
Dara yang melihat suaminya datang langsung merentangkan tangannya dan tersenyum lebar. Kai tersenyum dan menggeleng kepala melihat itu, langsung mengangkat Dara dan menggendongnya ala bridal style. Ia juga mencium pipi, bibir dan kepala sang istri, lalu melangkah ke kamar.
"Kenapa malam ini kamu begitu manja dan menggemaskan sayang" ucap Kai
Dara tidak menjawab, ia malah mengalungkan tangannya ke leher suaminya dan menghirup aroma tubuh suami yang ia rindukan. Padahal setiap hari mereka bertemu, meskipun beberapa kali Kai harus Dimas di luar kota selama beberapa hari.
Sesampainya di kamar mereka, Kai tidak merebahkan sang istri di tempat tidur. Namun ia memilih mendudukkan dirinya sendiri ke sofa kamar dengan memangku Dara, yang masih lekat duduk di pangkuannya sambil memeluknya .
"Ada apa hm? Apa ada yang menganggu pikiran kamu sayang?" tanya Kai mengelus surai hitam, wangi, lebat nan panjang milik Dara.
"Abang selalu peka apa yang aku rasakan, aku memang sedang memikirkan sesuatu bang" ucap Dara memilih untuk mengatakan apa adanya yang ia rasakan saat ini.
"Kenapa hmm? Kenapa istri cantikku memikirkan sesuatu sampai terlihat pusing dan tidak bersemangat? Jangan pendam masalah apapun sendiri, aku nggak mau kamu punya beban pikiran. Kamu sekarang sedang membawa ketiga anak kita, jadi mood kamu harus selalu baik. Berbagilah semua bebanmu dengan ku sayang" ucap Kai dengan sangat lembut.
Tangan kirinya mengelus lengan sang istri, sedangkan tangannya yang lain mengelus lembut perut buncit Dara, yang berisi ketiga anaknya itu.
Dara tersenyum lembut mengelus rahang sang suami dan mencium dagunya singkat, tentu hal itu membuat Kai meremang walau hanya sebuah sentuhan ringan di dagunya saja.
Belakangan ini ia harus menahan hasratnya saat berada di dekat sang istri, bukan karena tidak boleh menyentuhnya. Namun itu karena beberapa waktu lalu Dara sangat mudah lelah dan Kai tidak tega melihat Dara nampak lemas.
Tidak mungkin ia menggarap Dara dalam kondisi seperti itu, ia juga tidak ingin membahayakan calon ketiga anak mereka.
Juga beberapa hari terakhir Dara selalu sulit di dekati, pasalnya saat mereka berdekatan. Dara sering merasa mual, meskipun dua hari ini sudah tidak seperti itu lagi.
"Sayang, jangan memancingku. Aku nggak mau kamu lelah jika memancing tuyul berkepala botak itu keluar dari sarangnya dan dengan ganas menyerang Goa berisi harta Karun itu dan mengacak-acak nya" ucap Kai dengan suara serak yang sangat dalam, namagan gejolak ha*rat dalam dirinya.
Dara terkekeh mendengarnya, ia tahu selama beberapa hari ini mereka tidak melakukan hubungan suami istri. Karena hormonnya yang sering naik turun, membuatnya cepat sensi, lelah dan sulit berdekatan dengan suami karena mual.
"Ha-ha, maaf Abang ku sayang. Aku sudah nggak mual ko deket-deket sama kamu. Kamu nggak mau nengokin triplet, Mereka sudah rindu dengan ayahnya" ucap Dara.
Ah... Mendengar itu Ingin sekali Kai menyergap Dara saat ini juga, namun Kai mencoba menahannya lagi. Bukan karena tidak ingin, tapi sekarang bukan waktu yang tepat.
Apalagi saat ini istrinya itu seperti banyak pikiran, jadi Kai lebih memprioritaskan istrinya dan menenangkan pikirannya dulu.
"Aku akan memakanmu saat yang tepat sayang, tapi tidak sekarang. Lebih baik sekarang kamu ceritakan apa yang membuat kamu kepikiran" ucap Kai.
Dara menghela nafas dan menatap sendu ke arah suami, Kai yang melihat itu merasa sakit melihat tatapan sendu istrinya itu..
"Apa itu sangat berat untuk di ceritakan, jangan di ceritakan kalau begitu. Aku tidak ingin kamu merasa lebih terbebani" ucap Kai mencium kening Dara dan memeluknya.
"Aku tidak apa-apa Abang, aku hanya merasa sesak saja, saat mengingat tentang satu hal" ucap Dara menghela nafas panjang.
Kai diam tidak menyela ucapan Dara, ia hanya mengelus kepala Dara dan memberikan kesempatan Dara untuk menenangkan diri sebelum mulai cerita.
"Dimas tadi bilang sama aku, kalau ia bertemu lagi dengan orang itu di depan tempat less. Entah bagaimana orang itu bisa sampai sana dan kebetulan bertemu dengan Dimas. Jujur saja, sebenarnya aku tidak masalah jika mereka bertemu saja, atau orang itu mengatakan pada Dimas kalau ia adalah ayahnya.
Aku yakin Dimas pasti tidak akan luluh dengan perkataan orang itu, karena Dimas memiliki intuisi yang kuat sama seperti ku meskipun ia bukanlah seorang kultivator.
Namun jika hanya menilai, ia pasti bisa merasakan ketulusan seseorang dalam sekali lihat. Jadi sudah dapat di pastikan Dimas akan menghindar atau menyangkal semua kenyataan jika orang itu adalah ayah kami" ucap Dara mengeratkan pelukannya pada Kai, Kai juga mengelus lembut punggung Dara dan menciuminya lembut mencoba menenangkannya.
"Tapi aku tidak terima saat orang itu berani menjelekkan ibu, bahkan memfitnah sedemikan rupa di depan putranya sendiri. Padahal dia tidak tahu apa yang kita alami selama belasan tahun ke belakang, tanpa adanya dia. Yang harusnya menjaga kami, melindungi kami, memberikan kebahagiaan dan juga menafkahi kami.
Bukannya meminta maaf dan berubah menjadi lebih baik lagi, tapi dia menjelekkan ibu dan membuat cerita palsu tentang ibuku.
Jika aku tidak lebih dulu aku menceritakan semuanya pada Dimas dan kami tidak merasakan hidup susah dulu, bisa saja Dimas akan mempercayai ucapannya kan?" ucap Dara.
"Aku merasa panas dan emosiku seketika melesat saat mendengar itu, kalau saja aku tidak ingat tengah hamil dan sedang berada di depan Dimas. Sudah pasti aku akan mengamuk dan mungkin bisa saja aku membunuh orang itu dengan tanganku sendiri.
Tapi setelah Dimas kembali ke kamarnya, aku berpikir jika aku tidak bisa membunuhnya dengan tanganku sendiri, jadi aku hanya bisa memberikannya pelajaran sementara waktu ini, itupun lewat Dark. Aku takut bang, aku takut perasaan ini akan menjadi iblis hati. Ini akan menghantui ku seumur hidup dengan penyesalan dan menghambat semua kultivasi ku.
Meskipun begitu aku tetap kepikiran. Apa yang aku lakukan itu salah? Aku tidak bisa berfikir jernih saat memutuskan semuanya" ucap Dara sendu, ia tidak bisa mengeluarkan air matanya. Membuatnya justru merasakan sesak yang teramat dalam di dadanya.
Kai yang mendengar itu sebenarnya marah, ia marah saat ada orang lain yang membuat Dara menangis, terluka, bahkan meskipun itu melukai perasaan nya.
Selama ini, kebahagiaan istrinya adalah nomor satu dalam hidupnya. Jadi mana mungkin ia tidak marah saat ada yang menyakitinya. Meskipun itu adalah mertuanya sendiri, mungkin Kai akan turun tangan untuk menyelesaikannya.
"Kamu tidak salah sayang, yang kamu lakukan itu semuanya benar. Aku akan memberikan pelajaran padanya jika kamu mau, aku tidak peduli dia adalah ayah biologis mu atau bukan. Tapi karena dia sudah berani membuat perasaan mu tersakiti dan menganggu kehidupan kamu, aku tidak akan membiarkannya lolos begitu saja" ucap Kai.
"Tidak perlu bang, aku sudah meminta Dark memberikannya pelajaran, sebagai peringatan pertama dariku" ucap Dara.
"Apa yang kamu lakukan pada orang itu?" tanya Kai
"Membuatnya tidak bisa lagi bicara, itu hukuman karena dia sangat mudah mengatakan kata-kata yang tidak sepatutnya ia ucapkan. Terlebih hal itu mengenai ibuku, tentu aku tidak ingin mendengar ucapan kotor tentang ibu dari mulutnya yang lemes itu" ucap Dara
Kai merasa itu kurang sepadan dengan semua penderitaan yang orang itu beri untuk istri dan adik iparnya itu.
"Abang lupa yang aku bilang ke mamah Ellena waktu itu?" tanya Dara
"Tentang apa?" tanya Kai, karena begitu banyak yang di katakan Dara pada Ellena, karenanya ia tidak tahu ucapan Dara yang mana.
"Tentang aku yang mengatakan kalau aku tidak bisa membunuhnya dan tidak mengizinkan papa Adrian untuk membunuh orang itu. Bagaimana pun dia ayah kandung aku dan Dimas, ada darah dan dagingnya mengalir di tubuh kami.
Meskipun sebenarnya aku tidak ingin mengakuinya sebagai ayah kandungku, namun itu adalah kenyataan yang tidak bisa di ubah. Aku harap dengan pelajaran ini, orang itu bisa berpikir dengan jernih dan tidak lagi mengusik kehidupan kami" ucap Dara
"Bagaimana kalau dia tetap mengusik kalian meskipun saat ini orang itu sudah tidak bisa lagi bicara" ucap Kai
"Jika itu terjadi, maka aku akan membuatnya hidup seperti di neraka, akan aku buat dia menyerah akan hidupnya sendiri. Daripada aku yang membunuhnya, akan lebih baik ia mengakhiri hidupnya sendiri bukan?" ucap Dara
"Baiklah, tapi biarkan aku yang turun tangan seandainya ia tidak berhenti mengganggumu ke kepannya. Biar aku yang membuat neraka di hidupnya dan membuatnya memilih untuk mati sendiri" ucap Kai.
"Ya, Abang bisa melakukannya untukku, terimakasih untuk semuanya Abang. Aku sangat beruntung memilikimu" ucap Dara.
"Tentu sayang, aku akan melakukan apapun itu untukmu. Bagiku kebahagiaan mu adalah yang paling utama, dan aku lebih dari beruntun memiliki mu. Cup!" ucap Kai mencium kening sang istri.
Dara kembali menghirup aroma sabun yang di pakai Kai menguar masuk ke indra penciuman Dara. Dara menghisap leher Kai Hinga meninggalkan jejak merah keungungan di leher kiri Kai.
"Ssshhh... Kamu lagi-lagi memancingku, hentikan sayang. Aku tidak akan memberi ampun jika kau tidak berhenti" ucap Kai.
Namun ucapannya hanya angin lalu, Dara masih sibuk membuat tanda banyak di leher dan dada bidang sang suami. Yang kancing piyamanya sudah Dara bika.
"Uugghh... Kamu yang meminta sayang, aku tidak akan berhenti meskipun nanti kamu berkata ampun" ucap Kai yang mengangkat Dara tiba-tiba dan merebahkan di tempat tidur
Dan terjadilah penyerangan tuyul berkepala botak di gua harta Karun, sampai akhirnya tuyul itu mengacak-acak dan juga bertemu dengan tiga calon sultan di dalam sana.
....
Keesokan harinya, di sebuah jalan di selatan ibukota. Beberapa orang Satpol PP yang sedang bertugas untuk menertibkan tempat umum, mulai turun dari mobil patroli.
Mereka menyusuri semua tempat umum di daerah sana, semua orang yang merupakan pedagang kaki lima, para pengamen, pengemis dan lain-lain langsung berlarian saat salah seorang dari kawan mereka memperingatkan tentang kedatangan Satpol PP.
Namun keributan yang terjadi tidak menganggu istirahat seseorang yang tengah meringkuk di atas kursi di pinggiran jalan. Orang itu tak lain adalah Agung, setelah kejadian semalam yang membuatnya pingsan dan tidak sadarkan diri sampai saat ini.
"Hei!!! Bangun kamu!!!" ucap Salah satu anggota satpol PP, sedikit berteriak. Namun Agung masih terlelap dan tidak bangun juga.
"Sial, nih gelandangan nggak bangun juga. Padahal aku udah teriak macam toa, tapi tetep nggak bangun juga" ucap satpol PP yang berteriak tadi.
Namanya adalah Udin, itu bisa di kenali dari name tag yang ada di sudut kiri bajunya.
"Goyang aja badannya dengan kencang terus teriakin lagi, gelandangan jaman sekarang tidurnya udah macem kebo" ucap rekan satpol PP yang bernama Temon.
"Wooooyyy banguuun!!!" teriak Udin lagi, namun hasilnya nihil.
"Pake ini aja Din... Langsung di telinganya" ucap Temon menyerahkan megaphone speaker alias toa asli pada Udin.Udin langsung mengambilnya.
"Tes...tes... Satu... Dua... Tiga... WOOOOYYY BANGUUNNN, NGAPAIN TIDUR DI SINI? DI SINI BUKAN KAMAR TIDUR APALAGI KAMAR HOTEL... BANGUUNNN!!! ATAU SAYA BUANG KAU KE LAUUUTTT!!! BIAR JADI SANTAPAN PIRANHA" teriak Udin super kencang dan mengarahkan Toa itu ke telinga Agung
Agung yang mendengar suara menggelegar di telinganya itu, merasakan telinganya berdengung dan sontak membuka matanya karena terkejut.
Kepala nya terasa sakit karena teriakan Udin, saat ia ingin meneriaki kembali Udin. Ia terkejut karena suara miliknya tidak bisa ia keluarkan, lidahnya terasa sangat Kelu dan kaku tidak bisa lagi di gerakan.
"Lidahku.... Apa yang terjadi dengan lidahku" teriak Agung dalam hati.
Ia mengingat ingat apa yang terjadi, ia baru mengingat tentang rasa sakit dan kejadian aneh semalam yang menimpanya.
" Jadi itu bukan hanya mimpi, aku nggak bisa bicara sekarang? Tidak! Itu tidak mungkin!" ucap Agung lagi dalam hatinya.
Melihat orang yang baru saja bangun terus diam saja membuat Udin dan yang lain merasa kesal.
"Mon, ayo bawa dia saja, katanya nih orang udah gila atau ada gangguan syaraf!!!" ucap Udin.
Temon dan yang lainnya mengangguk, mereka segera menyeret Agung menuju ke mobil patroli.
Agung yang merasa di seret pun mulai sadarkan diri, ia terus berontak saat hendak di bawa Satpol PP. Namun tak sedikitpun berhasil mengeluarkan suara miliknya, ingin melawan secara fisi. Namun ia juga kalah kuat oleh beberapa anggota satpol PP yang menggiringnya ke kantor.
...•••••••••...