaring di tanah dan mengerang.


Lima orang itu tergolek dengan patah tulang entah di tangan, kaki, rusuk atau lainnya. Bahkan senjata tajam mereka sudah patah menjadi tiga atau empat bagian.


"Ba-bagimana bisa?" ucap orang yang mengeroyok Revan dan mundur.


Jangankan mereka, Revan juga terkejut melihat itu semua. Lebih terkejut lagi saat Dara keluar dari mobil.


"Ra, kenapa kamu keluar? Masuk ke mobil!" ucap Revan dengan berteriak karena khawatir adiknya terluka.


Tapi dara tidak bergeming dari sana, justru ia menoleh dan menatap tajam lima orang yang tersisa di sana yang masih sehat itu.


Melihat tatapan tajam Dara dengan wajah cantik Dara yang cukup terlihat membuat mereka keringat dingin. Entah takut atau terpesona, entahlah!


Namun logika mereka kembali saat mereka berpikir mustahil seorang gadis kecil melumpuhkan teman-teman nya yang berbadan gede itu. Mereka mengira kalau Dara melakukan trik tertentu untuk melumpuhkan teman-teman mereka.


"Ja*ang kecil! Beraninya kamu membuat trik dan menyakiti rekanku!" teriak mereka.


"Cih! Begal bodoh! Kalau mau punya mobil ya kerja! Dasar pemalas!" ucap Dara.


"Apa kau bilang? Sia*an! Ayo serang gadis ini, setelahnya kita bisa bersenang-senang dengannya dan membuat ia mengerang lemah tidak berdaya di bawah kita" ucap Orang itu


"Yaaaa!!! Seraaang!!!" teriak yang lain.


"Otak udang! mungkin ini akhir dari karir begal kalian!" cibir Dara melihat beberapa orang menyerangnya, ia pikir jika Begal ini sangat apes bertemu dengannya.


"Tidak Dara!!" ucap Revan mencoba berlari ke arah Dara untuk menghentikan orang-orang itu menyakiti adiknya, namun belum juga sampai, Dara sudah menyerang balik mereka membuat Revan melongo dan syok berat melihat aksi dan gerakan cepat Dara mainkan..


"Aaarrrgggghh,,,, ja*ang sia*an!!! Aarrrgghhh sakit!!!" teriak beberapa orang itu.


"Aku akan memberi kalian hadiah karena sudah menyentuh keluagaku dan melecehkanku secara Verbal" ucap Dara. Ia langsung menghampiri mereka dan....


BRET!!!! BRET!!!!


"Aaaaaaaaaaarrrggghhh!!!!" teriakan memilukan di malam yang sunyi itu semakin nyaring dan membuat merinding orang yang mendengarnya.


Revan meneguk salivanya susah payah, melihat betapa ganasnya sang adik saat berkelahi. Ia sekarang percaya ucapan adik dan juga orang tuanya mengenai betapa hebat dan luar biasanya seorang Dara saat mode marah.


Bagaimana tidak, Dara tanpa takut dan jijik, merobek mulut orang-orang yang mengatainya ja*ang dan mematahkan tangan mereka semua dalam sekejap mata.


Revan bergidik melihat keadaan para begal itu, ia teringat dengan hantu dari Jepang yang bernama Kuchisake Onna. Begitu kira-kira keadaan mereka yang mulutnya Dara robek hingga lebar dan berdarah-darah.


Tak lama kemudian terdengar suara beberapa mobil berhenti di sana, itu adalah Jefrey dan anak buahnya. Ia segera ke lokasi yang di kirimkan Dara yang mengatakan ia dan Revan di begal.


Jefrey merasa khawatir kedua adiknya itu terluka. Namun saat ia dan anak buahnya sampai di lokasi, semuanya berdiri mematung dengan terkejut melihat keadaan justru berbalik.


Yang tergolek di tanah atau aspal itu bukan adiknya, melainkan Sepuluh pria dewasa dengan kondisi patah tulang yang serius, bahkan lima di antara mereka sangat menyeramkan dengan kondisi mulut yang robek.


"Dara! Revan!" panggil Jefrey.


Keduanya menoleh ke arah Jefrey, namun Revan kembali menoleh ke arah Dara dan menghampirinya. Ia melihat tangan dan Hoodie miliknya yang di pakai Dara penuh dengan darah.


"Apa kamu terluka?" tanya Revan dengan khawatir pada adik perempuannya itu.


Dara hanya menggelengkan kepalanya pelan Revan langsung menuntun mereka ke arah Jefrey. Meskipun Revan syok dengan kejadian barusan, tapi ia masih bersyukur Dara tidak terluka sama sekali.


"Kalian tidak apa-apa? Astaga Kamu berdarah Ra" tanya Jefrey terkejut dan panik saat melihat wajah dan tubuh Dara penuh dengan Dara.


"Kak Jef...." ucap Revan terpotong.


"Ayo kita kerumah sakit! Bertahan Ra" Jefrey yang panik langsung menggendong Dara dan masuk kedalam mobil yang di ikuti Revan yang menghela nafas, bingung cara menjelaskannya.


"Urus yang ada di sini, bawa mereka semua ke markas!" ucap Jefrey dengan amarah yang berkobar, ia tidak akan memaafkan orang yang menyakiti Keluarga nya.


Namun yang terpenting sekarang adalah membawa Dara ke rumah sakit secepatnya, begitu yang di pikirkan Jefrey.


...••••••••...