
Keesokan harinya setelah mengantar Bara ke bandara, Dara menjalankan mobil Lamborghini Urus-nya keliling ibukota. Ia tidak ada kelas hari ini, jadi ia bebas kemana saja.
Tanpa sengaja Dara sudah masuk ke area perbatasan ibukota dengan kota H di sebelah selatan ibukota. Dara masih melajukan mobilnya, ia merasakan udara yang cukup sejuk di sana dengan membuka jendelanya.
Ia berhenti membeli makanan dan air mineral di pinggir jalan, lalu kembali ke mobil. Ia terkejut saat ia menyadari ia sudah keluar dari ibukota saat tahu bahasa di sana memakai bahasa daerah khas Provinsi B itu.
"Makanan apa ini? Manis dan enak" ucap Dara saat memakannya di dalam mobil.
Setelah menghabiskan satu keping makanan yang terbuat dari beras ketan dan gula merah itu, ia kemudian turun lagi dan membeli dua lagi untuk di mansion.
Dara mencari tahu beberapa tempat wisata atau tempat yang enak di kota H. Dan ia memulai maps menuju ke sebuah taman bunga. Namun saat melewati sebuah hutan di sana, Dara melihat sekilas beberapa orang berkelahi di sana.
"Apa itu? Orang berkelahi, kok kaya familiar" ucap Dara
Dara langsung menghentikan mobilnya, karena di sana cukup sepi. Dara menoleh ke kanan dan ke kiri, setelah aman ia menyimpan mobil itu di ruang dimensinya. Lalu bergerak dengan senyap dan memasang pendengarannya.
Ia mendengar suara tembakan di sebelah sana, Dara langsung berlari mendekat. Saat sudah dekat, ia memperhatikan sekitar dua belas orang pria berkelahi. Itu tiga lawan sembilan.
Tiga orang pria itu menggunakan seragam militer, dua orang masing-masing melawan dua orang, sedangkan satu orang melawan delapan orang sekaligus.
Namun pria yang melawan delapan orang terlihat sangat kuat, ia sudah berhasil melumpuhkan setengahnya dan saat ini hanya sisa empat orang lagi.
SRET!!!
Darah langsung merembes keluar.
Perut pria itu terkena sayatan saat tidak sengaja ia tertegun sejenak, saat mencium wangi yang sangat ia kenali. Namun ternyata lawannya mengambil kesempatan itu saat ia tengah lengah.
Saat pria itu menoleh, Dara melihat tatapan mata itu. Ia mengenalinya, itu adalah Kai.
Melihat darah yang merembes keluar dari perutnya, Lawannya hendak menyerang lagi. Namun Dara tidak tinggal diam, dia memukul mereka berempat dengan keras dan cepat.
BUGH!!!!
BUGH!!!!
BUGH!!!!
BUGH!!!!
Keempatnya langsung jatuh tehempas sejauh empat meter dan juga dalam keadaan terluka dalam yang sangat parah, hingga menyemburkan darah..
Hal itu membuat dua orang yang lain, yang tak lain Nathan dan Rafael. Berikut lawan mereka juga terkejut. Tidak menyiakan kesempatan, Nathan dan Rafael langsung memukul dan melumpuhkan lawan mereka
Dara, Nathan dan Rafael langsung mendekat ke arah Kai.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Dara.
"Dara...." ucap Kai tertegun saat melihat Dara, ia tidak percaya jika Dara ada di hadapannya sekarang.
"Lukamu sangat dalam, tunggu sebentar" ucap Dara lagi, ia mengambil sesuatu dari tasnya yaitu alat medis
Nathan dan Rafael terkejut saat melihat Dara membawa alat medis, ia pikir Dara adalah seorang Dokter. Keduanya lega karena Dara datang tepat waktu.
"Permisi aku angkat sedikit" ucap Dara mengangkat pakaian Kai.
Dara tertegun sejenak saat melihat betapa bagusnya badan Kai, itu sangat berotot, ada delapan kotak dan juga sangat keras.
Ada beberapa belas luka juga ia lihat di badan Kai. Namun Dara menepisnya dan langsung memeriksa luka yang darahnya masih mengalir itu.
Dara mengerutkan keningnya saat melihat Kai sama sekali tidak meringis kesakitan saat ia memeriksa dan menyentuh lukanya.
"Tahan sebentar" ucap Dara, ia dengan telaten membersihkan luka itu untuk melihat seberapa serius lukanya. Kai hanya mengangguk dan menatap wajah Dara yang tertutupi masker itu.
"Jika kau percaya padaku, tolong telan Pil ini" ucap Dara, saat tahu luka itu cukup dalam.
Kai tidak ragu langsung menelan pil yang di berikan Dara. Awalnya Nathan dan Rafael tidak mengizinkan, namun sebelum mereka berbicara. Kai sudah menelan pilnya dengan cepat.
"Luar biasa!" ucap ketiganya.
Dara mengabaikan ucapan mereka dan meneruskan membersihkan bekas darah yang masih ada di sana.
"Obat apa itu nona?" tanya Nathan dan Rafael bersamaan.
"Itu pil penyembuh yang saya buat sendiri" jawab Dara membuat semuanya terkejut lagi dan lagi.
"Sudah selesai" ucap Dara lagi dan menutup kembali pakaian Kai. Ia juga menyimpan kembali alat-alat medisnya di tas.
"Terimakasih Dara..." ucap Kai tulus.
"Sama-sama. Kalau gitu aku pamit pergi dulu" ucap Dara
Namun tangannya di tahan, telapak tangannya di genggam oleh Kai, Dara segera menoleh ke arah Kai.
"Jangan pergi dulu, bisakah kamu membantu rekan lain yang terluka?" ucap Kai dengan lembut dan menatap Dara.
"Ada rekan lain?" tanya Dara terkejut.
"Ya, setidaknya ada empat orang yang terluka karena senjata api" ucap Kai.
Dara bisa saja memberikan pil itu pada Kai, tapi jika orang itu terkena peluru. Peluru itu harus di ambil lebih dulu.
"Baiklah" ucap Dara
"Kalian berdua, ikat semuanya dan tunggu di sini! Jangan sampai mereka melarikan diri" perintah Kai pada Nathan dan Rafael.
Kai langsung membawa Dara ke lokasi rekannya yang lain, genggaman tangannya tidak di lepas seakan takut Dara akan menghilang.
Dara juga bingung kenapa Kai tidak melepaskan tangannya, namun Dara hanya diam dan mengikuti langkah Kai. Sedangkan Nathan dan Rafael saling menatap satu sama lain.
Mereka sekarang sudah merasa yakin jika rekan kerja sekaligus pimpinan mereka itu tengah jatuh cinta sekarang.
.....
Kai dan Dara sudah sampai di lokasi keempat rekan yang terluka. Mereka semua terkejut melihat pimpinan mereka mengandeng seorang gadis. Karena setahu mereka, pimpinannya itu sangat anti dekat dengan wanita manapun kecuali ibunya.
"Tolong selamatkan mereka" ucap Kai.
Meskipun Kai tidak ingin Dara menyentuh pria lain, tapi saat ini dalam keadaan genting dan hanya Dara yang bisa menyelamatkannya. Dia tidak memiliki pilihan lain.
Dara mulai mengeluarkan alat medisnya dan juga satu set jarum apukuntur. Ia mencuci jarum itu dengan alkohol, lalu ia menusukkannya ke bagian tertentu dan mulai operasi kecil mengambil peluru.
Orang yang di obati terkejut dan bingung karena ia tidak merasakan sakit saat dara mengambil peluru di tubuhnya. Sedangkan yang lain menatapnya terkejut, karena Dara begitu lihat dan cepat hingga peluru itu langsung keluar.
Setelah selesai mengobati mereka semua. Dara akan kembali, Kai menggandeng Dara keluar dari hutan. Kai enggan melepaskan genggaman tangannya, sedangkan Dara ia bingung kenapa ia merasa nyaman saat Kai menggenggam tangannya.
Sebelum sampai di ujung jalan menuju jalan raya, Dara meminta Kai untuk melanjutkan tugasnya dan cukup mengantarnya sampai di sana.
"Apakah tidak apa-apa?" tanya Kai ragu mengantar Dara tidak sampai mobilnya.
"Ya, tidak perlu mengantarku sampai sana, lagian sudah hampir di jalan raya. Tidak akan ada bahaya yang datang kok" ucap Dara sembari melepaskan genggaman tangan Kai
"Baiklah, kamu hati-hati di jalan, langsung kembali saja ke ibukota. Kabari aku kalau sudah sampai di rumah" ucap Kai Dara mengangguk, entah mengapa dirinya menjadi sangat patuh.
"Bagus, sampai ketemu di ibukota. Aku akan menagih janjimu saat di sana untuk makan bersama" ucap Kai.
"Tentu" ucap Dara.
Keduanya pun kemudian berpisah di sana, Dara berjalan cukup jauh dan mengeluarkan mobilnya saat melihat keadaan sudah aman.
...••••••...