
Tak butuh waktu lama, rekan dari musuh Arvin yang tersisa juga sudah di lumpuhkan oleh Flo dan saat ini tengah sekarat menunggu ajal mereka. Segera Flo mendekat ke arah nonanya itu dan menanyakan keadaannya.
"Apa nona tidak apa-apa?" tanya Flo
"Ya, tidak perlu khawatir, bagaimana dengan lawanmu Flo?" tanya Dara
"Sudah di bereskan semua, Nona" ucap Flo
"Kerja bagus Flo" puji Dara menepuk kepala Flo pelan.
"Terimakasih Nona" ucap Flo tersenyum dan bersemu merah merasa senang di puji oleh nonanya itu.
Sedangkan Arvin masih menatap tidak percaya bahwa mereka bisa menyelesaikannya dengan mudah dan kurang dari 5 menit. Sedangkan dirinya melawan tujuh orang dan berhasil menumbangkan dua orang dalam dua puluh menit.
Dan lagi lawannya itu adalah orang yang memiliki keterampilan bertarung yang hampir sama dengan peringkat pembunuh Ace.
Kalau saja Flo masih belum berkultivasi, ia hanya sanggup menumbangkan dua di antara orang itu, namun sekarang kekuatannya jauh lebih besar karena sudah menjadi seorang kultivator.
Bahkan ia hanya menggunakan lima puluh persen kekuatannya sekarang untuk melawan lima orang dengan tangan kosong.
Di pikiran Arvin, sungguh ia melihat kedua gadis yang sangat luar biasa dengan mata kepalanya sendiri dan jarak yang dekat. Hal itu membuat rasa kagum dan rasa suka pada Dara semakin besar lagi.
"Awwwss...." Arvin meringis sakit saat lukanya berdenyut nyeri.
Dara dan Flo menoleh dan menghampiri Arvin mendengar rintihan Arvin.
"Flo, ambil peralatan medis!" titah Dara.
"Baik, nona!" sahut Flo langsung beranjak menuju mobil.
Sebenarnya tidak ada kotak obat atau peralatan medis di sana. Karena Flo menyimpannya di cincin ruang pemberian nonanya itu, ia melakukan itu karena Dara yang sudah menaruh peralatan medis di sana. Kalau-kalau terjadi hal darurat seperti sekarang ini.
Tak lama kemudian Flo datang dengan peralatan medis lengkap milik nonanya itu.
"Ini nona!" ucap Flo menyerahkan alat medis itu.
"Berbaringlah, dan angkat bajumu!" ucap Dara
Arvin yang awalnya terdiam pun terkejut mendengar ucapan Dara, namun ia menurut untuk segera berbaring dan mengangkat bajunya sampai luka lebar di perutnya terlihat.
Melihat perut ABS itu Dara tidak ada respon sama sekali, ia tetap biasa saja karena sekarang ia adalah dokter dan Arvin seorang pasien yang ia tolong. Berbeda jika itu adalah Kai yang saat itu berhasil membuat Dara tertegun saat melihat perut ABS dan keras itu, entah mengapa jantungnya bergetar melihatnya.
"Tahan sebentar" ucap Dara saat menyuntikkan anestesi dan melakukan operasi kecil di sana. Arvin hanya mengangguk dan memandang wajah cantik Dara dari dekat. Jantungnya bertalu kencang, terlebih ia mencium aroma tubuh Dara yang sangat wangi.
Sebenarnya bisa saja Dara memberikan pil penyembuh, namun ia tidak memberikannya. Alasannya adalah luka Arvin tidak terlalu parah dan masih ia obati dengan ilmu medis modern. Selain itu Dara tidak ingin mengekspos pil penyembuh terlalu sering.
Memang stok pil penyembuh dan pil lain di ruang dimensi buatan Liu Annchi ataupun Dara masih banyak, tapi ia juga tidak bisa sembarangan menggunakannya. Itu terlalu beresiko, baik untuk dirinya atau keluarganya jika orang yang tidak bertanggung jawab mengetahuinya.
Paling nanti ia akan memberikan salep luka yang sudah ia buat, dengan dosis yang sedikit lebih tinggi dari yang ia berikan pada Flo saat pertama adu tanding. Agar bekas luka Arvin menutup sempurna dan tanpa bekas.
"Sudah selesai" ucap Dara
"Eh selesai? Makasih Ra" ucap Arvin menatap balutan luka di perutnya.
"Sama-sama, jahitannya masih basah jadi jangan sampai terkena air selama setengah bulan. Ganti perban secara rutin agar tidak terjadi infeksi nantinya. Kamu bisa konsultasi ke dokter untuk penanganan lukamu kalau tidak mengerti" ucap Dara
"Hmm, bukankah kamu dokter? Kenapa tidak kau saja yang merawatku?" ucap Arvin penuh harap.
"Maaf tidak bisa, aku belum resmi jadi dokter. Jadi silahkan pergi ke rumah sakit nanti" Ucap Dara menolak secata langsung
"Tidak masalah kamu belum resmi, tapi kamu sangat piawai mengobati. Aku tidak masalah dengan lisensi kedokteran mu, yang penting adalah keterampilan kamu mengobati" ucap Arvin
"Aku menolak!" ucap Dara tegas
"Aku bayar mahal" ucap Arvin
"Aku tidak kekurangan uang, pulanglah! Apa aku perlu menelepon keluargamu untuk menjemputmu?" ucap Dara
"Aku ada urusan!" jawab Dara
"Baiklah, aku akan pulang sendiri Mobilku ada di ujung jalan sana!" ucap Arvin menghela nafas kecewa namun tidak mengurangi rasa cintanya pada gadis itu.
"Aku akan memberi kabar keluarga mu" ucap Dara
"Jangan! Aku tidak ingin mereka khawatir. Biar nanti aku saja yang menghubungi Rocky untuk menjemput ke sini" ucap Arvin.
"Hmm" Dara mengangguk.
Ia kemudian menunggu tangan kanan Arvin itu datang, karena tidak mungkin ia meninggalkan pasien dalam keadaan terluka sendirian di sini. Terlebih banyak mayat bergeletakan di sini, bagaimana jika ada orang yang melihatnya?
"Apa kamu tidak ingin menanyakan sesuatu? Kenapa aku di kejar mungkin?" tanya Arvin.
"Tidak! Aku tidak berniat mengurusi urusan orang lain" ucap Dara
"Orang lain? Kamu menganggapku orang lain? Aku tidak suka di anggap orang lain bagimu Ra. Aku mencintaimu dan berharap kamu mau hidup bersamaku di masa depan, apa ketampananku masih kurang di banding pacarmu itu?" gumam Arvin dalam hati.
"Tadi itu musuh dari persaingan bisnisku!" ucap Arvin mengatakan alasan mereka mengejarnya. Terlepas itu alasan sebenarnya atau karangan, ia hanya ingin berbagi cerita dengan Dara.
Dara hanya diam tidak menanggapi, lagian ia juga bingung harus merespon seperti apa. Yang jelas ia tidak ingin terlalu dekat dengan pria di depannya.
Bagaimana pun ia punya pacar, dan ia juga tidak ingin pacarnya di dekati gadis lain. Jadi ia juga tidak ingin dekat dengan pria lain, selain Keluarga dan kekasihnya.
Namun di satu sisi ia tidak bisa mengabaikan Arvin yang tak lain adalah anak dari sahabat ibunya. Dan hubungan antara kedua keluarga juga sangat dekat, jadi ia tidak memikirkan hal lainnya.
Tak berapa lama Rocky datang bersama 10 orang lainnya. Terlihat 1 mobil tipe sedan dan 2 mobil model Jeep berhenti dan menghampiri mereka bertiga.
"Tuan muda, apa yang terjadi?" tanya Rocky khawatir.
Ia juga melihat keberadaan Dara di sana, dan mengucapkan salam padanya secara singkat.
"Aku di serang, kamu minta anak buahmu mengurus mayat itu. Ayo pulang!" ucap Arvin
"Ra, aku pulang dulu, sekali lagi terimakasih" pamit Arvin
"Ya, semoga cepat sembuh" jawab Dara yang di balas senyuman dari Arvin
Arvin pun setelahnya pergi dengan Rocky entah kemana, sedangkan Dara dan Flo kembali ke mansion Keluarga Adi Raharjo.
....
Saat di mansion keluarga Adi Raharjo, Dara dan Flo di sambut saudara-saudaranya yang lain yang sudah bersiap dengan tukedo mereka berwarna hitam, hanya Ellena yang menggunakan gaun cantik yang sangat anggun berwarna coklat muda.
"Loh ada acara apaan kok rameh?" tanya Dara
"Nah ini dia, princess nya udah datang. Ayo sayang ganti baju dulu, gaunnya udah mama siapin di kamar. Kamu juga ganti pakai gaun Flo, gaunnya ada di kamar kamu" ucap Ellena.
"Tapi buat apa mah? Emang kita ada acara apa?" tanya Dara bingung
"Buat foto Keluarga sayang, mumpung sedang kumpul semua. Ayo cepet ganti, kita udah nungguin kamu lama loh, sejak mamah kirim pesan ke kamu" ucap Ellena.
Memang sebelumnya Ellena sudah mengirim pesan pada Dara buat pulang secepatnya. Namun karena ada kendala di jalan jadi ia sedikit terlambat. Ya kendala itu tak lain adalah menolong Arvin.
"Ya mah, kalau gitu Dara siap-siap dulu" ucap Dara mengode Flo juga bersiap.
"Saya juga bersiap dulu nyonya, dan terimakasih gaunnya" ucap Flo dengan tulus.
"Sama-sama Flo" ucap Ellena tersenyum.
Tak lama mereka semua berkumpul untuk melakukan foto keluarga, namun ada kejadian yang sudah tertebak. Yaps, fotografer terkejut melihat Dara bahkan sampai mimisan dan tidak berhenti mengucapkan kata Dewi membuat semuanya terkekeh.
Dan sesi foto keluarga pun berjalan dengan lancar, tanpa ada kendala. Mereka foto secara bersama-sama di mana Flo dan juga Wira ikut di sana. Foto para anak-anak, foto para orang tua dan juga Foto keluarga inti Adi Raharjo.
...••••••...