
Keesokan harinya Dara sudah berada di apartement milik sang kekasih, setelah kedua kakaknya sudah berangkat ke proyek tender. Sedangkan Arvin yang kemang tidak di izinkan Dara menginap di mansion, langsung menuju tempat tender dari hotel di mana ia menginap.
Bara bersama Alan entah keluar kemana, Dimas dan Ryan sudah berangkat sekolah sejak pagi. Lalu Flo yang masih fokus berkultivasi dan memperkuat fisiknya dengan latihan tanding bersama White
Dara dan Kai saat ini menghabiskan waktu berdua bersama di apartemen. Mereka berencana akan berkencan hari ini.
Kini Dara tengah memperhatikan sang kekasih tengah menyiapkan makan siang untuk mereka berdua. Ya, kali ini yang memasak adalah Kai, bukan Dara.
Lihatlah, laki-laki tampan dengan t-shirt pas badan yang menampilkan otot lengan dan bahu yang sadarable. Dapat Dara rasakan otot perut Kai keras dan seksi itu saat ia peluk dan sekarang di balut Appron berwarna biru, mulai memasak dengan piawainya.
Sebenarnya Kai kemarin datang ke star Mansion dan ingin mengajak sang kekasih jalan. Namun sayangnya karena ada tamu yang tak lain adalah calon kakak iparnya dan saingannya, membuat Kai mengalah lagi saat itu. Jika tidak mungkin restu yang ia sudah kantongi menghilang dari kedua kakak Dara.
Dara juga bertekad ingin menceritakan tentang Kultivasi pada sang kekasih. Setelah nanti memiliki waktu yang cukup setelah berkencan hari ini.
"Wangi sekali" ucap Dara mendekati dapur.
"Kenapa kamu masih di sini sayang, kamu duduk aja di sana dengan tenang Oke" ucap Kai sambil mengaduk masakan di penggorengan dengan spatula.
"Aku ingin membantu Kai" ucap Dara
"No! Biar aku aja, kan aku udah bilang kalau aku yang akan masak dan siapkan makan siang untuk kita. Kamu tunggu saja di depan sambil menonton TV" ucap Kai.
"Baiklah aku tidak membantu, tapi aku ingin tetap di sini melihat mu memasak" ucap Dara
"Oke tapi mundur sedikit, jangan terlalu dekat sayang" ucap Kai
"Kenapa? Aku kan tidak mengganggumu" ucap Dara Cemberut.
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di bibir Dara membuat sang empu terkejut. Sedangkan pelaku hanya tersenyum manis dan menatap kekasihnya sekilas.
"Karena aku tidak bisa fokus memasak, Babe. Lihat! perhatianku dari mata dan tubuhku akan terus mengarah pada kamu,m dengan sendirinya. Kamu terlihat lebih menarik dari pada masakan hingga ingin sekali aku memakan kamu" ucap Kai.
BLUSH!!!
Astaga saat ini wajah Dara memerah malu karena gombalan sang kekasih yang semakin lama semakin manis saja. Dara takut terkena diabetes karena selalu di berikan asupan yang manis dari kekasihnya.
TAK!!!
Kai mematikan kompornya dan berbalik ke arah Dara yang tengah tersipu hingga wajahnya memerah.
"Aaahhh..." teriak Dara saat tubuhnya tiba-tiba melayang dan mendarat di meja dapur.
"Kai!" pekik Dara
"Aku sudah mengatakan untuk menjauh sayang, aku tidak kuat jika dekat dengan kamu. Lihatlah wajah memerahmu, sangat menggemaskan sayang, bagaimana bisa perhatian ku tidak teralihkan" ucap Kai
Dara yang mendengarnya menggigit bibirnya karena mendengar ucapan dan helaan nafas Kai yang menerpa wajahnya dengan harum mint yang memabukkan.
"Jangan di gigit sayang, nanti bibir kamu terluka. Biar aku aja yang gigit, pastinya aku akan gigit sangat pelan dengan perasaan" ucap Kai
Cup!
Tak menunggu lama Kai mendaratkan bibirnya ke bibir sang kekasih yang memabukkan dan menjadi candunya itu. Ciuman itu semakin menuntut dan hingga suara dec*kan Saliva menggema di dapur.
Dara yang sudah terbuai meskipun awalnya terkejut, mulai melingkarkan tangannya ke leher sang kekasih dan cukup lama mereka berciuman. Jika saja bukan karena bunyi perut Dara terdengar keras, entah kapan mereka akan mengakhiri ciuman itu.
Kai melepaskan pagutannya itu, keningnya menempel di kening Dara. Nafas keduanya terengah seakan menghirup oksigen yang banyak-banyak takut di ambil orang lain.
"Ha-ha maaf membuatmu kelaparan sayang. Tapi bibir kamu sangat manis, aku suka dan candu sekali" ucap Kai, membuat Dara malu karena bunyi perutnya itu dan juga tersipu karena ucapan Kai yang sangat manis..
Sebenarnya Kai tidak rela mengakhiri ciuman itu, tapi ia tidak ingin membiarkan sang kekasih kelaparan. Jadi ia mengakhirinya dan melanjutkan kegiatan masak memasak yang tertunda.
Sedangkan Dara kini beranjak duduk di sofa tamu dengan jantung berdegup dengan kencang. Memang cobaan berada di dekat Kai juga sangat besar, ia bahkan tidak bisa menolak saat Kai mulai menciumnya dan Ia malah terhanyut dan menikmatinya.
Dara beruntung Kai bisa menahan nafsunya dan tidak berbuat hal yang lebih dari itu sejak mereka berhubungan. Dara sangat tahu kalau Kai adalah sosok pria yang sangat tanggung jawab dan sangat mencintai nya.
Ia bersyukur bisa memiliki kekasih yang menjaga dan mencintai dirinya dengan sepenuh hati seperti Kai.
....
memakannya.
"Makanlah sayang, coba yang ini!" ucap Kai
Dara pun mulai mencoba masakan Kai, ia terkejut saat tahu masakan Kai sangatlah lezat. Bahkan di bandingkan masakannya, masakan Kai lebih lezat lagi.
"Bagaimana?" tanya Kai
"Lezat, ternyata kamu berbakat untuk jadi chef" ucap Dara sembari menyuapkan makanan itu di dalam mulutnya.
"Aku tidak tertarik jadi Chef, tapi aku tidak masalah memasak untukmu setiap kamu ingin makan masakanku" ucap Kai membersihkan noda makanan di sudut bibir Dara dengan ibu jarinya.
"Aku akan menagih ucapanmu nanti" ucap Dara tersenyum manis.
"Tentu. Kau boleh menagihnya kapanpun" ucap Kai ikut makan masakannya sendiri.
Hatinya merasa senang karena bisa membuat Dara bahagia dengan cara sederhana. Yakni menikmati masakan yang ia buat.
....
Setelah makan siang, keduanya bergegas naik mobil untuk kencan mereka. Mereka akan pergi ke pusat kota untuk jalan-jalan dan akan ke Holly Mall, tepatnya berencana menonton Film.
Namun saat di tengah jalan, telepon Kai terus menerus berdering. Mau tidak mau Kai menjawab telepon dari pangkalan militer itu. Terlihat wajahnya yang kusut setelah menerima telepon itu.
"Ada apa?" tanya Dara meskipun ia sudah mengetahui apa yang di bicarakan di telepon itu.
"Aku harus kembali, ada tugas mendesak yang mengharuskan aku ikut serta dan tidak bisa di wakil kan" ucap Kai dengan perasaan kesal karena rencananya dengan sang kekasih lagi-lagi batal.
"Berapa lama?" tanya Dara
"Aku belum tahu, karena aku harus mengurus sesuatu yang darurat di perbatasan. Ada masalah menyangkut masyarakat di sana, sebagian besar gadis dan anak-anak tiba-tiba menghilang dan tidak pernah kembali. Falcon di tugaskan menyelidiki penyebab masalah itu" ucap Kai
Mendengar itu, entah mengapa ada perasaan khawatir di dalam hati Dara. Melihat Kekasihnya diam Kai memegang jemari tangan Dara.
"Sayang, maaf kan aku karena rencana kita gagal. Apa kamu marah? Aku sangat menyesal karena harus meninggalkan kamu lagi" tanya Kai.
"Tidak! Aku tidak marah, aku hanya khawatir saja. Entah mengapa perasaanku tidak enak" ucap Dara mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Kamu tenang saja, aku akan hati-hati. Do'akan saja aku sehat dan selamat, lalu kembali bertemu denganmu" ucap Kai menggenggam tangan Dara.
Kai kemudian putar arah menuju ke Star Mansion untuk mengantar sang kekasih terlebih dulu.
Sesampainya di mansion, Kai memeluk Dara dengan erat. Sejujurnya ia ingin selalu berada di dekat sang kekasih, namun tugas menantinya dan masyarakat memerlukannya untuk memecahkan misteri di sana.
Kai kemudian menciumi seluruh wajah Dara dan mengecup bibir itu berkali-kali.
"Aku akan merindukanmu" ucap Kai
"Aku juga akan merindukanmu" ucap Dara
"Aku berangkat dulu ya" ucap Kai
"Sebentar Kai, Pakai ini" ucap Dara menyerahkan sebuah kalung dengan liontin seperti tetesan air berwarna biru.
"Untukku? Terimakasih sayang, aku menyukainya" ucap Kai tersentum haru dan merasa bahagia saat menerima hadiah dari sang kekasih.
"Dengarkan aku Kai, Apapun yang terjadi jangan lepas kalung ini. Kamu harus berjanji padaku" ucap Dara sungguh-sungguh.
"Tentu, aku tidak akan melepaskannya, karena ini kalung dari kamu" ucap Kai berjanji.
Dara sedikit tenang setelahnya lalu melepas kepergian sang kekasih untuk bertugas. Setidaknya ia merasa sedikit tenang.
...••••••...