The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
235. Kenyamanan Dara - Musuh?



Ellena mengelus punggung putrinya itu, ia tadinya ingin mengatakan jika apapun masalah yang di alami sang putri tidak harus di pendam sendiri. Ia juga akan menjadi pendengar yang baik dan dengan senang hati memberikan kasih sayang seorang ibu untuk Dara, meskipun Dara tak lahir dari rahimnya.


Setelah mendengar Dara merindukan ibunya, sungguh hati Ellena teriris sakit. Bukan karena tidak suka Dara merindukan ibu kandungnya. Namun karena menyesal tidak sejak lama mereka menemukan Dara dan Dimas. Jika mereka tidak terlambat, mungkin Nayla masih berada di antara mereka dan hidup rukun dan berbahagia.


Melihat Dara sudah tenang dan melepaskan pelukannya, Ellena tersenyum dan menatap wajah putrinya itu lalu mengelus Surai hitam nan panjang Dara dengan lembut.


"Jangan sedih, masih ada mama Ellena dan papa Adrian yang sekarang jadi orang tuamu. Ada kakek, kakak-kakakmu dan juga adik-adikmu di sampingmu yang akan menemanimu sekarang" ucap Ellena


"Iya mah. Terimakasih sudah hadir dalam hidup Dara dan Dimas" ucap Dara tulus.


"Iya sayang, mama juga bersyukur punya kamu sebagai putri kesayangan mama. Ah iya kenapa jam segini baru pulang? Apa Alden membuatmu lembur?" tanya Ellena mengalihkan pembicaraan agar putrinya itu tidak bersedih.


"UGD lagi ramai mah, apalagi ada pasien yang rese yang maunya hanya di rawat Dara. Padahal kondisinya udah sehat, tapi ia kekeh bilang masih sakit dan mau di rawat di sana" ucap Dara menceritakan kejadian yang ada di tempat kerjanya.


Entah mengapa, Dara sekarang sangat terbuka dan merasa nyaman dengan keluarganya. Ya meskipun itu hanya pada orang terdekat saja dan tidak semuanya.


Dara bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari orang tua (Adrian-Ellena) dan keluarga dari keluarga Adi Raharjo maupun Narendra.


"Ha-ha-ha, itu modus pasti. Mama tebak, dia pasti tahu wajahmu kan?" tanya Ellena


"Hmm, mama bener. Tuh anak reseh banget mah, dia yang buat orang-orang lihat wajah Dara sebel deh. Kan jadinya semua repot, yapi entah mengapa setelah dia tahu wajah Dara, tuh bocah tengik jadi sok kalem gitu mah" ucap Dara


"Ha-ha-ha pesona putri mama emang nggak kaleng-kaleng. Pasti itu pasien cowok" ucap Ellena


"Wah mama dukun nih" ucap Dara terkekeh mendengar tebakan mamanya


"Anak kecil juga tahu sayang, wong anak mama cantik gini, pasti yang mau ngantri. Jadi yang kaya gitu pasti para cowo yang baru melihat bidadarinya Adi Raharjo turun dari istananya" ucap Ellena


"Dara sih bodo amat, kan cuma profesional kerja. Lagian Dara udah punya Kai Mah, paket komplit lagi" ucap Dara terkekeh


"Ha-ha mama tahu, nggak usah di ingetin dasar pasangan bucin!" ucap Ellena yang di balas tawa renyah dari Dara.


"Ngomong-ngomong bagaimana hubungan kamu dengan Kai. Tumben itu calon menantu bucin nggak ada nongol-nongolnya dari pertama kamu ke sini sayang" tanya Ellena


"Kai masih bertugas mah, mungkin kali ini agak lama. Kalau komunikasi lancar kok mah, ya memang nggak seintens biasanya karena sinyal di sana sulit dan waktu istirahat terbatas" ucap Dara


"Semoga Kai baik-baik saja ya. Terus Flo mana? Bukannya kata kamu dia akan nyusul kamu ke sini? Ini udah lebih dari dua Minggu tapi dia belum ke sini juga" tanya Ellena.


"Di ibukota sangat sibuk ngurusin perusahaan mah. Apalagi Dara sekarang koas, pastinya Flo lebih sibuk dari biasanya" ucap Dara


"Duh kasihan calon menantu mama, apa kamu nggak coba cari Personal Assistant lain Ra? Biar ada yang bantuin Flo di perusahaan, apa perlu mama minta tolong papamu?" ucap Ellena


"Nggak usah mah, mungkin nanti kalau Dara sudah Nemu kandidat yang tepat. Tapi mah, sepertinya harapan mama mau jadiin Flo menantu pupus deh" ucap Dara


"Loh kenapa?" tanya Ellena terkejut.


"Flo sudah memiliki pilihannya sendiri" jawab Dara


"Siapa? Kenapa Flo nggak sama Bara atau Jefrey saja sih?" ucap Ellena sedikit kecewa.


"Flo sedang dekat dengan Lingga, sepupunya Kai. Mungkin mereka belum jodoh mah, kita nggak bisa memaksakan perasaan orang lain" ucap Dara memberikan pengertian


"Yaaahh pupus deh harapan mama punya menantu cantik, hebat dan kuat biasa kaya Flo" ucap Ellena di buat sedih, karena ia tidak benar-benar sedih.


Sejujurnya ia sedikit kecewa karena Flo tidak menjadi menantunya. Tapi ia juga tidak bisa memaksakan kehendak dan kebahagiaan Flo, karena kebahagiaan Flo sendiri yang menentukan.


....


Operasi Megan berjalan dengan lancar, namun dokter tidak yakin dengan hasil operasinya nanti akan lebih baik atau tidak. Mengingat kondisi wajah Megan sebelum di operasi sangat parah.


Berbeda dengan Megan yang mengira wajahnya akan kembali seperti semula. Ia kini menghindari belanja online dan juga tidak berani mengusik Dara lagi.


Sudah cukup kemarin ia di buat ketakutan hingga hampir dua Minggu ini tidak keluar rumah, tidak bisa tidur dan makan karena mengingat potongan kedua kepala orang suruhannya itu di pelupuk matanya.


"Nona tolong jangan sering berbicara dan kontrol emosi anda. Jangan sampai kejadian kemarin terulang" nasehat Dokter menggunakan bahasa Negara K


Megan hanya mengangguk saja mendengar itu, tentu ia tidak ingin wajahnya seperti kemarin. Yang hampir membuat dirinya sendiri pingsan.


Masalah Megan yang menyuruh orang untuk memberikan pelajaran untuk Dara, Flo sudah menceritakan semuanya pada nonanya. Dara yang mendengar laporan itu hanya menarik nafas.


Sungguh ia tidak tahu sampai kapan hal serupa akan terjadi, mengingat resiko dirinya yang memiliki calon suami yang sangat tampan dan tajir melintir juga punya pangkat yang tinggi pula.


....


BRAK!!!


Seorang laki-laki paruh baya menghancurkan meja di depannya saat mendengar kabar kurang mengenakan dari anak buahnya.


"Bagaimana bisa kalian kalah, Hah?? Kalian membawa banyak orang, Puluhan! Puluhan!!" teriak pria paruh baya itu.


"Maafkan kami tuan Sanim, tapi orang-orang kita bukan lawan militer. Kita sudah mengupayakan semua yang kita punya, tapi sia-sia karena pijak militer menurunkan tim terbaik mereka" ucap salah seorang yang tengah berlutut di depan pria paruh baya yang di panggil tuan Sanim itu.


"Bagaimana dengan Harun? Harusnya ia bisa menghancurkannya dari dalam bukan?" tanya Sanim


"Maaf tuan, sepertinya tuan Harun juga tidak bisa berbuat banyak. Karena pihak militer yang maju adalah dari pasukan khusus yang tidak bisa di perintah oleh orang lain selain komandan mereka" ucap orang lainnya.


"Siapa komandannya?" tanya Sanim


"Saya tidak tahu tuan, tapi yang saya dengar dia adalah Jendra muda di kemiliteran" ucap orang itu


"Lalu bagaimana dengan barang-barangnya?" tanya Sanim


"Semuanya sudah jatuh ke pihak militer tuan" ucap orang itu menunduk dengan keringat dingin membasahi keningnya.


"Apa???? Si*lan!!!! Dasar tidak berguna!!! Kalian menghilangkan begitu banyak pundi-pundi uangku!!!" teriak orang itu dengan penuh amarah.


DOR!!!


Sebuah tembakan melayang ke kepala salah satu orang yang tengah berlutut itu. Hingga orang itu langsung menghembuskan nafas terakhirnya. Orang di sebelahnya melotot terkejut dan juga gemetar melihat tuannya marah.


"Singkirkan dia! Dan kau, saya tidak mau tahu. Ambil kembali barang-barang itu, terutama Chip-nya! Hubungi Harun! Dia harus mengupayakan agar barang itu kembali ke tanganku! Kalau tidak, ucapkan selamat datang di neraka" ucap Sanim.


"Ba-baik tuan sanim" ucap orang itu langsung membawa mayat rekannya dengan tubuh yang masih gemetar.


Sedangkan Sanim berbalik dan meninggalkan ruangan yang sudah menjadi kapal pecah karena amukannya itu dan berjalan menuju ke ruangan sebelah. Lalu Sanim segera menelepon seseorang setelahnya.


"Berapa yang kau minta?" tanya Sanim pada orang yang ada di seberang telepon


"......"


"Apa benar kamu sanggup?" tanya Sanim


"......"


"Baiklah, asalkan semua yang di ambil militer kembali padaku. Dan juga bawa komandan pasukan itu hidup atau mati!" ucap Sanim


"......"


"Ya, aku akan menambahkannya, aku akan mengirim uang mukanya lebih dulu padamu!" ucap Sanim


Setelahnya ia menutup ponselnya, lalu mengambil dan mengusap cerutu di tangannya mencoba untuk tenang dan berpikir jernih untuk masalah yang ia hadapi.


...••••••...