The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
380. Keluarga Gila



Dara kini sedang berada di kamar triplet, bersama keempat anaknya yang tengah tertidur di box masing-masing, hanya langit yang tidur di atas ranjang bersamanya. Jangan lupakan Kai yang tengah memeluk Dara dari belakang dan menghirup aroma kesukaannya itu.


Mereka baru beberapa menit yang lalu sampai di star mansion setelah Dara menyelesaikan menyuling dan memurnikan Pil kehidupan.


"Abang ini jahil, ada anak-anak bang" ucap Dara menegur sang suami.


"Anak-anak masih tidur yang, cuma peluk aja kok Yang. Kan kamu masih banjir jadi nggak bisa di lewatin" ucap Kai


Dara terkekeh dan hanya membiarkan suami bucinnya itu memeluk dirinya. Dara juga merasa nyaman dengan pelukan dari suaminya itu.


"Apa berhasil sayang?" tanya Kai, Dara tahu saat ini Kai tengah bertanya soal Pil Kehidupan.


"Hmm... Aku berhasil meskipun hanya di level lima" ucap Dara


"Syukurlah, itu sudah sangat luar biasa sayang" ucap Kai takjub


"Ya" balas Dara dengan senyum, meskipun Kai tidak bisa melihatnya karena Dara tengah di peluk dari belakang.


"Tapi Lingga dan Flo tengah menikmati healing mereka di kota Y, apa aku harus memintanya untuk pulang?" ucap Kai


"Aku tahu, biarkan mereka menikmati waktu mereka sebentar, mereka bahkan baru sampai di sana kan? Aku sudah mengirim pesan pada Flo, aku minta mereka pulang untuk melakukan pengobatan setelah beberapa hari mereka healing" ucap Dara


"Apa tidak apa-apa menunggu?" tanya Kai


"Ya, karena pengobatan ini cukup berat, jadi pasien harus dalam keadaan senang dan tidak stres. Kota Y tidak jauh, hanya 1 jam perjalanan udara, aku yakin lusa mereka pasti sudah kembali" ucap Dara


"Kamu yakin ini akan berhasil?" tanya Kai


"Aku tidak tahu, tapi harus berhasil! Setidaknya aku harus percaya pada kemampuanku sendiri, aku pasti mampu mengobatinya. Maka dari itu aku memerlukan banyak waktu untuk mengobati dan memulihkan kondisi Flo, aku tidak bisa mengobatinya dengan terburu-buru" ucap Dara


"Aku percaya kamu bisa sayang, kamu adalah istri terhebat, Sahabat dan juga Dokter terbaik yang pernah ada" ucap Kai mencium bahu sang istri yang masih tertutup daster rumahan itu.


Dara tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan juga mengelus tangan kelar Kai yang masih setia melingkar di perutnya.


"Apa Langit tidak apa-apa sayang?" tanya Kai khawatir dengan putra sulungnya.


Ia melihat putra sulungnya itu cepat sekali tertidur tidak seperti biasanya, setelah darah dan juga esensi Chi miliknya Dara ambil.


"Tidak apa-apa, itu wajar karena aku mengambil sesuatu darinya" ucap Dara


"Apa tidak membahayakan? Jika esensi Chi milik Langit di ambil, apa tidak mempengaruhi kekuatannya di masa depan?" tanya Kai


"Abang tenang saja, seperti yang aku bilang itu tidak akan berpengaruh untuk langit. Langit adalah manusia yang di takdirkan, dia yang di pilih dan istimewa.


Ia memiliki esensi Chi melimpah dan juga tidak terbatas. Mengambil esensi miliknya sama sekali tidak akan mempengaruhi kekuatan ataupun vitalitas hidupnya. Tubuhnya akan secara otomatis membentuk ulang esensi Chi dalam tubuhnya.


Aku tahu takaran yang aku ambil dan aku juga hanya satu kali ini mengambilnya, itupun karena tidak memiliki pilihan lain. Tapi percayalah, aku tidak akan melakukan hal yang merugikan Langit di masa depan. Abang akan tahu di masa depan, betapa kuat dan luar biasa nya putra kita itu" ucap Dara


"Abang percaya sayang" ucap Kai


"Meskipun Gala tidak memiliki keistimewaan sebagai orang yang di takdirkan. Namun putra kedua kita juga tidak akan kalah hebat dari kakaknya. Gala mewarisi bakatmu, dia akan menjadi orang besar nantinya" ucap Dara.


"Hmm, kita harus ekstra ketat mengawasi anak-anak kita. Selain Langit, aku takut ketiga anak kita yang lain juga memiliki kecerdasan dan kemampuan luar biasa l yang tidak terduga" ucap Kai


"Tentu, maka dari itu awalnya aku ingin mengasuh mereka sendiri, meskipun sekarang sudah ada pengasuh. Tapi aku juga akan memberikan yang terbaik meski pun nanti aku tidak 24 jam menjaga mereka" ucap Dara


"Kamu sudah melakukan yang terbaik sayang. Kamu juga sudah memberikan tanda pada mereka, yang artinya semua hal terhubung denganmu" ucap Kai.


"Abang benar" ucap Dara


Tok! Tok! Tok!


Suara pintu kamar di ketuk, Dara pun beranjak dari aktivitas rebahannya itu dan membuka pintu kamar. Ia melihat Agam yang berdiri di sana.


"Maaf mengganggu nyonya, di bawah ada tamu yang ingin bertemu dengan tuan" ucap Pak Agam sopan.


"Hmm, kami akan turun. Pak Agam, tolong panggil pengasuh triplet dan Shine kemari ya dan jamu tamu nya sebentar" ucap Dara


Dara pun kembali masuk dan melihat Kai sudah duduk di pinggir tempat tidur.


"Siapa yang bertamu, Yang?" tanya Kai


"Tidak tahu, Abang turun duluan aja. Pak Agam bilang tamu itu mwncarimu, aku nyusul nanti saat pengasuh datang" ucap Dara


"Cup!! Kalau begitu Abang turun duluan, kalau ada apa-apa bisa panggil ke bawah" ucap Kai, Dara mengangguk.


....


Kai baru saja keluar dari lift dan berjalan menuju ke ruang tamu, matanya menyipit saat melihat seorang pria paruh baya bersama seorang wanita muda yang ia kenali.


Melihat Kai, kedua orang itu langsung berdiri dan menunduk memberikan salam untuk Kai, sedangkan Kai hanya diam tidak merespon kemudian langsung duduk.


Dua orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Fariz dan juga putrinya, Dena dari kota P.


Kai diam saja ingin tahu maksud keduanya datang ke kediaman sang istri. Kai mengetahui kabar dari kedua rekan lainnya jika Masalah mereka sudah selesai sebulan yang lalu, lalu ada urusan apa mereka datang menemuinya?


Apa mereka ingin minta maaf? Itu bisa jadi, sebab Nathan mengatakan jika setelah dirinya pergi, mereka segera menyelesaikan masalah itu dan juga Fariz mendadak terkena serangan jantung dan harus di opname beberapa waktu.


"Katakan!" tanya Kai dengan nadanya yang khas, datar dan juga dingin.


"Kapten, ah tidak Jendral, ah tidak, tidak maksud kami tuan muda pertama..." ucap Fariz tidak tahu harus memanggil apa Kai dengan benar.


"To the point!!" ucap Kai membuat keringat dingin menetes di dahi pria paruh baya itu.


Sedangkan Dena sejak tadi hanya diam dan menunduk, namun Kai masih bisa melihat kalau ekor mata wanita itu menelisik seluruh sudut mansion.


"Emmm itu anu...Ka-kami ingin minta maaf tuan muda, tentang apa yang terjadi di kota P sebulan yang lalu. Kami mengakui kami salah, Dena sudah memfitnah anda yang tidak-tidak, tolong maafkan kami" ucap Fariz


"Itu saja? Sudah saya maafkan, sekarang kalian boleh pergi!" ucap Kai dengan Datar, ia tidak ingin keduanya lama-lama tberada di depannya.


Namun kedua orang itu tidak langsung beranjak, justru terlihat saling pandang. Terlihat tatapan memohon yang di layangkan Dena pada ayahnya itu dan pria paruh baya itu menghela nafas berat.


Tidak mudah menemukan tempat tinggal Kai, mereka beberapa hari ini mencari tahu tempat tinggal Kai untuk meminta maaf. Dan mengetahui jika Kai saat ini tinggal di Star Mansion, jadi mereka pun memutuskan untuk datang dari kota P.


"Kenapa masih di sini? Pintu keluar sebelah sana" ucap Kai menunjuk ke arah pintu.


"Tu-tuan muda, maafkan kalau saya lancang. Ada hal lain yang ingin sa-saya sampaikan" ucap Faris menyeka kembali keringat di keningnya.


"Katakan!" ucap Kai lagi.


"Tu-tuan s-sa-ya ingin minta tolong padamu" ucap Fariz, Kai menaikan sebelah alisnya dan mengisyaratkan Fariz untuk melanjutkan ucapannya.


"Bi-bi-bisa kah tuan menikahi Dena? Ha-hanya satu tahun saja tuan. Se-setelahnya anda bisa menceraikan Putriku, saya mohon tuan" ucap Fariz tidak tahu malu.


"TIDAK!!! Apa-apa an?! Sungguh permintaan yang konyol dan gila! Keluar dari sini, SE-KA-RANG!!!" tolak Kai tegas dan juga memaki dengan lantang dan sangat marah.


Apa-apa an? Menikahi wanita tidak tahu malu seperti wanita di depannya? Dalam mimpi!! Bahkan jika ada seorang putri kerajaan yang sangat baik, patuh, cantik, kaya dan sempurna, tidak akan bisa membuat Kai berpaling dari istri maha sempurna yang sangat ia cintai. Apalagi wanita modelan Dena, yang bahkan hanya melihatnya saja Kai sudah merasa mual dan Jijik.


"Tuan saya mohon, putriku tengah hamil saat ini! Tolong nikahi dia, aku tidak ingin calon cucuku lahir tanpa seorang ayah" ucap Faris yang kini sudah berlutut di depannya.


Sungguh keluarga gila!!!


Bagaimana mungkin Kai harus menikahi wanita lain, bahkan wanita itu tengah hamil entah karena siapa. Apa yang sebenarnya keluarga ini pikirkan?


Kai yang sudah di liputi emosi yang tengah memuncak, hendak menendang laki-laki paruh baya di depannya itu. Ia tidak peduli dengan sopan santun pada yang lebih tua.


Namun gerakan Kai terhenti dan tubuhnya menegang saat sebuah suara masuk ke pendengaran nya.


"Hamil? Menikah? Siapa yang Hamil? Dan siapa yang harus menikahi siapa?" sebuah suara dingin membuat Kai menegang, ia menoleh takut istrinya itu salah paham.


...•••••••...