The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
157. Mencari hadiah ulang tahun.



Setelah kepergian Arvin dan Flo, Dara merebahkan dirinya di kursi kebesarannya. Ia masih berharap jika Arvin mengerti ucapannya dan menyerah dengan cintanya itu.


ia tidak ingin Kai merasa cemburu, ia juga tidak ingin Arvin menderita karena mengharapkan cinta darinya, yang tidak akan pernah bisa di gapai.


Apalagi Dara tidak ingin membuat persahabatan keluarga Adi Raharjo dan Ephraim jadi berantakan hanya karena urusan cinta.


Ceklek!


Saat melamun, pintu ruangan kerja Dara di buka dari luar.


"Nona" ucap Flo yang masuk dan menghampiri nonanya itu.


"Apa dia sudah pulang?" tanya Dara


"Sudah. Apa nona tidak apa-apa? Apa ada yang terluka" tanya Flo yang khawatir.


"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir" ucap Dara, membuat Flo menghela nafas lega.


"Nona, apa sekarang kita jadi berangkat ke butik dan Holly Mall?" tanya Flo.


"Hmm, aku akan ganti pakaian dulu. Tolong kamu panaskan dulu mobilku! Kita akan berangkat lima belas menit lagi" ucap Dara yang beranjak dari duduknya.


"Baik nona" ucap Flo, yang juga ikut keluar dari ruangan kerja dan berjalan ke arah garasi mobil untuk memanaskan mobil nonanya itu.


Hari ini awalnya Dara berencana ke Mall, namun tertunda karena kedatangan Arvin. Dara akan membeli hadiah ulang tahun untuk Kai yang ke 26 tahun besok. Tepat dimana Kai dan keluarga nya akan ke kota S untuk melamarnya.


Dara juga akan membeli gaun untuk acara nanti malam, acara ulang tahun salah satu stasiun Televisi di negaranya.


Ia sudah memutuskan untuk datang ke sana dan tampil di depan publik, setidaknya ia akan menjalin koneksi bisnis untuk kemajuan dan melebarkan sayap kerajaan bisnis miliknya.


....


Flo sudah siap untuk mengantar Dara ke mall, mereka berdua kemudian pergi dari Star Mansion.


Hari ini Dara dan Kai tidak bertemu karena mereka akan bertemu besok di bandara, karena Dara akan ikut ke kota S bersama dengan Dimas dan Ryan karena besok adalah hari Minggu.


Sedangkan Alan tidak bisa ikut karena besok ia harus kembali ke akademi. Flo juga tidak ikut karena harus melatih Ferdi.


"Nona silahkan!" ucap Flo saat Dara keluar dari dalam mobil ketika sudah sampai di area parkir Holly Mall.


"Terimakasih Flo" ucap Dara tersenyum tulus


"Sudah tugas saya nona" jawab Flo


"Kita akan kemana nona?" tanya Flo


"Kita ke toko Rolex" ucap Dara


Keduanya kemudian berjalan beriringan, karena Dara yang menginginkan itu. Dara tidak nyaman jika Flo berjalan di belakangnya.


Aura keduanya membuat semua orang memandang ke arah mereka. Terlebih mereka menatap penuh dengan rasa kagum ke arah Flo yang sangat cantik. Sedangkan Dara yang menggunakan Masker tidak terlalu mencolok meskipun banyak orang yakin jika Dara juga sama cantiknya dengan Flo.


Dara dan Flo kemudian masuk ke sebuah toko jam tangan Mewah itu. Baru juga Dara masuk, ia melihat sebuah Standing Banner. Di sana ada iklan sebuah produk Rolex yang termewah Rolex dan juga edisi terbatas.


Pramuniaga yang melihat Dara dan Flo masuk, menyambut mereka dengan hangat. Sebagai pramuniaga barang mewah kelas atas, tentu mereka sangat paham dengan pakaian yang di kenakan keduanya yang merupakan pakaian yang bernilai fantastis.


"Apa barang yang di standing banner itu masih ada?" tanya Dara


"Masih ada nona, kebetulan barang itu baru datang hari ini dan belum terjual. Barang itu tidak setiap hari di toko kami, dan selalu berpindah tempat karena merupakan jam tangan satu-satunya di negara kita dan juga salah satu dari 3 buah yang keluar di edisi kali ini" ucap Pramuniaga dengan sopan.


"Bisa kah aku melihatnya?" tanya Dara


"Tentu, tapi izinkan saya memanggil manager untuk itu. Karena itu produk terbaik kami dan satu-satunya di negara kita. Jadi harus ada akses dan izin dari manager untuk mengeluarkan nya" ucap pramuniaga


"Tentu, tolong panggil managernya!" ucap Dara sopan.


Dara dan Flo kembali melihat-lihat jam tangan yang lain.


"Dara" panggil salah seorang yang ada di sana


Dara yang merasa terpanggil menoleh dan ia mendapati Daffa di sana dengan seorang wanita yang lebih tua. Itu adalah kakak perempuannya dan ia kemari karena mengantar kakaknya membeli jam tangan untuk hadiah calon suaminya yang juga akan berulang tahun Minggu depan.


Daffa juga akan di belikan jam tangan oleh kakaknya itu. Jadi dia sangat antusias mengantar sang kakak.


"Ternyata itu beneran kamu" ucap Daffa dengan wajah berbinar. Sudah hampir tiga Minggu ia tidak melihat Dara di kampus, ia sangat merindukan gadis itu. Terlebih pesan dia tidak pernah di balas oleh Dara, kecuali pesan yang penting dan berkaitan dengan kampus.


"Ya" ucap Dara singkat


"Kamu kenal dek?" tanya kakak perempuan Daffa.


"Ini teman sekelas Daffa kak, namanya Dara" ucap Daffa dengan wajah memerah.


Kakak Daffa melihat Dara sedikit intens sebentar lalu tersenyum sambil berkenalan. Tentu sebagai seorang sosialita, kakak Daffa yang bernama Dairy paham jika Dara adalah kalangan atas juga dari pakaiannya.


Ia juga tahu jika adiknya menyimpan rasa pada seorang gadis di kampusnya yang bernama Dara. Dan sekarang ia melihat dan menilai gadis yang di incar adiknya itu. Dairy tidak masalah dengan pilihan adiknya itu.


Setelah mereka berkenalan, Daffa tidak nisa mengobrol lama karena harus mengantar kakaknya. Jadi mau tak mau dia harus berpisah dari Dara, lagi pula dalam dua hari kedepan mereka akan bertemu lagi di kampus.


Dara juga kembali menghampiri seorang pramuniaga yang melayaninya tadi dan kini sudah membawa seorang pria paruh baya yang merupakan blasteran western.


"Pak Austin, ini nona yang ingin melihat jam tangan itu" ucap Pramuniaga itu menunjuk pada Dara..


"Hallo nona, salam kenal saya Austin Fernandez" ucap Austin dengan sopan dan menggunakan bahasa dengan lancar.


Sebagai seorang manager ia bersikap sopan dengan semua pelanggannya. Meskipun pelanggan itu jadi atau tidaknya membeli barang dagangan mereka.


"Hallo Tuan Fernandez, Nama saya saya Addara. Boleh saya melihat jam tangan itu?" tanya Dara


"Tentu, saya sudah membawanya, silahkan lihat nona Addara. Ini adalah jam tangan edisi terbatas tahun ini, semua bahan di jam tangan ini di lapisi emas putih murni dan juga berlian. Bla.....Bla...." Austin menjelaskan itu dengan rinci mengenai spesifikasi jam tangan itu dengan sangat hati-hati saat memegangnya, karena jika rusak, ia tidak akan sanggup menggantinya.


Jam tangan itu di bandol dengan 17 juta USD atau 250 milyar. Namun harga segitu tidak ada apa-apa nya bagi Dara.


"Aku akan mengambilnya, bisa kah di bungkus dengan rapih? Ini kartuku" ucap Dara langsung tertarik dengan jam tangan itu. Ia berharap Kai akan menyukai hadiah darinya.


"Hah?" Austin dan Pramuniaga itu terkejut tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


Ini 250 milyar loh, bukan 250 juta apalagi 250 ribu. Tapi gadis di depannya tanpa berkedip mengatakan ingin membelinya, Ini Gila!!!


"Kenapa? Apakah saya tidak bisa membelinya?" tanya Dara lagi


"Ah ten-tentu bisa nona. Tolong tunggu sebentar. Bunga, gesek kartunya!" ucap Austin tapi saat melihat kartu hitam milik Dara, ia berubah pikiran.


"Tidak! Biarkan aku saja yang menggesek nya" ucap Austin.


Ia dengan tangan gemetar menggesek kartu hitam itu, Dara yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya.


Itu hanya sebuah kartu hitam, tidak perlu sampai sebegitu nya bukan? begitu pikir Dara. Kalau orang lain mendengarnya mungkin mereka akan pingsan. Karena bagaimanapun kartu itu mewakili status seseorang dan tidak semua pengusaha bisa memilikinya.


Ting!


pembayaran berhasil, Austin dengan sangat sopan memberikan jam tangan yang sudah di bungkus rapih dan juga kartu hitam itu. Bahkan Austin memberikan hadiah ekstra jam tangan yang bernilai 500 juga sebagai bonusnya.


"Flo, ini buat kamu saja" ucap Dara dengan mudah memberikan hadiah jam tangan itu pada Flo yang terkejut namun ia tetap menerimanya dan berterima kasih dengan tulus.


Ia tidak bisa menolak, karena akan percuma. Ia tidak akan bisa melawan ucapan Dara justru ia sangat berterima kasih pada nonanya yang masih memikirkan dirinya. Dan Jam tangan itu ia anggap harta Karun paling berharga yang harus ia jaga seumur hidupnya.


Austin dan Pramuniaga yang lain melihat itu hanya bisa terkejut dan sangat iri dengan Flo. Mereka juga tidak akan menolak jika di berikan jam tangan mahal itu dengan cuma-cuma.


...••••••...