
Mobil Porsche berwarna merah terparkir indah di halaman mansion kediaman keluarga Brigez. Pria tampan pun keluar dari balik pintu kemudi, pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Rafael tunangan Alice.
Para pekerja di kediaman Brigez tentunya sudah kenal dengan calon suami dari nona mereka itu. Mereka menyapa dengan sopan dan memanggil Alice yang saat ini masih berada di kamarnya.
"Rafael" sapa seorang wanita paruh baya yang masih cantik di usianya yang hampir kepala lima itu.
"Bunda" sapa balik Rafael sembari menyalami wanita yang tak lain adalah ibu dari Alice. Nyonya Brigez, Silvia.
"Bagaimana kabar kamu? Bunda denger kamu ada tugas kemarin, tumben selesainya cepet" ucap Silvia
"Tugasnya udah di beresin hanya dalam hitungan jam, Kai memang semenajubkan itu Bun" ucap Rafael tidak menutupi kehebatan bosnya sekaligus sahabatnya itu.
Meskipun begitu Rafael tidak pernah menceritakan tugas seperti apa yang ia jalankan dan di tim mana ia bertugas. Orang lain hanya tahu jika ia bertugas di satuan militer biasa.
"Wah benarkah? Anak itu memang hebat, tapi calon menantu bundaini juga tidak kalah hebat" ucap Silvia
"Bunda bisa aja" ucap Rafael terkekeh mendengar ucapan calon mertua nya itu.
"Ayaaaang..." tiba-tiba terdengar suara teriak Alice.
"Astaga Alice, jangan teriak-teriak!!!" teriak Silvia, membuat Rafael tersentak karena Double terkejut.
Memang suara calon bini dan calon mertua tidak ada tiganya. suara saksofon dan toa aja kalah sama mereka.
"Bunda juga teriak" ucap Alice memelankan suaranya karena jarak mereka udah dekat.
"Itu karena kamu teriak duluan, bunda kaget tahu nggak" ucap Silvia mengelus dadanya
"He-he, maaf Bun, Alice udah kangen berat sama ayang" ucap Alice dengan senyum tiga jarinya.
"Dasar bucin!" ucap Silvia menggelengkan kepalanya.
Kenapa anaknya tidak sama seperti yang biasa terjadi di novel-novel. Karena biasanya cowok yang bucin, ini mah terbalik malah putrinya yang sangat bucin sama sang tunangan.
Tapi beruntung calon menantunya tidak masalah dengan sifat putrinya itu. Sebenarnya Rafael juga sebenarnya sangat posesif, hanya saja ia lebih logis, bisa menyesuaikan sifat posesifnya itu di tempat dan waktu yang pas.
"Ayo yang" ajak Alice.
"Kalian mau kemana?" tanya Silvia
"Kencan lah Bun, kaya nggak pernah muda aja" ucap Alice
"Alice..." tegur Rafael pelan
"Bercanda yang" ucap Alice dengan senyum lebarnya. Ia sudah terbiasa berbicara blak-blakan dengan bundanya.
"Kamu ini kalau ngomong suka bener, El suka nggak ada saringan buat denger kamu teriak Lice. Kok El mau-mau nya ya sama kamu? Heran bunda" ucap Silvia menggelengkan kepalanya dan terkekeh.
"Kan El cinta mati sama Lice Bun ha-ha" ucap Alice menjulurkan lidahnya ke sang bunda.
Silvia hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan absurd putrinya itu.
"Bun, Kita pergi dulu ya" pamit Rafael menyalami calon ibu mertua nya itu.
"Alice juga bun" pamit Alice yang sama mencium tangan bundanya dan juga kedua pipi mamanya.
"Iya hati-hati jagain Alice El. Pulangnya jangan malam-malam" ingat Silvia pada keduanya.
"Pulang pagi berarti boleh?" celetuk Alice
"Alice..." geram Silvia
"He-he woles Bun, becanda bunda ku cantik jelita. Dah bunda, Alice pergi dulu, nanti pulangnya Alice beliin martabak terang bintang" ucap Alice sambil menarik tangan Rafael keluar.
"Jangan oupa kejunya yang banyak Lice!!!" teriak Silvi yang di balas jempol oleh Alice
Rafael hanya terkekeh melihat tingkah unik sang tunangan, sifatnya yang berbeda itu lah yang tidak bisa di bandingkan dengan wanita lain. Alice adalah sosok yang membuatnya jatuh cinta dengan pandangan pertama.
....
Alice adalah seorang pelukis dan juga pemilik salah satu galeri terkenal di ibukota, ia juga merangkap menjadi seorang model. Meskipun dua pekerjaan itu hanya selingan saja sebagai hobi.
Di galeri miliknya, ia memiliki ruangan pribadi dan di belakang ruangan itu ada taman kecil untuk dirinya melepas lelah saat penat atau untuk berduaan bersama dengan Rafael seperti saat ini.
"Apa yang mau kamu ceritakan hmm?" tanya Rafael yang mengelus Surai indah Alice yang menyandarkan kepalanya di bahu lebar milik Rafael.
"Jadi begini, kemarin itu....." Alice mulai menceritakan apa yang terjadi kemarin dan tadi siang saat om dan tantenya datang menanyakan soal Ivone padanya.
Mendengar itu Rafael terkejut dan menghela nafas, ia sudah tahu betapa keras kepalanya si Ivone. Ia juga sepemikiran dengan Alice kalau kemungkinan Ivone nekat dan datang menemui Nyonya Narendra sendiri.
"Jujur aku denger itu kaget yang, aku juga belum ada kabar apapun dari Kai. Tapi asal kamu tahu, kalau Kai pulang lebih Dalu ke ibukota dari hari rabu" ucap Rafael
"Benarkah?" ucap Alice terkejut, ia memikirkan sesuatu yang membuatnya menutup wajahnya.
"Tamat sudah jika Ivone benar-benar melakukan hal konyol itu" ucap Alice.
"Udah jangan di pikirin, nanti aku coba tanya ke Kai" ucap Rafael yang di angguki oleh Alice
"Makasih ya El, aku cuma pengen tahu aja kabar tuh anak. Bagaimana pun aku kasihan Om dan Tante sibuk nyariin dia, semoga aja tidak ada sesuatu yang buruk terjadi pada tuh bocah" ucap Alice
"Hmm... Kita do'akan saja" ucap Rafael.
....
Keesokan harinya, Dara menelepon keluarganya untuk memberi tahu rencana Keluarga besar Narendra, yang akan datang ke kota S untuk melamar Dara dan membicarakan tentang pertunangan hari Minggu ini.
Awalnya baik Gusti, Adnan atau Ellena terkejut mendengar itu. Sejujurnya mereka masih belum rela Dara menikah, bukannya tidak setuju. Tapi itu karena waktu bersama dengan Dara baru sebentar, mereka ingin memberikan kasih sayang yang lebih banyak lagi pada Dara.
Meskipun begitu mereka tidak ada alasan untuk menolak kedatangan Keluarga besar Narendra di kediaman mereka Minggu nanti.
Ketiga kakak Dara yang mendengar itu sontak tidak setuju, mereka juga beralasan jika mereka ingin menghabiskan waktu dulu dengan Adik perempuan mereka satu-satunya.
Karena mereka belum memberikan kasih sayang pada Dara, mereka memiliki hutang besar itu karena sejak Dara masih belum lahir. Mereka belum memberikan kasih sayang itu padanya.
Tapi mereka juga tidak bisa menolak itikad baik Keluarga Narendra yang ingin datang dan bersilaturahmi.
Di sisi lain, mendengar berita dari sang mami dan adiknya. Arvin langsung bergegas terbang kembali ke ibukota untuk menemui Dara. Pikirannya saat ini kacau karena hanya tertuju dengan Dara seorang.
Ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengejar Dara dan ia nekat untuk mengatakan perasaan yang sebenarnya pada gadis itu.
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu kamar Dara di ketuk, saat ini Dara berada di ruang dimensi untuk berkultivasi terkejut. Ia memang memasang Formasi agar saat ia berada di ruang dimensi bisa tahu jika ada yang mengetuk pintu ataupun yang mencurigakan.
Saat ini Dara segera kembali ke dunia nyata dan langsung membuka pintu kamarnya.
"Ada apa pak Agam?" tanya Dara
"Maaf menganggu istirahat nona, itu di bawah ada orang yang ingin bertemu nona" ucap Agam
"Siapa?" tanya Dara mengerutkan keningnya, karena ia merasa tidak memiliki janji temu dengan seseorang hari ini.
"Itu pria yang pernah datang bersama tuan muda Revan, tuan muda Bara dan tuan muda Jefrey kemarin nona" ucap Agam yang tidak terlalu mengenali Arvin.
Karena pria itu sebelas dua belas dengan Kai, yang sangat irit bicara. Dan hanya diam dan sesekali membalas ucapan yang lain selain dengan Dara tentunya.
Arvin segera terbang ke ibukota demi bertemu dengan Dara menggunakan pesawat pribadi miliknya. Perasaan nya tidak menentu saat mendengar Dara akan di lamar orang lain.
"Suruh tunggu sebentar pak, saya mau ganti baju dulu" ucap Dara
"Baik non" ucap Agam langsung pergi.
"Mau ngapain dia? bukannya proyek tender sudah selesai dan sudah mulai berjalan. Bukannya dia sama seperti kakak kembali ke kota S?" ucap Dara tanda tanya dalam hatinya
...••••••••...