The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
112. Villa di puncak Kota M



Di sebuah Villa paling megah yang ada di puncak Kota M.


Tiga mobil MPV terlihat masuk ke halaman Villa mewah dengan pemandangan pergunungan yang sangat cantik dan asri itu. Udara yang begitu segar di sana membuat semua orang betah untuk tinggal.


Lebih dari 10 orang keluar dari ketiga mobil itu, mereka adalah keluarga Adi Raharjo yang akan menikmati malam pergantian tahun di villa pribadi mereka.


Villa itu sangat besar, memiliki kamar lebih dari 10 dan terdapat paviliun di sekitar Villa Utama, ada sekitar lima paviliun yang cukup besar.


Halaman di samping dan belakang Villa sangat luas, dan di halaman samping pula sudah di siapkan untuk acara barbeque nanti malam menunggu pergantian tahun.


Halaman samping Villa menghadap langsung ke jalan yang sebentar lagi akan di penuhi banyak orang yang akan melihat Festival tahun baru.


"Waaahhh pemandangan Villa nya indah banget" ucap Ryan


"Benar, udaranya juga segar. Sama sekali seperti di pondokan!" sahut Dimas.


Mendengar kata pondokan tentu saja Gusti dan Adnan tahu apa itu pondokan. mereka berdua merasa sakit di hatinya saat mendengar itu.


Bagaimana pun Nayla dan kedua anaknya tinggal di sana selama belasan tahun dalam keadaan kekurangan. Gusti dan. Adnan merasa gagal melindungi anak dan adik mereka itu dengan baik sampai akhirnya Nayla meninggal karena penyakit yang ia derita selama bertahun-tahun.


"Apa kamu merindukan pondokan nak?" tanya Gusti pada cucu laki-lakinya itu.


"Hmm, tapi aku lebih suka di sini karena ada kalian dan juga kakak. Kalau di pondokan sepi, kemana-mana jauh" ucap Dimas tersenyum hangat.


"Kakek juga senang kamu dan Dara ada di sini, jangan sungkan meminta apapun pada kakek hmm. Kakek akan mengabulkan semua yang kamu inginkan" ucap Gusti.


"Makasih kek, tapi Dimas tidak menginginkan apa-apa. Untuk semua yang di inginkan Dimas, Kak Dara sudah memberikan semuanya. Dengan adanya keluarga di sini Dimas sudah lebih dari sekedar bahagia" ucap Dimas tersenyum manis.


"Cucu kakek sudah besar dan dewasa, kakek sangat menyayangimu" ucap Gusti memeluk dan mencium kening Dimas.


"Kamu berdua juga, jangan sungkan meminta jika ada yang kalian inginkan. Kalian semua cucu kakek, kakek juga menyayangi kalian" ucap Gusti pada Alan dan Ryan.


"Terimakasih Kek, kami sudah lebih dari bahagia di anggap bagian keluarga kakek. Kami tidak menginginkan apa-apa lagi" ucap Alan tersenyum tulus.


"Aku juga, aku senang punya kakek dan yang lainnya. Aku menyayangi kalian semua" sahut Ryan.


"Cucu-cucuku, kakek yang paling merasa bahagia di sini karena memiliki kalian semua" ucap Gusti memeluk ketiganya.


Adnan yang menyaksikan dari samping hanya terdiam dan tersenyum haru.


"Kenapa jadi acara pelukan Teletubbies? Ayo kemari, mama tunjukan kamar kalian" ucap Ellena


"He-he, siap mah, ayo lihat kamar!!" ucap Dimas dan Ryan kompak dan sangat antusias.


"Di sini ada 15 kamar, Kita cuma butuh 11 kamar, masih ada 4 kamar lagi buat keluarga Rose dan satu tamu lain. Nanti Pak Wira dan yang lain tinggal di paviliun" ucap Ellena.


"Siap!" ucap yang lain kompak


"Dara mana ya, kok belum datang?" Revan cemberut memandangi pintu gerbang.


"Dara lagi jemput temannya dulu di bandara, mungkin sebentar lagi juga sampe" sahut Ellena. yang di balas dengan helaan nafas Revan.


....


Dua mobil datang masuk ke halaman Villa, Ellena langsung menyambut kedatangan Rose dan keluarganya termasuk Arvin yang ikut datang.


Begitu turun dari mobil, Arvin celingukan mencari keberadaan Dara yang belum ia lihat. Jantungnya berdetak dengan kencang saat menanti pertemuannya dengan Dara untuk yang ketiga kalinya.


Karena dengan adanya Bara, ia menjadi sangat yakin bahkan 100 persen Yakin. Jika Dara yang di maksud itu adalah Dara-nya yang membuat dunia seorang Arvin berubah penuh cinta.


"Eh, tuan Arvin!" ucap Bara


"Hallo tuan Bara, Tante Ellena" sapa Arvin dengan sopan.


"Kamu Arvin kan? Kamu sudah tumbuh tinggi dan tampan. Kita sudah tidak bertemu berapa lama ya? Ah, 3 atau 4 tahun! Tapi ngomong-ngomong kalian saling kenal?" tanya Ellena menatap Bara dan Arvin bergantian.


"Kita pernah ketemu sekali di restoran tan" sahut Arvin.


"Iya mah, waktu itu Dara nggak sengaja nabrak Arvin saat jalan, kebetulan Bara juga di sana. Bara nggak nyangka kalau Arvin anak Tante Rose" ucap Bara.


"Ya bagaimana kamu tahu, orang di suruh ikut ke acara Perusahaan aja kamu ogah-ogahan. Terus juga Arvin tidak pernah main ke rumah, ya nggak bakalan ketemu kalian" ucap Ellena.


"Males aku tuh ikut acara begitu an mah, mendingan main game, ketemu temen nongkrong" ucap Bara


"Kamu itu sudah dewasa, belajar ikut urus Perusahaan Bata. Masa kalah sama adik kamu, lihat Dara dia sudah mandiri dan jadi wanita karir sukses di umurnya yang masih muda, bahkan lebih muda dari kamu" ucap Ellena


"Dara itu makhluk Tuhan paling se*si dan sempurna mah. Bahkan laki-laki pun tidak bisa di bandingkan dengan satu keterampilan saja yang Dara punya. Dia sangat luar biasa dan tidak terjangkau oleh akal manusia" ucap Bara


"Benar sih, makanya mama sangat bangga punya Dara sebagai putri kesayangan mama" ucap Ellena terkekeh.


Mendengar nama Dara jantung Arvin berdetak kencang. Ia tidak sabar ingin bertemu dengan Dara, namun ia belum melihat kehadiran Dara di sana.


"Ayo Arvin, Tante kenalin sama anak-anak Tante yang lain" ucap Ellena yang di angguki oleh Arvin.


Ellena pun memperkenalkan putranya satu persatu, ia juga memperkenalkan Arvin yang tak lain adalah putra sulung dari Rose dan sekarang menjadi CEO di perusahaan milik keluarganya itu.


Saat Ellena menjelaskan jika ada satu lagi anaknya yang perempuan, dan masih di jalan. Arvin semakin tidak sabar untuk segera melihat gadis cantik itu.


....


Kai memacu motornya menuju villa Keluarga Adi Raharjo, macet di sepanjang jalan yang sudah sore itu. Karena berbagai orang dari kota lain berkumpul jadi satu untuk menyaksikan Festival tahun baru. Jadi semua jalan penuh dengan kendaraan.


Jadi yang harusnya 2 jam sampai, ini sudah 4 jam lebih Kai menyusuri jalan yang padat merayap itu.


Hingga satu jam kemudian saat hari benar-benar gelap, keduanya sampai di Villa Keluarga Adi Raharjo.


Bruuummm.....


Suara motor yang terparkir di halaman depan Villa, membuat orang-orang yang tengah berkumpul di dalam villa menoleh ke arah pintu.


"Bagaimana penampilanku? Apa aku sudah rapih?" tanya Kai yang sedikit gugup


"Hmm, kamu selalu terlihat tampan" ucap Dara jujur membuat rona merah terlihat di pipi Kai.


"Ayo masuk!" ucap Dara mengandeng tangan Kai yang terasa cukup dingin karena gugup.


Dara kemudian masuk ke villa sambil menggandeng tangan Kai yang juga menggenggam tangan kekasihnya itu. Dia gugup karena akan bertemu dengan keluarga kekasihnya itu.


Arvin sangat antusias melihat ke arah pintu demi melihat gadis pujaannya. Begitu pun dengan Revan dan Jefrey yang bersiap menyambut kedatangan Dara.


Namun saat melihat Dara masuk bergandengan seorang laki-laki yang sangat tampan, membuat ketiganya menegang kaku dan menatap tidak suka ke arah Kai.


...•••••••...