
Saat ini Dara tengah berkeliling kampus dengan seseorang yang di minta Sugeng untuk menemaninya berkeliling kampus. Dia adalah Cindy seorang ketua kelas, di kelas yang sama dengan Dara.
Keduanya berkeliling, Dara melihat Mahasiswa yang baru masuk tengah mengikuti kegiatan Ospek di lapangan dan masih menggunakan pakaian sekolah menengah mereka.
"Ini kelas kita" ucap Cindy, wanita yang mengajaknya berkeliling kampus menunjukan ruang kelas yang sangat luas.
Semua orang yang ada di sana menoleh ke arah pintu, beberapa di antaranya terkejut saat mengenali Dara yang menjadi pusat perhatian saat di parkiran dengan mogenya.
Cindy memperkenalkan Dara pada teman sekelas nya, jika ia adalah mahasiswi pindahan. Semuanya menyapa Dara dengan sopan, Dara menjawabnya dengan sopan pula.
Dara memutuskan untuk duduk di bangku paling pojok belakang dekat jendela, semua anak-anak di sana membelakkan matanya saat Dara memilih bangku itu.
Pasalnya di samping tempat duduk Dara adalah tempat pangeran kampus yang terkenal sangat dingin, dan tidak ada orang yang di izinkan duduk di sana olehnya.
"Ra, lebih baik cari tempat duduk yang lain" ucap Cindy dengan khawatir
"Kenapa?" tanya Dara bingung
"Yang duduk di samping kamu namanya Daffa, dia salah satu di antara empat prince di kampus kita. Tidak ada seorang pun yang ia izinkan duduk di sampingnya" ucap Cindy
"Apa dia pemilik kampus?" tanya Dara, Cindy menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu Dia tidak memiliki hak untuk melarang orang lain duduk di sini" ucap Dara lagi dengan santai.
Semua orang menghela nafas mendengar jawaban Dara, mereka hanya berdoa Dara tidak akan terkena amukan Daffa. Saat Daffa tahu ada orang yang berani duduk di sana.
.....
Sudah beberapa hari Dara datang ke kampus untuk mengikuti kelas, selama itu pula ia tidak bertemu dengan Daffa yang di gadang-gadang sebagai salah satu dari empat prince kampus yang terkenal dingin tak tersentuh itu.
Selama beberapa hari pula semua orang di kampus tidak pernah melihat wajah Dara. Dara selalu memakai maskernya di manapun kapanpun.
Bahkan Dara tidak pernah terlihat makan di kantin, semua orang mengira Dara sok misterius karena tidak ingin orang lain melihat wajahnya.
Malah ada gosip yang beredar kalau Dara tidak secantik yang orang gembar-gembor kan. Ada yang mengatakan juga kalau Dara memiliki gigi tonggos jadi malu melepas maskernya.
Hanya para dosen yang tahu bagaimana wajah asli Dara yang sebenarnya. Tapi mereka tetap memilih diam dan tidak meminta Dara menunjukan pada semua orang.
Dara mendengar itu? Tentu saja, ia punya telinga yang tajam, jadi ia mendengar semuanya meskipun hanya berbisik. Tapi dia tidak ambil pusing, karena ia pikir akan lebih pusing saat semua orang tahu wajahnya.
Dara masuk kelas siang, karena hanya ada jadwal kelas siang saja hari ini. Dara melihat ada seorang laki-laki yang duduk di samping tempat duduknya. Ia tertidur dengan menundukkan kepalanya di antara tangannya.
Dara tidak ambil pusing, karena ia melihat Sugeng dari kejauhan jadi ia masuk ke kelas dan langsung duduk di tempat duduknya.
Laki-laki itu terbangun karena ia mencium wangi yang sangat harum masuk ke Indra penciumannya. Ia menoleh ke kiri, ia melihat ada seorang gadis yang duduk di sampingnya.
Wanginya sangat harum, ia juga melihat gadis yang terlihat berkilau di matanya.
"Dewi..." gumamnya pelan, mungkin dia masih belum mengumpulkan nyawanya yang masih di awang-awang.
"Selamat siang semuanya" ucap Sugeng membuat lamunan laki-laki terbuyar.
Ia baru menyadari jika itu bukan khayalannya tapi memang benar-benar ada orang lain yang berani duduk di sampingnya.
"Siapa yang mengizinkan kamu duduk di sini?" ucapnya dengan dingin dan tajam.
Melihat tidak ada respon dan melihat Dara mengabaikannya, laki-laki itu menggeram marah.
"Aku bilang siapa yang mengizinkan mu duduk di sini??" teriaknya lagi.
Teriakannya membuat semua orang menoleh ke arah mereka termasuk Sugeng. Ia mengernyitkan dahinya saat ada mahasiswa yang berani berteriak saat ia mengajar.
Sugeng termasuk dosen yang ketat, semua orang menjulukinya dosen killer. Namun kemampuan dia di bidang kedokteran sangat di apresiasi karena kecerdasannya.
Semua mahasiswa dan mahasiswi merinding saat mendengar Laki-laki yang ternyata Daffa itu berteriak. Tidak ada yang berani bersuara di sana.
"Daffa!!! Kenapa kamu berteriak? Kalau kau tidak ingin mengikuti kelas saya, silahkan keluar!" ucap Sugeng tegas.
Meskipun ia tahu Daffa adalah anak dari salah satu donatur di kampus. Tapi ia sebagai dosen berhak mendidik muridnya untuk disiplin saat berada dalam kelasnya.
"Saya tidak ingin ada yang yang duduk di samping saya Pak!" ucap Daffa mengintimidasi dengan menatap berani ke arah Sugeng.
Sugeng tidak gentar, terlebih ia tahu yang duduk di samping Daffa adalah Dara, yang mana seorang tamu kehormatan dari pemilik kampus.
"Apa masalahnya ada orang lain yang duduk di samping kamu? Itu bangku kosong siapa saja berhak duduk di sana" ucap Sugeng adil.
"Tapi saya tidak mau! Kamu pindah sana!" teriak Daffa dengan keras.
"Ah, kau tahu? Aku tidak suka ada yang berteriak di depanku" ucap Dara dengan datar namun tidak menoleh sedikitpun ke arah Daffa.
"Terus? ini aku berteriak. Per-gi da-ri si-niiiii!!!!" teriak Daffa lagi
"Aaakkhhh" teriak Daffa saat kepalanya di pukul oleh Dara.
Dara hanya memukulnya pelan karena ia tahu jika ia sedang berada di dalam area kampus. Namun meskipun menurut Dara itu pelan, berbeda yang di rasakan Daffa. Kepalanya terasa sakit dan berdengung.
Semua orang terkejut melihat adegan di mana Dara dengan berani memukul prince kebanggaan kampus mereka. Bahkan Sugeng pun terkejut dan mengacungkan jempolnya diam-diam. Ia mengapresiasi keberanian Dara memukul anak donatur kampus, yang terkenal suka semaunya.
"Kamu berani!" ucap Daffa terkejut dengan tindakan Dara.
"Tentu saja" ucap Dara mengangguk santai.
"Aku akan mengeluarkanmu dari kampus!" ucap Daffa kesal.
"Oh ya! Lakukan jika kamu mampu!" ucap Dara menantang.
"Tentu saja aku mampu, asal kau tahu aku anak donatur di sini" ucap Daffa bangga.
"Oh lalu?" ucap Dara terkekeh mengejek.
"Kau!!!" ucap Daffa marah
"Ah, memang seberapa banyak keluargamu mendonasikan uangnya ke kampus?" tanya Dara lagi
"10 Milyar pertahun" ucap Daffa tersenyum mengejek dan bangga dengan nominal yang ia sebutkan.
"Oh lumayan banyak" ucap Dara mengangguk ringan tanpa nada takut sedikitpun membuat Daffa semakin kesal di buatnya.
...••••••...