
Babak penyisihan pertama sudah berakhir. 16 peserta sudah di pastikan masuk ke babak selanjutnya.
Di antaranya adalah, Kai, Flo, Wisnu dari padepokan maung tingkat True Element Level Senior (Satu area bersama Kai saat babak pertama).
Arya dari padepokan Jatisura di tingkat Qi Transformasion level puncak, Sebastian dari padepokan Mungkur di tingkat True Element level puncak. Dan 11 orang yang lainnya dari berbagai kota di negara ini.
Dara menoleh ke arah orang tua yang duduk tak jauh darinya, orang itu tidak lain adalah Ki Seno. Orang yang dulu pernah Dara lihat di Raka Restaurant.
Dara juga melihat Ki Seno mengenakan pakaian yang sama dengan peserta yang bernama Sebastian dari padepokan Mungkur. Di samping Ki Seno juga ada orang tua dengan kultivasinya yang sudah berada di Immortal Ascension level menengah.
Sudah di pastikan Mereka dari padepokan yang sama. Hanya saja Dara penasaran, ada dendam apa antara Padepokan Mungkur dengan padepokan Maung. Ah atau hanya dendam Ki Seno saja dengan manusia biasa waktu itu.
Entahlah, Dara tidak tahu karena Theo tidak bisa mendapatkan Data lebih banyak selain nama dan tempat tinggal Ki Seno.
.....
"Sepertinya Sebastian memiliki lawan yang seimbang, Ki Darmo. Ia juga masih sangat muda, bakatnya sangat mengerikan" ucap Ki Seno berbisik. Hanya saja Dara bisa mendengar itu sangat jelas.
"Diamlah! Percayakan saja pada putraku. Aku yakin dia akan menjadi juara tahun ini" ucap Ki Darmo yang tidak lain adalah ayah dari Sebastian dan juga patriak padepokan Mungkur.
"Baiklah" ucap Ki Seno tidak lagi berbicara dan berharap jika Sebastian bisa menang dan membuat nama padepokan semakin melejit.
Dara hanya menyeringai tipis mendengar ucapan keduanya, karena ia yakin Kai bisa mengalahkan Semuanya.
"Haaaahhh...." Prawoto menghela nafas.
"Ada apa Ki Prawoto?" tanya Dara
"Ah, tidak apa-apa senior" ucap Prawoto menggelengkan kepalanya sembari tersenyum canggung, karena ia lupa jija di sampingnya ada Dara.
"Apa anda memiliki dendam dengan salah satu padepokan lain?" tanya Dara.
"Maksud anda?" tanya Prawoto.
"Orang itu! Apa anda memiliki masalah dengannya?" tanya Dara lagi menunjuk ke arah padepokan maung.
"Ba-bagimana anda bisa tahu?" tanya Prawoto terkejut.
"Aku tidak sengaja melihat tatapan benci mereka ke arah anda, terutama pria yang berdiri di samping orang tua itu" ucap Dara.
"Haaahhh, senior ternyata penglihatan mu sangat jeli" ucap Prawoto kagum.
"Tolong panggil saya dengan nama saja ki!" ucap Dara
"Saya tidak berani, apalagi kekuatan anda sangat tinggi di bandingkan denganku" ucap Prawoto
"Tidak masalah, kalau tidak anda bisa memanggilku seperti paman Tirta yang memanggilku, Ki" ucap Dara lagi.
"Baiklah nona Azalea" ucap Prawoto tidak bisa menolak lagi.
"Anda belum menjawab pertanyaanku Ki" ucap Dara, terlihat Prawoto menghela nafas lagi.
"Anda menang benar se, no-na Azalea. Kami memiliki dendam lama. Tepatnya sepuluh tahun lalu di kompetisi sebelumnya, putraku berhasil menjadi juara pertama dan mengalahkan putra dari ki Darmo dengan pukulan telak dan anak Ki Darmo mengalami luka yang parah. Entah kenapa mereka membenci kami setelah itu, padahal di dalam kompetisi terluka adalah resiko yang umumnya terjadi. Terlebih putra Ki Darmo juga menyerang Tirta saat semifinal dengan kuat hingga ia cedera parah saat itu" ucap Prawoto.
"Apakah putra Ki Darmo yang di kalahkan putra anda adalah laki-laki itu?" tanya Dara menunjuk ke arah Sebastian.
"Bukan, Sebastian adalah anak bungsu keluarga itu. Kakaknya tidak bisa ikut karena usianya sudah melewati batas untuk ikut kompetisi, begitu juga anakku" ucap Prawoto.
Dara mengangguk, ia tahu usia Prawoto hampir seratus tahun, meskipun kelihatannya masih terlihat seperti berusia 60 tahun.
"Dendam di antara kami cukup mereda beberapa tahun lalu. Namun setelah satu tahun yang lalu, orang yang bernama Ki Seno dan seorang manusia membuat masalah dengan salah satu murid perempuan di sini. Ia memperkosa dan membunuhnya. Tentu kami marah, kami menghukum keduanya dengan cara di kebiri" ucao Prawoto
.....
16 besar peserta sudah mengambil nomor lagi untuk menentukan lawan mereka. Kini yang area yang di gunakan hanya empat area saja.
Pertandingan di mulai, di area satu Sebastian melawan seseorang dari pulau L. Area dua Flo melawan seseorang dari padepokan di kota P. Area tiga dan empat juga di gunakan oleh peserta lain.
"Salam Nona manis, perkenalan aku Julian dari kota P. Lebih baik kamu mundur saja, aku tidak bisa menyakiti perempuan cantik seperti dirimu" ucap lawan Flo yang bernama Julian memindai Flo dari atas ke bawah.
"Banyak omong!" ucap Flo langsung melancarkan serangan.
BUGH!
"Assshhh..." Julian meringis pelan.
Tendangan bebas mengenai lengan kiri Julian dengan keras, membuat Julian sedikit terhuyung ke samping. Untungnya ia tidak terjatuh dan malu.
"****! Kau berani memukulku, rasakan ini! Dasar perempuan tidak tahu di untung" ucap Julian yang marah langsung menyerang balik Flo.
Flo menyeringai dan meladeni serangan Julian. Ia sama sekali tidak menghindar, ia hanya menangkis dan menyerang balik lawannya itu..
"Ja*lng si*lan! Akan ku buat kau menyesal karena memukulku!" teriak Julian.
Julian mengeluarkan Qi miliknya yang sudah berada di tingkat True Element level junior itu dan melepaskannya ke arah Flo.
BLAM!!! DUAR!!!
Qi milik Julian bertabrakan dengan Qi milik Flo, lalu meledak kencang. Flo tidak terluka sama sekali, malah ia menyeringai karena kekuatan Julian tidak ada apa-apanya. Bahkan tingkat kestabilan kekuatan, Flo jauh lebih unggul di bandingkan dengannya.
"Payah!" ucap Flo, ia kemudian maju menyerang Julian dan telak mengenai dada Julian dan membuatnya terlempar ke sudut area dan mengeluarkan seteguk darah.
"Huuukkkkk...." Julian merasa tenggorokan nya panas.
Tidak mau mengaku kalah, Julian berusaha bangkit meskipun ia merasakan dadanya sakit, panas dan pandangannya sedikit kabur.. Flo berjalan santai ke arahnya.
"Cih tidak mau menyerah juga? Sudahi saja aku mau istirahat tauk!" ucap Flo, menoyor kepala Julian dan....
BRUK!!!
Hanya dengan sedikit kekuatan di jari Flo, Julian terjatuh ke bawah arena dan pingsan!
....
Di sudut lain, Sebastian terlihat terus menerus melayangkan serangan ke pada lawannya yang seseorang dari pulau L.
BUAK!!!! KRATAK!!!
"Aaaarrrgghh....!!!!!" teriakan peserta dari pulau L itu menggema saat kedua kakinya di patahkan oleh Sebastian.
Tidak cukup sampai situ, sebelum lawannya mengatakan menyerah Sebastian melayangkan tendangannya ke dagu lawannya hingga tulang rahang lawannya juga mengalami retak dan cedera serius.
Meskipun tidak meninggal, namun kondisinya sangat parah dan kemungkinan terburuknya adalah cacat seumur hidup. Bahkan pil penyembuh yang di tawarkan sebagai hadiah pertama tidak bisa mengobatinya karena levelnya masih rendah.
Tentu saja jika Dara mau, ia bisa mengobatinya. Namun tidak sekarang, ia tidak bisa meninggalkan kompetisi karena sebentar lagi Kai akan naik dan bertanding.
Kai dan Flo berdecih saat melihat Sebastian menghabisi lawannya dengan cara yang keji. Bahkan ia tidak memberikan kesempatan untuk lawan untuk menyerah.
...••••••••...