The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
248. Menangkap Target 1 - Drama romantis.



Di negara R, saat malam hari.


Kai dan tim Falcon menyelusup ke kandang musuh. Target pertamanya adalah Loddy, salah satu pejabat tinggi senator di negara R. Meskipun Loddy salah satu pejabat, tapi sungguh mereka ceroboh sekali.


Karena di kediamannya tidak memiliki pengamanan yang ketat seperti pejabat yang lain, hingga dengan mudah Kai menyusup ke sana.


Hanya Kai yang masuk ke mansion besar itu sendirian, sisanya berjaga di luar dan bersikap siaga. Kai hanya membawa tiga anggota dengannya, anggota yang lain masih berada di pangkalan militer pulau N.


Kai juga sudah meminta Theo meretas CCTV di kediaman Loddy. Jadi Kai dengan leluasa masuk ke kamar Loddy dengan mulus. Ia mendapati Loddy tengah tidur nyenyak tanpa tahu bahaya tengah menghampirinya.


"Target pertama sangat mudah" ucap Kai pelan.


Kai langsung menyentuh tangan Loddy dan memasukannya ke cincin ruang miliknya, tanpa membuatnya terbangun lebih dulu. Hal itu lebih memudahkan dirinya untuk membawa Loddy, tanpa harus susah payah agar tidak menimbulkan resiko saat di bandara.


Setelahnya Kai mencari bukti lain di kamar Loddy, ia terus mencari dengan santai dan tidak terburu-buru. Benar saja, Kai memperoleh bukti kejahatan Loddy di sana. Bahkan Kai menggelengkan kepalanya saat melihat semua bukti itu.


Ia pun segera menyelinap keluar dengan aman dan tanpa luka.


"Aku sudah mendapatkannya, kita ke tempat target selanjutnya" ucap Kai saat sampai di mobil yang di kendarai Marco.


"Baik" sahut yang lain, Marco pun mulai menjalankan mobilnya.


"Komandan, kenapa anda hanya kembali seorang diri? Kenapa target tidak di bawa sesuai rencana?" tanya Rafael.


"Aku sudah mengirim Loddy kepada seseorang dan membawanya ke markas Falcon di ibukota. Jangan khawatir semuanya aman tanpa meninggalkan bukti sedikit pun dan Loddy akan sampai di ibukota tanpa halangan. Sekarang kita harus bergerak cepat dan menangkap semua orang yang terlibat dengan masalah ini" ucap Kai


"Di mengerti..." ucap Rafael.


Ia percaya seratus persen dengan Kai, selain Kai adalah komandan dan juga sahabatnya. Kai yang Rafael kenal adalah orang yang sangat totalitas dan pekerjaan dan perfeksionis.


Jadi sudah pasti semua hal yang di kerjakan Kai tidak ada kesalahan sedikitpun, karena Kai pantang pulang sebelum semuanya di selesaikan sampai ke akarnya.


Sebelum berangkat, Kai sudah memberitahu Tim Falcon garis besar masalah yang terjadi saat ini. Respon semuanya sangat beragam, dari marah, jengkel, sedih, sakit hati dan lain-lain saat mendengar yang di ceritakan Kai tentang tiga benda yang mereka temukan.


Bagaimana mungkin ada manusia yang menggunakan manusia lainnya untuk kepentingan mereka? Orang-orang jahat itu adalah iblis yang sesungguhnya. Begitu pikir semua anggota tim Falcon.


...


Keesokan harinya di ibukota, Flo bersiap untuk berangkat bekerja. Saat turun ia melihat Lingga sudah siap dengan pakaian rapihnya yang terlihat sangat tampan dan menawan.


Semenjak Ia menerima Lingga untuk menjadi kekasihnya, Lingga semakin gencar mendekatinya dan memberikan cinta yang tulus dan begitu besar padanya.


Entah mengapa hati Flo yang dulu kering kerontang tak ada air, kini berubah menjadi sebuah taman surgawi yang indah. Karena Lingga terus memupuknya dan memberikan kebahagian pada hidupnya, meskipun hubungan keduanya baru berjalan dua hari.


Tapi yang baru di sadari Flo, bahwa ia tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Bahkan saat masa-masa dulu ia bersama Zayn.


Ternyata jatuh cinta tidak seburuk yang ia pikirkan, begitu kira-kira yang di rasakan Flo. Ia menyesal, menyesal karena tidak sejak dulu membuka hatinya untuk Lingga.


"Pagi baby...." sapa Lingga dengan senyum manis mengembang di wajahnya.


"Pagi Ega..." balas Flo yang berjalan ke arahnya.


Ega adalah panggilan khusus dari Flo untuk Lingga. Awalnya Flo bingung saat Lingga ingin Flo memanggilnya dengan panggilan lain. Flo juga menolak memanggil Lingga dengan sebutan Honey, Bunny, atau pun sebutan yang di anggap Flo terdengar menggelikan.


Jadi ia putuskan untuk memanggil Lingga dengan sebutan Ega. Lingga juga tidak menolak, justru menyukai panggilan itu. Sedangkan Flo tidak mempermasalahkan panggilan Lingga untuk dirinya.


Sontak membuat Flo mengulum senyum mendengarnya, dan ada suara cekikikan dari belakang Flo. Keduanya pun menoleh, mereka melihat Ryan dan Dimas tertawa.


"Kamu dengarkan jantungku berdetak kencang? Jika ia bisa bicara ia pasti mengatakan Aku cinta kamu Puspa" ucap Dimas mendramatisir sambil menarik turunkan dadanya seolah jantungnya sedang berdetak kencang.


"Wooowww, biarkan Aku mendengarnya" ucap Ryan menempelkan telinganya ke dada Dimas.


"Sepertinya jantungmu juga berdetak kencang" ucap Dimas lagi.


"Benarkah? Coba dengarkan sini" ucap Ryan


Dimas pun langsung mengarahkan telinganya ke dada Ryan.


"Apa yang kau dengar sesuatu?" tanya Ryan


"Jantungmu mengatakan, Aku juga mencintaimu Lingga sayang, cintaku" ucap Dimas.


BLUSH!!!


Pipi Flo bersemu merah saat kedua tuan mudanya menggodanya secara langsung di depannya. Ia menutup wajahnya membuat Lingga menarik Flo ke dalam pelukannya, ia tahu jika kekasihnya itu sedang malu.


"Hais, kalian anak kecil. Jangan nakal ya" ucap Lingga


"Kami nggak nakal, hanya saja kami meniru kak Lingga yang nakal menggoda Kak Flo, Cieeeeeee...." ucap Dimas.


"Kalian ini..." ucap Lingga mengeratkan pelukannya pada Flo yang sepertinya malu mengangkat wajahnya.


"Kak, kami masih di bawah umur loh. Bagaimana kalau kak Dara tahu" ucap Ryan


Sontak membuat Flo melepaskan pelukannya dan menatap takut ke arah kedua tuan mudanya itu.


"Tuan muda, maafkan saya...." ucap Flo


"Tidak apa-apa kak Flo, kami mengerti. Meskipun kami masih anak-anak, kami mengerti kok. Tenang aja, kami tidak melaporkan pada Kak Dara. Kami hanya bercanda saja tadi, Ya nggak Yan?" ucap Dimas


"Benar Kak, kami cuma iseng kok he-he, tapi lain kali jangan bermesraan di depan anak kecil. Mata dan telinga kami bisa ternodai oleh ke uwuan kalian" ucap Ryan.


"Kita juga ikut seneng kok kak Flo punya pacar. Dan buat kak Lingga, jangan sampe nyakitin Kak Flo kami, kalau sampai itu terjadi. Kami nggak akan lepasin kak Lingga, kami nggak takut kakak itu sepupu Kak Kaisar. Kalau perlu kita buat kak Kaisar ikut menghajar kak Lingga kalau kakak berani menyakiti kak Flo" ucap Dimas serius


"Betul itu!" sahut Ryan menyetujui ucapan Dimas


Mendengar ucapan Dimas dan Ryan, Flo tidak bisa tidak tersentuh. Ia sangat bersyukur bisa kenal dengan Dara, Dimas, Ryan dan yang lainnya. Karena di sini Flo merasa sangat di hargai dan di cintai.


"Tenang, kak Flo kalian akan Kakak jaga dengan nyawa kakak. Udah sana kalian berangkat sekolah, kenapa malah nonton kita di sini, ganggu aja kita sedang uwu-uwuan. Awwwwss, baby sakit..." ucap Lingga menahan sakit saat pinggangnya di cubit Flo.


"Bicaranya yang sopan Ega. Mereka masih anak-anak" ucap Flo menatap kekasihnya itu.


"Iya sayang maaf, kan becanda doang tadi" ucap Lingga


Dimas dan Ryan terkekeh geli melihat Lingga yang tunduk pada Flo. Mereka sudah menebak jika Lingga pasti tidak akan jauh beda dengan Kai. Pasti dua pria tampan itu sebelas dua belas, sama-sama bucin pada kekasihnya.


Setelahnya Dimas dan Ryan pun berangkat sekolah di antar oleh Sandi.


...•••••••...