The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
374. Pikiran Flo



Dara dan Triplet sekarang sudah pulang ke Star Mansion. Tiap hari di sana selalu ramai, karena banyak sanak saudara dan sahabat yang datang untuk melihat ketiga bayi yang tampan dan cantik itu.


Kadang mereka saling berebut ingin menggendong, meskipun memang lebih banyak berdebat masalah menggendong Starla.


Bayi perempuan satu-satunya itu menjadi primadona di antara kakak-kakaknya. Meskipun ketiganya kembar, namun wajah mereka sangat berbeda.


Gala adalah devinisi kembaran Kai, karena dari mata, bibir, hidung, kulit, rambut sangat mirip sekali dengan sang ayah. Ketampanan Gala tidak akan di ragukan lagi, ia akan setampan ayahnya.


Dara juga sudah melihat bakat kultivasi Gala sangat mirip dengan ayahnya yang merupakan jenius kultivator.


Rakesh adalah perpaduan antara Dara dan Kai, matanya, rambut dan warna kulit sangat mirip dengan Ayahnya, namun hidung dan bibir sangat mirip dengan Dara.


Bakat Rakesh sepertinya berbeda dari kedua kakaknya yang merupakan jenius kultivator. Meskipun darah kultivator mengalir di tubuhnya, itu tidak sekuat milik para kakaknya. Rakesh lebih berbakat di bidang formasi dan alkemis.


Sedangkan Starla, Dia memang copy an dari bundanya. Semua yang terlihat dalam dirinya adalah replika dari Seorang Addara Azalea Narendra. Dia sangat cantik, penuh pesona, dan magnet yang menarik semua orang untuk mendekat dan menyukainya.


Starla juga memiliki aura unik yang sama seperti ibunya. Meskipun tidak sekuat milik Dara, karena bagaimana pun Dara memiliki dua jiwa dan dua memory.


"Kok sepi?" ucap Dara yang tidak mendengar suara dari ruang keluarga.


Saat ia beranjak untuk melihat, Dara terkejut dan juga terkekeh saat melihat semua orang sudah tepar. Tertidur tidak tentu arah seperti kicir angin dan saling bertabrakan.


"Astaga, ha-ha... Mereka pasti kecapean ribut sampe tertidur" ucap Dara


"Kok sepi, pada kemana? Loh.... Tidur mereka?" tanya mama Hesti terkekeh.


Shine, Sarah dan Flo juga terkekeh melihat semua orang tepar.


"Mereka lelah setelah berdebat berebut triplet, terutama berebut Starla" ucap Dara tertawa


"Putri bungsu mu benar-benar versi mininya kamu Ra, dia sangat mudah menarik perhatian semua orang" ucap Sarah.


"Sepertinya begitu" ucap Dara tersenyum dan mengangguk setuju.


"Apa lagi, dia cucu perempuan satu-satunya di dua keluarga pasti jadi rebutan. Jadi pengen punya cucu perempuan juga, pasti lucu" ucap Sarah, lalu ia terkejut karena ucapannya sendiri dan menoleh ke arah menantunya dengan tatapan bersalah.


"Nggak apa-apa mah, Flo ngerti kok" ucap Flo tersenyum


Namun tidak ada yang tahu hati seseorang apa yang di rasa.


Flo tahu kalau mertuanya tidak ada maksud apa-apa bilang soal anak dan menginginkan cucu. Itu sangat wajar tiap kakek dan nenek menginginkan cucu dari anak mereka.


Namun tidak bisa di pungkiri jika Flo juga sedikit merasa tidak enak, karena sudah beberapa bulan ia menikah namun belum di berikan momongan. Ia merasa tidak sempurna menjadi seorang istri dan menantu.


Sarah pun merasa bersalah karena ia teringat ucapan Lingga, putranya itu pernah mengatakan jika Flo sering melamun karena kepikiran soal anak.


Memang di dalam keluarganya tidak pernah ada yang membahas soal anak apalagi menuntut untuk segera hamil. Namun kadang ucapan tidak sengaja orang di luar, mau tidak mau menjadi beban tersendiri bagi Flo.


"Nggak apa-apa Flo janga di pikirkan oke, lagian kalian juga menikah belum lama ini. Berarti Tuhan masih memberikan kesempatan kalian buat menikmati rasanya berpacaran dulu setelah menikah. Tante juga nggak langsung hamil setelah nikah, Tante menunggu hampir 2 tahun baru di kasih momongan. Sabar, mungkin belum waktunya" ucap mama Hesti pada istri dari keponakannya itu.


"Mama juga tidak pernah mendesak kalian untuk punya momongan ko sayang, mama malah senang lihat kalian berdua masih menikmati bulan madu yang entah keberapa kalinya itu. Jadi inget mama dulu masih muda" ucap Sarah.


Flo tersenyum mendengarnya, meskipun kadang hatinya gelisah memikirkan masalah momongan. Namun dukungan keluarga dan keluarga sang suami membuatnya kuat sampai saat ini, meskipun ia rapuh di dalam.


"Flo, mungkin aku akan kembali ke kantor setelah masa nifas habis. Maaf repot kan kalian, sudah buat kalian berdua sibuk di kantor beberapa bulan ini. Untuk menggantikan ku di kantor" ucap Dara merasa tidak enak.


Jika di pikir, ia juga bisa di bilang turut menjadi penghambat Flo tidak kunjung hamil. Karena sepasang suami istri itu terlalu bekerja keras di kantornya, hingga mungkin keduanya jadi kelelahan.


"Tidak apa-apa Ra, jangan memaksakan diri. aku dan Mas Lingga sama sekali tidak repot kok" ucap Flo.


"Bisa ikut aku sebentar Flo?" ucap Dara, Flo pun mengangguk.


"Mah, Tante, Dara titip triplet dulu ya. Dara mau ke ruangan kerja bentar ada masalah kerjaan yang ingin Dara bahas soal kerjaan" ucap Dara


Mama Hesti dan Tante Sarah mengangguk, Dara dan Flo pun langsung beranjak dari sana lalu masuk ke ruangan kerja Dara. Meskipun Flo bingung apa yang mau di bahas, namun ia tetap menurut dan kini keduanya duduk di Sofa di ruangan kerja.


...••••••••...