The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
46. Ide tiba-tiba



Celine kini berada di atas motor Dara, ia memeluk Dara dari belakang, Celine mencium aroma wangi yang memikat dari tubuh Dara. Wangi itu sangat segar tapi manis, feminim, menenangkan dan juga menggoda. Celine jadi penasaran, parfum apa yang di gunakan dara saat itu.


Padahal, Dara tidak menggunakan parfum, karena wangi itu memang menguar sendiri.


Dara terpaksa melewati jalan kecil, bukan lewat jalan utama. Karena riskan kena tilang karena Celine tidak memakai Helm saat ini.


Dara mengantarkan Celine ke mansionnya di perumahan Elite daerah selatan ibukota. Dara melaiukan motornya dengan pelan dan hati-hati. Celine menunjukan arahnya hingga Dara tidak nyasar.


"Sedang apa kamu di sana?" tanya Dara smbari fokus menyetir.


"Aku pulang dari cafe di ujung jalan sana, yang kebetulan dekat dengan sekolahku dulu. Aku di sana reuni dengan teman SMA dan bercerita banyak. Tapi siapa tahu kalau saat pulang, ada tawuran di sana dan aku terjebak di tengah-tengah kondisi itu" ucap Celine agak kencang karena suaranya terbawa angin.


"Lain kali hati-hati dan lebih baik menghindar" ucap Dara.


"Baik, terimakasih ya Ra. Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu bagaimana nasib aku" ucap Celine tulus.


"Sama-sama" ucap Dara


Setelah 15 menit, mereka sampai di sebuah rumah dengan pagar menjulang tinggi. Penjaga mansion itu segera membukakan pintu saat tahu nona muda mereka yang datang.


Dara melajukan motornya ke dalam dan berhenti di depan teras mansion. Celine turun namun Dara tetap stay di motornya.


"Ayo mampir dulu Ra" ucap Celine


"Lain kali aja" ucap Dara


Celine kecewa Dara tidak ingin mampir, namun ia juga tidak memaksa. Setelahnya Dara kemudian melajukan kotornya keluar dari halaman mansion besar itu.


"Sama siapa kamu Line, sama gebetan ya?" tanya Samuel.


Ia tidak tahu jika yang membawa motor adalah perempuan. Karena Dara mwnggunakan pakaian casual lengkap dengan jacket dan helm full face nya.


"Gebetan endasmu. Itu Dara yang anterin aku pulang" ucap Celine


"Dara?? Kenapa nggak di suruh mampir dulu" ucap Samuel terkejut saat mendengar nama Dara.


"Dianya nggak mau" ucap Celine.


"Kok bisa bareng?" taya Samuel.


"Tadi aku terjebak di tengah-tengah tawuran, terus Dara nyelametin aku" ucap Celine.


"Astaga, tapi Dara nggak kenapa-kenapa kan? Dia nggak terluka kan?" tanya Samuel khawatir.


"Si*lan aku yang di depan mah nggak di tanyain, malah yang di tanyain orang lain dulu" ucap Celine cemberut, ia lalu pergi begitu saja ke kamarnya.


"Line, woy jawab dulu napa!" teriak Samuel.


"Bodo amat, cari tahu aja sendiri" ucap Celine.


Samuel yang masih khawatir pun mau tidak mau mengambil ponselnya. Ia melihat ruang obrolan dirinya dan Dara yang masih kosong. Samuel akhirnya mengirimi Dara pesan setelah itu, menanyakan kabarnya.


....


Dara menghentikan motornya di taman komplek bagian selatan ibukota, tak jauh dari mansion Keluarga Rukmana. Ia kemudian duduk di samping pria sekitar 30 tahunan yang wajahnya terlihat kusut seperti banyak masalah.


Dia berpakaian rapih, di tangannya ada sebuah map dan juga botol air mineral. Ia terlihat menghela nafas berkali-kali.


Tiba-tiba telepon pria paruh baya itu berdering. Pria itu mengangkatnya dengan lesu, Dara bisa mendengar suara dari telepon itu dengan jelas.


"Ayah, bagaimana? Apa sudah mendapatkan pekerjaan?" tanya seorang wanita lembut, yang Dara tebak adalah istri pria itu.


"Maaf Bu, ayah belum dapat" jawabnya.


"Ya Tuhan, lalu bagaimana yah, sebentar lagi biaya sekolah anak-anak harus segera di bayar. Ibu sudah tidak memiliki simpanan uang lagi" ucap istri pria itu dengan sedih.


Telepon itu terputus, Dara paham dengan apa yang di rasakan pria itu dan istrinya. Meskipun bukan ranahnya untuk mengetahui dan ikut campur masalah orang lain.


Namun feeling-nya mengatakan jika pria di sampingnya itu salah satu orang yang memiliki takdir sukses di masa depan. Jadi Dara mulai mengajak pria itu berbicara.


"Permisi pak, boleh saya tanya sesuatu?" tanya Dara.


"Ah iya, tanya apa ya dek?" tanya pria itu sopan.


"Saya tidak sengaja dengar kalau anda cari pekerjaan, kalau boleh tahu keahlian bapak apa ya? Barang kali saya bisa membantu. Ah iya perkenalkan nama saya Addara, bapak bisa panggil saya Dara" ucap Dara sopan.


Meskipun pria itu ragu, namun ia tetap mengatakannya. Ia menghargai Dara yang ingin membantunya, jadi ia juga tidak keberatan mengatakannya.


"Nama saya Lukman, sebelumnya saya seorang manager umum di Hotel Jolie" ucap Lukman dengan sopan juga.


"Kenapa bapak berhenti bekerja? Bukannya menjadi manager umum itu jabatan yang berpenghasilan tinggi?" tanya Dara.


"Itu karena saya menyinggung anak pemilik Hotel. Saat itu aku memergokinya membawa seorang karyawan yang masih gadis, ia ingin ia lecehkan karyawan itu, dia memarahi saya karena saya menggagalkan rencananya. Dan kali keduanya saya juga melaporkannya pada atasan kalau dia sering mengambil dana hotel, yang menyebabkan dana operasional berkurang banyak. Saya juga memberikan buktinya, namun justru saya yang di tendang dan di blacklist. Bukan hanya di blacklist di hotel Jolie, tapi juga perusahaan lain. Jadi sampai sekarang saya belum mendapatkan pekerjaan" ucap Lukman dengan raut wajah sedih.


"Begini pak, kebetulan saya berencana akan membangun hotel. Jika bapak tidak keberatan, bapak bisa menghubungi asisten saya untuk itu. Karena saya menyerahkan semuanya pada asisten saya, jadi dia yang menginterview dan memutuskan di terima tidaknya " ucap Dara berbohong.


Karena dia baru terpikir ingin membangun hotel karena ucapan Lukman barusan.


Ia ingin merambah usahanya di bidang lain dan sepertinya hotel cukup bagus. Ia akan membicarakan ini dengan Theo dan Ferdi.


Lukman menatap Dara ragu dengan yang ia bicarakan, tapi ia juga tidak ingin melepaskan kesempatan jika memang benar yang di ucapkan Dara.


"Apa itu benar nona?" tanya Lukman mengubah panggilannya untuk Dara menjadi nona.


"Tentu saja, ini kartu nama asistenku, namanya Ferdi. Dan ini...." ucap Dara menyerahkan sepuluh lembar uang.


"Apa ini?" tanya Lukman terkejut Dara memberikannya uang.


"Itu untuk keluarga anda yang membutuhkan uang sekarang, pakai saja. Anggap saja itu rezeki untuk keluarga anak-anak bapak. Saya hanya bisa membantu sampai sini, lolos atau tidaknya anda saat interview dengan asisten saya. Itu tergantung pada kemampuan anda" ucap Dara.


"Ah terimakasih banyak, saya anggap ini pinjaman dari anda, nona. Setelah saya bekerja dan menghasilkan uang, saya akan mengembalikannya. Saya akan berusaha untuk di terima di perusahaan anda dan bekerja untuk anda" ucap Lukman yakin dan juga semangat dari ucapannya.


Ia bersyukur Tuhan mempertemukannya dengan Dara. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan Tuhan padanya.


Setelahnya Dara pulang, sebelum pulang, ia mengabari Ferdi tentang Lukman. Ia juga menghubungi Theo untuk mencari tahu informasi tentang Lukman. Selain itu Dara memerintahkan untuk mencari lahan atau bangunan bekas hotel yang akan di jual.


.....


Malam harinya setelah makan malam dan bersantai di ruang keluarga, Dara merasa jika Chi di pusat energinya sudah penuh, ia berada di krisis untuk menerobos tingkat berikutnya kali ini.


"Dimas, kakak duluan ke kamar ya" ucapnya pada Dimas


"Loh, ini masih sore kak, tumben udah mau naik" ucap Dimas.


"Badan kakak capek banget karena keliling dari pagi naik motor, jadi mau istirahat" ucap Dara


"Ya sudah kakak istirahat aja, nggak apa-apa" ucap Dimas sambil mengangguk mengerti.


Dara juga berpesan pada Agam kalau ia tidak ingin di ganggu, ia ingin istirahat dan tidur nyenyak sampai besok pagi.


Agam hanya mengangguk dan mematuhi perintah majikannya.


Dimas yang masih belum mengantuk mengajak Ryan bermain PS. Dimas mengenal PS saat di kenalkan oleh Ryan, ia juga belajar banyak hal dari Ryan. Meskipun begitu, Dara terus memantau adik-adiknya, agar mereka tidak lupa dengan pelajaran di sekolahnya.


Keduanya pun saat ini asik bermain Game, Alan yang sebagai yang tertua di sana hanya bertugas menjaga dan mengawasi adik-adiknya di sana.


...••••••...