The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
359. Yongki di tangkap.



Di tempat lain, tepatnya di Rumah Yongki Damian di pusat ibukota. Mike dan anggotanya sudah mulai mengepung setiap sudut kediaman putra sulung Keluarga Damian itu.


"Siapa di sana?" teriak Security yang menjaga kediaman itu. Melihat ada orang di depan gerbang dan menyalakan bell.


Mike dan dua orang anggotanya memang sengaja masuk melaluinya pintu utama, jadi tentu ia akan bertemu dengan security terlebih dulu.


"Kami dari pihak militer, kami di tugaskan untuk menangkap saudara Yongki Damian. Atas dugaan keterlibatan dan otak dari penculikan dan juga perdagangan manusia" ucap Mike dengan tenang dan mengeluarkan token militer yang di pinjamkan anggota Falcon padanya.


Ia sengaja melakukan itu karena tidak ingin para pekerja di rumah itu yang tidak tahu apa-apa menjadi terlibat dalam urusan majikannya.


Ia tidak ingin menyakiti orang yang tidak bersalah dan terlibat. Karena semua orang di kediaman ini kecuali Yongki sendiri, adalah seorang pekerja tanpa tahu apa yang di lakukan majikannya.


Melihat plakat itu, security yang berusia paruh baya itu tentu saja terkejut dan juga gemetar.


"Ba-bagaimana mungkin tuan Yongki melakukan itu? Dan kenapa bukan polisi yang datang, tapi malah pihak militer yang datang untuk menangkap?" tanya security itu sedikit ragu dan juga takut. Bagaimana kalau orang di depannya hanya mengaku saja sebagai milik dan berniat buruk pada keluarga majikan nya?


"Ini merupakan tindakan kriminal kelas berat dan ini perintah langsung dari petinggi. Jadi kasusnya langsung masuk ke pihak militer, karena ini menyangkut kasus besar yang melibatkan negara. Kalau tidak percaya, bapak bisa menanyakan hal ini pada pihak polisi setempat" ucap Mike dengan yakin.


"Lagi pula, jika kita berniat buruk dan menipu. Sudah sejak tadi kita merangsek masuk dan menangkapnya" lanjut Mike


Security mengangguk dan meminta maaf, namun ia tetap mencoba menghubungi kantor polisi terdekat sesuai prosedur. Karena ia tidak ingin di salahkan jika terjadi apa-apa pada majikannya.


Setelah mengkonfirmasi jika ucapan Mike benar adanya. Maka security tidak bisa menghalangi lagi, ketiga petugas itu pun masuk.


Security itu hanya menghela nafas tidak percaya, jika manjikannya itu bisa melakukan tindakan kriminal dan juga sangat tidak manusiawi.


Sebagai seorang ayah, tentu security tidak membenarkan perdagangan manusia. Membayangkan kalau anaknya adalah salah satu korban saja, ia sudah marah. Apalagi jika terjadi korban dan keluarganya yang kena.


Selain itu, ia juga harus pasrah dengan nasib kehilangan pekerjaan. Karena setelah ini, dirinya pasti tidak lagi bekerja.


Mike langsung masuk ke dalam rumah yang cukup besar itu, Yongki yang kebetulan sedang berada di ruang tamu terkejut melihat ada orang yang masuk ke kediamannya tanpa ada nya pemberitahuan dari pihak keamanan.


"Siapa kamu, beraninya masuk ke rumahku tanpa izin!" ucap Yongki.


Mike berjalan mendekat dan menatap datar Yongki, Ia lalu mengeluarkan plakat militernya dan menunjukannya pada Yongki.


"Saya perwira militer ibukota, Tuan Yongki Damian, kamu di tangkap atas tuduhan penculikan dan juga perdagangan anak di bawah umur. Mohon ikut kami ke kantor militer" ucap Mike dengan tegas


Tentu saja ucapan Mike membuat Yongki terkejut, bagaimana bisa ia di laporkan seperti yang di ucapkan Mike barusan. Siapa yang melapor? Dan kenapa bisa ada yang tahu jika ia terlibat dalam penculikan anak.


Meskipun ia merasa tidak menjual anak-anak itu, namun pada kenyataannya ia menjual anak-anak ini untuk di jadikan tumbal ritual pada tuannya.


"Tuan, sepertinya ada yang salah di sini, saya sama sekali tidak mengerti maksud ucapan anda. Saya sama sekali tidak pernah terlibat dengan hal-hal ilegal dan kriminal, seperti yang anda ucapkan" ucap Yongki berusaha tenang.


"Anda bisa menjelaskannya di kantor, silahkan ikut kami" ucap Mike masih sabar menghadapi Yongki.


"Aku tidak mau! Silahkan kamu hubungi pengacaraku lebih dulu jika kalian ingin membawaku pergi!" ucap Yongki, kekeuh tidak ingin pergi.


"Anda bisa menghubungi pengacara anda sendiri, kami akan memberi Anda waktu untuk itu. Kami akan menunggu dan segera ikut kami!" ucap Mike


Yongki sedikit bimbang, ia tidak akan bisa lolos jika ia ikut ke kantor kemiliteran. Jika yang datang padanya adalah pihak kepolisian, ia masih memiliki harapan untuk lolos.


Namun kali ini yang datang adalah pihak militer, ia sama sekali tidak memiliki backing-an yang memback-up keluarganya di kemiliteran. Sudah di pastikan ia akan meringkuk di dalam penjara, karena tidak mungkin pihak militer datang jika tidak memiliki bukti untuk menangkap nya.


"*Si*l!!! Aku nggak mau di penjara! Apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucap Yongki dalam hati*


Lalu terbesit di pikirannya untuk kabur dan menemui tuannya. Saat ini hanya tuannya yang bisa menyelamatkannya.


"Aku harus kabur, lagi pula tidak akan sulit untuk kabur dari mereka. Dengan bantuan tuan jangankan militer, negara ini akan tunduk padaku nantinya" ucap Yongki dalam hati puas dengan pemikiran nya.


Yongki sudah bersiap akan kabur dengan menyerang tiga pria di depannya, dengan percaya diri ia mengeluarkan kekuatannya dan berniat untuk menerobos dan memukul mereka.


BUGH!!!


"Aaarrggghhhhhh...!!!" teriak Yongki yang jatuh tersungkur di lantai, saat anggota Mike memukul perutnya dengan keras lebih dulu.


"Kau pikir dengan menggunakan kekuatanmu, kau bisa kabur? Sayang sekali niatmu sudah terbaca jelas" ucap Mike mencibir.


"Tangkap dia!" ucap Mike lagi.


Kedua anggota Mike maju, membuat Yongki bangun dan berteriak marah lalu menyerang keduanya.


BAK!!! BUK!!! BAK!!! BUK!!!


BLAM!!!


"Aaarrggghhhhhh... Uhuuuukkk, eeuuugghh..."


Bukannya berhasil menyerang anggota Mike dan kabur, justru dirinya sendiri yang terkena pukulan hingga ia jatuh tersungkur dan memuntahkan seteguk darah.


"Sia-pa kal-lian? Bagai-mana bisa ka-lian menga-lahkan-ku?" tanya Yongki sembari memegangi perutnya yang terkena pukulan keras, hingga pusat energinya kini rusak dan organ vitalnya terluka.


"Aku bilang, aku dari militer! Apa kamu budeg?" cibir Mike.


Tap!!!


Tap!!!


"Ma-mau A-apa kam-mu? Jangan mendekat!!!" ucap Yongki bergetar saat melihat Mike berjalan mendekat ke arahnya.


"Kenapa? Takut?" kekeh Mike.


"Ja-jangan macam-macam, atau kau akan mene-rima akib-batnya yang tidak bisa kau banyangkan" ucap Yongki


"Maksudmu, meminta bantuan dari tuanmuu? Siapa namanya, aku lupa? Bis... Bis... Ah pokoknya si Bis tayo itu? Ah iya, berhubungan dengan bis tayo itu, aku ada kabar gembira untukmu" ucap Mike tersenyum


"Tuan mu yang ada di mansion itu, sudah mati!" ucap Mike, mengejek Yongki.


Meskipun ia belum mendapat kabar jika misi rekan lainnya berhasil, tapi setidaknya ia bisa membawa Yongki ke pangkalan militer dan ia yakin jika kawan lainnya juga berhasil.


Ia memang di perintahkan untuk menangkap Yongki hidup-hidup, karena ia akan di jadikan sebagai pion penyerangan kali ini. Cukup lumpuhkan kultivasi nya dan buat ia tidak bisa berkultivasi.


Yongki dan keluarga Damian akan di jadikan tersangka utama dalam kasus penculikan dan juga otak dari dalang perdagangan manusia atau anak di bawah umur.


"Itu ti-dak mungkin!" ucap Yongki sedikit berteriak tidak percaya saat mendengar tuannya mati.


"Ha-ha, terserah kalau tidak percaya. Ah aku melupakan sesuatu" ucap Mike


SLASHHHH!!!!


"Aaaarrrggghhhh sakiiiitttttt, siaaaaalaaann!!!" teriak Yongki merasakan sakit saat jadi yang memakai cincin itu terpotong.


"Cukup bagus!" ucap Mike mengambil cincin itu dari potongan jari Yongki.


Ia memang di perintahkan Dara untuk mengambil cincin yang di kenakan Yongki, di mana cincin itu bisa menyamarkan kultivasi seseorang.


"Kem-balikan cin-cin itu.." ucap Yongki menggertakkan giginya.


Ia menatap cincin berharga miliknya, ia susah payah mendapatkan cincin itu. Selain karena kegunaannya, cincin itu juga merupakan benda termahal yang ia miliki. Ia membeli cincin itu sebesar 8,9 juta Poundsterling. Atau kurang lebih 169 milyar Rupiah.


"Sebaiknya kamu khawatirkan nasibmu lebih dulu tuan Yongki" ucap Mike.


"Bawa dia!" ucap Mike lagi


"Baik!" ucap keduanya kompak.


...••••••...