The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
166. Aura kekuatan



Dara menghela nafas karena saat ini ia duduk di bangku kantin. Awalnya ia hanya ada dia dan Samuel, yang membuat seluruh kantin hening dan heboh beberapa saat setelah melihat kecantikan Dara dan semuanya mimisan masal.


Banyak mahasiswa langsung menyeka darah itu dan mulai bergosip ria, mereka iri melihat kedekatan Samuel dengan Dara. Dara hanya menghela nafas karena mendengar orang-orang berasumsi seenak jidat, mengira Dara dan Samuel memiliki hubungan.


Cindy juga sebenarnya ada di sana, namun ia tidak berani mendekat karena ia bilang jika ia minder dan tidak berani duduk bareng most wanted kampus, yang tampannya kelewatan itu.


Belum cukup beberapa saat kemudian Daffa dan Celine menyusul. Kehebohan lagi-lagi terjadi di kantin dengan perdebatan mereka jilid dua.


Lebih parah lagi tiba-tiba Rainer juga datang dan duduk di samping Dara, ia menatap Dara penuh memuja dan tanpa berkedip dengan senyum bodoh di wajahnya itu.


"Apaan sih nyelonong duduk di sini, minggir sana!" ucap Samuel


"Lo yang apaan, ganggu aja gue yang lagi mandengin bidadari Syurga yang khusus turun di tirunkan oleh dewa dari langit demi gue yang tampan tanpa obat ini dan jelas jodohnya neng Dara" ucap Rainer yang narsisnya yang memang sudah tidak ada obat.


"Lu halu? Sembarangan kalo ngomong! Pergi sana!" gas Samuel


"Dasar cacing kremi Antartika, lu biasanya paling diem kenapa jadi paling bawel. Berisik amat lu" ucap Rainer sewot.


"Sialan! Ajak baku hantam lo! curut got!" ucap Samuel yang juga emosi


Dara yang melihat perdebatan mereka yang tidak ada pentingnya itu memilih pergi dari sana. Ia awalnya ingin menikmati makan di kantin seperti mahasiswi pada umumnya, tapi entah mengapa malah jadi absurd seperti ini situasinya.


.....


Saat ia jalan tidak tentu arah di lorong gedung kampus, ia merasakan sebuah energi yang cukup kuat. Seketika Dara menghentikan langkahnya, ia menoleh ke kanan dan ke kiri menajamkan penglihatan dan pendengarannya. Namun ia tidak melihat hal aneh apapun di sekitarnya.


Namun pandangannya tidak sengaja menoleh ke atas, ia terkejut melihat seseorang wanita yang berada di Rooftop kampus.


Sontak saja Dara langsung bergegas naik ke atas menggunakan tangga sembari berlari. Mata Dara membola saat ia melihat seorang perempuan ingin melompat dari atas sana.


GREP!!!


Dara dengan cepat sudah berada di ujung tepi Rooftop dan menarik perempuan itu untuk menjauh dari tepi. Hingga perempuan yang dalam keadaan berantakan dengan bekas air mata di wajahnya itu selamat tanpa luka apapun.


"Kenapa kamu menyelamatkan aku hiks! Harusnya aku mati!" ucap perempuan itu berteriak histeris dan menangis meraung.


Dara mengeryitkan keningnya, namun fokusnya teralih pada perut perempuan itu yang terlihat bersinar saat Dara melihatnya.


Jika kultivator lain melihat perempuan itu, pasti mengira jika perempuan itu adalah seorang kultivator dengan aura yang cukup kuat. Tapi tidak dengan Dara, Dara melihat aura itu bukan dari perempuan itu, tapi dari sesuatu yang ada di dalam perut perempuan yang baru saja ia selamatkan itu.


"Kalau mau bunuh diri ya silahkan! tapi pake cara yang elite dong mbak!" ucap Dara dengan datar dan dingin tanpa rasa bersalah.


Perempuan yang bernama Manda, seorang mahasiswi senior di fakultas IT itu terdiam dan menatap Dara tajam dan juga bingung.


"Ka-kamu nggak halangin aku bunuh diri lagi?" cicit Manda bingung dan heran.


"Tidak! Tapi tolong jangan bunuh diri di gedung ini!" ucap Dara setajam silet, membuat mata Manda membola terkejut dengan ucapan Dara yang cukup tajam itu.


"Masa terjun dari gedung kampus sih? Bukan cuma nama baik kampus yang bakalan tercemar karena ulahmu mbak, tapi juga kematian mbak nggak elite banget sumpah" ucap Dara dengan ekspresi datar nya.


"Ma-maksudnya?" tanya Manda bingung


Manda yang dengar bergidik ngeri sendiri mendengar ucapan Dara. Entah mengapa ia membayangkan itu, membuat ia menggelengkan kepalanya ribut.


"Bukannya mbak bunuh diri karena nggak sanggup hadapi tekanan dan masalah? Tapi yang nggak gitu juga mbak, tahu nggak mbak malah buat masalah baru buat orang-orang terdekat bahkan orang yang tidak bersalah lainnya" ucap Dara


"Mbak mungkin plong, tapi coba deh mbak pikir. Kalau Mbak bunuh diri di sini, bisa jadi kampus bakal di tutup karena kejadian yang menewaskan seseorang. Mbak juga nggak inget, orang tua, sodara, sahabat mungkin? Bagaimana perasaan mereka jika tahu mbak bunuh diri? Mungkin mereka juga di tuntut karena membuat nama kampus jelek. Mbak sih enak udah mati nggak mikirin urusan yang masih hidup. Tapi apa mbak nggak takut kehidupan setelah kematian lebih menakutkan? Malaikat itu lebih serem mbak dari pada masalah mbak" ucap Dara berkhotbah.


Sumpah ini pertama kalinya Dara bicara panjang kali lebar dengan orang yang tidak ia kenal. Dara tersenyum tipis saat melihat Manda terisak seperti baru terbuka pikirannya, mendengarkan ceramah Dara.


Manda terduduk di lantai Rooftop, tangisnya kembali pecah. Dara hanya membiarkan Manda menangis tanpa ada niat untuk menghibur nya.


"Aku tidak tahu harus bagaimana hiks..." ucap Manda di sela tangisannya.


Dara hanya diam tidak bergeming, ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya diam, melihat dan mendengarkan ucapan Manda.


"Aku hancur! Hidupku sudah hancur! Hiks... Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika ibuku tahu" ucap Manda lagi.


Entah mengapa ia bersedia bercerita pada Dara yang notabene adalah orang asing yang sebatas ia tahu sebagai Dewi nasional itu. Mungkin karena ia tidak memiliki tempat untuk berkeluh kesah.


Ya! Siapa yang tidak mengenal Dara, seseorang yang bahkan kini lebih terkenal dari seorang selebriti terkemuka di tanah air.


"Aku hanya punya ibu sebagai hiks... keluarga satu-satunya hiks... yang aku miliki. Tapi aku sudah mengecewakannya huaaaa..." tangis Manda semakin menjadi.


Dara lagi-lagi hanya diam menyimak tanpa melakukan apa-apa untuk menenangkan Manda.


"Aku hamil dan pacarku tidak ingin bertanggung jawab, dia memutuskan ku bahkan menyuruhku menggugurkannya hiks... Aku tidak ingin membunuh anakku, tapi dia menyuruh seseorang untuk membunuhku, untungnya aku lolos. Anakku tidak bersalah, aku yang salah dan bodoh, tapi aku juga tidak sanggup menanggung malu terutama pada ibuku. Aku juga tidak ingin anakku di cap sebagai anak haram. Aku bingung harus apa" ucap Manda lirih.


"Di tambah, usaha katering ibu di pastikan bangkrut karena salahku. Beberapa hari yang lalu seseorang memesan begitu banyak makanan, 500 porsi untuk suatu acara. Saking bahagianya bahkan aku dan ibu menggunakan semua tabungan kita untuk memenuhi pesanan itu. Tapi ternyata aku di tipu, aku tidak punya apa-apa lagi sekarang. Aku tidak sanggup pulang dan memberi tahu ibu tentang hal itu, jadi aku gelap mata dan ingin bunuh diri" ucap Manda menceritakan semuanya.


Dara menghela nafas mendengar cerita Manda, sejujurnya ia tidak ingin terlibat. Namun ia masih memiliki simpati dan empati, ia juga memiliki kebaikan dan kasih sayang pada orang lain.


"Aku bisa membantumu" ucap Dara


Manda mendongak melihat ke arah Dara dengan tatapan ragu namun terlintas sebuah harapan besar di matanya.


"Apa pesanan itu harusnya di kirim hari ini?" tanya Dara


Manda menganggukan kepalanya.


"Aku akan membeli semuanya, aku hanya minta satu box. Sisanya kau bisa membagikan makanan itu secara gratis pada orang yang membutuhkan. Aku tidak akan mampu menghabiskannya sendiri, sekarang berikan nomor rekeningmu" ucap Dara.


"Ka-kamu serius hik, tidak bercanda?" ucap Manda masih sesenggukan dan menatap tidak percaya.


"Kalau kamu mau aku bisa mentransfer nya sekarang" ucap Dara, entah mengapa sedikit beban di pundak Manda terasa lebih ringan.


"Tapi aku juga ingin anakmu....." ucap Dara membuat Manda terkejut sekaligus tidak mengerti dan sedikit rasa marah saat Dara menginginkan anaknya. Ia memikirkan begitu banyak kemungkinan di benaknya.


...••••••••...