The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
381. Tiga syarat



"Hamil? Menikah? Siapa yang Hamil? Dan siapa yang harus menikahi siapa?" sebuah suara dingin membuat Kai menegang, ia menoleh takut istrinya itu salah paham.


"Sayang..." ucap Kai yang menghampiri sang istri yang berjalan ke arah mereka


Fariz menatap takjub dengan kecantikan wanita yang di panggil sayang oleh Kai, ia menebak jika wanita itu adalah istri dari Kai.


Melihat betapa cantik dan sempurnanya istri Kai dan melihat putrinya, secara tidak langsung Fariz membandingkan keduanya. Sejujurnya ia sangat malu, di banding dengan Dara, Dena tidak ada apa-apanya.


"Pantas saja tuan muda Kaisar tidak ingin menikah lagi, apalagi di minta menceraikan istrinya yang sangat cantik ini. Akan sangat bodoh jika Tuan muda Kaisar melepaskannya. Astaga, apa yang aku pikirkan? Jika tuan muda Kaisar tidak setuju menikahi Dena. Bagaimana dengan wajahku di pemerintahan dan juga nasib Dena kedepannya" gumam Fariz dalam hati


Sedangkan Dena tertegun melihat wanita yang sangat cantik hingga membuatnya insecure, ia merasa tidak percaya diri untuk bersaing dengan wanita sesempurna Dara. Sekejap ia merasa iri dan juga kalah telak jika di bandingkan dengannya.


"Aku tanya sekali lagi, siapa yang hamil dan siapa yang menikah? Apa kalian semua tuli dan bisu hah?" ucap Dara pelan namun tekanannya mampu membuat semua orang tertekan.


"A-anu... I-itu..." ucap Fariz dengan bibir yang gemetar dengan sendirinya.


"Anu-itu, kenapa dengan anu itu? Minta di sunat dua kali? Aku potong habis sekalian!" ucap Dara.


Ucapannya memang tenang namun sungguh langsung mengenai dan membuat merinding.


Fariz langsung memegang asetnya, membayangkan asetnya di potong habis membuat nyalinya menciut. Ia tidak menyangka jika istri Kai sangat berani.


Sedangkan Kai kini tengah menggenggam tangan sang istri, ia takut jika ia melepas nya Dara akan kabur dan meninggalkannya karena terpengaruh dengan dua orang di depannya karena salah paham.


Dara bukannya tidak mendengar apa yang sedang di bicarakan suami dan dua orang tamu tidak di undang di kediamannya. Namun ia ingin tahu cerita sebenarnya dan tidak bisa langsung mengambil kesimpulan.


"Ngapain Abang genggam tangan aku? Lepas!" ucap Dara


"Nggak mau! Aku takut kamu salah paham dan pergi ninggalin aku. Sayang aku bisa jelasin, dua orang ini orang gila yang bahkan aku tidak tahu isi dalam kepalanya apa. Tapi sumpah bukan aku yang menghamili nih wanita burik. Gila aja, mana nafsu aku sama wanita macam dia., lihatnya aja udah mual aku" ucap Kai dengan wajah memelasnya.


Dara menahan tawanya agar tidak pecah melihat ketakutan sang suami bucinnya itu, ia masih menampilkan wajah datarnya saat ini. Hingga membuat Kai ketar ketir sendiri karena takut istrinya marah.


Tentu saja Dara tidak akan percaya ucapan orang yang bahkan tidak ia kenal. Ia sangat tahu bagaimana karakter suami bucinnya, yang bahkan tidak suka di sentuh wanita lain.


Banyak wanita cantik, se*si, pintar, terpelajar dan wanita hebat lainnya yang mengejar Kai, tapi Kai mengabaikannya dan hanya terpaku pada dirinya seorang.


Lantas keberanian dari mana, seorang wanita yang cantiknya rata-rata, dada juga rata, body juga tidak ada se*sinya. Bukan bermaksud body shaming, tapi memang begitu kenyataannya.


Memiliki keberanian untuk meminta Kai menikahi nya, apa otak dua orang ini sudah berpindah ke pan*at?


"Oh jadi yang Hamil itu wanita ini? Dan mereka berdua datang kemari ingin kamu bertanggung jawab untuk menikahinya, begitu?" tanya Dara Menatap tajam Kai.


"Sayang...." ucap Kai


"Benar nyonya, maafkan saya sebelumnya.m yang sudah berani datang. Tapi tolong mengerti keadaan saya, saya hanya tidak ingin anak saya lahir tanpa seorang ayah" ucap Dena dengan tampah kasihannya.


"Kau!!!" Kai mengeram marah mendengar ucapan Dena


"Terus?" ucap Dara memotong ucapan Kai, ia ingin tahu apa yang akan di katakan wanita di depannya.


"Sayang jangan dengarkan dia, dia gila..." ucap Kai


"Abang, Diam!" ucap Dara menatap tajam ke arah Kai, hingga suaminya itu hanya bisa menurut dan dalam hatinya ia mengeram marah dan ingin sekali menghancurkan dua orang di depannya.


Dalam hatinya ia bersumpah, jika rumah tangganya sampai kenapa-kenapa atau sang istri marah padanya. Ia tidak akan segan untuk melempar dua orang di depannya ke kolam Zeta, biar gendut itu hewan kesayangan peliharaan Flo.


Dara berdecih, Dia tahu yang di katakan wanita di depannya hanya meggiring opini dirinya ke hal negatif. Dena sama sekali tidak memberikan alasan kenapa harus Kai yang menikahinya.


Orang luar yang mendengar ucapannya pasti menebak jika Kai yang menghamilinya. Tapi sayangnya Dara tidak sebodoh itu untuk menelan mentah-mentah ucapan Dena dan dia sangat percaya dengan suaminya.


"Kenapa harus suami saya yang menikahi kamu? Jangan bilang jika suami saya yang menghamilimu..." ucap Dara


"Itu....." Dena sengaja menggantung ucapannya dan menjawabnya seakan ragu, tentu saja bertujuan agar lawan bicaranya menebak jika memang benar Kai yang melakukannya.


"Aku tidak melakukannya, sumpah Yang! Aku tidak mungkin melakukannya, Eh ja*ang tengik, bicara yang sebenarnya si*lan!" ucap Kai marah dan berkata dengan kasar


"Tuan jaga ucapan anda, putri saya bukan ja*ang!" ucap Fariz tidak terima putrinya di Katai demikian.


"Apa namanya kalau bukan Ja*ang? Kau juga brengsek! Kalau mau minta pertanggungjawaban harusnya kalian cari ke penjara militer! Para pelaku yang menghamili putrimu, kemungkinan ada di sana!" ucap Kai kesal.


"Tidak mungkin aku menikahkan putriku dengan seorang kriminal, itu akan mempengaruhi nama baik keluarga. Tuan muda, saya hanya minta tolong padamu untuk menikahi putriku. Setidaknya sampai bayinya lahir, setelah itu anda bisa menceraikan nya" ucap Fariz masih tidak tahu malu.


"Cih mimpi, aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi!" ucap Kai marah.


Dara sendiri sekarang sudah bisa menarik garis besar apa yang sebenarnya terjadi, otak cerdasnya langsung menyimpulkannya hanya dari percakapan singkat mereka.


"Kau menyukai suamiku?" tanya Dara tiba-tiba. Membuat Kai menoleh ke arahnya, tatapannya seakan mengatakan, apa yang kamu tanyakan sayang?


Dara menarik sudut bibirnya saat melihat wajah merah dan tersipu Dena saat mendengar pertanyaannya. Dia sudah tahu jawabannya.


"Aku tahu suamiku sangat tampan, mapan dan sangat luar biasa. Bukan hanya kamu, tapi banyak wanita di luar sana, yang ingin menggoda dan menghancurkan hubungan kami. Tapi sayangnya tidak ada yang bisa, lalu kenapa kamu dan ayahmu bisa sangat percaya diri datang ke kediamanku meminta suamiku menikahimu?" tanya Dara masih dengan nada biasa namun terkesan dingin itu.


Dena dan Fariz diam, terlihat Dena menghela nafas dan angkat bicara.


"Karena aku mencintainya sejak pandangan pertama, aku tidak ingin menikah selain dengan tuan muda Kaisar. Hanya dia yang pantas untuk menikahiku, bukan para penjahat itu ataupun orang lain" ucapnya yang entah mengapa mengatakan isi hatinya


"Lalu, hanya karena kamu mencintai suamiku, suamiku wajib menikahi mu? Kamu terlalu banyak membaca novel cinta, bangunlah. Mimpimu sudah terlalu jauh!" ucap Dara.


"Tolong mengertilah sebagai sesama perempuan, aku tidak meminta banyak. Aku tidak memintanya membalas perasaan ku ataupun menceraikan kamu. Aku hanya ingin dia menikahiku dan memberikan status untuk anak kami" ucap Dena tidak tahu malu.


"Sayang, wajahmu yang sangat tampan hingga membuat banyak wanita terobsesi padamu. Hais, nasibku menikah dengan orang tampan ya begini..." ucap Dara sembari mengelus rahang Kai dan cemberut.


"Cup! Biarkan orang seperti apa, yang penting aku hanya mencintaimu seorang dan hanya kamu istriku tidak ada yang lain" ucap Kai mengecup singkat bibir istrinya.


Dara terkekeh, terlebih melihat ekspresi dua orang itu saat melihat Kai dengan gamblang mencium dirinya di depan mereka.


"Baiklah, ada tiga syarat yang harus di penuhi jika ingin menjadi istri kedua suamiku" ucap Dara, ucapannya membuat dua orang di depannya berbinar.


"Sayang.... Nggak! Apaan sih, pokoknya aku nggak mau nikah lagi, aku cuma punya istri satu dan hanya menikah sekali seumur hidup. Cuma kamu, nggak ada lainnya" ucap Kai marah. Dara hanya terkekeh dan menoleh ke arah dia orang yang tengah berbinar itu dan mengabaikan ucapan Kai.


"Syarat pertama, orang itu harus lebih cantik dariku. Hmmm mungkin banyak yang lebih cantik, tapi yang jelas kamu sama sekali tidak cantik.


Yang kedua, harus lebih kaya dariku, seperti nya yang ini juga tidak mungkin. Karena aku lah orang paling kaya itu ha-ha...


Dan yang ke tiga, orang itu harus berani bertemu raja Yama. Karena aku sendiri yang akan mengirimnya ke sana!" ucap Dara dengan seringai khasnya, hingga membuat dua orang itu tiba-tiba saja merinding.


...••••••••...