
Keesokan harinya, Bara meminta Dara untuk menemaninya bertemu rekan nya. Tapi karena Dara menolak karena dia kuliah, Bara akhirnya berangkat sendiri dengan Lamborghini Veneno milk Dara.
Di Kampus, Dara terkejut saat Motornya sudah kembali seperti sedia kala sebelum di preteli. Karena saat ini Dara membawa mobil, ia mengatakan pada pengantar motor itu untuk membawanya ke Star mansion.
Dara kemudian memberikan sedikit uang tambahan untuk mereka. Tentunya mereka dengan senang hari menerimanya, dan mengirim motor itu kembali ke star Mansion.
"Ra, kamu sudah datang. Apa kamu sudah makan?" tanya Daffa saat ia melihat Dara datang dan duduk di bangkunya.
"Sudah" ucap Dara singkat.
Daffa menghela nafas, dia pikir Dara belum sarapan. Padahal ia sudah menyiapkan Sandwich untuknya.
Tak lama dosen pun datang, itu bukan Sugeng tapi dosen lainnya. Dara menyimak pelajaran itu dengan sungguh-sungguh. Sedangkan Daffa sesekali melirik ke arah Dara
Ia sangat penasaran bagaimana kalau Dara membuka maskernya, ia yakin Dara itu cantik tidak seperti gosip yang beredar.
Setelah selesai kelas Dara langsung pergi menuju perpustakaan di pusat ibukota. ia ingin cepat bisa memahami semua pelajaran kedokteran di kampusnya. Jadi Dara datang untuk membaca semua buku mengenai ilmu kedokteran modern yang ada di sana.
Bagaimana pun ia memiliki memory fotografis yang akan membantunya mengingat apa yang sudah ia baca sebelumnya.
....
Samuel yang baru menyelesaikan kelas
nya, ia mencari keberadaan Dara. Namun sayangnya ia tidak menemukan Dara di sana.
Ia bertanya ke teman sekelas Dara dan tahu jika Dara sudah pulang sejak kelas selesai tadi.
Ia menghela nafas saat tahu hal itu, matanya tidak sengaja bertemu tatap dengan Daffa yang masih duduk di bangkunya. Tatapan mata Daffa tidak suka melihat laki-laki lain yang mendekati Dara. Apalagi ia tahu keluarga Samuel lebih kaya dari keluarganya.
"Dara memiliki banyak sekali penggemar pria, aku harus secepatnya menyatakan perasaan ku. Aku tidak ingin keduluan orang lain" ucap Samuel dalam hati.
"Aku harus bisa membuat Dara menjadi milik ku, aku tidak ingin keduluan orang lain" pikir Daffa.
Sedangkan yang sedang di pikirkan keduanya tengah asik membaca buku. Bahkan sudah banyak buku yang ia baca hari ini. Selebihnya ia membeli buku di toko buku yang tidak jauh dari sana dan membawa buku-bukunya pulang.
Saat ia akan beranjak pulang, Theo menghubunginya. Jadi ia memutuskan untuk bertemu dengan Theo di sebuah restoran di dekat perpustakaan. Dara segera memesan sebuah ruangan pribadi di sana setelah keluar dari toko buku.
"Bos" sapa Theo saat ia sudah sampai di restoran.
"Hmm, pesan dulu makanan. Santai saja" ucap Dara
Theo langsung memesan makanan itu. Setelahnya ia kembali Fokus untuk membicarakan hal penting bersama bos-nya itu.
"Apa yang ingin kamu bicarakan Theo?" tanya Dara.
"Ini mengenai tugas yang anda berikan nona. Saya sudah melacak dan mememukan orang yang anda cari" ucap Theo
"Oh, ada di mana dia?" tanya Dara
"Di bagian Utara ibukota, hanya sekitar 30 menit dari tempat kita, nona" ucap Theo.
"Oh..." ucap Dara
"Tapi nona, sepertinya bukan hanya kita saja yang mencari keberadaannya. Tapi juga keluarga anda yakni Tuan Adnan juga sedang mencari keberadaannya" ucap Theo
"Hmm, sepertinya papa serius dengan ucapannya kalau ia kan memberikan pelajaran untuk orang itu. Aku ingin lihat, pelajaran apa yang akan di berikan papa" ucap Dara
Theo yang melihat senyum bos-nya itu, karena dara tidak memakai maskernya karena tengah minum teh di di depannya. Entah mengapa melihat senyum itu Theo merasa merinding di buatnya. Theo sudah menebak siapa identitas orang yang ia cari, jadi ia memaklumi apa yang Dara rasakan.
....
Dimas, Ryan dan Ezio yang berada di kantin sekolah membuat kehebohan para siswi saat melihat mereka berada di kantin. Itu tidak mengherankan, itu terjadi semenjak ketiganya menjadi Prince di Teranish School, hal itu sudah sering kali terjadi.
"Bukannya nggak mau ngajak, tapi kami ke sana bersama kak Dara dan Kak Bara" ucap Ryan.
"Siapa kak Bara?" tanya Ezio baru kali ini mendengar namanya.
"Kakak laki-laki ku" jawab Dimas.
"Kamu punya kakak laki-laki?" tanya Ezio terkejut.
Setelah berteman lama, Ezio sudah tahu jika Ryan bukan saudara sedarah Dimas. Meskipun begitu ketiganya tetap bersahabat, Ezio bukan tipe pemuda yang melihat seseorang dari segi hartanya semata. Justru persahabatan mereka semakin erat karena sudah tahu kehidupan masing-masing.
"Ya, aku punya dua kakak laki-laki yang ada di kota S" jawab Dimas.
"Waw, jadi mereka ada di ibukota sekarang?" tanya Ezio.
"Tidak, hanya kak Bara saja. Kata kak Bara Kak Revan masih di luar negeri dan akan pulang ke kota S bulan depan. Jadi kami belum bertemu" ucap Dimas.
Mereka kemudian mengobrol sambil menikmati makan mereka di kantin sampai waktu masuk pun berbunyi.
Karena sore nanti Dimas dan Ryan ada janji dengan Dara dan Bara untuk pergi ke pasar malam. Jadi Ezio tidak mampir ke star Mansion setelah mereka pulang sekolah.
Dimas dan Ryan langsung pergi ke tempat les bahasa sebelum pulang. Sedangkan untuk les musik hari ini tidak ada jadwal.
"Master..." sapa Dimas dan Ryan saat mereka melihat Aiden sudah datang di mansion.
"Kalian baru pulang, saya akan tunggu di bawah kalau begitu" ucapnya.
"Baik" ucap Keduanya kompak.
....
Bara pulang ke mansion dan melihat suasana di sana sangat sepi, ia mencari di mana semua orang, namun tidak melihat adanya Dimas, Ryan atau Dara.
"Pak Agam, yang lain kemana? Kok sepi?" tanya Bara saat melihat Agam.
"Tuan muda dan Ryan ada di lantai dasar, mereka sedang latihan Taekwondo. Kalau nona, belum pulang tuan muda" ucap Agam sopan.
"Taekwondo?" ucap Bara terkejut.
Kemarin saat ia datang memang tidak ada jadwal latihan, jadi Bara tidak tahu kalau adiknya rutin berlatih Taekwondo.
Ia jadi teringat kejadian di airport, bagaimana adik perempuannya dengan luar biasa mengalahkan seoarang penjahat sendirian dengan keren.
"Apa Dara juga suka latihan taekwondo, Pak?" tanya Bara penasaran.
"Nona tidak berlatih taekwondo, tapi nona sering berlatih tanding dengan White" ucap Agam
"White? Maksudnya si Zebra itu?" ucap Bara terkejut.
"Zebra?" beo Agam bingung
"Ah, maksudku si harimau hitam putih itu" ucap Bara, Agam hanya terkekeh mendengar ucapan tuan mudanya yang menurutnya lucu itu.
"Iya tuan muda" jawab Agam
"Astaga, apa yang di pikirkam Dara sih? Aku juga lupa menanyakan pada adikku itu, kenapa dia bisa melihara binatang buas di mansion. Apalagi latih tanding, bertarung dengan si Zebra itu? Astaga bukannya itu sangat berbahaya" gerutu Bara.
Agam hanya terdiam dan tersenyum saja mendengar dan melihat Bara tengah mengoceh tentang si Zebra.
...••••••...