The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
368.



Tak menunggu lama bagi Dark untuk bergerak cepat menyelesaikan misi yang di perintahkan padanya. Kini ia berada di sebuah jalan di selatan ibukota, dari jauh Dark sudah melihat orang yang sebentar lagi akan menjadi targetnya.


Dark memperhatikan situasi di sekitarnya, ia mencoba memperhitungkan semuanya. Ia tidak ingin meninggalkan bukti sekecil apapun saat ia menjalankan misi.


Itu bukan hal sulit bagi dirinya, karena ia sering melakukan tugas itu saat berada di organisasi GOD.


Sedangkan Agung yang menjadi targetnya tidak menyadari bahaya yang akan segera menghampirinya, ia masih duduk tenang di pinggir jalan sembari terus mengoceh. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu, saat dirinya bertemu dengan Dimas di depan tempat less bahasa Mandarin itu.


Ia masih tidak percaya semua yang di katakan Dimas padanya, yang mengatakan jika ibunya bukan bernama Nayla. Jujur saja Agung ragu dengan yang di ucapkan Dimas padanya


"Tidak mungkin aku salah orang! Selain wajahnya yang mirip dengan Nayla, tapi nama dia dan juga kakaknya sama dengan nama anakku. Tidak mungkin ada kebetulan yang seperti ini" ucap Agung


"Apa dia berusaha untuk mengecohku dengan mengatakan hal itu? Apa dia sudah mengenalku sejak awal, sampai ia mencoba mengarang cerita agar aku menyerah? Tapi dari mana ia mengenalku? Apa Nayla yang menceritakan tentang aku padanya? Si*l, jika itu benar, akan sulit bagiku mendekati mereka. Bisa jadi Nayla menceritakan segala hal buruk tentangku pada anak-anakku, hingga mereka membenciku" ucap Agung mulai mengoceh lagi dengan wajah memerah marah saat mengingat itu.


Ia tidak menggubris banyaknya orang lalu lalang yang melihat ke arahnya dengan tatapan aneh. Melihat penampilannya dan juga ia yang tidak berhenti mengoceh membuat orang-orang berpikir dia benar-benar gila.


Saat itu memang sudah hampir pukul sepuluh malam, namun jalanan di sana masih ada banyak orang lalu lalang. Dark sendiri mendengar semuanya dari jauh, ia mengepalkan tangannya saat mendengar ucapan Agung mengenai Dara dan keluarganya.


Ia menahan dirinya untuk tidak menyerang sekarang, ia masih menunggu situasi aman. Ia sudah mengawasi area tempat ia dan Agung berada saat ini. Di sana tidak ada CCTV, Bahkan jauh dari gedung tinggi yang kemungkinan memiliki CCTV yang mengarah pada mereka.


Sungguh kesempatan yang bagus baginya, jadi sekarang Dark hanya menunggu saat tempat itu sepi. Maka ia akan langsung menjalankan misinya detik itu juga.


"Tapi kalau yang di katakan Dimas benar, jika ibunya bukan Nayla. Kemungkinan terbesar Dimas dan Dara di adopsi oleh orang kaya, saat mereka keluar dari rumah. Ya, ya... Itu kemungkinan yang paling masuk akal, bagaimana pun aku tahu kehidupan mereka pasti sulit setelah pergi dari rumahku dulu. Jadi satu-satunya alasan masuk akal bagaimana saat ini mereka bisa jadi kaya adalah mereka di adopsi oleh orang kaya" ucap Agung lagi mengangguk sendiri.


"Lalu bagaimana aku bisa masuk dan juga ikut menikmati kekayaan mereka kalau begitu? Kalau mereka di adopsi tentu saja kekayaan itu milik orang tua angkatnya" ucap Agung menarik rambutnya karena pusing memikirkan segala kemungkinan.


"Eh tunggu dulu, aku baca di berita waktu itu kalau Dara adalah pemilik AA Entertainment, perusahan entertainment yang sedang booming saat ini. Jadi sudah pasti perusahaan itu sudah jadi hal milik Dara, karena di sana tertera jika Ketua dan pemiliknya adalah Addara Azalea.


Kalau begitu, aku bisa meminta Dara untuk menempatkan aku menjadi CEO di sana. Aku bisa mengelola perusahaan lagi dan Perusahaan itu lebih besar dari perusahaan orang tua Maria. Ha-ha-ha benar-benar, tentu Dara tidak akan bisa menolak keinginan ayah kandungnya" ucap Agung, Ia tertawa setelah memikirkan itu.


"Aku akan mendekati Dimas dulu, aku akan meyakinkan dia kalau aku benar-benar ayah kandungnya. Kalau masih susah juga, aku bisa datang ke perusahaan Dara langsung dan menemui Putriku itu" ucap Agung lagi dan menganggukkan kepalanya.


....


Setelah suasana sepi, jam juga sudah menunjukan pukul 11 malam lebih. Dark melihat Agung tengah meringkuk di tempat duduk yang ia duduki sejak tadi.


Udara malam yang dingin menusuk ke tulang tidak ia gubris, mungkin karena sudah lama ia mengalami tidur di jalanan ia jadi sedikit kebal.


Dalam mimpinya Agung kembali kaya dan menikmati segala kemewahan, terlihat dari wajahnya yang tidak bisa berhenti senyum dalam tidurnya. Bahkan ia mengigau ia mengatakan kalau ia kembali kaya dan tertawa.


Wuushhhh..... Dark bergerak dengan cepat.


"Sungguh devinisi orang tidak tahu malu dan tidak sadar diri!!!" ucap Dark dingin saat dirinya kini sudah berada di samping Agung yang tengah meringkuk.


Dark yang sudah menggunakan sarung tangan karet mengeluarkan sedikit Chinya untuk menekan Agung agar tidak bergerak. Bahkan Dark membuat Agung kesulitan membuka matanya, dengan cepat Dark membuka mulut Agung dan menarik lidahnya dengan paksa.


"Uugghhhhh... kehhhhgggg.... Hookkkk..." Agung yang terbangun berusaha meronta, saat ia merasakan ada orang yang menyentuhnya. Ia merasa kan sakit di mulutnya, namun ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Bahkan sekedar membuka matanya pun sangat sulit ia lakukan.


Air matanya menetes di kedua sudut matanya, saat ia merasakan sakit yang teramat sangat. Saat lidahnya di tarik secara paksa dan di remas kuat hingga syaraf di sana seperti di putus, oleh orang yang tidak ia ketahui.


Agung merasa jika lidahnya sudah tidak bisa berfungsi lagi meskipun lidahnya masih ada di mulutnya. Agung pun pingsan saat ia merasakan sakit yang tidak bisa ia tahan. Ia sungguh tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi padanya dan siapa yang melakukan hal itu padanya.


Dark menyeringai sebelum ia menghilang dari sana dengan cepat, tugasnya sudah ia selesaikan dengan baik.


....


Di Star Mansion, Dara masih berkutat di ruang kerja. Meskipun ia tidak melakukan apa-apa, ia tetap berdiam di sana sembari menunggu laporan Dark. Tak lama pintu ruangan pun di buka dari luar.


Terlihat sosok yang begitu tampan dan gagah dengan seragam kebesaran nya itu masuk. Dara yang melihatnya hanya tersenyum saja dan merentangkan tangannya meminta di peluk.


"Aku baru saja pulang dan aku belum mandi sayang, aku tidak ingin mengantarkan kuman dari luar padamu dan anak-anak kita" ucap orang tak lain adalah Kai.


Saat ia pulang dan akan naik ke kamar, pak Agam mengatakan jika istrinya da di ruangan kerja. Jadi ia menghampiri istrinya terlebih dulu, agar istrinya tahu jika ia sudah pulang.


Dara cemberut saat dirinya di tolak oleh sang suami, namun ia juga tidak bisa membantah karena memang ia adalah orang yang pertama mengatakan hal itu pada semua orang.


Namun entah mengapa ia membutuhkan pelukan saat ini, mungkin pikirannya semrawut dan tengah lelah saat mengingat betapa menjijikannya kelakuan agung selama beberapa hari belakangan ini.


"Ayo pindah ke kamar, aku mandi dulu. Baru setelah itu aku akan memelukmu sampai pagi" ucap Kai tersenyum manis pada istrinya


"Hmm, sana mandi dulu! Aku tunggu di sini saja ya, aku malas jalan dan mau di gendong bang" ucap Dara dengan manjanya.


"Baiklah, tunggu sebentar di sini, aku nggak akan lama kok mandinya" ucap Kai mengikuti permintaan Dara.


Ia pun bergegas ke kamar dan mandi, ia hanya membutuhkan waktu sepuluh menit dan sudah wangi dan segar dengan memakai piyama polos.


Kai juga menyiapkan piyama ibu hamil yang berwarna senada dengannya untuk sang istri tercinta. Setelahnya ia kembali ke ruangan kerja Dara, ia tidak ingin istrinya itu lama menunggu dirinya.


Dara yang melihat suaminya datang langsung merentangkan tangannya dan tersenyum lebar. Kai tersenyum dan menggeleng kepala melihat itu, langsung mengangkat Dara dan menggendongnya ala bridal style. Ia juga mencium pipi, bibir dan kepala sang istri, lalu melangkah ke kamar.


"Kenapa malam ini kamu begitu manja dan menggemaskan sayang" ucap Kai


...••••••...