The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
257. Pertarungan part II



"K-kau, seorang kultivator?" ucap Mr.D terkejut.


"Ya dan saya pastikan anda adalah orang pertama yang bertarung dengan saya menggunakan Chi milikku. Ah, maaf maksud saya Qi" ucap Dara


"Chi? Dari mana kau tahu Chi adalah sebutan Qi di masa lalu?" tanya Mr.D tidak henti-hentinya terkejut.


"Guruku yang mengatakannya" ucap Dara berbohong.


"Gurumu? Kalau boleh tahu, siapa gurumu?" tanya Mr.D penasaran.


Jujur saja ia merasa iri pada guru Dara, karena bisa memiliki murid yang sangat hebat dan juga seorang dengan bakat monster yang luar biasa.


"Maaf, beliau tidak ingin orang lain mengetahuinya nama dan keberadaannya" ucap Dara membuat Mr.D sedikit kecewa karena tidak bisa mengetahui orang hebat mana yang menjadi Guru dari Dara. Namun ia tidak mendesak Dara untuk mengatakan padanya.


Justru ia sangat tertarik dengan keterampilan menyembunyikan kultivasi milik Dara agar tidak terdeteksi oleh lawan.


"Saya tanya sekali lagi, bisakah anda memberikan Sanim padaku?" tanya Dara


"Maaf, aku tidak bisa menyerahkannya sebelum apa yang aku inginkan aku dapatkan. Karena itu lebih penting dari apapun" ucap Sanim.


"Baiklah jika itu maumu" ucap Dara


Tanpa ba-bi-bu Dara langsung menyerang kembali Mr.D dan di sambut dengan perlawanan yang sama pula. Mr.D semakin terdesak karena serangan Dara. Ia tidak menyangka jika dirinya yang di tingkat origin bisa di tekan oleh kultivator tingkat Saint yang berada di bawahnya.


Jangankan beda tingkat, beda satu level saja jarak kekuatannya sangat besar. Sejujurnya Mr.D sangat bergidik ngeri melihat besarnya kekuatan Dara. Ia tidak bisa membayangkan jika Dara berada di puncak kekuatan. Sebesar apa kekuatannya nanti.


Mr.D ingin sekali menjadi satu kubu dengan Dara, sebenarnya ia tidak jahat. Hanya saja ia tidak bisa menolak karena apa yang sudah di janjikan Sanim padanya.


BUAK!!!


BLAM!!!


Wuuusshhh!!!!


DUAAARRRR!!!!


.....


Bunyi ledakan terus menerus menggema di ruangan dan area sekita Villa X. Namun karena jaraknya dengan Villa lain cukup jauh dan di pasang Barier kedap suara oleh Dara sebelumnya. Jadi pertempuran mereka tidak mengundang banyak orang datang.


Meskipun begitu, Kai dan Flo yang ada di depan ruangan bawah tanah terkejut dan gelisah memikirkan Dara. Keduanya takut Dara terluka meskipun mereka percaya pada Dara. Tapi rasa khawatir tetap saja ada, mereka hanya bisa berdo'a agar Dara bisa selamat dan tanpa mengalami luka.


"Flo, sebaiknya kita memulai rencana dengan cepat, kita untuk membuat Sanim segera keluar. Agar kita bisa membantu Dara secepatnya" ucap Kai


"Baik kak" ucap Flo mengangguk paham.


....


Di tempat Dara dan Mr.D, keduanya masih bertarung dengan intens. Keduanya mengalami luka, namun tidak terlalu parah, hanya luka ringan karena pertarungan yang sama-sama kuatnya itu.


Dara beberapa kali terdesak dan terkena pukulan begitupun dengan Mr.D. Bisa di pastikan dari luka yang keduanya dapat, Dara lebih unggul karena mendapat luka sedikit, sedangkan Mr.D cukup banyak.


SRAK!!!


Wuuusshhh!!!


BLAM!!!


Mr.D melancarkan serangan berupa cambuk api yang terbuat dari Qi miliknya dan mengarah langsung menyerang ke arah Dara berada. Dara dengan segera menghindar dan cambuk itu mengenai tembok di belakangnya hingga tembok itu roboh.


Sungguh ngeri-ngeri sedap, bayangkan jika cambuk itu mengenai tubuh manusia biasa. Pastinya akan hancur berkeping-keping.


Jadilah keduanya kini berada di halaman belakang Villa melanjutkan pertarungan mereka.


Mr.D yang menggunakan Cambuk Api terus menyerang Dara, sedangkan Dara kini hanya menggunakan ranting kayu yang ia ambil di halaman belakang yang tak sengaja ia injak barusan.


Ranting itu berputar di tangan Dara, Dara mengaliri Ranting itu dengan Chi miliknya dan langsung menerjang Mr.D.


"Sword Butterfly Attack!!!" teriak Dara menggunakan serangan level pertama Sword Butterfly Attack.


Sword Butterfly Attack adalah sebuah teknik serangan pengguna pedang yang di buat dan di kembangkan oleh Liu Annchi. Totalnya ada lima Level dan Dara sudah menguasai kelimanya. Dan kini menggunakan level pertamanya yang paling rendah.


Selain melatih dan memperkuat fisik juga kultivasi nya. Dara juga berlatih banyak skill di ruang dimensi saat ia memiliki waktu luang, salah satunya adalah mengasah keterampilan Sword Butterfly Attack miliknya.


Ada perbedaan antara senjata yang di bentuk oleh Chi dengan media perantara senjata. Jelas menggunakan media perantara, terutama perantara yang memiliki kualitas tinggi. Akan melipat gandakan kekuatan yang di keluarkan oleh senjata itu.


Namun beda kasus dengan Dara dan Liu Annchi. Keduanya memiliki jiwa pedang di dalam dirinya, dan pedang miliknya yang sangat hebat adalah pedang yang membuat Liu Annchi terbunuh dan pedang yang sama dengan yang di cabut oleh Dara di hutan desa S provinsi Y.


SRAK!!!!


Wusshhhh!!!!


BLAAAMMMMM!!!!!


DUAAARRRR!!!


DUAAARRRR!!!


"Uuuhuuukkkhhh...." Mr.D yang terkena serangan Dara, terbang dan menghantam keras pohon besar hingga pohon itu meledak menjadi debu.


"Apa anda tidak apa-apa Mr?" tanya Dara menghampiri Mr.D.


Dara tidak ada niat untuk membunuh Mr.D, karena ia tahu kalau Mr.D bukanlah orang jahat. Mungkin dia melakukan itu karena suatu alasan yang Dara sendiri tidak tahu.


"Aku tidak apa-apa Nona" ucap Mr.D dengan lembut.


Di tengah kondisinya yang terluka cukup parah karena organ dalamnya mengalami luka cukup dalam karena serangan Dara. Mr.D justru berlutut di depan Dara, membuat Dara terkejut.


"Mr, kenapa anda berlutut, ayo bangun!" ucap Dara


"Maafkan hamba yang tidak mengenali anda yang mulia" ucap Mr.D.


Yang di lakukan Mr.D sungguh membuat Dara makin heran dan bingung, juga ia merasakan panas dingin karena sekilas ia berpikir jika Mr.D tahu siapa dirinya.


"Apa maksud anda Mr?" Tanya Dara tidak mengey.


"Dong, nama saya Shao Dong Ma dari keluarga Ma Yang Mulia" ucap Mr.D yang bernama Asli Dong dengan sopan dan lembut.


Jika identitas yang di retas oleh Theo hanya menampilkan nama Shao Li Dong, warga asli negara V. Nama asli Mr.D yang sebenarnya adalah Zhao Dong Ma dari keluarga Ma, dari negara C.


Dirinya harus menyamarkan identitas, karena kultivator bisa hidup lama dan saat ini ia berusia 234 tahun dan berpenampilan seperti laki-laki paruh baya. Dia sudah berpindah negara 4 kali, yakni negara kelahirannya Negara C, negara T, negara K dan terakhir negara V.


"Keluarga Ma dari dinasti Xing (Kekaisaran Bintang)?" tanya Dara untuk memastikan sesuatu yang muncul di kepalanya.


"Ternyata itu benar anda Yang Mulia. Mohon ampun karena tidak mengenali anda yang mulia" ucap Dong dengan sangat senang.


"Kamu mengenalku?" tanya Dara


"Ya tentu saja, Keluarga Ma yang merupakan pengikut setia Yang mulia putri Dinasti Xing, ah salah... Maksud saya Yang Mulia Jendral Besar Liu Annchi. Ternyata ucapan nenek moyang benar, aku akan bertemu dengan Reinkarnasi Jendral Besar dan itu terhubung dengan Batu Takdir. Juga Jendral besar identik dengan pedang yang menemaninya berperang, dan anda melakukan teknik tadi barusan" ucap Dong


"Maksudmu Batu Takdir berwarna Kuning, yang hanya bisa di aktifkan oleh keturunan keluarga Ma? Di mana Batu itu juga melindungi diri dari bahaya tuannya?" tanya Dara


"Ya-ya-ya, itu benar Yang mulia" ucap Dong dengan binar di matanya saat Dara tahu mengenai Batu itu.


Bukan tanpa Alasan Dong yakin Dara adalah Liu Annchi. Selain Dara adalah pengguna Sword Butterfly Attack, tapi juga Dara mengetahui rahasia Batu kuning. Karena selain Keturunan langsung keluarga Ma, hanya Dara yang mengetahui itu. Dan hal itu di larang di bocorkan ke pihak lain.


"Sekarang bisa ceritakan tentang mengapa kamu membantu Sanim?" tanya Dara


"Itu karena Sanim menjanjikan Batu kuning itu dan juga setengah dari kekayaan yang ia miliki Yang mulia" ucap Dong


"Hanya itu saja?" tanya Dara lagi dan menaikan sebelah alisnya.


"Itu karena dendam lama Yang Mulia" ucap Dong dengan mengetatkan rahangnya, jelas ia marah kala mengingat dendamnya itu.


Dara hanya diam memberikan waktu pada Dong untuk menjelaskan semuanya pada dirinya.


"Dulu saya pikir saya tidak pernah menikah selama ratusan tahun, karena tidak ada wanita yang membuatku tertarik. Namun pendirian saya runtuh, tatkala saya puluh dan mencintai seorang manusia, kami pun sampai menikah, namanya Thinh Lao yang meninggal karena sebuah kecelakaan di tempat kerjanya, dari pernikahan saya memiliki seorang anak perempuan yang aku beri nama Rebeca Dong.


Dua tahun lalu putri hamba juga ikut menyusul ke surga. Dia meninggal karena di perkosa oleh Sanim dan di jadikan objek penelitian tentang pengembangan virus dan penawarnya. Dan Batu kuning yang hamba berikan pada Beca di simpan oleh Sanim.


Hamba menyesal kenapa tidak mengajari Beca kultivasi sejak dini agar dia bisa mengaktifkan Batu kuning itu dan melindunginya dari bahaya. Hamba pikir membiarkannya menjadi manusia biasa dan bergaul dengan yang lain tanpa perbedaan adalah yang terbaik. Tapi ternyata saya salah" ucap Dong sendu dan hampir menangis.


"Awalnya hamba tidak tahu tentang itu, tapi sebulan yang lalu hamba mendapat sebuah rekaman amatir yang ada di ponsel Beca yang tertinggal di tempat kejadian perkara. Mulai saat itu hamba mencari keberadaan Sanim. Siapa tahu kalau dia sendiri yang memintaku untuk datang. Aku mengetahui batu itu padanya karena tidak sengaja batu itu terlihat saat ia mengirim postingan photo di akun Instagramnya. Tadinya setelah saya berhasil mendapatkan batu itu, saya sendiri yang akan membunuh Sanim sebagai balasan karena membunuh Beca" ucap Dong lagi.


"Aku paham sekarang, tapi aku tidak akan membiarkan kamu membunuh Sanim. Itu hanya mengotori tanganmu, Dong. Serahkan Sanim padaku! Aku janji akan memberikan pembalasan yang akan membuatmu puas. Aku juga akan mengorek informasi dari Sanim di mana batu itu berada" ucap Dara.


"Baiklah Yang mulia, saya percaya pada anda, saya serahkan bajingan itu pada anda" ucap Dong.


"Panggil aku Dara atau Nona aja. Aku tidak ingin membuat kehebohan yang tidak perlu dan rahasia kan identitasku yang sebenarnya dari orang lain" ucap Dara


"Baik Yang mu, eh Nona Dara" ucap Dong.


...••••••••...