The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
103. Black Shadow



Saat asik berkirim pesan dengar sang kekasih, Dara mendengar suara gaduh di ujung jalan, itu adalah suara orang berkelahi.


Dara langsung bangun lalu memakai kembali maskernya dan mendekati sumber suara itu, karena ia melihat Bara terlibat di sana. Dara melihat Bara terpojok melawan lima orang di depannya.


Di sekitaran taman kota saat itu hanya ada ibu-ibu dan anak muda lainnya. Mereka tidak ingin terlibat perkelahian tidak adil itu. Karena mereka takut dengan identitas orang yang tengah menyerang Bara itu.


Salah satu pria yang menyerang itu, mengambil balok kayu dan menghempaskan itu ke kepala Bara, namun sebelum balok kayu itu mengenai kepala Bara. Dara berlari dengan cepat dan menendang balok kayu itu hingga balok kayu itu hancur.


Orang-orang di sana terkejut bahkan orang di dalam mobil juga terkejut, melihat gadis kecil seperti Dara memiliki kekuatan untuk menghancurkan balok kayu hanya dengan sebuah tendangan saja.


BUGH!!!


Tendangan Dara lainnya mengenai dada pria yang ingin memukul Bara barusan, hingga pria itu terjengkang kebelakang dan mengerang keras dan memuntahkan seteguk darah dari mulut dan hidungnya.


"Hueekk!!! Aarrrgghhh!!" teriak pria itu mengerang sambil memegang dadanya yang terasa sangat sakit.


Tentu saja itu terasa sakit! Itu karena Dara menggunakan Chi miliknya pada tendangannya barusan. Dara marah jika ada yang berani menyentuh keluarganya.


Kalau saja perkelahian itu adil, ia akan melihat dan menilai dulu apa yang sebenarnya terjadi. Namun karena perkelahian itu sangat jompang dan kakaknya hampir terluka, ia tidak bisa diam menonton saja bukan?


BUGH!!!


Tidak sampai di situ, Dara melayangkan pukulan keras di wajah pria lainnya yang menyerang Bara. Hingga dalam kurun waktu kurang dari satu menit, empat pria lainnya mengerang di tanah sembari memegang wajahnya yang terasa sakit karena tulang rahang mereka retak. Juga beberapa gigi mereka terlepas.


Semua orang terkejut kecuali Bara, meskipun iaasih terkejut tapi tidak sebanyak orang lain yang menyaksikan aksi Dara di sana.


Ia bahkan pernah melihat Dara meremukkan pisau dengan tangan kosong dan membanting buronan kelas kakap dengan mudahnya. Itu sangat keren menurut Bara!


Pria di dalam mobil beserta dua orang lainnya tertegun, saat melihat seorang gadis mengalahkan lima orang pria sekaligus.


Pria tampan yang duduk di belakang itu tersenyum menatap ke arah Dara dengan pandangan mata penuh pemujaan.


"Dara..." panggil Bara mengecek keadaan adiknya yang jelas tidak terluka sedikitpun itu.


Namun sebagai seorang kakak, ia tetap mengkhawatirkan adiknya perempuan satu-satunya itu. Ia tidak ingin adiknya terluka, karena hasilnya ia juga akan kena semprot orang tuanya.


"Apa kamu tidak apa-apa? Apa tangan dan kakimu luka? Coba kakak lihat!" ucap Bara memeriksa tangan Dara dengan cemas


"Aku tidak apa-apa kak, justru aku yang tanya sama kakak, apa kakak terluka?" Tanya Dara


"Kakak baik-baik saja kok, jangan khawatir" ucap Bara


"Lalu mereka siapa? Kenapa mereka bisa datang mengeroyok kakak Bara?" tanya Dara menunjuk ke arah lima pria yang masih mengerang kesakitan.


Jelas Dara yakin jika lima orang itu bukan seorang pelajar, karena wajah mereka setidaknya di atas 25 tahun, bahkan ada yang terlihat sekitar 30 tahunan.


"Tadi mereka bilang kalau mereka itu adalah anggota Black Shadow. Mereka di kirim oleh seseorang untuk memberikanku pelajaran" ucap Bara dengan menahan kesal.


"Memangnya ada masalah apa?" tanya Dara


"Nanti kakak ceritakan" ucap Bara


"Be-rani se-kali kau ja-lang ke-cil! Black Sha-dow ak-kan mem-ba-las-nya pa- da-mu!" ucap seseorang dengan terbata karena merasakan sakit di wajah dan mulut nya.


Meskipun kondisi pria itu sangat lemah, semua orang merinding seketika saat mendengar ucapannya. Black Shadow adalah geng ilegal terbesar di kota S dan merupakan salah satu geng ilegal terbesar di negara ini. Tentu saja semua orang di kota S tahu tentang itu.


Mereka semua mengasihani Dara karena sudah menyinggung orang dari Black Shadow.


Dara memberikan tamparan keras ke pria yang tadi berbicara, hingga semua giginya terlepas semua.


"Ngomong aja susah, masih berani ngancem heh! Kau pikir aku takut! Sekarang kalian pilih, kalian pergi atau aku akan membuat kalian merengek menginginkan kematian!" ucap Dara dingin.


Tatapan tajam dan Aura Dara membuat orang itu menggigil ketakutan. Dengan susah payah mereka pergi dari saja sembari memapah pria yang masih mengerang sakit di organ dalam di dadanya.


"Bos!" ucap pria yang duduk di co.driver menanyakan saran dari bosnya itu.


"Jangan ganggu gadis itu!" ucap pria yang duduk di belakang yang di panggil bos itu.


"Tapi bos!" ucap pria di depannya


"Aku tidak ingin di bantah! Panggil orang-orang itu, dan potong lidah pria yang di tampar gadis itu. Dia harus di hukum karena sudah mengancam gadis-ku" ucap bos itu


"Ba-baik bos!" ucap orang itu lagi.


Dalam hati ia mengumpat bosnya yang sudah melabeli gadis itu dengan miliknya. Padahal mereka saja tidak saling mengenal dan bertemu kali ini.


Namun sebagai bawahan, ia tidak bisa menegur Bosnya yang menyukai Dara.


"Ayo pergi!" ucap Bos itu yang di angguki kedua orang di depannya itu.


Mobil itu pun melaju meninggalkan taman kota, pria yang di panggil bos itu terus menatap Dara yang masih berdiri di taman lalu menarik pergi Bara dari sana.


"Berani sekali pria itu menyentuhmu honey, aku percaya kita akan bertemu lagi gadis-ku" gumamnya sangat pelan.


.....


Di mansion Revan dan Jefrey sibuk mencari adik perempuan mereka yang tidak berada di sana. Ia sudah mencari keberadaan Dara dan menanyakannya pada adik-adiknya, tapi tidak ada yang tahu kemana Dara pergi sejak pagi itu.


"Kalian berdua ini sedang apa sih? mondar mandir terus, sampe puyeng mama lihat nya" ucap Ellena menegur kedua putranya itu.


"Lagi nyari Dara mah" jawab Revan


"Ya tinggal di telepon!" ucap Ellena.


"Kita nggak punya nomernya" ucap Revan dan Jefrey bersamaan dan menepuk dahi mereka.


Bagaimana mungkin mereka melupakan hal penting itu. Nomer telpon adik perempuan mereka, yang bahkan mereka tidak tahu!


"Kalian ini ribut terus kenapa sih?" tanya Gusti yang masuk ke mansion setelah menikmati waktu di halaman samping.


"Mereka nyari Dara, Yah" jawab Ellena menunjuk ke arah dua putranya itu.


"Dara? Bukannya dia pergi bareng Bata" ucap Gusti


"Bara? Kakek tahu kemana mereka pergi?" tanya Jefrey


"Mana kakek tahu!" ucap Gusti mengangkat kedua bahunya dan menghampiri cucu-cucunya yang lain, yang tengah bermain PS di ruang keluarga.


Revan langsung menghubungi nomor Bara, namun nomer teleponnya tidak aktif membuatnya kesal. Ia inginmenyusuo tapi tidak tahu keberadaan mereka.


...••••••...